LAPORAN PRAKTIKUM BIOLOGI

Posted: March 12, 2011 in Uncategorized

 

LAPORAN PRAKTIKUM BIOLOGI

OLEH:

SALMIN MOINTI
09 444 009

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI
JURUSAN AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS ALKHAIRAAT
P A L U
2009 M/1430 H

1

 

 

LAPORAN PRAKTIKUM BIOLOGI

Disusun sebagai Salah Satu Syarat Mengikuti Mata kulia Biologi

OLEH:
SALMIN MOINTI
09 444 009

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI
JURUSAN AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS ALKHAIRAAT
P A L U
2009 M / 1430 H

2

 

 

HALAMAN PENGESAHAN

 

Judul                           : Laporan Praktikum Biologi
Nama                          : SALMIN MOINTI
No. Stambuk            : 09 444 009
Kelompok                 : 5
Jurusan                     : Agroteknologi
Fakultas                     : Pertanian
Universitas               : Alkhairat Palu

MENYETUJUI

Koordinator Praktikum                                  Asisten Penanggung Jawab

 


KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, puji syukur kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan limpahan rahmat dan Hidayah-Nya, sehinggah penulis dapat menyelesaikan penulisan makalah ini.
Makalah ini dapat terselesaikan atas bantuan berbagai pihak. Untuk itu pada kesempatan ini saya menyampaikan terima kasih dan penghargaan kepada bapak Arpan Ganti S.P., M.Sc selaku dosen pembimbing utama, yang telah meluangkan waktu dan kesempatan dalam membimbing dan mengarahkan dalam penulisan makalah ini.
Pada kesempatan ini juga, dengan penuh kerendahan hati penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada:
1. Bapak Dekan Fakultas Pertanian Universitas Alkhairaat Palu.
2. Staf pengajar, Dosen Biologi Fakultas Pertanian Unisa Palu.
3. Staf Asisten Dosen Biologi Fakultas Pertanian Unisa Palu.
3. Seluruh rekan-rekan mahasiswa Fakultas Pertanian Unisa Palu.
Penulis sadar bahwa makalah ini masih banyak terdapat kesalahan dalam penyusunan kata maupun kalimat, oleh karena itu, penulis mohon saran dan kritikan demi kesempurnaan penulisan karya ilmia berikutnya.

Palu ,…………2009

Penulis,

 

DAFTAR ISI

HALAMAN
SAMPUL
HALAMAN JUDUL
HALAMAN PENGESAHAN
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
DAFTAR GAMBAR
DAFTAR GRAFIK
LAMPIRAN

LAPORAN I. PENGENALAN DAN PENGGUNAAN MIKRSKOP

1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.2 Tujuan dan Kegunaan

2. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengenalan dan Penggunaan Mikroskop
2.2 Sejarah Mikroskop
2.3 Jenis-jenis Mikroskop
2.4 Bagian-bagian dan fungsi komponen mikroskop
2.5 Sifat lensa pada mikroskop

III. TATALAKSANA PRAKTIKUM
3.1 Waktu dan Tempat
3.2 Bahan dan Alat
3.3 Cara Kerja

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
4.2 Pembahasan

V. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
5.2. Saran

LAPORAN 2. PENGAMATAN SEL

I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.2 Tujuan dan Kegunaan

II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Sel
2.2 Sel Hewan
2.3 Sel Tumbuhan
2.4 Organel-Organel Sel

III. TATALAKSANA PRAKTIKUM
3.1 Waktu dan Tempat
3.2 Bahan dan Alat
3.3 Cara Kerja

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
4.2 Pembahasan

V. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan..
5.2 saran

LAPORAN 3. PENGAMATAN TUMBUHAN
I.PENDAHULUA N
1.1 Latar Belakang
1.2 Tujuan dan Kegunaan

II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Tumbuhan Monokotil
2.2 Tumbuhan Dikotil
2.3 Organ-Organ Tumbuhan
2.3 Reproduksi Pada Tumbuhan

III. TATA LAKSANA PRAKTIKUM
3.1 Waktu dan Tempat
3.2 Bahan dan Alat
.3 Cara Kerja

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
4.2 Pembahasan

V. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
5.2 Saran

LAPORAN 4. PENGAMATAN HEWAN

I.PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.2 Tujuan dan Kegunaan

II.TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Klasifikasi Katak (Taksonomi Tumbuhan )
2.2 Hewan Berdarah Dingin
2.3 Hewan Berdarah Panas
2.3 Sistem Pencernaan Hewan
2.4 Sistem Reproduksi Hewan

III.TATA LAKSANA PRAKTIKUM
3.1 Waktu dan Tempat
3.2 Bahan dan Alat
3.3 Cara Kerja

IV.HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
4.2 Permbahasan

V.KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
5.2 Saran

LAPORAN 5. MEMAHAMI KONSEP HUKUM MENDEL

I.PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.2 Tujuan dan Kegunaan

II.TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Hukum Mendel
2.2 Sifat dominan dan Resesif
2.3 Sifat Intermediat

III.TATA LAKSANA PRAKTIKUM
3.1 Waktu dan Tempat
3.2 Bahan dan Alat
3.3 Cara Kerja

IV.HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
4.2 Pembahasan

V.KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
5.2 Saran

LAPORAN 6. PENGAMATAN TRANSPIRASI TUMBUHAN

I.PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
2.1 Tujuan dan Kegunaan

II.TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Transpirasi
2.2 Faktr yang Mempengaruhi Laju Transpirasi

III.TATA LAKSANA PRAKTIKUM
3.1 Waktu dan Tempat
3.2 Bahan dan Alat
3.3 Cara Kerja

IV.HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
4.2 Pembahasan

V.KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
5.2 Saran

LAPORAN 7. PENGAMATAN FOTOSINTESIS

I.PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.2 Tujuan dan Kegunaan

II.TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Fotosintesis
2.2 Percobaan Sachs
2.3 Larutan Indikator

III.METODE PRAKTEK
31 Waktu dan Tempat
3.2 Bahan dan Alat
3.3 Cara Kerja

IV.HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
4.2 Pembahasan

V.KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
5.2 Saran

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Mikroskop dan komponen-komponennya.
Gambar 2. Preparat huruf “D” sebelum pengamatan di
bawah mikroskop
Gambar 3. Preparat huruf “D” setelah pengamatan di
bawah mikroskop dengan perbesaran 10x.
Gambar 4. Preparat butir pati kentang setelah pengamatan di
bawah mikroskop dengan perbesaraan 10x.
Gambar 5. Preparat irisan melintang empulur umbi kayu
dengan pembesaran 10 X
Gambar 6. Preparat epidermis bawang merah (Allium ceppa)
dengan pembesaran 10X
Gambar 8. Preparat epitelum rongga mulut (ephitelium mukosa) dengan pembesaran 10 X
Gambar 10. Morfologi daun jagung (Zea mays) Family dari Poaceae
Gambar 14. Anatomi batang jagung (Zea mays) Family
Gambar 16. Morfologi daun mangga (Mangifera indica) Family dari Mangiferaceae
Gambar 17. Morfologi batang mangga (Mangifera indica) Family dari Mangiferaceae
Gambar 18. Morfologi akar mangga (Mangifera indica) Family dari Mangiferaceae
Gambar 21. Morfologi kecambah kacang hijau (Phaseolus radiatus) Family dari Piperaceae
Gambar 23. Morfologi bunga Mawar (Rossa hybrida sinesis) Family dari Rosaceae
Gambar 24. Morfologi bunga Kamboja (Plumeria acuminata)
Family dari Apocynaceae
Gambar 28. Morfologi Katak Hijau (Rana cancrivora)
dalam keadaan tertelungkup.
Gambar 29. Sistem Pencernaan Katak Hijau (Rana cancrivora)
setelah dilakukan pembedahan.
Gambar 30. Sistem Reproduksi Katak Hijau (Rana cancrivora) Jantan setelah dilakukan pembedahan.
Gambar 32. Daun ubi kayu (Manihot Esculenta) yang tidak dibungkus.
Gambar 33. Daun ubi kayu (Manihot Esculenta) yang di bungkus kertas timah.
Gambar 35. Daun ubi kayu (Manihot Esculenta) yang tidak dibungkus setelah direndam alkohol.
Gambar 36. Daun ubi kayu (Manihot Esculenta) yang dibungkus setelah ditetesi iodium.
Gambar 37. Daun ubi kayu (Manihot Esculenta) yang tidak dibungkus setelah ditetesi iodium

LAPORAN 1. PENGENALAN MIKROSKOP

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang
Ilmu Biologi adalah ilmu yang mempelajari tentang mahluk hidup yang dapat dilihat dengan mata telanjang ataupun tidak dapat dilihat dengan mata telanjang .
Mahluk hidup dapat dilihat dengan mata telanjang yaitu seperti ubi kayu , jagung , bunga kamboja, katak sawah, dan lain sebagainya. Sedangkan mahluk yang tidak dapat dilihat dengan mata telanjang yaitu seperti sel ,bakteri dan paramesium atau amoeba

1.2 Tujuan dan kegunaan
Tujuan dari praktikum Biologi Umum tentang pengenalan dan penggunaan mikroskop adalah untuk memperkenalkan komponen mikroskop dan cara menggunakannya serta mempelajari cara menyiapkan batran-bahan yang akan diamati dibawah mikroskop.
Kegunaan praktikum Biologi Umum tentang pengenalan dan penggunaan mikroskop adalah agar praktikan dapat mengetatrui dan membedakan bermacam-macam jenis sel dan dapat menggunakan mikroskop sesuai aturan yang benar

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pengenalan dan pengunaan mikroskop
2.2. Sejarah Mikroskop.
Menurut sejarah, orang yang pertama kali berpikir untuk membuat alat yang bernama mikroskop ini adalah Zacharias Janssen. Janssen sendiri sehari-harinya adalah seorang yang kerjanya membuat kacamata. Dibantu oleh Hans Janssen mereka membuat Mikroskop pertama kali pada tahun 1590. Mikroskop pertama yang dibuat pada saat itu mampu melihat perbesaran objek hingga dari 150 kali dari ukuran asli. (Prawirahartono, 1984).
Beberapa tahun kemudian Galileo menyelesaikan pembuatan Mikroskop pada tahun 1609 dan Mikroskop yang dibuatnya diberi nama yang sama dengan penemunya, yaitu Mikroskop Galileo. Mikroskop jenis ini menggunakan lensa optik, sehingga disebut Mikroskop optik. Mikroskop yang dirakit dari lensa optik memiliki kemampuan terbatas dalam memperbesar ukuran objek. Hal ini di sebabkan oleh limit difraksi cahaya yang ditentukan oleh panjang gelombang cahaya. Secara teoritis, panjang gelombang cahaya ini hanya sampai sekitar 200 nanometer. Namun Mikroskop ini memiliki kelemahan, yaitu tidak bisa mengamati ukuran dibawah 200 nanometer. (Prawirahartono, 1984).
Setelah itu seorang berkebangsaan belanda bernama Antony Van Leeuwenhoek (1632-1723) terus mengembangkan pembesaran Mikroskopis. Antony Van Leeuwenhoek sebenarnya bukan peneliti atau ilmuwan yang profesional. Profesi sebenarnya adalah sebagai ‘wine terster’ di kota Delf, Belanda. Ia biasa menggunakan kaca pembesar untuk mengamati serat-serat pada kain. Tetapi rasa ingin tahunya yang besar terhadap alam semesta menjadikan ia salah seorang penemu Mikrobiologi. Leewenhoek menggunakan Mikroskopnya yang sangat sederhana untuk mengamati air sungai, air hujan, ludah, feses dan lain sebagainya. Ia tertarik dengan banyaknya benda-benda kecil yang dapat bergerak yang tidak terlihat dengan mata biasa. Ia menyebut benda-benda bergerak tadi dengan ‘animalcule’ yang menurutnya merupakan hewan-hewan yang sangat kecil. Penemuan ini membuatnya lebih antusias dalam mengamati benda-benda tadi dengan lebih meningkatkan Mikroskopnya. Hal ini dilakukan dengan menumpuk lebih banyak lensa dan memasangnya di lempengan perak. Akhirnya Leewenhoek membuat 250 Mikroskop yang mampu memperbesar 200-300 kali.
Hingga saat ini, sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan telah banyak jenis Mikroskop yang berhasil ditemukan dan tentunya lebih modern. Perbesaran yang dihasilkan pun jauh lebih besar dan ada pula yang dapat dianalisis melalui komputer. Adapun jenis-jenis Mikroskop yang berkembang saat ini adalah Mikroskop Elektron. Mikroskop elektron pertama di desain oleh Knoll dan Ruska di Jerman pada tahun 1932. Pada Mikroskop ini, pancaran elektron digunakan untuk mengungkap objek yang lebih kecil dari 2000 amstrong, di mana objek sekecil ini tidak mungkin dilihat oleh Mikroskop cahaya. Elektron yang dilepas dari filamen metal yang dipanaskan di tempatkan pada ruang hampa di kumpulkan dan di fokuskan pada objek melalui lensa kondenser elektromagnetik. Setelah elektron di lewatkan pada objek, mereka di kumpulkan lagi oleh kumparan elektromagnet yang berfungsi sebagai lensa objektif. Lensa ini menghasilkan citra yang diperbesar dari objek yang diterima oleh lensa elektromagnetik ketiga yang kemudian, berlaku sebagai lensa okuler atau lensa proyeksi. Citra akhir kemudian dapat divisualisasi pada layar fluoresdent atau dapat direkam pada pelat fotografis. (Subowo, 1989).
2.3 Jenis – Jenis Mikroskop.

A. Mikroskop Cahaya
Mikroskop cahaya memiliki tiga dimensi lensa yaitu lensa objektif, lensa okuler dan lensa kondensor. Lensa objektif dan lensa okuler terletak pada ke dua ujung tabung Mikroskop. Lensa okuler pada Mikroskop bias membentuk bayangan tunggal (monokuler) atau ganda (binikuler). Pada ujung bawah Mikroskop terdapat dudukan lensa objektif yang biasa di pasangi tiga lensa atau lebih. Di bawah tabung Mikroskop terdapat meja Mikroskop yang merupakan tempat preparat. (Cromer, 1994).

B. Mikroskop Elektron
Mikroskop Elektron adalah sebuah Mikroskop yang mampu melakuakan pembesaran objek sampai dua juta kali, yang menggunakan elektro statik dan elektro
magnetik untuk mengontrol pencahayaan dan tampilan gambar serta memiliki kemampuan pembesaran objek serta resolusi yang jauh lebih bagus dari pada Mikroskop cahaya. Mikroskop elektron ini menggunakan jauh lebih banyak energi dan radiasi elektro magnetik yang lebih pendek dibandingkan Mikroskop cahaya. (Cromer, 1994).

C. Mikroskop Stereo
Benda yang diamati dengan Mikroskop ini dapat di lihat secara 3 dimensi. Komponen utama Mikroskop stereo hampir sama dengan Mikroskop cahaya. Lensa terdiri atas lensa okuler dan lensa objektif. Beberapa perbedaan dengan Mikroskop cahaya adalah: (1) ruang ketajaman lensa Mikroskop stereo jauh lebih tinggi di bandingkan dengan Mikroskop cahaya sehingga kita dapat melihat bentuk tiga dimensi benda yang diamati, (2) sumber cahaya berasal dari atas sehingga objek yang tebal dapat diamati. Perbesaran lensa okuler biasannya 3 kali, sehingga perbesaran objek total minimal 30 kali. (Cromer, 1994).
Pada bagian bawah Mikroskop terdapat meja preparat. Pada daerah dekat lensa objektif terdapat lampu yang dihubungkan dengan transformator. Pengaturan fokus objek terletak disamping tangkai Mikroskop, sedangkan pengaturan perbesaran terletak diatas pengatur fokos. Mikroskop stereo merupakan jenis Mikroskop yang hanya bisa digunakan untuk benda yang berukuran relatif besar. Mikroskop stereo memiliki perbesaran 7 hingga 30 kali. Benda yang diamati dengan Mikroskop ini dapat dilihat secara 3 dimensi. (Cromer, 1994)

C.Mikroskop Ultraviolet
Suatu variasi dari Mikroskop cahaya biasa adalah Mikroskop ultraviolet. Karena cahaya ultraviolet memiliki panjang gelombang yang lebih pendek dari pada cahaya yang dapat dilihat, penggunaan cahaya ultraviolet untuk pecahayaan dapat meningkatkan daya pisah menjadi 2 kali lipat daripada Mikroskop biasa. Karena cahaya ultraviolet tak dapat di lihat oleh mata manusia, bayangan benda harus direkam pada piringan peka cahaya photografi (Plate). Mikroskop ini menggunakan lensa kuasa, dan Mikroskop ini terlalu rumit serta mahal untuk dalam pekerjaan sehari-hari. (Cromer, 1994).

C. Mikroskop Pender (Flourenscence Microscope)
Mikroskop pender ini dapat digunakan untuk mendeteksi benda asing atau Antigen (seperti bakteri, riketsia, atau virus) dalam jaringan. Dalam teknik ini protein Antibodi yang khas mula-mula di pisahkan dari serum tempat terjadinya rangkaian atau dikonjungsi dengan pewarna pendar. Karena reaksi Antibodi-Antigen itu besifat khas, maka peristiwa pendar akan terjadi apabila antigen yang di maksud ada dan di lihat oleh antibodi yang ditandai dengan pewarna pendar.

D. Mikroskop Medan-Gelap
Mikroskop Medan Gelap digunakan untuk mengamati bakteri hidup khususnya bakteri yang begitu tipis yang hampir mendekati batas daya Mikroskop majemuk. Mikroskop medan-Gelap berbeda dengan Mikroskop cahaya majemuk biasa hanya dalam hal adanya kondensor khusus yang dapat membentuk kerucut hampa bekas cahaya yang dapat di lihat. Bekas cahaya dari kerucut hampa ini di pantulkan dengan sudut yang lebih kecil dari bagian atas gelas preparat. (Cromer, 1994).

E. Mikroskop Fase kontras
Cara ideal untuk mengamati benda hidup adalah dalam keadaan alamiahnya : tidak di beri warna dalam keadan hidup, namun pada galibnya fragma benda hidup yang mikroskopik (jaringan hewan atau bakteri) tembus cahaya sehingga pada masing-masing tincram tak akan teramati, kesulitan ini dapat di atasi dengan menggunakan Mikroskop fasekontras. Prinsip alat ini sangat rumit. (Cromer, 1994).
Apabila Mikroskop biasa digunakan untuk nukleus sel hidup yang tidak diwarnai dan tidak dapat di lihat, walaupun begitu karena nukleus dalam sel, mengubah sedikit hubungan cahaya yang melalui materi sekitar inti. Hubungan ini tidak dapat ditangkap oleh mata manusia yang di sebut fase. Namun suatu susunan filter dan diafragma pada Mikroskop fase kontras akan mengubah perbedaan fase ini menjadi perbedaan dalam terang yaitu daerah-daerah terang dan bayangan yang dapat di tangkap oleh mata, dengan demikian nukleus dan unsur lain yang sejauh ini tak dapat di lihat menjadi dapat dilihat. (Cromer, 1994).

2.4 Bagian – bagian dan fungsi komponen Mikroskop

• Lensa Okuler
Lensa Mikroskop yang terdapat di bagian ujung atas tabung berdekatan dengan mata pengamat, dan berfungsi untuk memperbesar bayangan yang di hasilkan oleh lensa objektif berkisar antara 4 hingga 25 kali. (Cromer, 1994).

• Tabung Mikroskop
Untuk mengatur keadaan fokus terhadap suatu objek, tabung ini dapat di naikkan dan di turunkan sesuai keadaan fokus yang di inginkan.

• Tombol Pengatur Fokus Kasar
Tombol ini digunakan untuk mencari fokus bayangan objek secara cepat sehingga tabung Mikroskop turun atau naik dengan cepat.

• Tombol Pengatur Fokus Halus
Tombol ini digunakan untuk memfokuskan bayangan objek secara lambat, atau untuk mendapatkan fokus yang baik sehingga tabung Mikroskop turun atau naik dengan lambat. (Cromer, 1994).

• Revolver
Revolvel digunakan untuk memilih lensa obyektif yang akan di gunakan sesuai kebutuhan objek yang akan di amati.

• Lensa Objektif
Lensa objektif di gunakan untuk menentukan bayangan objektif serta memperbesar benda yang diamati. Umumnya ada 3 lensa objektif dengan pembesaran 4x, 10x, dan 40x. (Cromer, 1994).

• Lengan Mikroskop
Lengan Mikroskop di gunakan untuk pegangan saat membawa Mikroskop atau memindahkanya dari tempat yang satu ke tempat yang lain. (Cromer, 1994).

• Meja Preparat
Meja preparat di gunakan untuk meletakkan objek atau benda yang akan kita amati saat kita melakukan praktikum.

• Penjepit Objek Glass
Penjepit objek glass di gunakan untuk menjepit preparat di atas meja preparat agar preparat tidak bergeser sehinga objek dapat teramati dengan baik.

• Kondensor
Merupakan lensa tambahan yang berfungsi untuk mengumpulkan cahaya yang masuk dalam Mikroskop. (Cromer, 1994).

• Diafragma
Berupa lubang – lubang yang ukurannya dari kecil sampai selebar lubang pada meja objek. Berfungsi untuk mengatur banyak sedikitnya cahaya yang akan masuk Mikroskop

• Reflektor/Cermin
Untuk memantulkan dan mengarahkan cahaya ke dalam Mikroskop. Ada 2 jenis cermin, yaitu datar dan cekung. Bila sumber cahaya lemah, misalkan sinar lampu, di gunakan cermin cekung tetapi bila sumber cahaya kuat, misalnya sinar matahari yang menembus ruangan, gunakan cermin datar. (Cromer, 1994).

• Kaki Mikroskop
Kaki Mikroskop digunakan Untuk menjaga Mikroskop agar dapat berdiri dengan mantap di atas meja. (Cromer, 1994).

2.4 Sifat lensa pada mikroskop.
Sifat lensa yang dimiliki mikroskop ádalah mampu memperbesar statu objek. Membentuk bayangan yang bersifat maya dan diperbesar. Mikroskop cahaya menggunakan tiga jenis lensa, yaitu lensa objektif, kondensor dan okuler. Lensa objektif dan okuler terletak pada ke dua ujung tabung Mikroskop sedangkan penggunaan lensa okuler terletak pada Mikroskop biasa berbentuk lensa tunggal atau ganda. Pada ujung bawah Mikroskop terdapat tempat dudukan lensa objektif yang biasa di pasangi tiga lensa atau lebih. Di bawah tabung Mikroskop terdapat meja Mikroskop yang merupakan tempat preparat. (Cromer, 1994)

III. METODE PRAKTEK

3.1 Waktu dan Tempat
Praktek Biologi Umum tentang Pengenalan dan Penggunaan Mikroskop dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 14 November 2009 mulai pukul 14.00 – 17.00 WITA di Laboratorium Universitas Alkhairat Palu.

3.2 Bahan dan Alat
Bahan-bahan yang digunakana dalah potongan kertas yang bertulis huruf “D” berukuran kecil dan butir-butir pati kentang. Alat-alat yang digunakan adalah mikroskop, gelas objek dan gelas penutup serta pipet dan silet.

3.3.3 Cara Kerja
Mikroskop disediakan untuk digunakan sesuai dengan langkah-langkah yang telah dijelaskan, lalu preparat basah disiapkan dengan ditetesi medium air dan usahakan tidak ada gelembung udara diatas objek. Kemudian preparat yang sudah disediakan diamati dibawah mikroskop. Terakhir besarnya objek diatur sehingga mendapatkan bayangan sejelas mungkin.Potongan huruf “D” yang telah dibuat sekecil mungkin dan ditetakkan pada gelas objek, lalu ditutup dengan gelas penutup.langkah kedua bentuk bayangan yang diambil dibandingkan dengan bentuk objek yang diamati dengan cara digambar.
Preparat di geser ke kiri dan ke kanan sambil lensa okuler di pasang, lalu lensa objektif diputar sehingga objektif kuat berada di bawah okuler. Hal ini di kerjakan dengan hati-hati agar gelas penutup tidak disentuh tangan.
Dengan penggantian objektif lemah ke objek kuat, diamati terjadi tidaknya bidang pandang lalu diamati pula perubahan kedudukan bayangan. jika terjadi penggantian objektif. Pengamatan pada kentang dilakukan dengan cara kentang dikerik hingga cairannya keluar.
Cairan tersebut diteteskan pada gelas objek namun diusahakan tidak ada gelembung udara diatas objek. Caranya yaitu gelas penutup dipegang pada posisi 450 terhadap gelas objek, sentuhlah tepi bawahnya pada perrrukaan tetesan air dan perlahan-perlahan gelas penutup terletak diatas gelas objek.
Jika masih ada gelembung udara di ulangi lagi sampai berhasil dan diafragma mikroskop diatur agar butir pati kelihatan kontras terhadap air disekelilingnya dan digambar di buku garnbar yang telah disediakan.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 HASIL
Hasil percobaan praktikum biologi sebagai berikut :

Gambar 1. Mikroskop dan komponen-komponennya.

Gambar 2, preparat huruf “D” sebelum pengamatan dibawah mikroskop

Gambar 3, preparat huruf “D” setelah pengamatan dengan menggunakan 10x pembesaran dibawah mikroskop.

Gambar 4, preparat pati kentang setelah pengamatan dibawah mikroskop dengan menggunakan pembesaran 10x.

4.2 PEMBAHASAN
Mikroskop adalah suatu alat yang sangat berguna dalam setiap pelaksanaan praktikum biologi, karena berfungsi intuk dapat melihat organism yang sangat kecil yang kasat mata. Mikroskop sendiri memiliki dua macam lensa yaitu lensa objektif yang berfungsi dalam pembuatan bayangan, yang pertama untuk struktur dan bagian renik yang akan terlihat bayangan yang dihasilkan oleh lensa objektif, serta lensa kondensor berfungsi untuk mendukung terciptanya pencahayaan tedapat objek yang akan difokus. (Sahabuddin dan Jonnahdi Eli, 2008).
Mikroskop adalah suatu alat yang penting yang memiliki bagian-bagian beserta fungsinya. Bagian-bagiannya yaitu lensa okuler untuk mengamati dan memperbesar bayangan benda, lensa objektif mengamati dan memperbesar objek secara langsung, kondensor untuk mengumpulkan cahaya yang dipantulkan oleh cermin dan fokuskan oleh objek, tabung mikroskop penghubung antara lensa okuler dan lensa objektif, revolver untuk memilih lensa objektif yang akan digunakan, gagang mikroskop untuk memegang mikroskop, pengarah kasar dan pengarah halus untuk mempermudah mengamati objek, kaki mikroskop berguna agar mikroskop dapat berdiri dengan stabil. (Djuanda, 1980).
Pada pengamatan dengan menggunakan preparat huruf “D” diperoleh huruf “D” terbalik. Hal ini berdasarkan prinsip kerja mikroskop seperti pendapat yang dikemukakan oleh VIEE dkk (1999), bahwa penggunaan cermin cekung pada lensa okuler yang memiliki sifat bayangan terbalik dan diperbesar sehingga mengakibatkan terbaliknya sebuah objek.
Pada pengamatan pati kentang diperoleh gambar bulat-bulatan seperti Kristal dalam jumlah yang cukup besar. Butir pati itu disebut Leuklopas yang merupakan plastid yang tidak dapat berwarna. Leuklopas biasanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan makanan. Leuklopas khususnya banyak terdapat di organ-organ penyimpanan seperti akar, biji-bijian, dan daun muda. (MEDER, 2004).

 

V. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 KESIMPULAN
Berdasarkan hasil dan pembahasan sebelumnya maka dapat dibuat kesimpulan yaitu, Mikroskop merupakan alat yang digunakan untuk melihat organism atau benda yang kasat mata. Mikroskop terbagi beberapa komponen yang befungsi antara lain Lensa okuler, tabung lensa, pengarah kasar, pengarah halus, gagang mikroskop, diakfrakma, cermin dan kaki mikroskop. Mikroskop sendiri ada beberapa jenis seperti mikroskop cahaya, mikroskop electron dan lain-lain.

5.2 SARAN
Jika memungkinkan sebaiknya jumlah mikroskop disesuaikan dengan jumlah praktikan, ruang laboratorium juga dilengkapi dengan kipas angin daan lampu yang cukup terang. Mengingat praktik dilakukan di ruangan tertutup dan menggunakan mikroskop cahaya.

LAPORAN 2. PENGAMATAN SEL

1.PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Sel merupakan kesatuan struktural dan fungsional organisme hidup. pertama kali ditemukan oleh Robert Hook(1635-1703) seorang ahli Fisika dan Matematika yang berasal dari inggris. Robert mengamati sel mati yang terbuat dari preparat sayatan gabus, hasil pengamatan tersebut tamapak adanya petak-petak kecil seperti sarang lebah.
Dari perkembamgan penyelidikan-penyelidikan terhadap sel maka muncullah teori-teori sebagai berikut:
1.Sel merupakan satuan sturuktural makhluk hidup
2.Sel merupakan satuan fungsional makhluk hidup
3.Sel merupakan satuan reproduksi makhluk hidup
4.Sel merupakan satuan hereditas makhluk hidup
Menurut Rudolf Virchou(1858) Sel berasal dari Sel sehinggah teori sel, merupakan kesatuan pertumbuhan

1.3 TUJUAN DAN KEGUNAAN
Dapat mengenal bentuk dan struktur sel secara umum dan mampu membandingkan jenis sel hewan dan tumbuhan, dapat menggambarkan bentuk sel tumbuhan dan hewan, dapat menjelaskan struktur sel dan mendemonstrasikan sifat semipermeabilitas dari membran sel.

II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Sel
Dalam arti biologis menurut Robert hooke (1665) istilah sel berasal dari bahasa latin yaitu cella atau celulla yang berarti ruang kecil. Sel merupakan satuan struktural dan fungsional terkecil dari makhluk hidup.

2.2 Sel Hewan
Menurut Nasir (1993) bahwa pada sel hewan dapat ditemukan hal-hal sebagai berikut :
1. Tidak memiliki diding sel yang mengandung sellulosa, akibatnya tidak
akan mempunyai vakuola, kecuali Protozoa.
2. Tidak mempunyai plastisida.
3. Tidak bervakuola, kecuali pada protozoa.
4. Turgor (tekanan antara isi sel dengan dinding), turun dan mengecil.
5. Nilai osmotik (kepekatan isi sel) naik.
6. Isi sel berkurang, tetapi tidak berbentuk vakuola. Kecuali protozoa
mempunyai sifat Osmoregulator yang berfungsi sebagai pengatur
osmosa bila berada dalam larutan hypotonis.

2.3 Sel Tumbuhan
Menurut Andrianto (1983) mengemukakan bahwa pada sel tumbuhan dapat dijumpai dinding sel, sitoplasma dan vakuola.
1. Dinding sel terdiri dari selulosa, tebal dan kuat.
2. Mempunyai plestisida
3. Bervakuola.
4. Turgor —– naik
5. Nilai osmotik —– naik
6. Isi sel berkurang, karena terbentuk vakuola. Bila proses ini berlangsung terus akan menimbulkan plasmolisa. (lepasnya protoplasma dari dinding sel).
2.4 Organel-Organel Sel
Menurur Max Schulize (1825-1874) organel-organel sel terdiri dari inti sel, mitokondria, lisosom, retikulum endoplasma, ribosom, badan golgi, sentriol dan plastida.

1. Inti sel (nukleus)
Merupakan organel terbesar dan berfungsi sebagai pengendali seluruh proses yang terjadi di dalam sel.

2. Mitokondria berfungsi sebagai tempat respirasi sel. Terdapat pada semua sel yang hidup dan jumlahnya tergantung pada aktifitas sel yang bersangkutan.
3. Lisosom berfungsi sebagai tempat pembentukan enzim-enzim pencernaan dan tempat pencernaan makanan.

4. Retikulum Endoplasma berfungsi sebagai alat pengangkut dari nukleus keluar ruang sel.

5. Ribosom merupakan organel yang melekat pada retikulum endoplasma berfungsi sebagai tempat sintesis protein.

6. Badan golgi banyak dijumpai pada sel-sel kelenjar sehingga badan golgi ini berfungsi sebagai organel yang berperan dalam proses pengeluaran.

7. Sentriol berperan penting dalam proses pembelahan sel.

8. Plastida merupakan organel yang khas terdapat pada sel tumbuh-tumbuhan merupakan butir-butir yang berisi zat warna.

III METODE PRAKTEK

3.1 Waktu dan Tempat
Praktikum Biologi Umum Tentang Pengamatan Sel dilaksanakan Pada hari Sabtu, 21 November 2009 pada pukul 13.30 WITA sampai 17.00 dan Pengamatan Semipermeabilitas pada tanggal 21 November – 28 November diLaboratorium Benih, Fakultas pertanian, Universitas Tadulako, palu

3.2 Bahan dan Alat
Bahan- bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah bawang merah (Allium ascolonium), ephitelium rongga mulut (Ephitelium mucosa), telur mentah, air rendaman jerami, empelur batang ubi kayu (Manihot esculenta ), daun yang muda (Hydrilia verticilata),sirup cocopandan, asam cuka, telur dan air.
Alat- alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah mikroskop, objek glass, cover glass, cater, tusuk gigi, pinset, pipet, toples, pita ukur/meteran jahit, alat tulis, dan buku gambar.

3.3 Cara Kerja
Pengamatan penampang melintang empelur batang ubi kayu (Manihot esculenta) , pertama-tama membuat potongan melintang empelur batang ubi kayu setipis mungkin, kemudian meletakan potongan kecil tersebut pada objek glass dan menjaganya agar tidak sampai terjadi lipatan atau kerutan. Setelah itu menambahkan satu atau dua tetes air, kemudian menutupnya dengan gelas penutup. Selanjutnya mengamati dibawah mikroskop dengan pembesaran paling lemah 10x, kemudian menggambarkan hasilnya dibuku gambar.
Pengamatan sruktur sel umbi lapis bawang merah (Allium cepa), pertama-tama memotong satu suing bawang merah yang segar, kemudian mengambil salah satu lapisan suing yang berdaging lalu mematahkan lapisan tersebut, sehingga bagian yang cekung tampak adaya epidermis tipis. Dengan menggunakan pinset, jepit epidermis tersebut dan lepaskan dari umbinya dengan perlahan-lahan. Selanjutnya meletakan potongan kecil epidermis pada glass objek dan menjaganya agar tidak sampai terjadi lipatan atau kerutan. Kemudian menambahkan satu atau dua tetes air, lalu menutupnya dengan gelas penutup. Kemudian mengamati dibawah mikroskop dengan pembesaran paling lemah (10x), lalu menggambar beberapa sel dan bagian-bagianya.
Pengamatan struktur sel daun ( Hydrilla verticilata), Mengambil selembar daun yang muda (atau daun pada pucuknya) Hydrilla verticilata yang telah disiapkan, kemudian meletakan nya diatas kaca objek dalam posisi bentangan membujur yang rata lalu menetesinya dengan air. Selanjutnya menutup daun tersebut dengan kaca penutup dengan perlahan-lahan agar tidak membentuk gelembung udara, lalu mengamati sel tumbuhan tersebut dibawah mikroskop dengan pembesaran 10x, lalu menggambar hasilnya dilembar kerja praktikum biologi.
Pengamatan struksul sel selaput rongga mulut (Epithelium rongga mulut), pertama-tama dengan menggunakan ujung tumpul skalpet atau ujung jari atau sebuah tusuk gigi, kemudian kerulah epitel pada bagian dalam dinding pipi anda. Selanjutnya menebarkan epitel yang diperoleh kedalam setetes air pada kaca objek. Lalu menutup sediaan tersebut dengan kaca penutup. Kemudian mengamati preparat tersebut dibawah mikroskop dengan pembesaran 10x lalu menggambar hasilnya dibuku gambar.
Pengamatan sel protozoa, pertama-tama menyediakan kaca objek dengan kaca penutup yang telah dibersihkan kemudian meneteskan air rendaman jerami ke atas objek kaca objek lalu menutupnya dengan kaca penutup, Selanjutnya mengamatinya dibawah mikroskop dengan pembesaran 10x lalu menggambar hasilnya didalam lembar kerja Praktikum Biologi.
Pengamatan sifat permeabilitas membran sel , pertama-tama mengukur dan mencatat diameter telur, lalu mencatat bagaimana benyuk telur. Kemudian memasukan telur kedalam stoples . Selanjutnya, menuangkan cuka kedalam stoples sampai seluruh telur terendam kemudian stoples ditutup. Setelah itu, mengamati perubahan yang terjadi pada telur setiap 24 jam selama 3 hari.. Selanjutnya mengeluarkan telur dan mengukur garis tengahnya secara berulang selama tiga hari, setelah itu membandingkan bentuk dan ukuran telur sebelum dan setelah direndam dalam larutan cuka. Setelah mencatat perubahanya, kemudian memasukan telur tersebut kedalam toples yang telah diisi dengan sirup cocopandan. Dan mengamatinya setiap 24 jam selama 3 hari. Kemudian mengamati perubahan yang terjadi baik dalam bentuk dan ukuran sebelum dan sesudah direndam sirup cocopandan.

 

IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
Berdasarkan praktikum pengamatans tentang sel, maka diperoleh hasil sebagai berikut :

Objek : Sel tumbuhan

1. Ruang antar sel
2. Nukleus
3. Sitoplasma
4. Dinding sel

Gambar 6. Sel epidermis umbi lapis bawang merah (Allium ascolonium) yang diamati dibawah mikroskop dengan pembesaran 10x.

Objek: Sel tumbuhan
1. Inti sel
2. dinding sel

Objek : Sel hewan
1. Membran sel
2. Inti sel
3. Sitoplasma

Gambar 8. Pengamatan selaput rongga mulut (Epithelium mukosa) yang diamatidibawah mikroskop dengan pembesaran 10x

Objek : Sel Hewan
1. Bulu getar
2. Makronukleus
3. Membran sel
4. Sitoplasma

Gambar 9. Pengamatan biakan protozoa dalam air rendaman jerami dengan pembesaran 10x

4.2 Pembahasan
Sel merupakan unit terkecil dari suatu makhluk hidup. Dimana sel merupakan ruang-ruang kecil berdinding membran yang berisi cairan kimia pekat dalam pelarut air. Suatu sel harus memperoleh energi dari luar untuk diguanakan dalam proses-proses vitalnya. Misalnya pertumbuhan, perbaikan dan reproduksi.
Pada hasil pengamatan sel hewan maupun sel tumbuhan ternyata diperoleh suatu keanekaragaman bentuk sel mahluk hidup, yaiut sel mahluk hidup dengan mahluk hidup lain berbeda. Tetapi ada persamaan sedikit tentang sel yaitu bagian-bagiannya. Pada hewan misalnya sel hewan satu dengan sel hewan lainnya, tidak mempunyai dinding sel, hal ini sesuai apa yang dikemukakan oleh Comte De Buffon (1707-1778), yang menyatakan bahwa adanya persamaan struktur sel hewan. Ternyata pendapat ini benar, karena pada umumnya sel hewan mempunyai apa yang dimiliki oleh sel tumbuhan seperti sentriol, dan sebaliknya sesuatu yang dimiliki oleh sel hewan dan dimiliki oleh sel tumbuhan seperti klorofil (D.S., William. 2006)
Pada empelur batang ubi kayu (Manihot esculenta) terdapat struktur sel yang terdiri dari bagian-bagian sel seperti protoplasma dan dinding sel yang cukup sulit ditentukan bagian-bagian nya. Protoplasma terdiri dari dua bagian yaitu sitoplasma dan nukleuplasma. Dimana sitoplasma merupakan bagian protoplasma yang berada diluar inti sedangkan nukleuplasma merupakan bagian protoplasma yang terdapat dibagian nucleus.
Pada umbi lapis bawang merah (Allium ascalonium) struktur sel yang didapatkan adalah inti sel yang merupakan bagian yang sangat penting karena berperan sebagai pusat pengendali kegiatan sel. Didalam sel terdapat sitoplasma yang merupakan cairan yang mengisi ruangan antara membrane sel dengan inti sel. Dimana sel tersebut bersifat koloid yang artinya tidak cair dan tidak padat tetapi transparan. Sitoplasma menjadi tempat mengapungnya organel-organel sel, selain itu, ada dinding sel yang hanya terdapat pada sel tumbuhan yang berkenan untuk melindungi dan untuk menguatkan sel. Dinding sel tumbuhan yang masih muda berukuran tipis, tersusun dari selaput pectin. Dan setelah berkembang menjadi tua bertambah tebal dan berlapis-lapis yang terbentuk oleh selulosa yang menyebabkan sel tumbuhan tetap.( Tim dosen jurusan biologi., 1996)
Pada pengamatan struktur sel daun Hydrilla verticilata Struktur sel yang didapatkan adalah Dinding sel yang hanya ditemukan pada sel tumbuhan, sehingga sel tumbuhan bersifat kokoh dan kaku atau tidak lentur seperti sel hewan
Pada pengamatan sel pada epithelium rongga mulut (Epithelium muqosa) didapatkan pada sel tersebut terdapat membrane sel yang membatasi pada bagian didalam sel dan merupakan bagian luar sel . Membran sel merupakan selaput yang selektif permeable, artinya hanya dapat dilalui oleh molekul tertentu, selain menjaga kestabilan isi sel membrane sel juga berfungsi sebagai tempat terjadinya kegiatan biokimia dan sebagai pengontrol zat-zat yang boleh masuk dan keluar dari sel.(Bevender gerrit,1988))
Pada pengamatan protozoa yang ada dalam rendaman air jerami merupakan hewan bersel satu. Dimana protozoa biasanya ditemukan dalam air, tanah atau tempat pembuangan tinja. Pada pengamatan struktur sel protozoa pada air rendaman jerami, yang didapatkan flagel sehingga protozoa termasuk dalam kelas flagenta, yang mempunyai cirri dapat dapat begerak bebas sehingga sangat sulit untuk diperhatikan dan juga terdapat bagian – bagian seperti bulu getar yang menerapkan cirri darinprotozoa, makronukleus yaitu ruang didalam sel , membrane sel sebagai selaput yang melindungi sel dari luar, serta sitoplasma, cairan yang menjaga isi sel. Adapun cara protozoa mengatasi bila kekurangan air yaitu dengan cara membungkus diri berupa kista yaitu dinding sel yang tebal. Namun ini jaran terjadi kita ketahui protozoa merupakan hewan yang habitatnya berada di air. Protozoa juga berada didalam air laut yang kita kenal sebagai plankton, yang sangat digemari oleh ikan-ikan besar untuk dikonsumsi
(Michael., 2006).
Pada semipermeabilitas membrane sel telur yang direndam dengan menggunakan cuka dimana diameter telur berukuran 17,0 cm, dengan bentuk oval, dan perubahan terjadi setelah perendaman dilakukan selama 24 jam. Setelah itu, dilakukan pengukuran kembali diameter menjadi 21,0 cm degan bentuk yang sama. Hal ini di lakukan secara berulang selama tiga hari dengan diameter telur secara berturut-turut 19,5 cm dan 18.0 cm. Kemungkinan hal ini terjadi karena adanya proses miosis, bahwa miosis terjadi dari suatu tempat yang konsentrasinya tinggi ketempat yang konsentrasinya rendah yang melalui selaput pemisah.
Selaput pemisah dapat dibedakan menjadi dua yaitu, selaput pemisah permeable dan selaput pemisah semipermeabel. Selaput pemisah permeable adalah selaput yang dapat dilalui molekul air dan molekul-molekul sel terlarut didalamnya. Sedangkan semipermeabilitas adalah selaput yang dapat dilalui oleh molekul air dan molekul-molekul zat tertentu saja.
Setelah kulit telur terkelupas oleh larutan cuka yang kemudian diganti dengan larutan sirup, dimana pada awalnya berukuran diameter 18,0 cm dengan bentuk oval kemudian menurun menjadi 17,5 cm, dengan bentuk lonjong dengan pengamatan selama 24 jam, kemudian kembali menurun menjadi 17,0 cm dengan bentuk yang sama dengan pengamatan selama 48 jam, kemudian menurun menjadi 16,5 cm dalam pengamatan selama 72 jam menghasilkan bentuk lonjong.. Hal ini dikarenakan adanya air dalam yang keluar dimana konsentrasi yang diluar atau dalam hal ini terjadi osmosis (Sunarto, 1996

V KESIMPULAN DAN SARAN

 

5.1 KESIMPULAN
Berdasarkan hasil yang diperoleh, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :

1. Sel merupakan unit terkecil yang menyusun makhluk hidup yang terdiri dari dua bagian utama yaitu: inti (nucleus) dan sitoplasma.

2. Pada empelur batang ubi kayu (Manihot esculenta) terdapat struktur sel yang terdiri dari bagian-bagian sel seperti protoplasma dan dinding sel.

3. Pada umbi lapis bawang merah (Allium ascalonium) struktur sel yang didapatkan adalah inti sel yang merupakan bagian yang sangat penting karena berperan sebagai pusat pengendali kegiatan sel. Didalam sel terdapat sitoplasma yang merupakan cairan yang mengisi ruangan antara membrane sel dengan inti sel.

4. Pengamatan struktur sel daun Hydrilla verticilata Struktur sel yang didapatkan adalah Dinding sel yang hanya ditemukan pada sel tumbuhan

5. Pengamatan sel pada epithelium rongga mulut (Epithelium muqosa) didapatkan pada sel tersebut terdapat membrane sel yang membatasi pada bagian didalam sel dan merupakan bagian luar sel

6. Pada pengamatan protozoa yang ada dalam rendaman air jerami merupakan hewan bersel satu. Dimana protozoa biasanya ditemukan dalam air, tanah atau tempat pembuangan tinja

7. Semipermeabilitas merupakan sifat selaput yang hanya dapat dilalui oleh sebagian zat cair saja, tidak semua jenis zat cair dapat menerobos selaput tersebut. Sedangkan permeabilitas merupakan sifat selaput yang dapat dilalui oleh semua zat cair dan dapat menembus selaput tersebut.

5.2 Saran
Dengan adanya praktikum ini semoga dapat bermanfaat bagi para praktikan, dan dengan adanya praktikum ini juga kita bisa mendapatkan bayak ilmu yang secara langsung yang bisa memberikan pelajaran tentang struktur morfologi dan anatomi mahluk hidup, memahami konsep-konsep hukum yang ada dalam biologi seperti konsep hukum mendel,dengan adanya praktik kita dapat mengingatnya terus-menerus, dibandingkan denga membaca buku. serta bisa menyusun laporan sampai selesai dengan sedikit mengalami kemudahan karna adanya buku panduan dan lembar kerja praktikum biologi.

LAPORAN 3. PENGAMATAN TUMBUHAN

I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Organisme yang paling banyak terdpat dibumi adalah tumbuhan. tumbuhan bisa berwarna hijau, coklat atau abu-abu, tergantung musim dan tempat.
Tumbuhan bunga, Monokotil dan dikotil mempunyai organ-organ yang penting yang berfungsi bagi kelangsungan hidup tumbuhan.Tumbuhan dapat membuat makanannya sendiri, dengan menyerap bahan-bahan Anorganik dari Atmosfer dan tanah untuk digunakan dalam Fotosintesis

1.2 Tujuan Dan Kegunaan
Dapat memahami struktur Morfologi Anatomi dan Histology syistem organ pada tumbuhan

II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tumbuhan Monokotil
Menurut Brotowijoyo (1987) mengatakan bahwa tumbuhan monokotil adalah tumbuhan biji yang berkeping satu. Jika dilihat dari sistem morfologi maupun anatominya tumbuhan monokotil memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
1. Bentuk akar monokotil berserabut dan tidak berkambium.
2. Batangnya tidak/hanya sedikit bercabang, beruas tidak berkambium.
3. Pada susunan daun tulangnya sejajar atau melengkung.
4. Jumlah bagian bunga biasanya 3 atau kelipatannya.
5. Perkecambahan biji tetap utuh, tidak membelah.
6. Ujung akar lembaganya diselubungi selaput pelindung (koleoriza)
7. Berkas pengangkutan makanan tersebar

2.2 Tumbuhan Dikotil
Menurut Brotowijoyo (1987) mengatakan bahwa tumbuhan dikotil adalah tumbuhan biji yang berkeping dua. Ciri-ciri tumbuhan dikotil adalah sebagai berikut :
1. Susunan akarnya tunggang dan terdapat berkambium.
2. Batangnya bercabang-bercabang, tak beruas, berkambium hingga dapat tumbuh besar.
3. Pada susunan daun tulangnya menyirip atau menjari.
4. Jumlah bagian bunga biasanya 4, 5 atau kelipatannya.
5. Perkecambahan biji berbelah dua, memperlihatkan dua daun lembaga.
6. Ujung akar lembaganya tidak diselubungi selaput pelindung.
7. Berksas pengangkutan makanan teratur.
2.3 Organ-Organ Tumbuhan
Menurut Tjitrosoepomo (1973) menelaskan bawa pada tumbuhan terdapat beberapa organ dan funsinya. Di antaranya adalah ebagai beriku :

a. Akar ( Radix )
Fungsi akar :
– Penyerapan unsur hara dan air ( karena unsur hara sulit larut dalam air )
– Memperkokoh tanaman.
– Proses pengangkutan unsur hara dan air.
– Kadang sebagai tempat penyimpan cadangan makanan (pada bawang, dan umbi-umbian)

b. Batang ( Caulis )
Fungsi batang :
– Sebagai organ pokok selain akar dan daun
– Sebagai sistem percabangan untuk perluasan bidang fotosintesis.
– Media transporasi air, unsur hara dan bahan organik.
– Sebagai tempat penimbunan zat makanan.

c. Daun ( Lamina )
Daun merupakan tonjolan (Capenndage) yang tumbuh pada buku batang dan memiliki meristiem ujung (Apical meristem). Jaringan daun berpengaruh terhadap pembentukan ujung daun dan meristemintercallar dan berkembang menjadi bagian meristem lainnya.
Sifat dan fungsi daun :
– Berbentuk pipih bilateral
– Berwarna hijau
– Tempat proses fotosintesis, dimana terjadinya pertukaran gas CO2 danO2.
d. Bunga ( flos )
Bagian-bagian bunga adalah:

1. Calix (kelopak), berfungsi untuk melindungi bunga ketika masih
kuncup
2. Corolla (mahkota), berfungsi sebagai hiasan bunga untuk menarik
serangga
3. Stamen (benangsari), terdiri dari filamen (tangkai sari), antera (kepala
sari), pollen (serbuk sari)
4. Pistillum (putik), terdiri dari stigma (kepala putik), stillus (tangkai
putik), ovarium (bakal buah), ovullum (bakal biji)

2.4 Reproduksi Pada Tumbuhan
Reproduksi pada tumbuhan di bagi menjadi dua yaitu reproduksi vegetatif dan reproduksi generatif.
Reproduksi Aseksual / Vegetatif dibagi menjadi 2 :
Reproduksi aseksual alami seperti : Pembentukan spora, dimulai dari pembelahan sel pada bagian tertentu dari tumbuhan. Contoh : lumut dan tumbuhan paku.
Reproduksi aseksual buatan seperti : Menyetek, mencangkok dan merunduk yang merupakan cara pembiakan yang melibatkan satu individu tumbuhan. Sedangkan menyambung dan menempel melibatkan 2 individu tumbuhan.
Reproduksi Seksual / Generatif
Proses reproduksi seksual memerlukan gamet jantan dan betina. Proses perkawinan tumbuhan berbiji diawali oleh proses penyerbukan dan dilanjutkan dengan proses pembuahan. Penyerbukan pada tumbuhan biji terbuka (gymnospermae) adalah menempelnya serbuk sari ke mikrofil (liang bakal biji). Dan terjadi pembuahan tunggal.

III METODE PRAKTEK

3.1 Waktu dan Tempat
Praktikum Biologi Umum Tentang Pengamatan Tumbuhan dilaksanakan Pada hari Sabtu, 5 Desember 2009 pada pukul 13.30 WITA sampai 17.00 dan di Laboratorium Agroteknologi, Fakultas pertanian, Universitas Tadulako, palu.

3.2 Bahan dan Alat
Bahan- bahan yang digunakan dalam praktikum pengamatan tentang tumbuhan ini adalah tanaman jagung (Zea Mays), tanaman mangga (Mangifera indica), stek ubi kayu (Manihot esculenta), bunga kamboja (Plumeria ascuminata), bunga kembang sepatu (Hibiscus rosa sinensin ), dan bunga Mawar ( Rosa hibrida hort)
Alat- alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah mikroskop, objek glass, cover glass, cater, kaca pembesar dan buku gambar.

3.3 Cara Kerja
Langkah pertama yang dilakukan pada pengamatan morfologi tanaman mangga (Mangifera Indica) adalah dengan memotong atau memisahkan bagian-bagian akar, batang, dan daunnya kemudian menentukan apakah tanaman mangga termasuk tumbuhan monokotil atau dikotil. Selanjutnya menggambarkan bagian-bagiannya di lembar kerja praktikum biologi.
Pengamatan pada tumbuhan monokotil, yang pertama dilakukan adalah mengambil tanaman jagung (Zea mays) Lalu memotong bibit tersebut menjadi tiga bagian yaitu, akar (Radix), batang (Caulis), dan daun ( Folim). Setelah itu mengamati ketiga bagian morfologi tersebut dan menggambarkan bagian-bagiannya dilembar kerja praktikum biologi.
Pada pengamatan stek ubi kayu (Manihot esculenta) yang diamati adalah batangnya. Selanjutnya mengamati bagian-bagian yang terdapat pada batangnya. Kemudian menggambarkanya dilembar kerja praktikum biologi.
Selanjutnya melakukan pengamatan anatomi tumbuhan kepada tiga tanaman di atas yaitu, tanaman mangga (Mangifera Indica), tanaman jagung (Zea mays),
kecambah kacang hijau (Phaseolus radiatus) dibawah mikroskop dengan pembesaran 10x. Seperti struktur daun mangga, jagung, struktur stek ubi kayu, dan struktur batang jagung serta batang mangga. Selanjutnya akar tumbuhan mangga, jagung dan kemudian menggambarnya dilembar kerja praktikum biologi.
Pada pengamatan produksi tumbuhan, langkah pertama yang dilakukan adalah mengambil tiga bunga yaitu bunga mawar (Rosa hibrida hort), bunga kamboja (Plumeria acuminate), dan bunga kembang sepatu (Hibiscus rosa sinensis). Kemudian membela masing- masing specimen menjadi dua bagian. Lalu mengambil tiap specimen bunga apakah bunga tersebut termasuk bunga lengkap atau tidak lengkap. Selanjutnya mengamati setiap bagiannya dan menngambarkannya dibuku gambar.
Pengamatan selanjutnya adalah dengan mengamati bunga mawar (Rosa hibrida hort), bunga kamboja (Plumeria acuminate) , dan kembang sepatu (Hibiscus rosa sinensis). Selanjutnya, menggambarkan bagian-bagiannya dibuku gambar.

IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan maka hasil yang akan diperoleh adalah sebagai berikut :

1. Ujung daun
(Meruncing).
2. Tepi daun
(bergelombang)
3. Tulang daun
(Menyilang)
4. Pangkal daun
(meruncing)
5. Bangun daun
(bergelombang)

Gambar 10. Morfologi bentuk daun (Circum scription) dikotil pada tanaman mangga (Mangifera indica L) family Anacardiaceae.
1. Ujung daun
(Meruncing).
2. Tepi daun
(bergelombang)
3. Tulang daun
(Menyilang)
4. Pangkal daun
(meruncing)
5. Bangun daun
(bergelombang)

Gambar 11. Morfologi bentuk daun ((Circum scription) monokotil pada tanaman jagung ( Zea mays) family Graminae.

1. Ranting
2. Cabang
3. Batang (Caulis)

Gambar 12. Morfologi bentuk batang ((Caulis)) dikotil pada tanaman Mangga ( Mangifera undica) family Anacardiace

1. Batang (caulis)

Gambar 13. Morfologi bentuk batang ((Caulis)) monokotil pada tanaman jagung ( Zea mays) family Graminae.

1. Cabang akar
(Radix lateral)
2. Akar primer
3. Bulu akar
(Pilusradiacalis)

Gambar 14. Morfologi bentuk akar (Radix)) monokotil pada tanaman jagung ( Zea mays) family Graminae.

1. Leher akar (Collum)
2. Batang akar
(Corups radicis)
3. Cabang akar
(Radix radicis)
4. Bulu akar (Pilus radicalis)
5. Ujung akar (Apeks radicis)
6. Tudung akar (Calyptra)
Gambar 15. Morfologi bentuk akar (Radix) dikotil pada tanaman mangga ( Mangifera indica) family Anacardicaceae.

1. Nodus
2. Empelur
3. Tunas ketiak
4.Batang (Caulis)
Gambar 17. Morfologi tumbuhan monokotil pada stek ubi kayu (Manihot esculenta) family Euphorbiaceae.

1. Mahkota (Patel)

2. Putik (Pestil)
3. Kelopak (Calix)

4. Benang sari
( stamen)

Gambar 18. Pengamatan Morfologi alat reproduksi pada bunga mawar (Rosa hibrida hort) family Rosaceae.

1. Putik (Pistillium)
2. Mahkota
( Corolla)
3. Kelopak (Celyx)
Gambar 19. Pengamatan Morfologi alat reproduksi pada bunga kamboja (Plumeria acuminate) family Apocynaceace.

1. Putik (Pestil)
2. Benang sari (Stamen)

3. Mahkota (Patel)

4. Kelopak (Calix)

5. Bakal buah (ovari)

Gambar 20. Pengamatan Morfologi alat reproduksi pada bunga kembang sepatu (Hibiscus rosa sinensis) family Malvaceae.

Gambar 21. Pengamatan Anatomi tumbuhan dikotil pada akar mangga
(Mangifera indica) family Anacadicaceae dengan pembesaran 10x.

Gambar 22. Pengamatan Anatomi tumbuhan dikotil batang (Caulis) pada mangga
(Mangifera indica) family Anacadicaceae dengan pembesaran 10x.

Gambar 23. Pengamatan Anatomi tumbuhan dikotil daun (Folium) pada mangga
(Mangifera indica) family Anacadicaceae dengan pembesaran 10x.

Gambar 24. Pengamatan anatomi tumbuhan monokotil akar (Radix) pada jagung (Zea mays) family Graminae dengan pembesaran 10x.

s

Gambar 25. Pengamatan anatomi tumbuhan monokotil Batang (Caulis) pada jagung (Zea mays) family Graminae dengan pembesaran 10x.

Gambar 26. Pengamatan anatomi tumbuhan monokotil daun (Folium) pada jagung (Zea mays) family Graminae dengan pembesaran 10x.

4.3 Pembahasan
Pada tumbuhan tingkat tinggi, tumbuhan dapat dibedakan atau dibagi menjadi dua macam, yaitu tumbuhan berbiji keping satu atau yang disebut dengan monokotil
(Monocotyledonae ) dan tumbuhan berbiji keping dua atau yang disebut juga dengan dikotil (Dicotyledonae).
Pada percobaan pertama yaitu percobaan secara morfologi, tumbuhan dikotil pada mangga (Mangifera indica) mempunyai ciri-ciri umum, yaitu berakar tunggang yang bercabang-cabang, dari cabang akar ini tumbuh cabang kecil-kecil, cabang kecil ini ditumbuhi bulu-bulu akar yang sangat halus. Akar tunggang pohon mangga sangat panjang hingga bisa mencapai 6 m., pemanjangan akar tunggang akan berhenti bila mencapai permukaan air tanah. akar cabang makin kebawah makin sedikit, paling banyak akar cabang pada kedalaman lebih kurang 30-60 cm. Akar tersusun dari jaringan-jaringan epidermis, parenkim, endodermis, kayu, pembuluh (pembuluh kayu dan pembuluh tapis) dan kambium pada tumbuhan dikotil.
Batang merupakan bagian tengah dari suatu tumbuh-tumbuhan yang tumbuh lurus keatas. Bagian ini mengandung zat-zat kayu, sehingga tanaman mangga tumbuh tegak, keras, dan kuat. Bentuk batang mangga tegak, bercabang agak kuat, daun lebat membentuk tajuk yang indah berbentuk kubah, oval atau memanjang. Kulitnya tebal dan kasar dengan banyak celah-celah kecil dan sisik-sisik bekas tangkai daun. Warna kulit yang sudah tua biasanya coklat keabuan, kelabu tua sampai hampir hitam. Susunan batang tidak banyak berbeda dengan akar. Batang tersusun dari jaringan berikut: epidermis, parenkim, endodermis, kayu, jaringan pembuluh, dan kambium pada tumbuhan dikotil.
Dan pada daunnya terdiri dari dua bagian, yaitu tangkai daun dan badan daun. Badan daun bertulang dan berurat-urat, antara tulang dan urat tertutup daging daun. Daging daun terdiri dari kumpulan sel-sel yang tak terhingga banyaknya. Daun letaknya bergantian, tidak berdaun penumpu. Panjang tangkai daun bervariasi dari 1,25-12,5 cm, bagian pangkalnya membesar dan pada sisi sebelah atas ada alurnya. Aturan letak daun pada batang biasanya 3/8, tetapi makin mendekati ujung, letaknya makin berdekatan sehingga nampaknya seperti dalam lingkaran. Tepi daun biasanya halus, tetapi kadang-kadang, sedikit bergelombang/ melipat atau menggulung. Panjang helaian daun 8-40 cm dan lebarnya 2-12,5 cm, tergantung varietas dan kesuburannya. jumlah tulang daun yang kedua (cabang) 18-30 pasang. Daun yang masih muda biasanya bewarna kemerahan yang dikemudian hari akan berubah pada bagian permukaan sebelah atas berubah menjadi hijau mengkilat, sedangkan bagian permukaan bawah bewarna hijau muda. Umur daun bisa mencapai 1 th atau lebih. Helai daun sendiri tersusun dari jaringan-jaringan dasar berikut:epidermis, jaringan tiang, jaringan bunga karang dan jaringan pembuluh. Hal ini dijelaskan dalam website (Morfologi.http://id.wikipedia.org/wiki/morfologimangga)
Pada specimen jagung ditemukan Akar berabut. Akar sokong pada pangkal batang menolong menyokong pokok. , Batang runggal, berbentuk silinder, panjang dan ditutupi dengan upih daun dan mempunyai buku yang lebih rapat dekat pada pangkal.Daun tirus dan panjang dengan urat yang selari.
jagung (jambak bunga jantan) yang terdapat di hujung batang pokok menghasilkan biji-biji debunga sebelum bunga betina matang.
Tongkol yang terdapat di ketiak daun pokok matang mengandungi biji benih jagung.
Jambak bunga betina (stil) yang panjang dan berupa sutera terdapat di tongkol muda dan menerima cepude bungajantan. Pendebungaan adalah dibantu oleh angin.Biji atau kernal mengandungi tiga bahagian iaitu perikarpa, endosperma dan embrio.
Tumbuhan yang masih kecil belum lama muncul dari biji dinamakan kecambah (Palntula) kecambah memperlihatkan bagian-bagian seperti, akar lembaga / calon akar (Radikal) daun lembaga (Catiledon) dan batang lembaga (Cauliculus). Menurut Trisoepomo (2003), secara morfologi pada kecambah bagian-bagian pada lembaga (akar, batang, daun) sudah lebih jelas terlihat , yaitu jika pada perkecambahan karena perbentangan ruas akar dibawah daun lembaga, daun lembaga lalu tersangkut keatas , hal-hal yang harus diperhatikan dalam perkecambahan adalah tanaman air, zat-zat makanan, dan sinar matahari untuk tubuh normal.
Pada ubi kayu (Manihot esculenta) dalam hal ini termasuk tumbuhan berkembangbiak dengan cara vegetatif (aseksual). Hal ini sesuai dengan Sutedjo (1989) bahwa tumbuhan ketela (Manihot utilisima) merupakan tuber yang berbentuk dari akar atau disebut ubi akar, dimana akar cabang atau akar serabut yang menjadi ubi dan dalam perkembangbiakan stek batang yaitu sepotong batang tua.
Pada pengamatan tumbuhan dapat memperbanyak diri atau berkembag biak. Yang menjadi tumbuhan baru adalah suatu bagian tubuh tumbuhan yang kemudian memisahkan diri atau oleh manusia sengaja dipisahkan dari tumbuhan yang lama. Bagian tubuh-tumbuhan dapat dibedakan menjadi dua golongan yaitu, perkembangbiakan generatif dan perkembangbiakan secara vegetatif.
Perkembangbiakan Generatif (Seksual) merupakan , terjadinya individu baru yang didahului dengan peleburan dua sel gamet. Peristiwa ini disebut dengan pembuahan. Pembuahan (fertilisasi) pada tumbuhan berbiji akan terjadi kalau didahului adanya proses penyerbukan ( persarian).Vegetatif (Aseksual) merupakan terjadinya individu baru tanpa didahului peleburan dua sel. Perkembangbiakan vegetatif terbagi menjadi vegetatif alami yaitu, terjadinya individu baru tanpa adanya campur tangan manusia. Perkembangan seperti ini terjadi dengan beberapa cara, yaitu: dengan pembelahan sel, dengan menghasilkan spora vegetatif, dengan rhizoma atau akar tunggal, dengan stolon atau geragih, dengan umbi batang, dengan umbi lapis, dan dengan tunas
Bunga lengkap merupakan bunga yang memiliki alat-alat kelengkapan bunga Bunga sempurna, Kepala putik (stigma), Tangkai putik (stilus), Tangkai sari (filament, bagian dari benang sari), Sumbu bunga (axis), artikulasi, Tangkai bunga (pedicel), Kelenjar nektar, Benang sari (stamen), 1Bakal buah (ovum), Bakal biji (ovulum), Serbuk sari (pollen), Kepala sari (anther), Perhiasan bunga (periantheum), Mahkota bunga (corolla), Kelopak bunga (calyx) misalnya pada bunga kembang sepatu. Sedangkan bunga yang tak lengkap merupakan bunga yang tidak memiliki salah satu dari kelengkapan bunga tersebut misalnya bunga yang hanya memiliki salah satu kelengkapan alat kelamin misalnya benang sari dikatakan sebagai bunga jantan hal ini senada dengan yang diungkapkan oleh Soenarjo (1994)yang mengatakan bahwa apabila suatu bunga hanya memiliki putik saja dikatakan sebagai bunga betina..
Menurut Kimbal (2000) didalam bunga terdapat bakal biji yang fungsinya sebagai tempat hasil penyerbukan putik dan benag sari. Didalam bakal biji akan terbentuk individu baru ketika putik dan benag sari telah terjadi penyerbukan dan persarian.

V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan
Berdasarkan pada hasil dan pembahasan , maka didapatkan kesimpulan sebagai berikut :
1. Morfologi adalah cabang botani yang mempelajari struktur luar dari tumbuhan . Morfologi tumbuhan hanya diketahui pada tumbuhan-tumbuhan kormus yaitu tumbuhan yang dapat dibedakan atas tiga bagian pokok yaitu, akar (Radix), batang(Caulis), dan daun (Folium)

2. Anatomi tumbuhan merupakan bagian-bagian tumbuhan yang tidak tampak dari luar seperti, berkas pengangkut, xylem, floem, stomata, kambium dan korteks.
3. Tumbuhan monokotil merupakan tumbuhan yang memiliki biji berkeping satu seperti pada jagung (Zea mays) dan kecambahkacang hijau (Phaseolus radiates). Sedangkan tumbuhan dikotil adalah tumbuhan yang memiliki biji berkeping dua seperti pada mangga (Mangifera indica)

4. Bunga lengkap apabila memilki kepala putik (stigma), Tangkai putik (stilus), Tangkai sari (filament, bagian dari benang sari), Sumbu bunga (axis), artikulasi, Tangkai bunga (pedicel), Kelenjar nektar, Benang sari (stamen), 1Bakal buah (ovum), Bakal biji (ovulum), Serbuk sari (pollen), Kepala sari (anther), Perhiasan bunga (periantheum), Mahkota bunga (corolla), Kelopak bunga (calyx). Dan bunga tak lengkap apabila tidak memiliki salah satu atau lebih dari bagian- bagian tersebut.

5. Perkembangbiakan Generatif (Seksual) yaitu, terjadinya individu baru yang didahului dengan peleburan dua sel gamet. Peristiwa ini disebut dengan pembuahan. Pembuahan (fertilisasi) pada tumbuhan berbiji akan terjadi kalau didahului adanya proses penyerbukan ( persarian).
Perkembangbiakan Vegetatif (Aseksual) yaitu, terjadinya individu baru tanpa didahului peleburan dua sel. Perkembangbiakan vegetatif terbagi menjadi vegetatif alami yaitu, terjadinya individu baru tanpa adanya campur tangan manusia.

5.2 Saran
Dengan adanya praktikum ini semoga dapat bermanfaat bagi para praktikan, dan dengan adanya praktikum ini juga kita bisa mendapatkan bayak ilmu yang secara langsung yang bisa memberikan pelajaran tentang struktur morfologi dan anatomi mahluk hidup, memahami konsep-konsep hukum yang ada dalam biologi seperti konsep hukum mendel,dengan adanya praktik kita dapat mengingatnya terus-menerus, dibandingkan denga membaca buku. serta bisa menyusun laporan sampai selesai dengan sedikit mengalami kemudahan karna adanya buku panduan dan lembar kerja praktikum biologi.

LAPORAN 4. PENGAMATAN HEWAN

I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
pada hewan terbagi menjadi dua bagian yang vertebrata dan invertebrate yaitu hewan yang tidak bertulang belakang. Vertebrata digolongkan berdasarkan cara perkembang biakan dan tempat tinggalnya ( Amin, 1997)
Amphibi adalah hewan yang dapat hidup di dua lingkungan, yaitu lingkungan air dan lingkungan darat. Amphibi merupakan kelompok vertebrata pionir yang hidup di darat dengan beberapa bentuk penyesuaian . Amphibi termasuk hewan yang berdarah dingin, yaitu suhu tubuhnya mengikuti suhu lingkungan. Dalam hal ini contoh hewan amphibi adalah katak, katak mengalami metamorphosis sempurna. pada saat berudu katak bernapas dengan insang dan berekor pendek kemudian insang luar hilang dan tumbuh insang dalam. Ketika insang dalam hilang, paru-paru tumbuh sehingga berudu bernapas dengan kulit (Amin, 1997)
Katak sawah adalah sejenis katak yang banyak hidup di sawah-sawah rawa,parit dan selokan sampai kerawa-rawa bakau (Anonym, 2000).
Katak sawah( Rana cancrivora) memiliki klasifikasi sebagai berikut :

Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Subfilum : Veterbrata
Class : Amphibi
Ordo : Anura
Familia : Ranidae
Genus : Rana
Species : Rana cancrivora ( Anonym, 2000)

1.2 Tujuan dan Kegunaan
Tujuan dari Praktikum Biologi Umum Pengamatan Hewan adalah agar dapat mengetahui struktur morfologi, anatomi dan histology system organ hewan serta mampu menggambarkan morfologi katak, menjelaskan system pencernaan dan system reproduksi pada katak.
Kegunaan dari Praktikum Biologi Umum Pengamatan Hewan adalah agar dapat memberikan gambaran dan pengetahuan tentang bagaimana cara pembedahan

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengamatan hewan
2.2 Klasifikasi katak (Taksonomi anpibi)
Sistem klasifikasi pada katak Hijau (Rana cancrivora) sebagai berikut :
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Amphibia
Ordo : Anura
Familia : Ranidae
Genus : Rana
Spesies : Rana cancrivora

2.3 Hewan berdarah dingin.
Hewan berdarah dingin (Poikiloterm) adalah hewan yang sangat bergantung pada suhu di lingkungan luarnya untuk meningkatkan suhu tubuhnya karena panas yang dihasilkan dari keseluruhan sistem metabolismenya hanya sedikit. Suhu tubuh hewan ini berubah sesuai dengan suhu lingkungannya. Hewan ini akan aktif bila suhu lingkungan panas dan akan pasif (berdiam di suatu tempat) bila suhu lingkungan rendah. (Soepomo, 1976).
Hal yang menyebabkan hewan tersebut tidak dapat menghasilkan panas yang cukup untuk tubuhnya adalah karena darah dari hewan poikiloterm ini biasanya bercampur antara darah bersih dan darah kotor. Ini disebabkan karena belum sempurnanya katup pada jantung hewan tersebut. (Soepomo, 1976).

2.4 Hewan berdarah panas.
Hewan homoiterm, adalah hewan yang suhu tubuhnya berasal dari produksi panas di dalam tubuh, yang merupakan hasil samping dari metabolisme jaringan. Suhu tubuh hewan ini relatif konstan, tidak terpengaruh oleh suhu lingkungan disekitarnya. Hal ini karena darah bersih dan darah kotor pada hewan ini sudah tidak bercampur lagi karena katup pada jantungnya sudah sempurna
Hewan homoiterm mempunyai variasi temperatur normal yang di pengaruhi oleh faktor umur, faktor kelamin, faktor lingkungan, faktor panjang waktu siang dan malam, faktor makanan yang dikonsumsi dan faktor jenuh pencernaan air. Hewan berdarah panas adalah hewan yang dapat menjaga suhu tubuhnya, pada suhu-suhu tertentu yang konstan biasanya lebih tinggi di bandingkan lingkungan sekitarnya. Sebagian panas hilang melalui proses radiasi, berkeringat yang menyejukkan badan. Melalui evaporasi berfungsi menjaga suhu tubuh agar tetap konstan. (Soepomo, 1976)

2.5 Sistem pencernaan hewan.
Menurut Tjitrosoeputro (1987), dalam melakukan pencernaan amphibi mempunyai alat-alat seperti, mulut, kerongkongan, lambung, usus halus, usus besar dan yang berakhir pada kloaka. Pencernaan pada katak yang meliputi, esofagus, kemudian lambung, pancreas, dan kemudian menuju usus halus, duodenum (usus 12 jari), dan selanjutnya usus besar, limpa kloaka dan yang terakhir pada kantong kemih (Taryono, 1995).
Pada hewan amphibi, kloaka mempunyai tiga fungsi yaitu sebagai alat pengeluaran (sekresi), sebagai alat reproduksi (seksual), dan juga sebagai pengeluaran urine. Sehingga tidak dapat dikatakan sebagai anus seperti halnya pada manusia. Olehnya itu alat pengeluarannya disebut kloaka sebab mempunyai banyak fungsi (Soepomo, 1976).

2.6 Sistem reproduksi hewan.
• Sistem Reproduksi Katak Jantan

Pada mammalia jantan, alat kelaminnya disebut penis pada reptil seperti cecak dan kadal menggunakan hemipenis (penis palsu), sedang pada bangsa unggas misalnya : bebek, untuk menyalurkan sperma menggunakan ujung kloaka (Tenzer,2003).
• Sistem Reproduksi pada Katak Betina
Pada katak betina terdapat sepasang ovarium yang berfungsi sebagai tempat pembuahan dan penghasil ovari. Dalam melakukan reproduksi katak melakukan pembuahan diluar tubuh, sehingga bila ingin bertelur, katak tersebut menuju dalam air dan bertelur (Soepomo, 1976)

III. METODE PRAKTEK

3.1 Waktu dan Tempat
Praktikum Biologi Umum Pengamatan Hewan dilaksanakan pada hari sabtu tanggal 2 Januari mulai pukul 14.00-17.00 sampai selesai di Laboratorium Fakultas pertanian Universitas Alhkairat Palu.

3.2 Bahan dan AIat
Bahan yang digunakan dalam Praktikum Biologi Umum Pengamatan Hewan adalah katak sawah (Rana cancrivora) dan alcohol 70 %.
Alat digunakan dalam Praktikum Biologi Umum Pengamatan Hewan adalah pinset, toples, papan bedah, jarum pentul, pisau bedah( silet) dan masker.

3.3 Prosedur Kerja
Prosedur kerja dalam Praktikum Biologi Umum Pengamatan Hewan adalah mengambil seekor katak sawah, kemudian memasukkannya kedalam toples yang berisi alcohol 70% lalu membiarkannya beberapa saat sampai katak tersebut pingsan. Setelah katak tersebut pingsan, kemudian meletakkannya di atas papan bedah dalam keadaan tertelungkup lalu mengarnati morfologinya dan menggambar serta member keterangan ekstremitas anterior dan ekstremitas posterior.
Selanjutnya melakukan pembedahan secara hati-hati pada bagian perut yang dimulai dari bagian yang sejajar dengan kloaka lurus sampai pada bagian kaki, selanjutnya membelah tegak lurus yang sejajar dengan kloaka sampai dengan bagian lengan (tulang yang keras) dan membelah lurus agar terlihat jelas. Kemudian menarik lambung katak sampai pada kerongkongan dan mengiris bagian tersebut, selanjutnya mengamati bagian system pencernaan dan menggambarnya pada kertas gambar dengan keteranganya. Setelah mengamati system pencernaan pada katak kemudian mengamati dan menggambar system reproduksi katak pada kertas gambar dengan keterangannya

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
Berdasarkan praktikum tentang pengamatan tentang hewan diperoleh hasil sebagai berikut :
Objek : morfologi pada hewan vetebrata

Gambar 1: pengamatan morfologi katak (Rana cancrivora) dalam keadaan lengkap.

Objek : morfologi pada hewan vetebrata

Gambar 2. Pengantan morfologi katak sawah (Rana cancrivora) dalam kedaan terlentang

Objek : system pencernaan katak sawah (Rana cancrivora)

Gambar 29 . pengamatan system pencernaan pada katak sawah (Rana cancrivora)

Objek: system reproduksi pada katak sawah (Rana cancrivora)

Gambar 30 bentuk anatomi system reproduksi katak sawah (Rana cancrivora) betina.

4.2 Pembahasan
System morfologi katak sawah (Rana cancrivora) yaitu terdapat struktur fungsi tubuh katak yaitu fruncus dua pasang ekstremitas seluruh tubuh terbungkus halus dan licin, bagian kepala terdapat rima oris yang lebar untuk pernapasan, sepasang organ visus yang bulat. Dibelakang mata terdapat membrane timpani untuk menerima getaran suara pada akhir tubuh terdapat kloaka yang berfungsi sebagai tempat pelepasan faeces, urine dan sel kelamin( Abadin,1991).
Salah satu bagian morfologi pada katak adalah pada system pencernaannya Morfologi pada katak terdiri dari kulit, mata tangan, kaki dan berbagai macam morfologi lainnya. Di sini diperjelas system respirasi atau system pernapasan. Alat respirasi pada katak seperti pada hewan amphibi lainnya (Tiitrosoeputro, 1987).
Menurut Tjitrosoeputro (1987), dalam melakukan pencernaan amphibi mempunyai alat-alat seperti mulut, kerongkongan, lambung, usus halus, usus besar dan berakhir pada kloaka. Pada kerongkongan dapat meluas dan menerima mangsa yang besar. Lambung di sebelah kiri, terletak pada ujung belakang lambung.
Pangkreas adalah kelenjar yang menunjang pencernaan terletak dimesentrium antara lambung dan duodenum, sedangkan rectum bagian ujung belakang usus yang membesar terletak median yang bermuara kedalam kloaka.
Sisem reproduksi katak sawah (Rana cancrivora) yaitu system reproduksi pada katak jantan adanya sepasang testis yang berfungsi memproduksi sperma, vasdeverens berfungsi sebagai saluran sperma keluar menujuh kekloaka merupakan muara tiga saluran yaitu saluran pencernaan, saluran kelamin dan saluran pengeluaran (Subowo,1989).
Pada katak betina terdapat sepasang ovarium yang terletak di bagian dorsam yang menggantung. Ovarium digantungkan oleh mesovarium. Oviduk merupakan saluran yang berkelok-kelok dengan ujung terbuka. Oviduk dimulai dengan bangunan yang mirip corong (Infumdibulum) dengan lubangnya yang disebut obsum abdominal. Oviduk di sebelah kaudal merupakan pelebaran yang disebut dutus mesonefru(subowo,1989).
Extremitas Anterior yang berupa lengan yang berukuran pendek terdiri dari atas Brachium dan Antebrachium, Manus (telapak tangan), sedangkan Extremitas Posterior berupa kaki belakang terdiri dari atas Femur (paha), Crus (betis) dan Pes (tapak kaki) (Tjitrosoeputro, 1987).

V. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan maka diperoleh kesimpulan
sebagai berikut :

1. Pada morfologi katak sawah (Rana cancrivora) terdapat beberapa komponen penyusun diantaranya mulut, mata, kepala, jari-jari, lengan atas, lengan bawah,
siku, paha atas, perut dan punggung.

2. Alat pencernarm pada katak terdiri dari kerongkongan (Esofagus), lambung (Yentrilailus), usus 12 jari (Duodenum), jejunum, lieum, usus halus,( Intestinum tenuel), usus besar (Intestinum crossum), rectum dan kloaka.

3. Pada katak jantan organ reproduksi terdiri dari sepasang testis yang menggantung, Berfungsi untuk mengeluarkan sperma. Sedangkan katak betina terdapat sepasang yang menggantung didalam ovarium.

5.2 Saran
Agar praktikum dapat berjalan dengan baik, Disarankan agar Labortorium
Seharusnya dapat menyiapkan alat-alat yang lengkap bagi praktikan agar praktikan lebih mahir dalam pelaksanaan praktikum.

LAPORAN 5. MEMAHAMI KONSEP HUKUM MENDEL

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Genetika adalah Dengan teknologi terbukti bahwa pendapat Mendel adalah benar, yaitu sifat menurun dibawah oleh faktor penentu, yang sekarang disebut dengan istiah gen. dan ditentukan oleh separoh dari induk jantan dan separoh dari
Induk betina (Sumarwan, 2004).
Gen dominan adalah gen yang menang dan muncul pengaruhnya dalam fenotip (sifat yang tampak) sedangkan gen resesif adalah gen yang kalah dan tidak muncul bila bertemu dengan gen dominan. Gen resesif akan muncul pengaruhnya bila dalam keadaan homozigot resesif (Suryo,2004).
Untuk membuktikan kebenaran teorinya Gregor Johari Mendel melakukan eksperiman dengan membastarkan tanaman-tanaman yang memiliki sifat beda.
Tanaman yang dipilih adalah tanaman kacang ercis karena memiliki yang mudah
dalam melakukan penyerbukan silang dan dapat melakukan penyerbukan sendiri (Sumartini,1994).

1.2 Tujuan dan Kegunaan
Tujuan dari Praktikum Biologi Umum Memahani Konsep Hukum Mendel adalah agar dapat memahami angka-angka perbandingan Hukum Mendel melalui hukum kebetulan.
Kegunaan dari Praktikiim Biologi umum Memahami Konsep Hukum mendel adalah untuk memberikan pemahaman tentang suatu peristiwa sifat yang diturunkan kepada anaknya melalui ilmu genetika.

II. TINJAUAN PUSTAKA.

2.1 Memahami konsep hukum Mendel.

2.2 Hukum Mendel.
Eksperimen Mendel dimulai saat dia berada di biara Brunn didorong oleh keingintahuannya tentang suatu ciri tumbuhan diturunkan dari induk keturunannya. Jika misteri ini dapat dipecahkan, petani dapat menanam hibrida dengan hasil yang lebih besar. Prosedur Mendel merupakan langkah yang cemerlang dibanding prosedur yang dilakukan waktu itu. Mendel sangat memperhitungkan aspek keturunan dan keturunan tersebut diteliti sebagai satu kelompok, bukan sejumlah keturunan yang istimewa. Dia juga memisahkan berbagai macam ciri dan meneliti satu jenis ciri saja pada waktu tertentu; tidak memusatkan perhatian pada tumbuhan sebagai keseluruhan. (Wildan, 1991)
Dari hasil percobaanya, Mendel menyusun hipotesis. Hipotesis tersebut untuk menjelasakan peristiwa persilangan. Hipotesis yang dikemukakan oleh Mendel adalah sebagai berikut. (Wildan, 1991)

a. Setiap sifat organisme dikendalikan oleh sepasang factor keturunan yang sekarang disebut gen. Satu dari induk jantan dan satu dari induk betina.

b. Setiap pasang factor keturunan menunjukan bentuk alternative sesamanya, misalnya tinggi atau pendek, bulat atau keriput, asam atau manis. Kedua bentuk alternative itu disebut alel.

c. Bila pasangan factor itu terdapat bersama-sama, factor dominant akan menutup factor resesif.

d. Pada saat pembentukan sel kelamin, pasangan factor ketureunan memisah. Setiap gamet akan menerima salah satu fajtor dari pasangan itu. Pada proses pembuahan factor-faktor itu akan berpasangt-pasangan secara acak.

e. Individu galur murni memiliki dua alel yang sama, alal dominant disimbolakan dengan huruf besar, sedangakan alel resesif disimbolkan dengan huruf kecil. Misalnya, TT untuk pasangan alel tinggi domonan dan tt untuk pendek resesif.
Mendel menarik beberapa kesimpulan dari hasil penelitiannya. Yang kemudian menjadi Hukum mendel I dan hukum mendel II.

• Hukum mendel I
Hukum mendel I menyatakan bahwa setiap ciri dikendalikan oleh dua macam informasi, satu dari sel jantan (tepung sari) dan satu dari sel betina (indung telur di dalam bunga). Kedua informasi ini (kelak disebut plasma pembawa sifat keturunan atau gen) menentukan ciri-ciri yang akan muncul pada keturunan. Atau yang disebut dengan Hukum segregasi atau hokum pemisahan alel-alel dari sati gen yang berpasangan. Dalam peristiwa pembentukan sel kelamin (gamet), pasangan – pasangan alel memisah secara bebas. Hukum ini berlaku untuk persilangan denagn satu sifat benda (monohybrid). (Wildan, 1991)
Untuk setiap ciri yang diteliti oleh Mendel dalam kacang polong, ada satu ciri yang dominan sedangkan lainnya terpendam. Induk “jenis murni” dengan ciri dominan memunyai sepasang gen dominan (AA) dan dapat memberi hanya satu gen dominan (A) kepada keturunannya. Induk “jenis murni” dengan ciri yang terpendam memunyai sepasang gen terpendam (aa) dan dapat memberi hanya satu gen terpendam (a) kepada keturunannya. Maka keturunan generasi pertama menerima satu gen dominan dan satu gen terpendam (Aa) dan menunjukkan ciri-ciri gen dominan. Bila keturunan ini berkembang biak sendiri menghasilkan keturunan generasi kedua, sel-sel jantan dan betina masing-masing dapat mengandung satu gen dominan (A) atau gen terpendam (a). Oleh karenanya, ada empat kombinasi yang mungkin: AA, Aa, aA dan aa. Tiga kombinasi yang pertama menghasilkan tumbuhan dengan ciri dominan, sedangkan kombinasi terakhir menghasilkan satu tumbuhan dengan ciri terpendam. (Wildan, 1991)

• Hukum mendel II
Hukum II Mendel (hukum pengelompokan gen secara bebas atau asortasi). Dalam peristiwa pembentukan gamet , alel membutuhkan kombinasi secara bebas sehingga sifat yang muncul dalam keturunanya beranmeka ragam. Hukum ini berlaku dengan persilangan dua sifat beda (dihibrid) atau lebih. (Wildan, 1991)
Penelitian Mendel dengan dua ciri sekaligus, yakni bentuk benih (bundar atau keriput) dan warna benih (kuning atau hijau). Dia menyilang tumbuhan yang selalu menunjukkan ciri-ciri dominan (bentuk bundar dan warna kuning) dengan tumbuhan berciri terpendam (bentuk keriput dan warna hijau). Sekali lagi, ciri terpendam tidak muncul dalam keturunan generasi pertama. Jadi, semua tumbuhan generasi pertama memunyai benih kuning bundar. Namun, tumbuhan generasi kedua mempunyai empat macam benih yang berbeda, yakni bundar dan kuning, bundar dan hijau, keriput dan kuning, dan keriput dan hijau. Keempat macam ini dibagi dalam perbandingan 9:3:3:1. Mendel mengecek hasil ini dengan kombinasi dua ciri lain. Perbandingan yang sama muncul lagi. (Wildan, 1991)
Perbandingan 9:3:3:1 menunjukkan bahwa kedua ciri tidak saling tergantung, sebab perbandingan 3:1 untuk satu ciri bertahan dalam setiap subkelompok ciri yang lain, dan sebaliknya. Hasil ini disebut Hukum Mendel Kedua — Hukum Ragam Bebas.
2.3 Sifat Dominan dan Resesif.

• Sifat Dominan
Dalam pewarisan keturunan gen, atau Informasi genetik selalu ada dan mewariskan ciri tertentu tertentu yang tampak di dalam beberapa generasi karena didominasi oleh gen yang lebih kuat. Gen yang lebih kuat ini disebut gen dominan.
Gen dominan adalah gen yang lebih menentukan sifat suatu organisme atau biasa disebut sifat yang lebih kuat sehingga muncul pada tampilan luarnya atau Sifat yang muncul pada keturunan dari salah satu induk dengan mengalahkan sifat pasanganya serta gen yang memperlihatkan bentuknya secara utuh tanpa dipengaruhi oleh modifikasi alelnya. (Triastono, 2002).

• Sifat resesif
Informasi genetik selalu ada meskipun ciri tertentu tidak tampak di dalam beberapa generasi karena didominasi oleh gen yang lebih kuat. Dalam generasi kemudian, bila ciri dominan tidak ada, ciri terpendam itu akan muncul lagi ( gen resesif).
Gen resesif adalah gen yang dikalahkan,kurang berpengaruh atau tertutupi dalam penentuan tampilan luar, serta sifat yang tidak muncul (teresembunyi) pada keturunanya Karena dikalahkan oleh sifat pasanganya. (Triastono, 2002).

2.4 Sifat intermedit
Pada suatu persilangan, maka keturunan (Filial) yang dihasilkan akan memiliki sifat yang muncul atau sifat yang tidak muncul (tersembunyi) dari salah satu sifat induknya. Sifat yang muncul pada keturunan dari salah satu induk dengan mengalahkan sifat pasangannya disebut sifat dominan. Sebaliknya sifat yang tidak muncul atau tersembunyi pada keturunanya karena dikalahkan oleh sifat pasangannya disebut sifat resesif. (Soekardi,1993).
Misalnya bunga mawar merah disilangkan dengan bunga mawar putih, dan menghasilkan keturunan bunga mawar merah. Induk/ Parental: Bunga mawar merah > < Bunga mawar putih Keturunan/ Filial: Bunga mawar merah Warna merah bersifat dominan, sedangkan warna putih bersifat resesif (alel warna merah dominan terhadap alel warna putih). Warna merah yang bersifat dominan dibandingkan dengan warna putih, maka menyebabkan semua bunga mawar pada keturunan pertama atau filial ke-1 (F1) akan berwarna merah. Apabila dalam suatu persilangan, sifat yang muncul merupakan campuran dari kedua induknya,maka sifat tersebut disebut sifat intermediet (dominan parsial). (Soekardi,1993). Misalnya persilangan antara ikan Koi warna merah dan ikan Koi warna putih menghasilkan Filial 1 yang semuanya ikan Koi berwarna merah muda. Warna merah muda tersebut merupakan sifat intermediet. Induk/ Parental: Ikan Koi merah > < Ikan Koi putih Keturunan/ Filial 1: Ikan Koi merah muda.

III. METODE PRAKTEK

3.1 Tempat dan waktu
Praktikum Biologi Umum Memahami Konsep Hukum Mendel dilaksanakan diLaboratorium Fakultas Pertanian Universitas Alkhairat, Palu pada hari sabtu tanggal 9 Januari 2010 Mulai pukul 14.00 – 17.00 WITA.

3.2 Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan dalam Praktikum Biologi Umun Memahami Konsep Hukum Mendel adalah kertas karton warna marah dan putih masing-masing 50 buah yang suda digunting bulat.
Alat yang digunakan adalah dalam Praktikum Biologi Umum Memahami
Konsep Hukum Mendel adalah dos kue 2 buah.

3.3 Prosedur Kerja
Prosedur kerja dalam Praktikum Biologi umum Memahami Konsep Hukum
Mendel adalah mengambil dos dan memasukan semua kertas karton yang telah digunting bulat yang diumpamakan sebagai model-model gen lalu mengocok dos yang berisi kertas karton tadi. Selanjutnya mengambil kertas karton tersebut secara acak dengan menutup mata. Pada setiap pengarnbilan kertas pada dos tersebut kita menuliskan hasilnya pada buku.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
Berdasarkan pada Praktikum Mematrami Konsep Hukrrm Mendel maka
diperoleh hasil persilangan yang digambarkan pada tabel berikut ini :
Macam pasangan Frekuensi muncul
Merah – merah 10
Merah – putih 15
Putih – putih 10
Putih-merah 15
Rasio genotip putih dominan terhadap merah = mm : MM =10: 10
Rasio perbandingan gen dominan merah : putih dalam frekuensi = MM : Mm : mm = 10 : 15 : 10

4.2 Pembahasan
Pada hasil persilangan kertas karton yang diibaratkan model-model gen di atas, nampak bahwa individu Merah-putih lebih dominan dibandingkan individu Merah dan Putih. Hal ini terlihat pada individu MM (merah) pada F1, baik MM (merah) maupun mm (putih) pada generasi mm membentuk gamet (Sel kelamin). Sebagaimana yang terdapat dalam diagram berikut ini :

Rasio fenotif putih dominan terhadap merah = 3 : 1

V. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil Mernahami Konsep Hukum Mendel diperoleh kesimpulan sebagai berikut:

1. Individu merah- putih adalah hasil persilangan antara individu merah (MM) dengan individu putih (mm).

2. Monohibrid adalah perkawinan dua individu yang mempunyai satu sifat beda

3. Keturunan dan persilangan monohidrid menghasilkan perbandingan fenotip antara merah terhadap putih sebesar 3:1.

5.2 Saran
Diharapkan agar dalam pelaksanaan praktikum baik asisten maupun praktikan harus disiplin waktu sehingga praktek dapat berjalan dengan baik

LAPORAN 6. PROSES TERJADINYA TRANSPIRASI

 

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar belakng
Pada tumbuhan monokotil maupun dikotil terjadi proses transpirasi. Transpirasi adalah proses penguapan yang terjadi pada daun atau pengeluaran air tumbuhan yang berbentuk uap air ke udara bebas (Amelia zuliyanti 2008).
Faktor yang mempengaruhi laju transpirasi yaitu suhu udara, luas daun, jumlah daun, jumlah stomata, dan kelembaban.

1. Suhu udara
Dalam proses transpirasi suhu udara merupakan faktor penentu dari laju transpirasi, karena proses penguapan air dalam daun ditentukan oleh suhu udara yang ada lingkungan

2. Luas daun
Dalam proses transpirasi salah satu faktor penentu laju transpirasi yakni luas daun yang dimiliki oleh tumbuhan itu sendiri karena semakin luas daun tumbuhan tersebut semakin cepat atau laju proses ternaspirasinya

3. Jumlah daun
Salah satu factor yang menentukan laju transpirasi adalah jumlah daun yang dimiliki oleh tumbuhan tersebut karena jika jumlah daun yang dimiliki oleh tanaman dapat menentukan laju transpirasi tanaman itu sendiri.

4. Jumlah stomata
Stomata merupakan mulut daun tempat dimana keluarnya oksigen bersamaan dengan uap air. Oleh karna itulah , semakin banyak stomata yang ada pada daun maka semakin banyak pula uap air yang keluar, bersamaan dengan hal tersebut laju transpirasipun semakin baik.

5. Kelembaban udara.
Kelembaban udara merupakan salah satu factor penentu laju transpirasi karena jika tingkat kelembaban udara tinggi maka laju transpirasi menjadi lambat lambat begitu juga sebaliknya.

1.2 Tujuan dan kegunaan
Tujuan dari praktikum biologi tentang pengamatan transpirasi pada tumbuhan adalah untuk mengetahui proses transpirasi pada tumbuahan yang diamati
Kegunaan dari praktikum biologi umum tentang proses transpirasi adalah untuk mengetahui proses transpirasi pada tumbuhan.

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengamatan traspirasi.

2.2 Pengertian traspirasi.
Transpirasi itu suatu suatu akibat yang tidak dapat dielakan. Luasnya permukaan daun mengakibatkan suatu kondisi yang menyebapkan penguapan mesti terjadi. Pada tanaman transpirasi itu pada hakekatnya suatu penguapan air yang membawa garam garam mineral dari dalam tanah. Transpirasi juga bermanfaat dalam hubungan pengunaan sinar matahari. Kenaikan temperatur yang membahayakan dapat dicegah karena sebagian dari sinar matahari yang memancar digunakan utuk penguapan. Hal ini juga mempengaruhi bertambah cepatnya laju transpirasi. (Dwijoseputro,1980)
Laju transpirasi ialah laju kehilangan air dari tumbuhan yang dihitung dalam satuan waktu. Laju hilangnya air dalam tumbuhan sangat beragam dipengaruhi siang hari, musim, struktur daun dan beberapa faktor lingkungan yang lain.laju kehilangn air pad abeberapa tumbuhan bunga pada tengah hari rata rata sekitar 1,25 gram air per 100 cm persegi luasa daun setiap jam. Batang tanaman jagung bisa mentraspirasi lebih dari setengah liter air sehari dan satu acre tanaman jagung akan mentranspirasi lebih dari 300.000 selama masa tubuhnya. (Siti,1983)
Hal tersebut menunjukan bahwa adanya perbedaan kecepatan taranspirasi pada tumbuhan. Yang mempengaruhi Laju transpirasi dapat dibagi menjadi dua faktor, yaitu faktor luar dan faktor dalam. (Siti,1983)

2.3 Faktor – faktor yang mempengaruhi laju transpirasi.
• Faktor luar (lingkungan)
Faktor lingkungan terpenting yang mempengaruhi laju transpirasi ialah suhu, kelembaban udara, cahaya, angin dan kelembaban udara. (Siti,1983)

a. kelembaban udara
Bila daun mempunyai kandungan air yang cukupdan stomata terbuka maka laju traspirasi bergantung pada selisih antara konsentrasi molekul uap air didalam rongga ronga antar sel daun dengan konsentrasi molekul uap air udara disekitar daun. semakin tinggi kelembaban udara maka transpirasi semakin lambat. Pada saat udara lembab transpirasi akan terganggu, sehingga tumbuhan akan melakukan gutasi. (Siti,1983)

b. Suhu
Suhu daun yang terlindung dari sinar matahari langsung kurang lebih sama dengan suhu udara, tetapi daun yang terkena sinar matahari mempunyai suhu 10 – 20 derajat farenheit daripada suhu udara. Kenaikan suhu cenderung untuk meningkatkan penguapan air pada tumbuhan dimana semakin tinggi suhu maka transpirasi semakin cepat. (Siti,1983)

c. Intensitas cahaya
Sehelai daun yang terkena cahaya matahari langsung akan mengabsorsi energi radiasi. Hanya sebagian kecil saja dari energi itu yang digunakan untuk fotosntesis , selebihnya diubah menjadi energi panas. Sebagian dari energi panas itu dilepas pada lingkungan dan sebagian lagi meninkatkan suhu daun nlebih tingi dari suhu udara di sekitar daunhal ini mengakibatkan laju traspirasi bertambah cepat. Cahaya juga mempengaruhi membuka dan menutupnya stomata yang berakibat turut andil mempercepat traspirasi. (Siti,1983)

d. Angin
Angin memiliki pengaruh ganda yang cenderung saling bertentangan terhadap transpirasi.angin yang bergerak melalui permukaan daun akan menyapu setiap lapisan uap air yang terkumpul dekat permukaan daun sebagai akibat transpirasi. Dengan demikian angin mempengaruhi kelembaban udara yang ada disekitar daun sehinga menurunkan uap yang kembali kedalam daun akan tetapi jika daun terkena cahya matahari langsung daun tersebut akan meningkat suhunya. Dalam keadaan tersebut, angin akan mendinginkan daun yang dipanasi dengan pengaliran molekul udara yang mengenainya. (Siti,1983)
Secara singkat dapat disimpulkan bahwa angin cenderung meningkatkan laju transpirasi baik terkena sinar matahari maupun didalam naungan melalui penyapuan uap air. Akan tetapi, dibawah sinar matahari, pengaruh angin terhadap penurunan suhu daun, mempengaruhi penurunan laju transpirasi, yang cenderung lebih penting terhadap pengaruhnya dalam pengeringan uap. (Siti,1983)

e. Kandungan air tanah
Transpirasi dapat dipengaruhi oleh Kandungan air tanah dan laju absorsi air dari akar. Pada siang hari, air ditranspirasi dengan laju lebih cepat dari pada penyerapan air tanah. Kejadian tersebut menimbulkan defisit air dalam daun. Pengaruh defisit air dalam daun akan menurunkan laju transpirasi. (Siti,1983)

• Faktor dalam.
Faktor dalam terpenting yang mempengaruhi laju transpirasi ialah luas daun, tebal tipisnya daun, adanya lapisan lilin,dan jumlah stomta (Anonim, 2007)

a. Luas daun
Luas permukaan daun mempengaruhi transpirasi karena sebagian besar penguapan air terjadi di daun semakin lebat atau semakin banyak daun yang dimiliki tumbuhan akan memperluas permuaan daun yang dimiliki tanaman, hal ini mengakibatkan penguapan lebih cepat terjadi. (Anonimous, 2007)

b. Tebal tipisnya daun
Transpirasi dapat dipengaruhi oleh ketebalan daun, semakin tebal daun semakin sulit penguapan terjadi didaun. Ini karena daun yang tebal akan menyulitkan kenaikan suhu daun yang mengakibatkan berkurangnya kecepatan transpirasi. (Anonimous, 2007)

c. Adanya lapisan lilin
Pada tumbuhan yang tinggal di daerah panas umunya memiliki lapisan lilin yang melindungi tumbuhan. Lapisan ini seperti yang dimiliki kaktus berfungsi mencegah kehilangan air dari proses penguapan. (Anonimous, 2007)

d. Jumlah stomata
Stomata mempengaruhi kehilangan air karna transpirasi. Semakin banyak stomata pada daun laju transpirasi cenderung tinggi. Tetapi pada batasan tertentu atau saat daun kehilangan air yang cukup besar stomata akan menutup dan mengurangi laju transpirasi. (Anonimous, 2007)

III. METODE PRAKTEK

3.1 Tempat dan waktu
Praktikum Biologi Umum tentang Pengamatan transpirasi dilaksanakan di Laboratorium Fakultas Pertanian Universitas Alkhairat, Palu pada hari selasa tanggal 16 Januari pukul 14.00 -17.00 WITA.

3.2 Bahan dan alat
Bahan yang digunakan dalam praktikum biologi umum tentang pengamatan transpirasi pada tumbuhan adalah 3 tumbuhan yang berbeda morfologinya, air, dan, minyak kelapa.
Alat yang digunakan dalam praktikum biologi umum tentang pengamatan transpirasi pada tumbuhan adalah alat tulis, kertas grafik, gelas ukur, rak dan tabung reaksi.

3.3 Prosedur kerja
Potonglah batang atau ranting tumbuhan dibawah permukaan air . Usahakan potongan selalu berada didalam air demikian juga sewaktu memasukan potongan atau ranting tumbuhan kedalam gelas ukur usahakan selalu terendam. Gunakan 3 macam tumbuhan untuk dimasukan kedalam 3 gelas ukur 10 ml dengan 5 ml air. Satu gelas tanpa tumbuhan hanya berisi air saja (kontrol). Setelah itu susunlah dalam rak tabung reaksi . Ingat ketinggian air harus sama dengan kontrol, kemudian tetesi dengan minyak kelapa sampai seluruh permukaan tertutup dengan minyak kelapa maksudnya agar air tidak menguap dari dalam tabung reaksi.
Setelah itu, satu rangkaian gelas ukur diletakan di lapangan terbuka. Catat air yang hilang / menguap setiap 10 menit selama 1 jam. Jumlah air yang hilang pada setiap 10 menit dapat dihitung dengan menambahkan sejumlah air hingga mencapai tinggi permukaan semula.

 

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
Berdasarkan pada praktikum tentang Pengamatan transpirasi pada maka diperoleh data sebagai berikut :
waktu (menit) jumlah air yang menguap (ml)
tumbuhan a tumbuhan b tumbuhan c
10 1,5 0 0,5
20 0,5 1,5 0,5
30 1,5 0 1,5
40 1 0,5 0,5
50 1,5 1,5 1,5
60 0,5 0,5 0,5

Grafik tingkat penguapan pada daun

Gambar grafik 1 grafik tingkat transpirasi pada tumbuhan A, B, dan ,C

4.2 Pembahasan
Dari hasil yang telah dilakukan , pada pangamatan dipeoleh hasil bahwa setiap sepuluh menit air yang ada ditabung reaksi tumbuhan A, B, ataupun C berkurang dengan ukuran atau volume air yang berbeda – beda . hal ini dikarenakan oleh proses terjadinya laju transpirasi pada tumbuhan . factor yang menentukan laju transpirasi yaitu sebagai berikut:

1. Suhu udara
Suhu udara dilingkungan tempat tumbuhan tersebut tumbuh sangat berpengaruh karena jika suhu udara yang ada lingkungan tumbuhan tersebut tumbuh rendah maka proses penguapan pada daun lambat , begitu juga sebaliknya jika suhu udara dilingkungan tempat tumbuhan tersebut tumbuh tinggi maka proses penguapan pada daun pun cepat.

2. Kelembaban udara
Kelembaban udara adalah kadar air dalam udara . hal tersebut dapat menentukan laju transpirasi karena jika kadar air dalam udara tinggi maka hal tersebut dapat mengurangi laju transpirasi , begitu juga jika kelembaban udara lingkungan sekitar tanaman tersebut rendah maka laju transpirasi yang terjadi pada tumbuhan tersebut tinggi.

3. Intensitas cahaya
Dalam proses transpirasi cahaya meruapakan salah satu factor penentu karena tumbuhan sangat peka terhadap cahaya.

V. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan tentang transpirasi tumbuhan diperoleh kesimpulan
sebagai berikut :

1. Transpirasi adalah proses penguapan yang terjadi pada daun atau pengeluaran air tumbuhan yang berbentuk uap air ke udara bebas (Amelia zuliyanti 2008).

2. Tumbuhan A, B, maupun C yang ada dalam tabung reaksi yang berisi air terjadi pengurangan dengan sendirinya setiap sepuluh menit, hal tersebut dikareanakan terjadinya proses transpirasi atau penguapan pada daun.

3. Factor yang mempengaruhi laju transpirasi yaitu suhu udara, luas daun, jumlah daun, jumlah stomata, dan kelembaban

5.2 Saran
Disarankan kepada praktikan maupun asisten harus dislplin dan mematuhi
Peraturan yang telah ditetapkan khususnya ketepatan waktu.

LAPORAN 7. FOTOSINTESIS

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Suatu ciri makhluk hidup yang hanya dimiliki khusus oleh tumbuhan hijau adalah kemampuan dalam menggunakan zat karbon dari udara untuk dibuat menjadi bahan organic serta diasimilasi dalam tubuh tumbuhan Oleh karena proses pengubahan itu memerlukan energi cahaya, maka asimilasi zat karbon disebut fotosintesis hidup yang hanya dimiliki oleh tumbuhan (Sudjino, 1989).
Fotosintesis adalah suatu proses biokimia yang dilakukan tumbuhan, alga dan beberapa jenis bakteri untuk memproduksi energi terpakai (Nutreisi) dengan
memanfaat energi cahaya (Iskandar, 1998).
Cahaya bermanfaat bagi tumbuhan terutama sebagai energi yang nantinya digunakan untuk proses fotosintesis. Cahaya juga berperan dalarn proses pembentukan klorofil. Akan tetapi cahaya dapat bersifat sebagai penghambat (inhibitor) pada proses pertumbuhan hal ini terjadi karena cahaya dapat memacu difusi auksin ke bagian yang tidak terkena cahaya Sehingga proses perkecambahan yang diletakan di tempat yang gelap akan menyebabkan terjadinya etiolasi (Tjitrosom 1989).

1.2 Tujuan dan Kegunaan
Tujuan dari Praktikum Biologi Umum tentang Pengarnatan Fotosintesis adalah untuk membuktikan terbentuknya arnilum pada proses fotosintesis oleh tumbuhan hijau.
Kegunaan dari Praktikum Biologi Umum tentang Pengamatan Fotosintesis
adalah untuk mengetahui bahwa proses fotosintesis dapat berlangsung dengan tidak ada bantuan sinar matahari.

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengamatan fotosintesisi.

2.2 Pengertian Fotosintesis
Salah satu sifat fisiologis yang hanya dimiliki khusus oleh tumbuhan, ialah kemampuan menggunakan zat karbon dari udara untuk diubah menjadi bahan organic serta diasimilasikan didalam tubuh tanaman. Peristiwa ini hanya berlangsung jika ada cahaya, dan proses asimilasi zat karbón dimana zat – zat anorganik H2O da CO2 oleh klorofil diubah menjadi zat organik dengan pertolongan sinar matahari. (Dwijoseputro,1980)
Jadi fotosintesis adalah proses pembentukan bahan makanan (glukosa) dengan bantuan sinar matahari yang berbahan baku karbon dioksida dan air. Fotosintesis hanya dapat dilakukan oleh tumbuhan dan ganggang hijau yang bersifat autotrof. Artinya, keduanya mampu menangkap energi matahari untuk menyintesis molekul-molekul organik kaya energi dari prekursor anorganik H2O dan CO2. (Siti,1983)
Proses fotosintesis terjadi di dalam kloroplas. Kloroplas merupakan organel plastida yang mengandung pigmen hijau daun (klorofil). Sel yang mengandung kloroplas terdapat pada mesofil daun tanaman, yaitu sel-sel jaringan tiang (palisade) dan sel-sel jaringan bunga karang (spons). Klorofil dapat di bedakan menjadi. (Dwijoseputro,1980)
Klorofil a merupakan pigmen hijau rumput (grass green pigment) yang mampu menyerap cahaya merah dan biru-keunguan. Klorofil a ini sangat berperan dalam reaksi gelap fotosintesis yang akan dijelaskan pada bagian berikutnya
Klorofil b merupakan pigmen hijau kebiruan yang mampu menyerap cahaya biru dan merah kejinggaan. Klorofil b banyak terdapat pada tumbuhan, ganggang hijau, dan beberapa bakteri autotrof.
Pada dasarnya, rangkaian reaksi fotosintesis dapat dibagi menjadi dua bagian utama: reaksi terang (karena memerlukan cahaya) dan reaksi gelap (tidak memerlukan cahaya tetapi memerlukan karbon dioksida).

• Reaksi terang
Reaksi terang adalah proses untuk menghasilkan ATP dan reduksi NADPH2. Reaksi ini memerlukan molekul air. Proses diawali dengan penangkapan foto oleh pigmen sebagai antena.Pigmen klorofil menyerap lebih banyak cahaya terlihat pada warna biru (400-450 nanometer) dan merah (650-700 nanometer) dibandingkan hijau (500-600 nanometer). Cahaya hijau ini akan di pantulkan dan ditangkap oleh mata kita sehingga menimbulkan sensasi bahwa daun berwarna hijau. Fotosintesis akan menghasilkan lebih banyak energi pada gelombang cahaya dengan panjang tertentu. Hal ini karena panjang gelombang yang pendek menyimpan lebih banyak energi. (Triasmono,1996)
Di dalam daun, cahaya akan diserap oleh molekul klorofil untuk dikumpulkan pada pusat-pusat reaksi. Tumbuhan memiliki dua jenis pigmen yang berfungsi aktif sebagai pusat reaksi atau fotosistem yaitu fotosistem II dan fotosistem I. Fotosistem II terdiri dari molekul klorofil yang menyerap cahaya dengan panjang gelombang 680 nanometer, sedangkan fotosistem I 700 nanometer. Kedua fotosistem ini akan bekerja secara simultan dalam fotosintesis, seperti dua baterai dalam senter yang bekerja saling memperkuat. (Triasmono,1996)
Fotosintesis dimulai ketika cahaya mengionisasi molekul klorofil pada fotosistem II, membuatnya melepaskan elektron yang akan ditransfer sepanjang rantai transpor elektron. Energi dari elektron ini digunakan untuk fotofosforilasi yang menghasilkan ATP, satuan pertukaran energi dalam sel. Reaksi ini menyebabkan fotosistem II mengalami defisit atau kekurangan elektron yang harus segera diganti. Pada tumbuhan dan alga, kekurangan elektron ini dipenuhi oleh elektron dari hasil ionisasi air yang terjadi bersamaan dengan ionisasi klorofil. Hasil ionisasi air ini adalah elektron dan oksigen. (Dwijoseputro,1980)
Pada saat yang sama dengan ionisasi fotosistem II, cahaya juga mengionisasi fotosistem I, melepaskan elektron yang ditransfer sepanjang rantai transpor elektron yang akhirnya mereduksi NADP menjadi NADPH Reaksi gelap.(Dwijoseputro,1980).
ATP dan NADPH yang dihasilkan dalam proses fotosintesis memicu berbagai proses biokimia. Pada tumbuhan proses biokimia yang terpicu adalah siklus Calvin yang mengikat karbon dioksida untuk membentuk ribulosa (dan kemudian menjadi gula seperti glukosa). Reaksi ini disebut reaksi gelap karena tidak bergantung pada ada tidaknya cahaya sehingga dapat terjadi meskipun dalam keadaan gelap (tanpa cahaya). (Dwijoseputro,1980)

2.3 Percobaan Sachs.
Gustav Julius von Sachs adalah seorang ahli botani Jerman bernama Julius von Sachs Pada tahun 1860, berhasil membuktikan bahwa proses fotosintesis menghasilkan amilum (zat tepung). Adanya zat tepung ini dapat dibuktikan dengan uji yodium, amilum dan yodium memberikan warna hitam. Amilum hanya terdapat pada bagian – bagian daun yang hijau dan terkena sinar matahari sebaliknya bagian – bagian daun yang tertutup sepanjang hari tidak mengandung amilum. sehingga percobaan Sachs ini juga disebut uji yodium. (Dwijoseputro,1980)

III. METODE PRAKTEK

3.1 Tempat dan waktu
Praktikum Biologi Umum tentang Pengamatan Fotosintesis dilaksanakan di
Laboratorium Fakultas Pertanian Universitas Tadulako, Palu pda hari sabtu, tanggal 30 Januari 2010, mulai pukul 14.00 -17.00 WITA.

3.2 Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan dalam Praktikum Biologi Umum tentang Pengamatan Fotosintesis adalah daun ubi (Manihot esculenta), iodium dan alkohol, 96%.
Alat yang digunakan adalah dalam Praktikum Biologi Umum tentang Pengamatan Fotosintesis adalah kompor, pinset, cawan petri, dan kertas timah.

3.3Prosedur Kerja
Prosedur kerja dalam Praktikum Biologi Umum tentang Pengamatan Fotosintesis adalah mengarnbil dan daun ubi yang telah dibungkus dengan aluminium foil sehari sebelumnya, kemudian membuka aluminium foil tersebut dan merendamnya pada air Panas sampai layu. Setelah itu diangkat dengan pinset dan direndam dengan alcohol panas. Selanjutnya meletakan daun ubi tersebut dicawan petri kemudian meneteskannya dengan larutan iodium sebanyak tiga tetes lalu amati apa yang terjadi dan tulis hasilnya.

 

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
Berdasarkan pada praktikum biologi umum tentang Pengamatan Fotosintesis maka diperoleh hasil sebagai berikut :
Objek : Fotosintesis pada percobaan Sachs

Gambar 1. Pengamatan daun ubi (Manihot esculena) yang ditutupi aluminium foil

Objek : Fotosintesis pada percobaan Sachs

Gambar 2. Pengamatan daun ubi (manihot esculenta) yang ditutupi alumunium foil

Setelah dimasukan ke dalam alcohol

Objek : Fotosintesis pada percobaan Sachs

Gambar 3. Pengmatan daun ubi (Manihot esculenta) yang ditutupi aluminium foil

Setelah dimasukan ke dalam alcohol
Objek : Fotosintesis pada percobaan Sachs

Gambar 35. Pengamatan daun ubi (Manihot esculenta) yang ditutupi alumunium foil

Setelah ditetesi larutan iodium.
Objek : Fotosintesis pada percobaan Sachs

Gambar3 6. Pengamatan daun ubi (Manihot esculenta) yang tidak ditutupi
alumunium foil setelah ditetesi larutan iodium.
4.2 Pembahasan
Dari hasil yang telah dilakukan, Pada pengamatan diperoleh hasil bahwa daun singkong (Manilnt esculenta) yang tidak tertutupi aluminium foil terjadi perubahan warna menjadi hijau muda dan daun singkong (Manihot esculenta) yang tertutupi aluminium foil yang dimasukan kedalam alkohol berubah warna dari hijau tua menjadi hijau muda pucat. Hal ini disebabkan karena alkohol fungsi untuk menghilangkan zat klorofil yang ada pada daun. Sedangkan setelah ditetesi larutan iodium daun singkong (Manihot esculenta) yang tertutupi aluminium foil mengalami perubahanwarna menjadi hijau muda dan terdapat warna coklat muda pada bagian tengahnya serta daunnya terlihat seperti kering. Dan pada daun singkong (Manihot esculenta) yang tidak tertutupi aluminium foil setelah tertetesi iodium akan berubah warna menjadi hijau muda dan terdapat warna coklat tua pada bagian tengah sehingga daun nampak seperti terbakar dan menjadi kering (Sambodo, 1996).
Perubahan warna yang dialami oleh daun ubi yang dibungkus kertas tima menandakan memang terjadi adanya fotosintesis. Klorofil adalah pigmen karena menyerap cahaya yakni reaksi elektromagnetik pada spectrum kasat mata. Fotosintesis hanya dapat berlangsung jika ada pigmen hijau yaitu klorofil. Klorofil berperan sebagai pembawah warna yang terdapat pada suatu daun. Klorofil mengandung organel yang disebut kloroplas (Kimbal, 1998)

V. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penagamatan tentang fotosintesis diperoleh kesimpulan sebagai berikut :

1. Fotosintesis adalah suatu proses biokimia yang dilakukan tumbuhan, alga dan
beberapa jenis bakteri untuk memproduksi energi terpakai (Nutreisi) dengan
memanfaatkan energy cahaya.

2. Daun singkong yang tidak ditutupi oleh aluminium foil mengalami perubahan
warna setelah ditetesi dengan iodium yaitu menjadi kecoklatan dan kering
sedangkan daun yang tidak tertutup berwarna hitam.

3. Alcohol memiliki fungsi yaitu untuk zat klorofil yang ada pada daun singkong tersebut sehingga berubah menjadi warna putih pucat.

5.2 Saran
Disarankan kepada praktikan maupun asisten harus dislplin dan mematuhi
Peraturan yang telah ditetapkan khususnya ketepatan waktu

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Darjanto, Siti, 1982. Biologi Bunga Dan Teknik Penyerbukan Silang. Gramedia, Jakarta.
Darsyah, M. , 1990. Genetika. Gramedia Pustaka, Jakarta.
Dwijoseputro, 1980. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. Gramedia, Jakarta.
Estiti, B.H., 1995. Anatomi Tumbuhan Berbiji. ITB, Bandung.
Gembong S, 1989. Morfologi tumbuhan. Gajahmada Unifersity Pres, Yogyakarta.
Kartasapoetra, 1988. Pengantar anatomi tumbuhan. Binana Aksara, Jakarta.
Kimball, J. W. , 1999. Biologi Jilid II. Erlangga, Jakarta.
Subowo, 1989. Biologi Sel. Angkasa, Bandung.
Soeharto, 1989. Asas-asas Ilmu Fisika Jilid 3 Optikal. Gadjah Mada University Press, Jogjakarta.
Soenarjo, 1990. Biologi Umum. PT Gramedia, Jakarta.
________, 1993. Optik Cahaya. Erlangga, Jakarta
Susanto, H. , 1993. Budidaya Kodok Unggul. Penebar Swadaya, Jakarta.
Prawiranata,1988. Dasar – Dasar Fisiologi Tumbuhan.
Siti S, 1983. Botani Umum I. Angkasa, Bandung.
, 1983. Botani Umum II. Angkasa, Bandung.
, 1983. Botani Umum III. Angkasa, Bandung.
, 1983. Botani Umum IV. Angkasa, Bandung.
Soepomo, 1976. General Biologi. Intan Pariwara, Jakarta.
Triastono, 2002. Dasar-dasar Genetika. Erlangga, Jakarta
Tjitrosoepoma, 1993. Morfologi Tumbuhan. Gajah mada University Press, Jakarta.
Wildan Y, 1991. Genética. Tarsito, Bandung.
Yatim, W. I. , 1982. Biologi Sel. Elstar, Bandung.
, 1987. Biologi Modern. Tarsito, Bandung.
Yayan, 1990. Pengantar Anatomi Tumbuh-tumbuhan. Bima Aksara, Jakarta.
Zainal A, 1987. Ilmu Tanaman. Angkasa, Bandung.
SITUS WEB :
http://id.wikipedia.org/wiki/Badan_Golgi, 15 November 2009
http://id.wikipedia.org/wiki/. Membran sel,15 November 2009
http://id.wikipedia.org/wiki/ Mitokondria,15 November 2009
Soekardi,1993).http://biologi.blogsome.com/2009/11/16/plastida/ 2 Desember 2009
Anonimous a. 2007. http://id.wikipedia.org/wiki/Transpirasi. 07 Desember 2009. 2 page.

Anonimous b. 2007. http://id.wikipedia.org/wiki/Laju-Transpirasi. 07 Desember 2009. 1 page.
(Triasmono,1996)fotosintesis/http://kireidwi.blog.friendster.com/2009/04/transpirasi/ 2 Desember 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s