Enzim

Posted: April 7, 2011 in Uncategorized

Enzim

Enzim adalah biomolekul yang berfungsi sebagai katalis (senyawa yang mempercepat proses reaksi tanpa habis bereaksi) dalam suatu reaksi kimia. Hampir semua enzim merupakan protein. Pada reaksi yang dikatalisasi oleh enzim, molekul awal reaksi disebut sebagai substrat, dan enzim mengubah molekul tersebut menjadi molekul-molekul yang berbeda, disebut produk. Hampir semua proses biologis sel memerlukan enzim agar dapat berlangsung dengan cukup cepat

Enzim bekerja dengan cara menempel pada permukaan molekul zat-zat yang bereaksi dan dengan demikian mempercepat proses reaksi. Percepatan terjadi karena enzim menurunkan energi pengaktifan yang dengan sendirinya akan mempermudah terjadinya reaksi. Sebagian besar enzim bekerja secara khas, yang artinya setiap jenis enzim hanya dapat bekerja pada satu macam senyawa atau reaksi kimia. Hal ini disebabkan perbedaan struktur kimia tiap enzim yang bersifat tetap. Sebagai contoh, enzim α-amilase hanya dapat digunakan pada proses perombakan pati menjadi glukosa.

Dalam dunia pendidikan tinggi, enzimologi tidak dipelajari tersendiri sebagai satu jurusan tersendiri tetapi sejumlah program studi memberikan mata kuliah ini. Enzimologi terutama dipelajari dalam kedokteran, ilmu pangan, teknologi pengolahan pangan, dan cabang-cabang ilmu pertanian. Kerja enzim dipengaruhi oleh beberapa faktor, terutama adalah :

1. substrat,

2. suhu,

3. keasaman,

4. kofaktor dan

5. inhibitor.

Sejarah Penemuan Enzim

Pada akhir tahun 1700-an dan awal tahun 1800-an, pencernaan daging oleh sekresi perut dan konversi pati menjadi gula oleh ekstrak tumbuhan dan ludah telah diketahui. Namun, mekanisme bagaimana hal ini terjadi belum diidentifikasi. Pada abad ke-19, ketika mengkaji fermentasi gula menjadi alkohol oleh ragi, Louis Pasteur menyimpulkan bahwa fermentasi ini dikatalisasi oleh gaya dorong vital yang terdapat dalam sel ragi, disebut sebagai “ferment“, dan diperkirakan hanya berfungsi dalam tubuh organisme hidup. Ia menulis bahwa “fermentasi alkoholik adalah peristiwa yang berhubungan dengan kehidupan dan organisasi sel ragi, dan bukannya kematian ataupun putrefaksi sel tersebut.”

Pada tahun 1878, ahli fisiologi Jerman Wilhelm Kühne (1837–1900) pertama kali menggunakan istilah “enzyme“, yang berasal dari bahasa Yunani ενζυμον yang berarti “dalam bahan pengembang” (ragi), untuk menjelaskan proses ini. Kata “enzyme” kemudian digunakan untuk merujuk pada zat mati seperti pepsin, dan kata ferment digunakan untuk merujuk pada aktivitas kimiawi yang dihasilkan oleh organisme hidup.

Pada tahun 1897, Eduard Buchner memulai kajiannya mengenai kemampuan ekstrak ragi untuk memfermentasi gula walaupun ia tidak terdapat pada sel ragi yang hidup. Pada sederet eksperimen di Universitas Berlin, ia menemukan bahwa gula difermentasi bahkan apabila sel ragi tidak terdapat pada campuran. Ia menamai enzim yang memfermentasi sukrosa sebagai “zymase” (zimase). Pada tahun 1907, ia menerima penghargaan Nobel dalam bidang kimia “atas riset biokimia dan penemuan fermentasi tanpa sel yang dilakukannya”. Mengikuti praktek Buchner, enzim biasanya dinamai sesuai dengan reaksi yang dikatalisasi oleh enzim tersebut. Umumnya, untuk mendapatkan nama sebuah enzim, akhiran -ase ditambahkan pada nama substrat enzim tersebut (contohnya: laktase, merupakan enzim yang mengurai laktosa) ataupun pada jenis reaksi yang dikatalisasi (contoh: DNA polimerase yang menghasilkan polimer DNA).

 

Penemuan bahwa enzim dapat bekerja diluar sel hidup mendorong penelitian pada sifat-sifat biokimia enzim tersebut. Banyak peneliti awal menemukan bahwa aktivitas enzim diasosiasikan dengan protein, namun beberapa ilmuwan seperti Richard Willstätter berargumen bahwa proten hanyalah bertindak sebagai pembawa enzim dan protein sendiri tidak dapat melakukan katalisis. Namun, pada tahun 1926, James B. Sumner berhasil mengkristalisasi enzim urease dan menunjukkan bahwa ia merupakan protein murni. Kesimpulannya adalah bahwa protein murni dapat berupa enzim dan hal ini secara tuntas dibuktikan oleh Northrop dan Stanley yang meneliti enzim pencernaan pepsin (1930), tripsin, dan kimotripsin. Ketiga ilmuwan ini meraih penghargaan Nobel tahun 1946 pada bidang kimia.[8]

Penemuan bahwa enzim dapat dikristalisasi pada akhirnya mengijinkan struktur enzim ditentukan melalui kristalografi sinar-X. Metode ini pertama kali diterapkan pada lisozim, enzim yang ditemukan pada air mata, air ludah, dan telur putih, yang mencerna lapisan pelindung beberapa bakteri. Struktur enzim ini dipecahkan oleh sekelompok ilmuwan yang diketuai oleh David Chilton Phillips dan dipublikasikan pada tahun 1965. Struktur lisozim dalam resolusi tinggi ini menandai dimulainya bidang biologi struktural dan usaha untuk memahami bagaimana enzim bekerja pada tingkat atom.

Konvensi Penamaan

Nama enzim sering kali diturunkan dari nama substrat ataupun reaksi kimia yang ia kataliskan dengan akhiran -ase. Contohnya adalah laktase, alkohol dehidrogenase (mengatalisis penghilangan hidrogen dari alkohol), dan DNA polimerase. International Union of Biochemistry and Molecular Biology telah mengembangkan suatu tatanama untuk enzim, yang disebut sebagai nomor EC; tiap-tiap enzim memiliki empat digit nomor urut sesuai dengan ketentuan klasifikasi yang berlaku. Nomor pertama untuk klasifikasi teratas enzim didasarkan pada ketentuan berikut:

 

 

Tata nama secara lengkap dapat dilihat di http://www.chem.qmul.ac.uk/iubmb/enzyme/ (Bahasa Inggris).

Struktur dan Mekanisme

Enzim umumnya merupakan protein globular dan ukurannya berkisar dari hanya 62 asam amino pada monomer 4-oksalokrotonat tautomerase, sampai dengan lebih dari 2.500 residu pada asam lemak sintase. Terdapat pula sejumlah kecil katalis RNA, dengan yang paling umum merupakan ribosom; Jenis enzim ini dirujuk sebagai RNA-enzim ataupun ribozim. Aktivitas enzim ditentukan oleh struktur tiga dimensinya (struktur kuaterner). Walaupun struktur enzim menentukan fungsinya, prediksi aktivitas enzim baru yang hanya dilihat dari strukturnya adalah hal yang sangat sulit.

Kebanyakan enzim berukuran lebih besar daripada substratnya, tetapi hanya sebagian kecil asam amino enzim (sekitar 3–4 asam amino) yang secara langsung terlibat dalam katalisis. Daerah yang mengandung residu katalitik yang akan mengikat substrat dan kemudian menjalani reaksi ini dikenal sebagai tapak aktif. Enzim juga dapat mengandung tapak yang mengikat kofaktor yang diperlukan untuk katalisis. Beberapa enzim juga memiliki tapak ikat untuk molekul kecil, yang sering kali merupakan produk langsung ataupun tak langsung dari reaksi yang dikatalisasi. Pengikatan ini dapat meningkatkan ataupun menurunkan aktivitas enzim. Dengan demikian ia berfungsi sebagai regulasi umpan balik. Sama seperti protein-protein lainnya, enzim merupakan rantai asam amino yang melipat. Tiap-tiap urutan asam amino menghasilkan struktur pelipatan dan sifat-sifat kimiawi yang khas. Rantai protein tunggal kadang-kadang dapat berkumpul bersama dan membentuk kompleks protein. Kebanyakan enzim dapat mengalami denaturasi (yakni terbuka dari lipatannya dan menjadi tidak aktif) oleh pemanasan ataupun denaturan kimiawi. Tergantung pada jenis-jenis enzim,denaturasi dapat bersifat reversibel maupun ireversibel

Kespesifikan

Enzim biasanya sangat spesifik terhadap reaksi yang ia kataliskan mauapun terhadap substrat yang terlibat dalam reaksi. Bentuk, muatan dan katakteristik hidrofilik/hidrofobik enzim dan substrat bertanggung jawab terhadap kespesifikan ini. Enzim juga dapat menunjukkan tingkat stereospesifisitas, regioselektivitas, dan kemoselektivitas yang sangat tinggi.

Beberapa enzim yang menunjukkan akurasi dan kespesifikan tertinggi terlibat dalam pengkopian dan pengekspresian genom. Enzim-enzim ini memiliki mekanisme “sistem pengecekan ulang”. Enzim seperti DNA polimerase mengatalisasi reaksi pada langkah pertama dan mengecek apakah produk reaksinya benar pada langkah kedua. Proses dwi-langkah ini menurunkan laju kesalahan dengan 1 kesalahan untuk setiap 100 juta reaksi pada polimerase mamalia. Mekanisme yang sama juga dapat ditemukan pada RNA polimerase, aminoasil tRNA sintetase dan ribosom.

Beberapa enzim yang menghasilkan metabolit sekunder dikatakan sebagai “tidak pilih-pilih”, yakni bahwa ia dapat bekerja pada berbagai jenis substrat yang berbeda-beda. Diajukan bahwa kespesifikan substrat yang sangat luas ini sangat penting terhadap evolusi lintasan biosintetik yang baru.

Model “Kunci dan Gembok”

Enzim sangatlah spesifik. Pada tahun 1894, Emil Fischer mengajukan bahwa hal ini dikarenakan baik enzim dan substrat memiliki bentuk geometri yang saling memenuhi. Hal ini sering dirujuk sebagai model “Kunci dan Gembok”. Manakala model ini menjelaskan kespesifikan enzim, ia gagal dalam menjelaskan stabilisasi keadaan transisi yang dicapai oleh enzim. Model ini telah dibuktikan tidak akurat, dan model ketepatan induksilah yang sekarang paling banyak diterima.

[Model ketepatan induksi

Pada tahun 1958, Daniel Koshland mengajukan modifikasi model kunci dan gembok: oleh karena enzim memiliki struktur yang fleksibel, tapak aktif secara terus menerus berubah bentuknya sesuai dengan interaksi antara enzim dan substrat. Akibatnya, substrat tidak berikatan dengan tapak aktif yang kaku. Orientasi rantai samping asam amino berubah sesuai dengan substrat dan mengijinkan enzim untuk menjalankan fungsi katalitiknya. Pada beberapa kasus, misalnya glikosidase, molekul substrat juga berubah sedikit ketika ia memasuki tapak aktif. Tapak aktif akan terus berubah bentuknya sampai substrat terikat secara sepenuhnya, yang mana bentuk akhir dan muatan enzim ditentukan.

Mekanisme

Enzim dapat bekerja dengan beberapa cara, yang kesemuaannya menurunkan ΔG:

  • Menurunkan energi aktivasi dengan menciptakan suatu lingkungan yang mana keadaan transisi terstabilisasi (contohnya mengubah bentuk substrat menjadi konformasi keadaan transisi ketika ia terikat dengan enzim.)
  • Menurunkan energi keadaan transisi tanpa mengubah bentuk substrat dengan menciptakan lingkungan yang memiliki distribusi muatan yang berlawanan dengan keadaan transisi.
  • Menyediakan lintasan reaksi alternatif. Contohnya bereaksi dengan substrat sementara waktu untuk membentuk kompleks Enzim-Substrat antara.
  • Menurunkan perubahan entropi reaksi dengan menggiring substrat bersama pada orientasi yang tepat untuk bereaksi. Menariknya, efek entropi ini melibatkan destabilisasi keadaan dasar, dan kontribusinya terhadap katalis relatif kecil.

Stabilisasi Keadaan Transisi

Pemahaman asal usul penurunan ΔG memerlukan pengetahuan bagaimana enzim dapat menghasilkan keadaan transisi reaksi yang lebih stabil dibandingkan dengan stabilitas keadaan transisi reaksi tanpa katalis. Cara yang paling efektif untuk mencapai stabilisasi yang besar adalah menggunakan efek elektrostatik, terutama pada lingkungan yang relatif polar yang diorientasikan ke distribusi muatan keadaan transisi. Lingkungan seperti ini tidak ada dapat ditemukan pada reaksi tanpa katalis di air.

Dinamika dan Fungsi

Dinamika internal enzim berhubungan dengan mekanisme katalis enzim tersebut. Dinamika internal enzim adalah pergerakan bahagian struktur enzim, misalnya residu asam amino tunggal, sekelompok asam amino, ataupun bahwa keseluruhan domain protein. Pergerakan ini terjadi pada skala waktu yang bervariasi, berkisar dari beberapa femtodetik sampai dengan beberapa detik. Jaringan residu protein di seluruh struktur enzim dapat berkontribusi terhadap katalisis melalui gerak dinamik. Gerakan protein sangat vital, namun apakah vibrasi yang cepat atau lambat maupun pergerakan konformasi yang besar atau kecil yang lebih penting bergantung pada tipe reaksi yang terlibat. Namun, walaupun gerak ini sangat penting dalam hal pengikatan dan pelepasan substrat dan produk, adalah tidak jelas jika gerak ini membantu mempercepat langkah-langkah reaksi reaksi enzimatik ini. Penyingkapan ini juga memiliki implikasi yang luas dalam pemahaman efek alosterik dan pengembangan obat baru.

Modulasi Alosterik

Enzim alosterik mengubah strukturnya sesuai dengan efektornya. Modulasi ini dapat terjadi secara langsung, di mana efektor mengikat tapak ikat enzim secara langsung, ataupun secara tidak langsung, di mana efektor mengikat protein atau subunit protein lain yang berinteraksi dengan enzim alosterik, sehingga mempengaruhi aktivitas katalitiknya.

Kofaktor

Beberapa enzim tidak memerlukan komponen tambahan untuk mencapai aktivitas penuhnya. Namun beberapa memerlukan pula molekul non-protein yang disebut kofaktor untuk berikatan dengan enzim dan menjadi aktif.[38] Kofaktor dapat berupa zat anorganik (contohnya ion logam) ataupun zat organik (contohnya flavin dan heme). Kofaktor dapat berupa gugus prostetik yang mengikat dengan kuat, ataupun koenzim, yang akan melepaskan diri dari tapak aktif enzim semasa reaksi.

Enzim yang memerlukan kofaktor namun tidak terdapat kofaktor yang terikat dengannya disebut sebagai apoenzim ataupun apoprotein. Apoenzim beserta dengan kofaktornya disebut holoenzim (bentuk aktif). Kebanyakan kofaktor tidak terikat secara kovalen dengan enzim, tetapi terikat dengan kuat. Namun, gugus prostetik organik dapat pula terikat secara kovalen (contohnya tiamina pirofosfat pada enzim piruvat dehidrogenase). Istilah holoenzim juga dapat digunakan untuk merujuk pada enzim yang mengandung subunit protein berganda, seperti DNA polimerase. Pada kasus ini, holoenzim adalah kompleks lengkap yang mengandung seluruh subunit yang diperlukan agar menjadi aktif.

Contoh enzim yang mengandung kofaktor adalah karbonat anhidrase, dengan kofaktor seng terikat sebagai bagian dari tapak aktifnya.[39]

Koenzim

Model pengisian ruang koenzim NADH

Koenzim adalah kofaktor berupa molekul organik kecil yang mentranspor gugus kimia atau elektron dari satu enzim ke enzim lainnya.[38][40][41] Contoh koenzim mencakup NADH, NADPH dan adenosina trifosfat. Gugus kimiawi yang dibawa mencakup ion hidrida (H) yang dibawa oleh NAD atau NADP+, gugus asetil yang dibawa oleh koenzim A, formil, metenil, ataupun gugus metil yang dibawa oleh asam folat, dan gugus metil yang dibawa oleh S-adenosilmetionina. Beberapa koenzim seperti riboflavin, tiamina, dan asam folat adalah vitamin.

Oleh karena koenzim secara kimiawi berubah oleh aksi enzim, adalah dapat dikatakan koenzim merupakan substrat yang khusus, ataupun substrat sekunder. Sebagai contoh, sekitar 700 enzim diketahui menggunakan koenzim NADH.[42]

Regenerasi serta pemeliharaan konsentrasi koenzim terjadi dalam sel. Contohnya, NADPH diregenerasi melalui lintasan pentosa fosfat, dan S-adenosilmetionina melalui metionina adenosiltransferase.

Termodinamika

Tahapan-tahapan energi pada reaksi kimia. Substrat memerlukan energi yang banyak untuk mencapai keadaan transisi, yang akan kemudian berubah menjadi produk. Enzim menstabilisasi keadaan transisi, menurunkan energi yang diperlukan untuk menjadi produk Sebagai katalis, enzim tidak mengubah posisi kesetimbangan reaksi kimia. Biasanya reaksi akan berjalan ke arah yang sama dengan reaksi tanpa katalis. Perbedaannya adalah, reaksi enzimatik berjalan lebih cepat. Namun, tanpa keberadaan enzim, reaksi samping yang memungkinkan dapat terjadi dan menghasilkan produk yang berbeda.

Lebih lanjut, enzim dapat menggabungkan dua atau lebih reaksi, sehingga reaksi yang difavoritkan secara termodinamik dapat digunakan untuk mendorong reaksi yang tidak difavoritkan secara termodinamik. Sebagai contoh, hidrolsis ATP sering kali menggunakan reaksi kimia lainnya untuk mendorong reaksi.

Enzim mengatalisasi reaksi maju dan balik secara seimbang. Enzim tidak mengubah kesetimbangan reaksi itu sendiri, namun hanya mempercepat reaksi saja. Sebagai contoh, karbonat anhidrase mengatalisasi reaksinya ke dua arah bergantung pada konsentrasi reaktan.

(dalam jaringan tubuh; konsentrasi CO2 yang tinggi)

(pada paru-paru; konsentrasi CO2 yang rendah)

Walaupun demikian, jika kesetimbangan tersebut sangat memfavoritkan satu arah reaksi, yakni reaksi yang sangat eksergonik, reaksi itu akan menjadi ireversible. Pada kondisi demikian, enzim akan hanya mengatalisasi reaksi yang diijinkan secara termodinamik.

Kinetika

 

Mekanisme reaksi enzimatik untuk sebuah subtrat tunggal. Enzim (E) mengikat substrat (S) dan menghasilkan produk (P). Kinetika enzim menginvestigasi bagaimana enzim mengikat substrat dengan mengubahnya menjadi produk. Data laju yang digunakan dalam analisa kinetika didapatkan dari asai enzim.

Pada tahun 1902, Victor Henri[43] mengajukan suatu teori kinetika enzim yang kuantitatif, namun data eksperimennya tidak berguna karena perhatian pada konsentrasi ion hidrogen pada saat itu masih belum dititikberatkan. Setelah Peter Lauritz Sørensen menentukan skala pH logaritmik dan memperkenalkan konsep penyanggaan (buffering) pada tahun 1909[44], kimiawan Jerman Leonor Michaelis dan murid bimbingan pascadokotoralnya yang berasal dari Kanada, Maud Leonora Menten, mengulangi eksperimen Henri dan mengkonfirmasi persamaan Henri. Persamaan ini kemudian dikenal dengan nama Kinetika Henri-Michaelis-Menten (kadang-kadang juga hanya disebut kinetika Michaelis-Menten).[45] Hasil kerja mereka kemudian dikembangkan lebih jauh oleh G. E. Briggs dan J. B. S. Haldane. Penurunan persamaan kinetika yang diturunkan mereka masih digunakan secara meluas sampai sekarang .[46]

Salah satu kontribusi utama Henri pada kinetika enzim adalah memandang reaksi enzim sebagai dua tahapan. Pada tahap pertama, subtrat terikat ke enzim secara reversible, membentuk kompleks enzim-substrat. Kompleks ini kadang-kadang disebut sebagai kompleks Michaelis. Enzim kemudian mengatalisasi reaksi kimia dan melepaskan produk.

Kurva kejenuhan suatu reaksi enzim yang menunjukkan relasi antara konsentrasi substrat (S) dengan kelajuan (v).

Enzim dapat mengatalisasi reaksi dengan kelajuan mencapai jutaan reaksi per detik. Sebagai contoh, tanpa keberadaan enzim, reaksi yang dikatalisasi oleh enzim orotidina 5′-fosfat dekarboksilase akan memerlukan waktu 78 juta tahun untuk mengubah 50% substrat menjadi produk. Namun, apabila enzim tersebut ditambahkan, proses ini hanya memerlukan waktu 25 milidetik.[47] Laju reaksi bergantung pada kondisi larutan dan konsentrasi substrat. Kondisi-kondisi yang menyebabkan denaturasi protein seperti temperatur tinggi, konsentrasi garam yang tinggi, dan nilai pH yang terlalu tinggi atau terlalu rendah akan menghilangkan aktivitas enzim. Sedangkan peningkatan konsentrasi substrat cenderung meningkatkan aktivitasnya. Untuk menentukan kelajuan maksimum suatu reaksi enzimatik, konsentrasi substrat ditingkatkan sampai laju pembentukan produk yang terpantau menjadi konstan. Hal ini ditunjukkan oleh kurva kejenuhan di samping. Kejenuhan terjadi karena seiring dengan meningkatnya konsentrasi substrat, semakin banyak enzim bebas yang diubah menjadi kompleks substrate-enzim ES. Pada kelajuan yang maksimum (Vmax), semua tapak aktif enzim akan berikatan dengan substrat, dan jumlah kompleks ES adalah sama dengan jumlah total enzim yang ada. Namun, Vmax hanyalah salah satu konstanta kinetika enzim. Jumlah substrat yang diperlukan untuk mencapai nilai kelajuan reaksi tertentu jugalah penting. Hal ini diekspresikan oleh konstanta Michaelis-Menten (Km), yang merupakan konsentrasi substrat yang diperlukan oleh suatu enzim untuk mencapai setengah kelajuan maksimumnya. Setiap enzim memiliki nilai Km yang berbeda-beda untuk suatu subtrat, dan ini dapat menunjukkan seberapa kuatnya pengikatan substrat ke enzim. Konstanta lainnya yang juga berguna adalah kcat, yang merupakan jumlah molekul substrat yang dapat ditangani oleh satu tapak aktif per detik.

Efisiensi suatu enzim diekspresikan oleh kcat/Km. Ia juga disebut sebagai konstanta kespesifikan dan memasukkan tetapan kelajuan semua langkah reaksi. Karena konstanta kespesifikan mencermikan kemampuan katalitik dan afinitas, ia dapat digunakan untuk membandingkan enzim yang satu dengan enzim yang lain, ataupun enzim yang sama dengan substrat yang berbeda. Konstanta kespesifikan maksimum teoritis disebut limit difusi dan nilainya sekitar 108 sampai 109 (M-1 s-1). Pada titik ini, setiap penumbukkan enzim dengan substratnya akan menyebabkan katalisis, dan laju pembentukan produk tidak dibatasi oleh laju reaksi, melainkan oleh laju difusi. Enzim dengan sifat demikian disebut secara katalitik sempurna ataupun secara kinetika sempurna. Contoh enzim yang memiliki sifat seperti ini adalah karbonat anhidrase, asetilkolinesterase, katalase, fumarase, β-laktamase, dan superoksida dismutase.

Kinetika Michaelis-Menten bergantung pada hukum aksi massa, yang diturunkan berdasarkan asumsi difusi bebas dan pertumbukan acak yang didorong secara termodinamik. Namun, banyak proses-proses biokimia dan selular yang menyimpang dari kondisi ideal ini, disebabkan oleh kesesakan makromolekuler (macromolecular crowding), perpisahan fase enzim/substrat/produk, dan pergerakan molekul secara satu atau dua dimensi.[48] Pada situasi seperti ini, kinetika Michaelis-Menten fraktal dapat diterapkan.[49][50][51][52]

Beberapa enzim beroperasi dengan kinetika yang lebih cepat daripada laju difusi. Hal ini tampaknya sangat tidak mungkin. Beberapa mekanisme telah diajukan untuk menjelaskan fenomena ini. Beberapa protein dipercayai mempercepat katalisis dengan menarik substratnya dan melakukan pra-orientasi substrat menggunakan medan listrik dipolar. Model lainnya menggunakan penjelasan penerowongan kuantum mekanika, walaupun penjelasan ini masih kontroversial.[53][54] Penerowongan kuantum untuk proton telah terpantau pada triptamina.[55]

Inhibisi Kompetitif

Pada inihibisi kompetitif, inhibitor dan substrat berkompetisi untuk berikatan dengan enzim. Seringkali inhibitor kompetitif memiliki struktur yang sangat mirip dengan substrat asli enzim. Sebagai contoh, metotreksat adalah inihibitor kompetitif untuk enzim dihidrofolat reduktase. Kemiripan antara struktur asam folat dengan obat ini ditunjukkan oleh gambar di samping bawah. Perhatikan bahwa pengikatan inhibitor tidaklah perlu terjadi pada tapak pengikatan substrat apabila pengikatan inihibitor mengubah konformasi enzim, sehingga menghalangi pengikatan substrat. Pada inhibisi kompetitif, kelajuan maksimal reaksi tidak berubah, namun memerlukan konsentrasi substrat yang lebih tinggi untuk mencapai kelajuan maksimal tersebut, sehingga meningkatkan Km.

Inhibisi tak Kompetitif

Pada inhibisi tak kompetitif, inhibitor tidak dapat berikatan dengan enzim bebas, namun hanya dapat dengan komples ES. Kompleks EIS yang terbentuk kemudian menjadi tidak aktif. Jenis inhibisi ini sangat jarang, namun dapat terjadi pada enzim-enzim multimerik.

Inhibisi Non-Kompetitif

Inhibitor non-kompetitif dapat mengikat enzim pada saat yang sama substrat berikatan dengan enzim. Baik kompleks EI dan EIS tidak aktif. Karena inhibitor tidak dapat dilawan dengan peningkatan konsentrasi substrat, Vmax reaksi berubah. Namun, karena substrat masih dapat mengikat enzim, Km tetaplah sama.

 

 

Inhibisi Campuran

Inhibisis jenis ini mirip dengan inhibisi non-kompetitif, kecuali kompleks EIS memiliki aktivitas enzimatik residual. Pada banyak organisme, inhibitor dapat merupakan bagian dari mekanisme umpan balik. Jika enzim memproduksi terlalu banyak produk, produk tersebut dapat berperan sebagai inhibitor bagi enzim tersebut. Hal ini akan menyebabkan produksi produk melambat atau berhenti. Bentuk umpan balik ini adalah umpan balik negatif. Enzim memiliki bentuk regulasi seperti ini sering kali multimerik dan mempunyai tapak ikat alosterik. Kurva substrat/kelajuan enzim ini tidak berbentuk hiperbola melainkan berbentuk S.

Koenzim asam folat (kiri) dan obat anti kanker metotreksat (kanan) memiliki struktur yang sangat mirip. Oleh sebab itu, metotreksat adalah inhibitor kompetitif bagi enzim yang menggunukan folat.

Inhibitor ireversibel bereaksi dengan enzim dan membentuk aduk dengan protein. Inaktivasi ini bersifat ireversible. Inhibitor seperti ini contohnya efloritina, obat yang digunakan untuk mengobati penyakit yang disebabkan oleh protozoa African trypanosomiasis.[57] Penisilin dan Aspirin juga bekerja dengan cara yang sama. Senyawa obat ini terikat pada tapak aktif, dan enzim kemudian mengubah inhibitor menjadi bentuk aktif yang bereaksi secara ireversibel dengan satu atau lebih residu asam amino.

 

 

 

Kegunaan Inhibitor

Oleh karena inhibitor menghambat fungsi enzim, inhibitor sering digunakan sebagai obat. Contohnya adalah inhibitor yang digunakan sebagai obat aspirin. Aspirin menginhibisi enzim COX-1 dan COX-2 yang memproduksi pembawa pesan peradangan prostaglandin, sehingga ia dapat menekan peradangan dan rasa sakit. Namun, banyak pula inhibitor enzim lainnya yang beracun. Sebagai contohnya, sianida yang merupakan inhibitor enzim ireversibel, akan bergabung dengan tembaga dan besi pada tapak aktif enzim sitokrom c oksidase dan memblok pernafasan sel.[58]

Fungsi Biologis

Enzim mempunyai berbagai fungsi bioligis dalam tubuh organisme hidup. Enzim berperan dalam transduksi signal dan regulasi sel, seringkali melalui enzim kinase dan fosfatase.[59] Enzim juga berperan dalam menghasilkan pergerakan tubuh, dengan miosin menghidrolisis ATP untuk menghasilkan kontraksi otot.[60] ATPase lainnya dalam membran sel umumnya adalah pompa ion yang terlibat dalam transpor aktif. Enzim juga terlibat dalam fungs-fungsi yang khas, seperti lusiferase yang menghasilkan cahaya pada kunang-kunang.[61] Virus juga mengandung enzim yang dapat menyerang sel, misalnya HIV integrase dan transkriptase balik.

Enzim lusiferase pada kunang-kunang memiliki kofaktor lusiferin (kuning-hijau) yang dapat memancarkan cahaya.

Salah satu fungsi penting enzim adalah pada sistem pencernaan hewan. Enzim seperti amilase dan protease memecah molekul yang besar (seperti pati dan protein) menjadi molekul yang kecil, sehingga dapat diserap oleh usus. Molekul pati, sebagai contohnya, terlalu besar untuk diserap oleh usus, namun enzim akan menghidrolisis rantai pati menjadi molekul kecil seperti maltosa, yang akan dihidrolisis lebih jauh menjadi glukosa, sehingga dapat diserap. Enzim-enzim yang berbeda, mencerna zat-zat makanan yang berbeda pula. Pada hewan pemamah biak, mikroorganisme dalam perut hewan tersebut menghasilkan enzim selulase yang dapat mengurai sel dinding selulosa tanaman.[62]

Beberapa enzim dapat bekerja bersama dalam urutan tertentu, dan menghasilan lintasan metabolisme. Dalam lintasan metabolisme, satu enzim akan membawa produk enzim lainnya sebagai substrat. Setelah reaksi katalitik terjadi, produk kemudian dihantarkan ke enzim lainnya. Kadang-kadang lebih dari satu enzim dapat mengatalisasi reaksi yang sama secara bersamaan.

Enzim menentukan langkah-langkah apa saja yang terjadi dalam lintasan metabolisme ini. Tanpa enzim, metabolisme tidak akan berjalan melalui langkah yang teratur ataupun tidak akan berjalan dengan cukup cepat untuk memenuhi kebutuhan sel. Dan sebenarnya, lintasan metabolisme seperti glikolisis tidak akan dapat terjadi tanpa enzim. Glukosa, contohnya, dapat bereaksi secara langsung dengan ATP, dan menjadi terfosforliasi pada karbon-karbonnya secara acak. Tanpa keberadaan enzim, proses ini berjalan dengan sangat lambat. Namun, jika heksokinase ditambahkan, reaksi ini tetap berjalan, namun fosforilasi pada karbon 6 akan terjadi dengan sangat cepat, sedemikiannya produk glukosa-6-fosfat ditemukan sebagai produk utama. Oleh karena itu, jaringan lintasan metabolisme dalam tiap-tiap sel bergantung pada kumpulan enzim fungsional yang terdapat dalam sel tersebut.

Kontrol Aktivitas

Terdapat lima cara utama aktivitas enzim dikontrol dalam sel.

1.      Produksi enzim (transkripsi dan translasi gen enzim) dapat ditingkatkan atau diturunkan bergantung pada respon sel terhadap perubahan lingkungan. Bentuk regulase gen ini disebut induksi dan inhibisi enzim. Sebagai contohnya, bakteri dapat menjadi resistan terhadap antibiotik seperti penisilin karena enzim yang disebut beta-laktamase menginduksi hidrolisis cincin beta-laktam penisilin. Contoh lainnya adalah enzim dalam hati yang disebut sitokrom P450 oksidase yang penting dalam metabolisme obat. Induksi atau inhibisi enzim ini dapat mengakibatkan interaksi obat.

2.      Enzim dapat dikompartemenkan, dengan lintasan metabolisme yang berbeda-beda yang terjadi dalam kompartemen sel yang berbeda. Sebagai contoh, asam lemak disintesis oleh sekelompok enzim dalam sitosol, retikulum endoplasma, dan aparat golgi, dan digunakan oleh sekelompok enzim lainnya sebagai sumber energi dalam mitokondria melalui β-oksidasi.[63]

3.      Enzim dapat diregulasi oleh inhibitor dan aktivator. Contohnya, produk akhir lintasan metabolisme seringkali merupakan inhibitor enzim pertama yang terlibat dalam lintasan metabolisme, sehingga ia dapat meregulasi jumlah produk akhir lintasan metabolisme tersebut. Mekanisme regulasi seperti ini disebut umpan balik negatif karena jumlah produk akhir diatur oleh konsentrasi produk itu sendiri. Mekanisme umpan balik negatif dapat secara efektif mengatur laju sintesis zat antara metabolit tergantung pada kebutuhan sel. Hal ini membantu alokasi bahan zat dan energi secara ekonomis dan menghindari pembuatan produk akhir yang berlebihan. Kontrol aksi enzimatik membantu menjaga homeostasis organisme hidup.

4.      Enzim dapat diregulasi melalui modifikasi pasca-translasional. Ia dapat meliputi fosforilasi, miristoilasi, dan glikosilasi. Contohnya, sebagai respon terhadap insulin, fosforilasi banyak enzim termasuk glikogen sintase membantu mengontrol sintesis ataupun degradasi glikogen dan mengijinkan sel merespon terhadap perubahan kadar gula dalam darah.[64] Contoh lain modifikasi pasca-translasional adalah pembelahan rantai polipeptida. Kimotripsin yang merupakan protease pencernaan diproduksi dalam keadaan tidak aktif sebagai kimotripsinogen di pankreas. Ia kemudian ditranspor ke dalam perut di mana ia diaktivasi. Hal ini menghalangi enzim mencerna pankreas dan jaringan lainnya sebelum ia memasuki perut. Jenis prekursor tak aktif ini dikenal sebagai zimogen.

5.      Beberapa enzim dapat menjadi aktif ketika berada pada lingkungan yang berbeda. Contohnya, hemaglutinin pada virus influenza menjadi aktif dikarenakan kondisi asam lingkungan. Hal ini terjadi ketika virus terbawa ke dalam sel inang dan memasuki lisosom.

Keterlibatan Dalam Penyakit

Fenilalanina hidroksilase. Sumber: PDB 1KW0

Oleh karena kontrol aktivitas enzim yang ketat diperlukan untuk menjaga homeostasis, malafungsi (mutasi, kelebihan produksi, kekurangan produksi ataupun delesi) enzim tunggal yang penting dapat menyebabkan penyakit genetik. Pentingnya enzim ditunjukkan oleh fakta bahwa penyakit-penyakit mematikan dapat disebabkan oleh hanya mala fungsi satu enzim dari ribuan enzim yang ada dalam tubuh kita.

Salah satu contohnya adalah fenilketonuria. Mutasi asam amino tunggal pada enzim fenilalania hidroksilase yang mengatalisis langkah pertama degradasi fenilalanina mengakibatkan penumpukkan fenilalanina dan senyawa terkait. Hal ini dapat menyebabkan keterbelakangan mental jika ia tidak diobati.[66]. Contoh lainnya adalah mutasi silsilah nutfah (germline mutation) pada gen yang mengkode enzim reparasi DNA. Ia dapat menyebakan sindrom penyakit kanker keturunan seperti xeroderma pigmentosum. Kerusakan ada enzim ini dapat menyebabkan kanker karena kemampuan tubuh memperbaiki mutasi pada genom menjadi berkurang. Hal ini menyebabkan akumulasi mutasi dan mengakibatkan berkembangnya berbagai jenis kanker pada penderita.

Zat Aditif

Aditif makanan atau bahan tambahan makanan adakah semua bahan kimia yang dimasukkan dalam makanan guna untuk meningkatkan kualitas, keenakan, keunikan makanan, dan lain-lain. Penggunaan aditif makanan telah digunakan sejak zaman nenek moyang kita. Bahan aditif makanan ada dua, yaitu bahan aditif makanan alami dan buatan atau sintetis.

Bahan aditif makanan dapat digolongkan menjadi beberapa kelompok tertentu tergantung kegunaanya, diantaranya:

  • MSG sebagai penguat rasa makanan dan juga untuk melezatkan makanan. MSG merupakan zat aditif makanan buatan, sedangkan yang alami diantaranya adalah bunga cengkeh.
  • Tartrazin adalah pewarna makanan buatan yang mempunyai banyak macam pilihan warna, diantaranya Tartrazin CI 19140. Bahan pewarna makanan alami diantaranya adalah daun pandan.
  • Garam alginat dan gliserin marupakan bahan adtif buatan yang digunakan untuk menstabilkan dan memekatkan suatu makanan sehinggga dapat membuat makanan bertekstur lembut dan rata

Bahan aditif juga bisa membuat penyakit jika tidak digunakan sesuai dosis, apalagi bahan aditif buatan atau sintetis. Penyakit yang biasa timbul dalam jangka waktu lama setelah menggunakan suatu bahan aditif adalah kanker, kerusakan ginjal, dan lain-lain. Maka dari itu pemerintah menagtur penggunaan bahan aditif makanan scara ketat dan juga melarang pengguanaan bahan aditif makanan tertentu jika dapat menimbulakan masalah kesehatan yang berbahaya. Pemerintah juga melakukan berbagai penelitian guna menemukan bahan aditif makanan yang aman dan murah

Zat Aditif Makanan

Kata Kunci: aditif, formalin, makanan, natrium, pengawet, pewarna, siklamat

Ditulis oleh Indri Puspita pada 20-10-2007

Sekitar bulan Oktober 2007 ini, penulis dengan beberapa dosen Jurusan Kimia FMIPA Universitas Lampung telah melakukan suatu survei tentang tingkat pengetahuan masyarakat mengenai zat aditif (bahan tambahan) yang dikhususkan pada penggunaan zat aditif makanan/bahan tambahan pangan (BTP) di beberapa penduduk desa di Lampung Timur, Provinsi Lampung. Sebelum menginformasikan lebih lanjut beberapa hasil survei, penulis akan menginformasikan terlebih dahulu tentang apa itu zat aditif makanan.

Zat Aditif Makanan

Pada dasarnya baik masyarakat desa maupun kota, pasti telah menggunakan zat aditif makanan dalam kehidupannya sehari-hari. Secara ilmiah, zat aditif makanan di definisikan sebagai bahan yang ditambahkan dan dicampurkan sewaktu pengolahan makanan untuk meningkatkan mutu. Disini zat aditif makanan sudah termasuk : pewarna, penyedap, pengawet, pemantap, antioksidan, pengemulsi, pengumpal, pemucat, pengental, dan anti gumpal.

Istilah zat aditif sendiri mulai familiar di tengah masyarakat Indonesia setelah merebak kasus penggunaan formalin pada beberapa produk olahan pangan, tahu, ikan dan daging yang terjadi pada beberapa bulan belakangan. Formalin sendiri digunakan sebagai zat pengawet agar produk olahan tersebut tidak lekas busuk/terjauh dari mikroorganisme. Penyalahgunaan formalin ini membuka kacamata masyarakat untuk bersifat proaktif dalam memilah-milah mana zat aditif yang dapat dikonsumsi dan mana yang berbahaya.

Secara umum, zat aditif makanan dapat dibagi menjadi dua yaitu : (a) aditif sengaja, yaitu aditif yang diberikan dengan sengaja dengan maksud dan tujuan tertentu, seperti untuk meningkatkan nilai gizi, cita rasa, mengendalikan keasaman dan kebasaan, memantapkan bentuk dan rupa, dan lain sebagainya. Dan kedua, (b) aditif tidak sengaja, yaitu aditif yang terdapat dalam makanan dalam jumlah sangat kecil sebagai akibat dari proses pengolahan.

Bila dilihat dari sumbernya, zat aditif dapat berasal dari sumber alamiah seperti lesitin, asam sitrat, dan lain-lain, dapat juga disintesis dari bahan kimia yang mempunyai sifat serupa dengan bahan alamiah yang sejenis, baik susunan kimia, maupun sifat metabolismenya seperti karoten, asam askorbat, dan lain-lain. Pada umumnya bahan sintetis mempunyai kelebihan, yaitu lebih pekat, lebih stabil, dan lebih murah. Walaupun demikian ada kelemahannya yaitu sering terjadi ketidaksempurnaan proses sehingga mengandung zat-zat berbahaya bagi kesehatan, dan kadang-kadang bersifat karsinogen yang dapat merangsang terjadinya kanker pada hewan dan manusia.

Beberapa Contoh Zat Aditi

Zat aditif makanan telah dimanfaatkan dalam berbagai proses pengolahan makanan, berikut adalah beberapa contoh zat aditif :

Zat aditif Contoh Keterangan
Pewarna Daun pandan (hijau), kunyit (kuning), buah coklat (coklat), wortel (orange) Pewarna alami
Sunsetyellow FCF (orange), Carmoisine (Merah), Brilliant Blue FCF (biru), Tartrazine (kuning), dll Pewarna sintesis
Pengawet Natrium benzoat, Natrium Nitrat, Asam Sitrat, Asam Sorbat, Formalin Terlalu banyak mengkonsumsi zat pengawet akan mengurangi daya tahan tubuh terhadap penyakit
Penyedap Pala, merica, cabai, laos, kunyit, ketumbar Penyedap alami
Mono-natrium glutamat/vetsin (ajinomoto/sasa), asam cuka, benzaldehida, amil asetat, dll Penyedap sintesis
Antioksidan Butil hidroksi anisol (BHA), butil hidroksi toluena (BHT), tokoferol Mencegah Ketengikan
Pemutih Hidrogen peroksida, oksida klor, benzoil peroksida, natrium hipoklorit -
Pemanis bukan gula Sakarin, Dulsin, Siklamat Baik dikonsumsi penderita diabetes, Khusus siklamat bersifat karsinogen
Pengatur keasaman Aluminium amonium/kalium/natrium sulfat, asam laktat Menjadi lebih asam, lebih basa, atau menetralkan makanan
Anti Gumpal Aluminium silikat, kalsium silikat, magnesium karbonat, magnesium oksida Ditambahkan ke dalam pangan dalam bentuk bubuk

 

 

Secara etimologis, ideologi berasal dari bahasa Yunani yaitu idea dan logia. Idea berasal dari idein yang berarti melihat. Idea juga diartikan sesuatu yang ada di dalam pikiran sebagai hasil perumusan sesuatu pemikiran atau rencana. Kata logia mengandung makna ilmu pengetahuan atau teori, sedang kata logis berasal dari kata logos dari kata legein yaitu berbicara. Istilah ideologi sendiri pertama kali dilontarkan oleh Antoine Destutt de Tracy (1754 – 1836), ketika bergejolaknya Revolusi Prancis untuk mendefinisikan sains tentang ide. Jadi dapat disimpulkan secara bahasa, ideologi adalah pengucapan atau pengutaraan terhadap sesuatu yang terumus di dalam pikiran.Dalam tinjauan terminologis, ideology is Manner or content of thinking characteristic of an individual or class (cara hidup/ tingkah laku atau hasil pemikiran yang menunjukan sifat-sifat tertentu dari seorang individu atau suatu kelas). Ideologi adalah ideas characteristic of a school of thinkers a class of society, a plotitical party or the like (watak/ ciri-ciri hasil pemikiran dari pemikiran suatu kelas di dalam masyarakat atau partai politik atau pun lainnya). Ideologi ternyata memiliki beberapa sifat, yaitu dia harus merupakan pemikiran mendasar dan rasional. Kedua, dari pemikiran mendasar ini dia harus bisa memancarkan sistem untuk mengatur kehidupan. Ketiga, selain kedua hal tadi, dia juga harus memiliki metode praktis bagaimana ideologi tersebut bisa diterapkan, dijaga eksistesinya dan disebarkan.
Pancasila dijadikan ideologi dikerenakan, Pancasila memiliki nilai-nilai falsafah mendasar dan  rasional. Pancasila telah teruji kokoh dan kuat sebagai dasar dalam mengatur kehidupan bernegara. Selain itu, Pancasila juga merupakan wujud dari konsensus nasional karena negara bangsa Indonesia ini adalah sebuah desain negara moderen yang disepakati oleh para pendiri negara Republik Indonesia kemudian nilai kandungan Pancasila dilestarikan dari generasi ke generasi. Pancasila pertama kali dikumandangkan oleh Soekarno pada saat berlangsungnya sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Republik Indonesia (BPUPKI).

Pada pidato tersebut, Soekarno menekankan pentingnya sebuah dasar negara. Istilah dasar negara ini kemudian disamakan dengan fundamen, filsafat, pemikiran yang mendalam, serta jiwa dan hasrat yang mendalam, serta perjuangan suatu bangsa senantiasa memiliki karakter sendiri yang berasal dari kepribadian bangsa. Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa Pancasila secara formal yudiris terdapat dalam alinea IV pembukaan UUD 1945. Di samping pengertian formal menurut hukum atau formal yudiris maka Pancasila juga mempunyai bentuk dan juga mempunyai isi dan arti (unsur-unsur yang menyusun Pancasila tersebut). Tepat 64 tahun usia Pancasila, sepatutnya sebagai warga negara Indonesia kembali menyelami kandungan nilai-nilai luhur tersebut.

Ketuhanan (Religiusitas)
Nilai religius adalah nilai yang berkaitan dengan keterkaitan individu dengan sesuatu yang dianggapnya memiliki kekuatan sakral, suci, agung dan mulia. Memahami Ketuhanan sebagai pandangan hidup adalah mewujudkan masyarakat yang beketuhanan, yakni membangun masyarakat Indonesia yang memiliki jiwa maupun semangat untuk mencapai ridlo Tuhan dalam setiap perbuatan baik yang dilakukannya. Dari sudut pandang etis keagamaan, negara berdasar Ketuhanan Yang Maha Esa itu adalah negara yang menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduknya untuk memeluk agama dan beribadat menurut agama dan kepercayaan masing-masing. Dari dasar ini pula, bahwa suatu keharusan bagi masyarakat warga Indonesia menjadi masyarakat yang beriman kepada Tuhan, dan masyarakat yang beragama, apapun agama dan keyakinan mereka.

Kemanusiaan (Moralitas)
Kemanusiaan yang adil dan beradab, adalah pembentukan suatu kesadaran tentang keteraturan, sebagai asas kehidupan, sebab setiap manusia mempunyai potensi untuk menjadi manusia sempurna, yaitu manusia yang beradab.  Manusia yang maju peradabannya tentu lebih mudah menerima kebenaran dengan tulus, lebih mungkin untuk mengikuti tata cara dan pola kehidupan masyarakat yang teratur, dan mengenal hukum universal. Kesadaran inilah yang menjadi semangat membangun kehidupan masyarakat dan alam semesta untuk mencapai kebahagiaan dengan usaha gigih, serta dapat diimplementasikan dalam bentuk sikap hidup yang harmoni penuh toleransi dan damai.

Persatuan (Kebangsaan) Indonesia
Persatuan adalah gabungan yang terdiri atas beberapa bagian, kehadiran Indonesia dan bangsanya di muka bumi ini bukan untuk bersengketa. Bangsa Indonesia hadir untuk mewujudkan kasih sayang kepada segenap suku bangsa dari Sabang sampai Marauke. Persatuan Indonesia, bukan sebuah sikap maupun pandangan dogmatik dan sempit, namun harus menjadi upaya untuk melihat diri sendiri secara lebih objektif dari dunia luar. Negara Kesatuan Republik Indonesia terbentuk dalam proses sejarah perjuangan panjang dan terdiri dari bermacam-macam kelompok suku bangsa, namun perbedaan tersebut tidak untuk dipertentangkan tetapi justru dijadikan persatuan Indonesia.

Permusyawaratan dan Perwakilan
Sebagai makhluk sosial, manusia membutuhkan hidup berdampingan dengan orang lain, dalam interaksi itu biasanya terjadi kesepakatan, dan saling menghargai satu sama lain atas dasar tujuan dan kepentingan bersama. Prinsip-prinsip kerakyatan yang menjadi cita-cita utama untuk membangkitkan bangsa Indonesia, mengerahkan potensi mereka dalam dunia modern, yakni kerakyatan yang mampu mengendalikan diri, tabah menguasai diri, walau berada dalam kancah pergolakan hebat untuk menciptakan perubahan dan pembaharuan. Hikmah kebijaksanaan adalah kondisi sosial yang menampilkan rakyat berpikir dalam tahap yang lebih tinggi sebagai bangsa, dan membebaskan diri dari belenggu pemikiran berazaskan kelompok dan aliran tertentu yang sempit.

Keadilan Sosial
Nilai keadilan adalah nilai yang menjunjung norma berdasarkan ketidak berpihakkan, keseimbangan,  serta pemerataan terhadap suatu hal. Mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia merupakan cita-cita bernegara dan berbangsa. Itu semua bermakna mewujudkan keadaan masyarakat yang bersatu secara organik, dimana setiap anggotanya mempunyai kesempatan yang sama untuk tumbuh dan berkembang serta belajar hidup pada kemampuan aslinya. Segala usaha diarahkan kepada potensi rakyat, memupuk perwatakan dan peningkatan kualitas rakyat, sehingga kesejahteraan tercapai secara merata.

Cara Buat Banner

Posted: April 6, 2011 in Uncategorized

Bagi sobat-sobat blogger mungkin sudah lihai dalam memodifikasi blognya. Tapi buat newbie newbie mungkin masih awam dalam hal ini. Disini saya mau jelaskan tentang cara membuat banner di blog supaya bisa diklik, supaya lebih keren dan temen temen lainnya bisa langsung copas aja. Ada beberapa macam situs layanan membuat banner gratis, salah satunya dan yang sering saya gunakan adalah cooltext.com karena sangat mudah sekali. Oke langsung aja ya langkah langkah cara membuat banner supaya bisa diklik, sebagai berikut:

1.Kunjungi cooltext.com
2.Pilih contoh contoh banner lalu klik
3.Pada kolom Logo Text ganti dengan judul blog anda
4.Pada kolom Text Size ganti ukuran textnya sesuai keinginan anda
5.Pada Text Color ganti warna textnya sesuai keinginan anda
6.Background Image silahkan jika anda ingin menggantinya
7.kalo sudah selsai semua klik “render logo”
8.lalu klik “download image”
9.Simpan di PC anda
10.Lalu buka http://www.photobucket.com
11.daftar dulu klo sudah langsung login
12.Lalu klik “album & upload” lalu “choose file” pilih “from my computer” lalu pilih banner anda tadi
13. kalo proses upload sudah selsai arahkan mousenya ke gambar banner tadi lalu copy script yang ada di kolom HTML CODE ke notepad menjadi 2
14.tambahkan code ini <textarea cols=”20″ name=”textarea”> sebelum kode banner anda yang ke 2 ke notepad tadi
15.lalu tambahkan kode ini </textarea> setelah kode banner anda yang ke 2 ke notepad tadi

kayak gini contohnya
CODE BANNER ANDA <textarea cols=”20″ name=”textarea”>CODE BANNER ANDA</textarea>

Setelah itu copy semua kode yang ada di notepad tadi lalu simpan di blog anda

Untuk blogspot anda masuk ke “LAYOUT”—->”ADD GADGETS”—->”HTML / Java Script” lalu SAVE. Selsai ;)

UPDATE!
Supaya banner jika diklik bisa langsung ke alamat situs maka, ganti URL pertama menjadi URL blog anda. CODE BANNER ANDA kan ada 2, misal : CODE BANNER ANDA (<a href=”http://s385.photobucket.com/albums/oo293/tyo041084/?action=view&current=globe.gif” target=”_blank”><img src=”http://i385.photobucket.com/albums/oo293/tyo041084/globe.gif” border=”0″ alt=”globe”></a>) <textarea cols=”20″ name=”textarea”>CODE BANNER ANDA (<a href=”http://s385.photobucket.com/albums/oo293/tyo041084/?action=view&current=globe.gif” target=”_blank”><img src=”http://i385.photobucket.com/albums/oo293/tyo041084/globe.gif” border=”0″ alt=”globe”></a>) </textarea>

Huruf yg dicetak tebal adalah CODE BANNER ANDA
Huruf yg berwarna merah adalah URL gambar anda. Ganti warna kode yg berwarna merah ini menjadi URL situs anda, misalnya: http://www.feryfadly.com

Kata Penuh Makna

Posted: April 6, 2011 in Uncategorized
  • Sesuatu yang baik, belum tentu benar. Sesuatu yang benar, belum tentu baik. Sesuatu yang bagus, belum tentu berharga. Sesuatu yang berharga/berguna, belum tentu bagus.
  • Pikiran yang terbuka dan mulut yang tertutup merupakan suatu kombinasi kebahagiaan.
  • Semakin banyak Anda berbicara tentang diri sendiri, semakin banyak pula kemungkinan untuk Anda berbohong.
  • Jika Anda tidak bisa menjadi orang pandai, jadilah orang yang baik.
  • Seorang teman sejati akan membuat Anda hangat dengan kehadirannya, mempercayai akan rahasianya dan mengingat Anda dalam doa-doanya.
  • Doa memberikan kekuatan pada orang yang lemah, membuat orang tidak percaya menjadi percaya dan memberikan keberanian pada orang yang ketakutan.
  • Jika kita berbuat baik, kebaikan pula yang akan kita terima kelak.
  • Senyum tidak hanya akan menampilkan wajah yang cerah, namun juga menghangatkan jiwa.
  • Cinta itu angkuh dan lembut. Lebih baik memiliki cinta daripada memiliki semua bintang di langit.
  • Yang penting bukan berapa lama kita hidup, tetapi bagaimana kita hidup.
  • Nasihat yang baik tidak pernah datang terlambat.
  • Iri hati yang ditunjukan kepada seseorang akan melukai diri sendiri.
  • Anda cuma bisa hidup sekali saja didunia ini, tetapi jika anda hidup dengan benar, sekali saja sudah cukup.
  • Kenangan indah masa lalu hanya untuk dikenang, bukan untuk diingat-ingat.
  • Rasa takut bukanlah untuk dinikmati, tetapi untuk dihadapi.
  • Orang bijaksana selalu melengkapi kehidupannya dengan banyak persahabatan.
  • Lidah anda yang menentukan siapa anda.
  • Diantara isi rumah tangga, anak-anaklah yang terbaik.
  • Cinta seringkali akan lari bila kita mencari, tetapi cinta jua seringkali dibiarkan pergi bila ia menghampiri.
  • Jika kejahatan di balas kejahatan, maka itu adalah dendam. Jika kebaikan dibalas kebaikan itu adalah perkara biasa. Jika kebaikan dibalas kejahatan, itu adalah zalim. Tapi jika kejahatan dibalas kebaikan, itu adalah mulia dan terpuji.
  • Jika Anda tidak memulai hari ini dengan senyuman, belum terlambat untuk mencobanya pada hari esok.
  • Buka mata kita lebar-lebar sebelum menikah, dan biarkan mata kita setengah terpejam sesudahnya
  • Persahabatan sejati layaknya kesehatan, nilainya baru kita sadari setelah kita kehilangannya
  • Seorang sahabat adalah yang dapat mendengarkan lagu di dalam hatimu dan akan menyanyikan kembali tatkala kau lupa akan bait-baitnya
  • Bertemanlah dengan orang yang suka membela kebenaran. Dialah hiasan dikala kita senang dan perisai diwaktu kita susah
  • Namun kita tidak akan pernah memiliki seorang teman, jika kita mengharapkan seseorang tanpa kesalahan. Karena semua manusia itu baik kalau kita bisa melihat kebaikannya dan menyenangkan kalau kita bisa melihat keunikannya tapi semua manusia itu akan buruk dan membosankan kalau kita tidak bisa melihat keduanya.
  • Tak seorang pun sempurna. Mereka yang mau belajar dari kesalahan adalah bijak. Menyedihkan melihat orang berkeras bahwa mereka benar meskipun terbukti salah
  • Bila Kita mengisi hati kita dengan penyesalan untuk masa lalu dan kekhawatiran untuk masa depan, kita tak memiliki hari ini untuk kita syukuri.
  • Perlukah merasa kecil dan malu dihina? Orang yang dihina itu sebenarnya memungut pahala cum-cuma tanpa perlu bersusah payah
  • Semulia-mulia manusia ialah siapa yang mempunyai adab, merendahkan diri ketika berkedudukan tinggi, memaafkan ketika berdaya membalas dan bersikap adil ketika kuat. (Khalifah Abdul MAlik bin Marwan)
  • Barang siapa yang selalu kekenyangan maka banyaklah dagingnya, dan siapa yang banyak dagingnya maka kuatlah nafsunya. Siapa yang kuat nafsunya maka banyaklah dosanya, siapa yang banyak dosanya maka keraslah hatinya dan siapa yang keras hatinya maka tenggelamlah dia dalam bencana dunia serta keindahannya
  • Sesungguhnya sebagian perkataan itu ada yang lebih keras dari batu, lebih tajam dari tusukan jarum, lebih pahit daripada jadam dan lebih panas daripada bara. Sesungguhnya hati adalah ladang, maka tanamlah ia dengan perkataan yang baik, karena jika tidak tumbuh semuanya (perkataan yang tidak baik) niscaya tumbuh sebagiannya
  • Tidak ada simpanan yang lebih berguna daripada ilmu.
    Tidak ada sesuatu yang lebih beruntung daripada adab.
    Tidak ada kawan yang lebih bagus daripada akal.
    Tidak ada benda ghaib yang lebih dekat daripada maut.
  • Sekali tidak berhasil bukan berarti gagal selamanya
  • Kebahagiaan takkan pernah bisa dibeli dengan uang
  • Orang yang banyak ketawa itu kurang wibawanya.
    Orang yang suka menghina orang lain, dia juga akan dihina.
    Orang yang mencintai akhirat, dunia pasti menyertainya.
    Barangsiapa menjaga kehormatan orang lain, pasti kehormatan dirinya akan terjaga
  • Sesungguhnya orang-orang yang berlaku adil di sisi Allah laksana berada di atas mimbar yang terbuat dari cahaya.
    Mereka itu orang-orang yang berlaku adil dalam menetapkan hukum
    baik kepada rakyat maupun kepada keluarga
  • Tiga sifat yang menyebabkan penyandangnya tidak tentram dalam hidupnya : iri, dengki, dan akhlak buruk
  • Hiduplah Sesuka hatimu,
    Sesungguhnya kamu pasti mati.
    Cintai siapa saja yang kamu senangi,
    Sesungguhnya kamu pasti akan berpisah dengannya.
    Lakukan apa saja yang kamu kehendaki,
    Sesungguhnya kamu akan memperoleh balasannya.
  • Tidak ada kebaikan bagi pembicaraan kecuali dengan amalan.
    Tidak ada kebaikan bagi harta kecuali dengan kedermawanan.
    Tidak ada kebaikan bagi sahabat kecuali dengan kesetiaan.
    Tidak ada kebaikan bagi shadaqah kecuali niat yang ikhlas.
    Tidak ada kebaikan bagi kehidupan kecuali kesehatan dan keamanan
  • Banyak orang akan datang dan pergi dari kehidupanmu, tetapi hanya sahabat-sahabat sejati yang akan meninggalkan bekas di dalam hatimu.
  • Untuk menangani dirimu, gunakan kepalamu. Tetapi untuk menangani orang lain, gunakan hatimu.
  • Kemarahan hanyalah satu kata yang dekat dengan bahaya.
  • Pikiran yang besar membicarakan ide-ide;
    Pikiran yang rata-rata membicarakan kejadian-kejadian;
    Dan pikiran yang kerdil membicarakan orang-orang.
  • Allah memberikan kepada setiap burung makanan mereka, tetapi Ia tidak melemparkan makanan itu ke dalam sarang mereka.
  • Ia yang kehilangan uang, kehilangan banyak;
    Ia yang kehilangan seorang teman, kehilangan lebih banyak;
    Tetapi ia yang kehilangan keyakinan, kehilangan semuanya.
  • Belajarlah dari kesalahan orang lain. Engkau tidak dapat hidup cukup lama untuk mendapatkan semua itu dari dirimu sendiri.
  • Lidah praktis tidak berat sama sekali, tetapi hanya sedikit orang yang dapat memegangnya.
  • Smart people learn from their own mistakes. Smarter people learn from the mistakes of ot

Love Is My Life

Posted: March 31, 2011 in Uncategorized

I lived so long without thinking about the love that never knew a girl is normal in my life, because I suffer from a disease that is very complicated after I was born from the womb of my mother, now aged 24 years and I just stayed at home accompanied by a television into place spirit my life.

now moved soon 25 years, now I feel lonely in this life, so I intend to treat the disease is now lodged in my head, now I have asked doctors to go in Australia, to treat cancer which has now been so long I suffered. all families participate only pray for my safety in the operation later. both parents to accompany me to the asustralia hingg. last night before I go to leave Indonesia, I had a dream that my arms by my father and my mother, I had to think that maybe I would survive in this treatment.

I straightened my clothes that I will take it later in a very large duffel bag, and some of my favorite snacks, before we left we please say goodbye to the grandparents in the village. and the next day we returned to the city to be ready immediately to the airport.

for several hours on the plane we finally arrived at the airport
Sydney Kingsford Smith International Airport, at 21.00 Australian time. after a few seconds we were at the airport, then came a taxi and waved The immediate dad told me it was a taxi from the hospital that will treat my illness, then we are in the order entered in a taxi and soon we entered, fresh cab driver pick our stuff quite a lot. we finally left the airport, to the hospital of The Prince of Wales Hospital, located in Sydney’s eastern suburbs of Randwick, and finally we arrived at the hospital and hospital personnel directly took us to a special room for foreign patients. I immediately lay my body on the bed to unwind. few seconds later came the waiter food delivery food to our room, happened to my stomach was hungry, we just ate directly. after dinner we were resting, I The immediate sleep and hope tomorrow I will be in operation.

Makalah Termodinamika

Posted: March 30, 2011 in Uncategorized

BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Termodinamika adalah ilmu tentang energi, yang secara spesifik membahas tentang hubungan antara energi panas dengan kerja. Energi dapat berubah dari satu bentuk ke bentuk lain, baik secara alami maupun hasil rekayasa teknologi. Selain itu energi di alam semesta bersifat kekal, tidak dapat dibangkitkan atau dihilangkan, yang terjadi adalah perubahan energi dari satu bentuk menjadi bentuk lain tanpa ada pengurangan atau penambahan. Hal ini erat hubungannya dengan hukum – hukum dasar pada termodinamika. Dalam makalah ini kami akan membahas tentang hukum 3 termodinamika dan tentang sistem tenaga uap rankine.
Efek magnetokalorik di pakai untuk menurunkan temperatur senyawa paramagnetikhingga sekitar 0.001 K. Secara prinsip, temperatur yang lebih rendah lagi dapat dicapai dengan menerapkan efek magnetokalorik berulang-ulang. Jadi setelah penaikan medan magnetik semula secara isoterm, penurunan medan magnetik secara adiabat dapat dipakai untuk menyiapkan sejumlah besar bahan pada temperatur Tᶠ¹, yang dapat dipakai sebagai tandon kalor untuk menaikan tandon kalor secara isoterm ynag berikutnya dari sejumlah bahan yang lebih sedikit dari bahan semula. Penurunan medan magnetik secara adiabat yang kedua dapat menghasilkan temperatur yang lebih rendah lagi, Tᶠ², dan seterusnya. Maka akn tibul pertanyaan apakah efek magnetokalorik dapat dipakai untuk mendinginkan zat hingga mencapai nol mutlak.

Pecobaan menunjukan bahwa sifat dasar semua proses pendinginan adalah bahwa semakin rendah temperatur yang dicapai, semakin sulit menurunkannya.hal yang sama berlaku juga untuk efek magnetokalorik.dengan persyaratan demikian, penurunan medan secara adiabat yang tak trhingga banyaknya diperlukan untuk mencapai temperatur nol mutlak.

Rankine Cycle kadang-kadang dikenal sebagai suatu Daur Carnot praktis ketika suatu turbin efisien digunakan, T diagram akan mulai untuk menyerupai Daur Carnot. Perbedaan yang utama adalah bahwa suatu pompa digunakan untuk memberi tekanan cairan sebagai penganti gas. Ini memerlukan sekitar 100 kali lebih sedikit energy dibanding yang memampatkan suatu gas di dalam suatu penekan ( seperti di Daur Carnot)

Rumusan Masalah

Maka dirumuskan permasalahan sebagai berikut :
Apa pengertian dan aplikasi hukum ketiga termodinamika ?
Apa dan bagaimana proses siklus Rankine terjadi?

Tujuan

Penulisan Makalah ini diharapkan mampu memberikan manfaat sebagai berikut :
Memberikan tambahan pengetahuan kepada pembaca tentang Hukum 3 Termodinamika.
Memberikan penjelasan tentang hal – hal dasar yang sering dilupakan dalam Thermodinamika.
Memberikan pengetahuan kepada pembaca tentang siklus Rankine.

BAB II

PEMBAHASAN

HUKUM III TERMODINAMIKA

Efek magnetokalorik di pakai untuk menurunkan temperatur senyawa paramagnetikhingga sekitar 0.001 K. Secara prinsip, temperatur yang lebih rendah lagi dapat dicapai dengan menerapkan efek magnetokalorik berulang-ulang. Jadi setelah penaikan medan magnetik semula secara isoterm, penurunan medan magnetik secara adiabat dapat dipakai untuk menyiapkan sejumlah besar bahan pada temperatur Tᶠ¹, yang dapat dipakai sebagai tandon kalor untuk menaikan tandon kalor secara isoterm ynag berikutnya dari sejumlah bahan yang lebih sedikit dari bahan semula. Penurunan medan magnetik secara adiabat yang kedua dapat menghasilkan temperatur yang lebih rendah lagi, Tᶠ², dan seterusnya. Maka akan timbul pertanyaan apakah efek magnetokalorik dapat dipakai untuk mendinginkan zat hingga mencapai nol mutlak.

Pecobaan menunjukan bahwa sifat dasar semua proses pendinginan adalah bahwa semakin rendah temperatur yang dicapai, semakin sulit menurunkannya.hal yang sama berlaku juga untuk efek magnetokalorik.dengan persyaratan demikian, penurunan medan secara adiabat yang tak trhingga banyaknya diperlukan untuk mencapai temperatur nol mutlak. Perampatan dari pengalaman dapat dinyatakan sebagai berikut :

Temperatur nol mutlak tidak dapat dicapai dengan sederetan prosesyang banyaknya terhingga.Ini dikenal sebagi ketercapaian temperatur nol mutlak atau ketaktercapaian hukum ketiga termodinamika. Pernyataan lain dari hukum ketiga termodinamika adalahhasil percobaan yang menuju ke perhitungan bahwa bagaimana ΔST berlaku ketika T mendekati nol. ΔST ialah perubahan entropi sistem terkondensasi ketika berlangsung proses isoterm terbuktikan. Percobaansangat memperkuat bahwa ketika T menurun, ΔST berkurang jika sistem itu zat cair atau zat padat. Jadi prinsip berikut dapat di terima:

Perubahan entropi yang berkaitan dengan proses-terbalikan-isotermis-suatu sistem-terkondensasi mendekati nol ketika temperaturnya mendekati nol.
Pernyataan tersebut merupakan hukum ketiga termodinamika menurut Nernst-Simon. Nernst menyatakan bahwa perubahan entropi yang menyertai tiap proses reversibel, isotermik dari suatu sistem terkondensasi mendekati nol. Perubahan yang dinyatakan di atas dapat berupa reaksi kimia, perubahan status fisik, atau secara umum tiap perubahan yang dalam prinsip dapat dilakukan secara reversibel.

Hal ini dikenal sebagai hukun Nernst, yang secara matematika dinyatakan sebagai :

Kemudian, Pada tahun 1911, Planck membuat suatu hipotesis  Pada suhu T  0, bukan hanya beda entropi yg = 0, tetapi entropi setiap zat padat atau cair dalam keseimbangan dakhir pada suhu nol.
Dapat ditunjukkan secara eksperimen, bahwa bila suhunya mendekati 0 K, perubahan entropi transisi St menurun.

Persamaan diatas dikenal sebagai hukum ketiga termodinamika.
Hukum ketiga termodinamika terkait dengan temperatur nol absolut. Hukum ini menyatakan bahwa pada saat suatu sistem mencapai temperatur nol absolut, semua proses akan berhenti dan entropi sistem akan mendekati nilai minimum. Hukum ini juga menyatakan bahwa entropi benda berstruktur kristal sempurna pada temperatur nol absolut bernilai nol.

Hukum ketiga termodinamika menyatakan bahwa perubahan entropi St yang berkaitan dengan perubahan kimia atau perubahan fisika bahan murni pada T = 0 K bernilai nol.

Secara intuitif hukum ketiga dapat dipahami dari fakta bahwa pergerakan ionik atau molekular maupun atomik yang menentukan derajat ketidakteraturan dan dengan demikian juga besarnya entropi, sama sekali berhenti pada 0 K. Dengan mengingat hal ini, tidak akan ada perubahan derajat ketidakteraturan dalam perubahan fisika atau kimia dan oleh karena itu tidak akan ada perubahan entropi.

APLIKASI HUKUM KETIGA TERMODINAMIKA

Hukum ketiga termodinamika memungkinkan perhitungan perhitungan entropi absolut dari zat murni pada tiap temperatur dari panas jenis dan panaa transisi. Sebagai contoh, suatu benda padat pada temperatur T, akan memeiliki entropi yang akan dinyatakan oleh :
s=∫_0^T▒c_p/(�⯚)�楴T
Suatu benda cair, sebaliknya mempunyai entropi yang dinyatakan oleh :
s=∫_0^T▒〖c_(p (s))/T dT+h_if/T_m 〗+∫_(T_m)^T▒〖c_(p (l))/T dT〗
Penerapan yang mencakup gas menjadi :
s=∫_0^T▒〖c_(p (s))/T dT+h_if/T_m 〗+∫_(T_m)^T▒〖c_(p (l))/T dT〗+h_fg/T_b +∫_(T_b)^T▒〖c_(p (g))/T dT〗
Besaran-besaran yang diperlukan untuk evaluasi numerik entropi mencakup panas jenis. Pengukuran panas jenis zat padat di sekitar titik nol absolut menunjukan bahwa :
lim┬(T→0)⁡(c_p/T)=0
Karena c_(p ≈ C_v ) untuk zat padat,maka Debye dan Einstein menurunkan persamaan berikut untuk panaa jenis zat pasdat :
c_(p ≈ ) c_(v = ) aT^3
Dimana a adalah karakteristik yang berbeda untuk setiap zat. Bila suatu zat sederhana dipanaskan pada tekanan konstan, pertambahan entropi dinyatakan oleh :
ds=c_p⁄(T dT)
Bila persamaan tersebut di integrasikan di antara titik nol absolutdengan temperatur T dimana s =0 hasilnya adalah :
s=∫_0^T▒c_p⁄(T dT)

KONSEKUENSI SELANJUTNYA DARI HUKUM TIGA TERMODINAMIKA

Konsekuensi dari hukum ketiga termodinamika dijabarkan di bawah ini.
Untuk suatu proses temperatur konstan dekat 0ºK,perubahan entropi dinyatakan oleh :
∆S=(∂s/∂p)_(T ) dp
Karena ∆S = 0 pada T = 0 dari hukumtermodinamika ketiga, persamaan menghasilkan :
lim┬(T→0)⁡〖(∂V/∂T)_p 〗=0
Tetapi (∂S/∂p)_T=- (∂V/∂T)_P dari persamaan Maxwell. Jadi persamaan menjadi :
lim┬(T→0)⁡〖(∂V/∂T)_p 〗=0
lim┬(T→0)⁡〖(∂S/∂V)_T 〗=0
lim┬(T→0)⁡〖(∂p/∂T)_V 〗=0

Hasil diatas sesuai dengan kenyataan eksperimental. Sebagai contoh, buffington dan Latimer menemukan bahwa koefisien ekspansi dari beberapa zat padat kristalin mendekati nol.
Konsekuensi terakhir dari hukum ketiga termodinamika adalah tidak dapat diperolehnya titik nol absolut. Ditinjau suatu bidang penelitian pada temperatur rendah, kenyataan eksperimental menunjukan bahwa temperatur yang di peroleh oleh tiap proses demagenetisasi adaibatik dari temperatur awalnya adalah setengah temperatur awal proses bersangkutan. Jadi makin rendah temperatur yang dicapai, makin kurang kemungkinannya untuk didinginkan lebih rendah.
Dengan kata lain diperlukan proses demagnetisasi adiabatik yag tak terbatas jumlahnya untuk mencapai titik nol absolut.

SIKLUS RANKINE

PENGERTIAN SIKLUS RANKINE

Siklus Rankine adalah siklus termodinamika yang mengubah panas menjadi kerja. Panas disuplai secara eksternal pada aliran tertutup, yang biasanya menggunakan air sebagai fluida yang bergerak. Siklus ini menghasilkan 80% dari seluruh energi listrik yang dihasilkan di seluruh dunia. Siklus ini dinamai untuk mengenang ilmuwan Skotlandia, William John Maqcuorn Rankine.

Siklus Rankine adalah model operasi mesin uap panas yang secara umum ditemukan di pembangkit listrik. Sumber panas yang utama untuk siklus Rankine adalah batu bara, gas alam, minyak bumi, nuklir, dan panas matahari. Siklus Rankine kadang-kadang dikenal sebagai suatu Daur Carnot praktis ketika suatu turbin efisien digunakan, T diagram akan mulai untuk menyerupai Daur Carnot. Perbedaan yang utama adalah bahwa suatu pompa digunakan untuk memberi tekanan cairan sebagai penganti gas. Ini memerlukan sekitar 100 kali lebih sedikit energy dibanding yang memampatkan suatu gas di dalam suatu penekan ( seperti di Daur Carnot). suatu siklus thermodynamic mengkonversi panas ke dalam pekerjaan. Panas disediakan secara eksternal bagi suatu pengulangan tertutup, yang pada umumnya menggunakan air sebagai cairan. Siklus ini menghasilkan sekitar 80% dari semua tenaga listrik yang digunakan.

Fluida pada Siklus Rankine mengikuti aliran tertutup dan digunakan secara konstan. Berbagai jenis fluida dapat digunakan pada siklus ini, namun air dipilih karena berbagai karakteristik fisika dan kimia, seperti tidak beracun, terdapat dalam jumlah besar, dan murah.

Dalam siklus Rankine ideal, pompa dan turbin adalah isentropic, yang berarti pompa dan turbin tidak menghasilkan entropi dan memaksimalkan output kerja. Dalam siklus Rankine yang sebenarnya, kompresi oleh pompa dan ekspansi dalam turbin tidak isentropic. Dengan kata lain, proses ini tidak bolak-balik dan entropi meningkat selama proses. Hal ini meningkatkan tenaga yang dibutuhkan oleh pompa dan mengurangi energi yang dihasilkan oleh turbin. Secara khusus, efisiensi turbin akan dibatasi oleh terbentuknya titik-titik air selama ekspansi ke turbin akibat kondensasi. Titik-titik air ini menyerang turbin, menyebabkan erosi dan korosi, mengurangi usia turbin dan efisiensi turbin. Cara termudah dalam menangani hal ini adalah dengan memanaskannya pada temperatur yang sangat tinggi.

Efisiensi termodinamika bisa didapatkan dengan meningkatkan temperatur input dari siklus. Terdapat beberapa cara dalam meningkatkan efisiensi siklus Rankine.

Siklus Rankine dengan pemanasan ulang. Dalam siklus ini, dua turbin bekerja secara bergantian. Yang pertama menerima uap dari boiler pada tekanan tinggi. Setelah uap melalui turbin pertama, uap akan masuk ke boiler dan dipanaskan ulang sebelum memasuki turbin kedua, yang bertekanan lebih rendah. Manfaat yang bisa didapatkan diantaranya mencegah uap berkondensasi selama ekspansi yang bisa mengakibatkan kerusakan turbin, dan meningkatkan efisiensi turbin.
Siklus Rankine regeneratif

Konsepnya hampir sama seperti konsep pemanasan ulang. Yang membedakannya adalah uap yang telah melewati turbin kedua dan kondenser akan bercampur dengan sebagian uap yang belum melewati turbin kedua. Pencampuran terjadi dalam tekanan yang sama dan mengakibatkan pencampuran temperatur. Hal ini akan mengefisiensikan pemanasan primer.

PROSES SIKLUS RANKINE

Siklus Rankine adalah suatu mesin kalori dengan uap air menggerakkan siklus. Cairan Aktip yang umum adalah air. Siklus terdiri dari empat proses, setiap siklus mengubah keadaan fluida (tekanan dan/atau wujud).

Proses 1: Fluida dipompa dari bertekanan rendah ke tekanan tinggi dalam bentuk cair. Proses ini membutuhkan sedikit input energi.
Proses 2: Fluida cair bertekanan tinggi masuk ke boiler di mana fluida dipanaskan hingga menjad uap pada tekanan konstan menjadi uap jenuh.
Proses 3: Uap jenuh bergerak menuju turbin, menghasilkan energi listrik. Hal ini mengurangi temperatur dan tekanan uap, dan mungkin sedikit kondensasi juga terjadi.

Proses 4: Uap basah memasuki kondenser di mana uap diembunkan dalam tekanan dan temperatur tetap hingga menjadi cairan jenuh.

Pekerjaan Keluaran siklus ( Turbin uap), W1 dan masukan pekerjaan kepada siklus (Pompa), W2 adalah:
W1 = m (h1-h2)
W2 = m (h4-h3)
di mana m adalah aliran massa siklus . Panas menyediakan kepada siklus ( ketel uap), Q1 Dan Panas menolak dari siklus ( pemadat), Q2 adalah:
Q1 = m (h1-h4)
Q2 = m (h2-h3)
kerja keluaran siklus adalah:
W = W1 – W2

Turbine:
- Energi dalam pada tekanan uap tinggi bekerja
- Tekanan menurunkan Pboiler ke Pcondenser

Condensor:
-memadatkan uap air.
-Tekananya tetap.
- Ciptakan ruang hampa atau tekanan rendah pada Pcondenser
- Cairan keluar sebagai SATURATED LIQUID

Pompa ( Feedwater Pompa):
- Tekanan uap air meningkat dari Pcondenser ke Pboiler
- Konsumsi tenaga.

Ketel uap (boiler)
- energi Masuk ke tekanan tinggi memberi air untuk uap air
- tekanan konstat pada tekanan tinggi, Pboiler
Efisiensi yang yang digunakan untuk panas suatu Daur Rankine adalah:

BAB II

PENUTUP

Kesimpulan

Hukum ketiga termodinamika terkait dengan temperatur nol absolut. Hukum ini menyatakan bahwa pada saat suatu sistem mencapai temperatur nol absolut, semua proses akan berhenti dan entropi sistem akan mendekati nilai minimum. Hukum ini juga menyatakan bahwa entropi benda berstruktur kristal sempurna pada temperatur nol absolut bernilai nol.

Aplikasi: Kebanyakan logam bisa menjadi superkonduktor pada suhu sangat rendah, karena tidak banyak keacakan gerakan kinetik dalam skala molekular yang menggangu aliran elektron.

Siklus Rankine adalah siklus termodinamika yang mengubah panas menjadi kerja.
Terdapat 4 proses dalam siklus Rankine, setiap siklus mengubah keadaan fluida (tekanan dan/atau wujud).

Proses 1: Fluida dipompa dari bertekanan rendah ke tekanan tinggi dalam bentuk cair. Proses ini membutuhkan sedikit input energi.

Proses 2: Fluida cair bertekanan tinggi masuk ke boiler di mana fluida dipanaskan hingga menjad uap pada tekanan konstan menjadi uap jenuh.

Proses 3: Uap jenuh bergerak menuju turbin, menghasilkan energi listrik. Hal ini mengurangi temperatur dan tekanan uap, dan mungkin sedikit kondensasi juga terjadi.

Proses 4: Uap basah memasuki kondenser di mana uap diembunkan dalam tekanan dan temperatur tetap hingga menjadi cairan jenuh.

Saran

Penulis dapat menambahkan lagi materi (menambahkan rumusan masalah)
agar pengetahuan pembaca menjadi lebih luas
Penulis juga dapat memperbanyak lagi sumber / referensi, agar makalah yang akan dibuat lebih lengkap lagi.

Budidaya Kakao

Posted: March 26, 2011 in Uncategorized


PENDAHULUAN

Tanaman Kakao merupakan tanaman perkebunaan berprospek menjanjikan. Tetapi jika faktor tanah yang semakin keras dan miskin unsur hara terutama unsur hara mikro dan hormon alami, faktor iklim dan cuaca, faktor hama dan penyakit tanaman, serta faktor pemeliharaan lainnya tidak diperhatikan maka tingkat produksi dan kualitas akan rendah.

PT. Natural Nusantara berusaha membantu petani kakao agar mampu meningkatkan produktivitasnya agar dapat bersaing di era globalisasi dengan program peningkatan produksi secara kuantitas dan kualitas, berdasarkan konsep kelestarian lingkungan (Aspek K-3).
1. Persiapan Lahan
- Bersihkan alang-alang dan gulma lainnya
- Gunakan tanaman penutup tanah (cover crop) terutama jenis polong-polongan seperti Peuraria javanica, Centrosema pubescens, Calopogonium mucunoides & C. caeraleum untuk mencegah pertumbuhan gulma terutama jenis rumputan
- Gunakan juga tanaman pelindung seperti Lamtoro, Gleresidae dan Albazia, tanaman ini ditanam setahun sebelum penanaman kakao dan pada tahun ketiga jumlah dikurangi hingga tinggal 1 pohon pelindung untuk 3 pohon kakao (1 : 3)

2. Pembibitan
- Biji kakao untuk benih diambil dari buah bagian tengah yang masak dan sehat dari tanaman yang telah cukup umur
- Sebelum dikecambahkan benih harus dibersihkan lebih dulu daging buahnya dengan abu gosok
- Karena biji kakao tidak punya masa istirahat (dormancy), maka harus segera dikecambahkan
- Pengecambahan dengan karung goni dalam ruangan, dilakukan penyiraman 3 kali sehari
- Siapkan polibag ukuran 30 x 20 cm (tebal 0,8 cm) dan tempat pembibitan
- Campurkan tanah dengan pupuk kandang (1 : 1), masukkan dalam polibag
- Sebelum kecambah dimasukkan tambahkan 1 gram pupuk TSP / SP-36 ke dalam tiap-tiap polibag
- Benih dapat digunakan untuk bibit jika 2-3 hari berkecambah lebih 50%
- Jarak antar polibag 20 x 20 cm lebar barisan 100 cm
- Tinggi naungan buatan disesuaikan dengan kebutuhan sehingga sinar masuk tidak terlalu banyak
- Penyiraman bibit dilakukan 1-2 kali sehari
- Penyiangan gulma melihat keadaan areal pembibitan
- Pemupukan dengan N P K ( 2 : 1 : 2 ) dosis sesuai dengan umur bibit, umur 1 bulan : 1 gr/bibit, 2 bulan ; 2 gr/bibit, 3 bulan : 3 gr/bibit, 4 bulan : 4 gr/bibit. Pemupukan dengan cara ditugal
- Siramkan POC NASA dengan dosis 0,5 – 1 tutup/pohon diencerkan dengan air secukupnya atau semprotkan dengan dosis 4 tutup/tangki setiap 2-4 minggu sekali
- Penjarangan atap naungan mulai umur 3 bulan dihilangkan 50% sampai umur 4 bulan
- Amati hama & penyakit pada pembibitan, antara lain ; rayap, kepik daun, ulat jengkal, ulat punggung putih, dan ulat api. Jika terserang hama tersebut semprot dengan PESTONA dosis 6-8 tutup/tangki atau Natural BVR dosis 30 gr/tangki. Jika ada serangan penyakit jamur Phytopthora dan Cortisium sebarkan Natural GLIO yang sudah dicampur pupuk kandang selama + 1 minggu pada masing-masing pohon

3. Penanaman
a. Pengajiran
- Ajir dibuat dari bambu tinggi 80 – 100 cm
- Pasang ajir induk sebagai patokan dalam pengajiran selanjutnya
- Untuk meluruskan ajir gunakan tali sehingga diperoleh jarak tanam yang sama

b. Lubang Tanam
- Ukuran lubang tanam 60 x 60 x 60 cm pada akhir musim hujan
- Berikan pupuk kandang yang dicampur dengan tanah (1:1) ditambah pupuk TSP 1-5 gram per lubang

c. Tanam Bibit
- Pada saat bibit kakao ditanam pohon naungan harus sudah tumbuh baik dan naungan sementara sudah berumur 1 tahun
- Penanaman kakao dengan system tumpang sari tidak perlu naungan, misalnya tumpang sari dengan pohon kelapa
- Bibit dipindahkan ke lapangan sesuai dengan jenisnya, untuk kakao Mulia ditanam setelah bibit umur 6 bulan, Kakao Lindak umur 4-5 bulan
- Penanaman saat hujan sudah cukup dan persiapan naungan harus sempurna. Saat pemindahan sebaiknya bibit kakao tidak tengah membentuk daun muda (flush)

4. Pemeliharaan Tanaman
a. Penyiraman dilakukan 2 kali sehari (pagi dan sore) sebanyak 2-5 liter/pohon
b.Dibuat lubang pupuk disekitar tanaman dengan cara dikoak. Pupuk dimasukkan dalam lubang pupuk kemudian ditutup kembali. Dosis pupuk lihat dalam tabel di samping ini :

Tabel Pemupukan Tanaman Coklat

UMUR
(bulan)

Dosis pupuk Makro (per ha)

Urea
(kg)

TSP
(kg)

MOP/ KCl (kg)

Kieserite (MgSO4)
(kg)

2

15

15

8

8

6

15

15

8

8

10

25

25

12

12

14

30

30

15

15

18

30

30

45

15

22

30

30

45

15

28

160

250

250

60

32

160

200

250

60

36

140

250

250

80

42

140

200

250

80

Dst

Dilakukan analisa tanah

Dosis POC NASA mulai awal tanam :

0 – 24

2-3 tutup/ diencerkan secukupnya dan siramkan sekitar pangkal batang
setiap 4 – 5 bulan sekali

> 24

3-4 tutup/ diencerkan secukupnya dan siramkan sekitar pangkal batang
setiap 3 – 4 bulan sekali ( sesekali bisa juga disemprotkan ke tanaman )

Dosis POC NASA pada tanaman yang sudah produksi tetapi tidak dari awal memakai POC NASA :

- Tahap 1 : Aplikasikan 3 – 4 kali berturut-turut dengan interval 1-2 bln, Dosis 3-4 tutup/ pohon
- Tahap 2 : Aplikasikan setiap 3-4 bulan sekali, Dosis 3-4 tutup/ pohon

Catatan: Akan lebih baik pemberian diselingi/ditambah SUPER NASA 1-2 kali/tahun dengan dosis 1 botol untuk + 200 tanaman. 1 botol SUPER NASA diencerkan dalam 2 liter (2000 ml) air dijadikan larutan induk. Kemudian setiap 1 liter air diberi 10 ml larutan induk tadi untuk penyiraman setiap pohon.

5. Pengendalian Hama & Penyakit
a. Ulat Kilan ( Hyposidea infixaria; Famili : Geometridae ), menyerang pada umur 2-4 bulan. Serangan berat mengakibatkan daun muda tinggal urat daunnya saja. Pengendalian dengan PESTONA dosis 5 – 10 cc / liter.

b. Ulat Jaran / Kuda ( Dasychira inclusa, Familia : Limanthriidae ), ada bulu-bulu gatal pada bagian dorsalnya menyerupai bentuk bulu (rambut) pada leher kuda, terdapat pada marke 4 dan 5 berwarna putih atau hitam, sedang ulatnya coklat atau coklat kehitam-hitaman. Pengendalian dengan musuh alami predator Apanteles mendosa dan Carcelia spp, semprot PESTONA.

c. Parasa lepida dan Ploneta diducta (Ulat Srengenge), serangan dilakukan silih berganti karena kedua species ini agak berbeda siklus hidup maupun cara meletakkan kokonnya, sehingga masa berkembangnya akan saling bergantian. Serangan tertinggi pada daun muda, kuncup yang merupakan pusat kehidupan dan bunga yang masih muda. Siklus hidup Ploneta diducta 1 bulan, Parasa lepida lebih panjang dari pada Ploneta diducta. Pengendalian dengan PESTONA.

d. Kutu – kutuan ( Pseudococcus lilacinus ), kutu berwarna putih. Simbiosis dengan semut hitam. Gejala serangan : infeksi pada pangkal buah di tempat yang terlindung, selanjutnya perusakan ke bagian buah yang masih kecil, buah terhambat dan akhirnya mengering lalu mati. Pengendalian : tanaman terserang dipangkas lalu dibakar, dengan musuh alami predator; Scymus sp, Semut hitam, parasit Coccophagus pseudococci Natural BVR 30 gr/ 10 liter air atau PESTONA.

e. Helopeltis antonii, menusukkan ovipositor untuk meletakkan telurnya ke dalam buah yang masih muda, jika tidak ada buah muda hama menyerang tunas dan pucuk daun muda. Serangga dewasa berwarna hitam, sedang dadanya merah, bagian menyerupai tanduk tampak lurus. Ciri serangan, kulit buah ada bercak-bercak hitam dan kering, pertumbuhan buah terhambat, buah kaku dan sangat keras serta jelek bentuknya dan buah kecil kering lalu mati. Pengendalian dilakukan dengan PESTONA dosis 5-10 cc / lt (pada buah terserang), hari pertama semprot stadia imago, hari ke-7 dilakukan ulangan pada telurnya dan pada hari ke-17 dilakukan terhadap nimfa yang masih hidup, sehingga pengendalian benar-benar efektif, sanitasi lahan, pembuangan buah terserang.

f. Cacao Mot ( Ngengat Buah ), Acrocercops cranerella (Famili ; Lithocolletidae). Buah muda terserang hebat, warna kuning pucat, biji dalam buah tidak dapat mengembang dan lengket. Pengendalian : sanitasi lingkungan kebun, menyelubungi buah coklat dengan kantong plastik yang bagian bawahnya tetap terbuka (kondomisasi), pelepasan musuh alami semut hitam dan jamur antagonis Beauveria bassiana ( BVR) dengan cara disemprotkan, semprot dengan PESTONA.

g. Penyakit Busuk Buah (Phytopthora palmivora), gejala serangan dari ujung buah atau pangkal buah nampak kecoklatan pada buah yang telah besar dan buah kecil akan langsung mati. Pengendalian : membuang buah terserang dan dibakar, pemangkasan teratur, semprot dengan Natural GLIO.

h. Jamur Upas ( Upasia salmonicolor ), menyerang batang dan cabang. Pengendalian : kerok dan olesi batang atau cabang terserang dengan Natural GLIO+HORMONIK, pemangkasan teratur, serangan berlanjut dipotong lalu dibakar.
Catatan : Jika pengendalian hama penyakit dengan menggunakan pestisida alami belum mengatasi dapat dipergunakan pestisida kimia yang dianjurkan. Agar penyemprotan pestisida kimia lebih merata dan tidak mudah hilang oleh air hujan tambahkan Perekat Perata AERO 810, dosis + 5 ml (1/2 tutup)/tangki.

6. Pemangkasan
- Pemangkasan ditujukan pada pembentukan cabang yang seimbang dan pertumbuhan vegetatif yang baik. Pohon pelindung juga dilakukan pemangkasan agar percabangan dan daunnya tumbuh tinggi dan baik. Pemangkasan ada beberapa macam yaitu :
- Pangkas Bentuk, dilakukan umur 1 tahun setelah muncul cabang primer (jorquet) atau sampai umur 2 tahun dengan meninggalkan 3 cabang primer yang baik dan letaknya simetris.
- Pangkas Pemeliharaan, bertujuan mengurangi pertumbuhan vegetatif yang berlebihan dengan cara menghilangkan tunas air (wiwilan) pada batang pokok atau cabangnya.
- Pangkas Produksi, bertujuan agar sinar dapat masuk tetapi tidak secara langsung sehingga bunga dapat terbentuk. Pangkas ini tergantung keadaan dan musim, sehingga ada pangkas berat pada musim hujan dan pangkas ringan pada musim kemarau.
Pangkas Restorasi, memotong bagian tanaman yang rusak dan memelihara tunas air atau dapat dilakukan dengan side budding.

7. Panen
Saat petik persiapkan rorak-rorak dan koordinasi pemetikan. Pemetikan dilakukan terhadap buah yang masak tetapi jangan terlalu masak. Potong tangkai buah dengan menyisakan 1/3 bagian tangkai buah. Pemetikan sampai pangkal buah akan merusak bantalan bunga sehingga pembentukan bunga terganggu dan jika hal ini dilakukan terus menerus, maka produksi buah akan menurun. Buah yang dipetik umur 5,5 – 6 bulan dari berbunga, warna kuning atau merah. Buah yang telah dipetik dimasukkan dalam karung dan dikumpulkan dekat rorak. Pemetikan dilakukan pada pagi hari dan pemecahan siang hari. Pemecahan buah dengan memukulkan pada batu hingga pecah. Kemudian biji dikeluarkan dan dimasukkan dalam karung, sedang kulit dimasukkan dalam rorak yang tersedia.

8. Pengolahan Hasil
Fermentasi, tahap awal pengolahan biji kakao. Bertujuan mempermudah menghilangkan pulp, menghilangkan daya tumbuh biji, merubah warna biji dan mendapatkan aroma dan cita rasa yang enak.
Pengeringan, biji kakao yang telah difermentasi dikeringkan agar tidak terserang jamur dengan sinar matahari langsung (7-9 hari) atau dengan kompor pemanas suhu 60-700C (60-100 jam). Kadar air yang baik kurang dari 6 %.
Sortasi, untuk mendapatkan ukuran tertentu dari biji kakao sesuai permintaan. Syarat mutu biji kakao adalah tidak terfermentasi maksimal 3 %, kadar air maksimal 7%, serangan hama penyakit maksimal 3 % dan bebas kotoran.
sumber: http://teknis-budidaya.blogspot.com/2007/10/budidaya-kakao.html

LAPORAN PRAKTIKUM BIOLOGI

Posted: March 12, 2011 in Uncategorized

 

LAPORAN PRAKTIKUM BIOLOGI

OLEH:

SALMIN MOINTI
09 444 009

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI
JURUSAN AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS ALKHAIRAAT
P A L U
2009 M/1430 H

1

 

 

LAPORAN PRAKTIKUM BIOLOGI

Disusun sebagai Salah Satu Syarat Mengikuti Mata kulia Biologi

OLEH:
SALMIN MOINTI
09 444 009

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI
JURUSAN AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS ALKHAIRAAT
P A L U
2009 M / 1430 H

2

 

 

HALAMAN PENGESAHAN

 

Judul                           : Laporan Praktikum Biologi
Nama                          : SALMIN MOINTI
No. Stambuk            : 09 444 009
Kelompok                 : 5
Jurusan                     : Agroteknologi
Fakultas                     : Pertanian
Universitas               : Alkhairat Palu

MENYETUJUI

Koordinator Praktikum                                  Asisten Penanggung Jawab

 


KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, puji syukur kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan limpahan rahmat dan Hidayah-Nya, sehinggah penulis dapat menyelesaikan penulisan makalah ini.
Makalah ini dapat terselesaikan atas bantuan berbagai pihak. Untuk itu pada kesempatan ini saya menyampaikan terima kasih dan penghargaan kepada bapak Arpan Ganti S.P., M.Sc selaku dosen pembimbing utama, yang telah meluangkan waktu dan kesempatan dalam membimbing dan mengarahkan dalam penulisan makalah ini.
Pada kesempatan ini juga, dengan penuh kerendahan hati penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada:
1. Bapak Dekan Fakultas Pertanian Universitas Alkhairaat Palu.
2. Staf pengajar, Dosen Biologi Fakultas Pertanian Unisa Palu.
3. Staf Asisten Dosen Biologi Fakultas Pertanian Unisa Palu.
3. Seluruh rekan-rekan mahasiswa Fakultas Pertanian Unisa Palu.
Penulis sadar bahwa makalah ini masih banyak terdapat kesalahan dalam penyusunan kata maupun kalimat, oleh karena itu, penulis mohon saran dan kritikan demi kesempurnaan penulisan karya ilmia berikutnya.

Palu ,…………2009

Penulis,

 

DAFTAR ISI

HALAMAN
SAMPUL
HALAMAN JUDUL
HALAMAN PENGESAHAN
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
DAFTAR GAMBAR
DAFTAR GRAFIK
LAMPIRAN

LAPORAN I. PENGENALAN DAN PENGGUNAAN MIKRSKOP

1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.2 Tujuan dan Kegunaan

2. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengenalan dan Penggunaan Mikroskop
2.2 Sejarah Mikroskop
2.3 Jenis-jenis Mikroskop
2.4 Bagian-bagian dan fungsi komponen mikroskop
2.5 Sifat lensa pada mikroskop

III. TATALAKSANA PRAKTIKUM
3.1 Waktu dan Tempat
3.2 Bahan dan Alat
3.3 Cara Kerja

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
4.2 Pembahasan

V. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
5.2. Saran

LAPORAN 2. PENGAMATAN SEL

I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.2 Tujuan dan Kegunaan

II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Sel
2.2 Sel Hewan
2.3 Sel Tumbuhan
2.4 Organel-Organel Sel

III. TATALAKSANA PRAKTIKUM
3.1 Waktu dan Tempat
3.2 Bahan dan Alat
3.3 Cara Kerja

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
4.2 Pembahasan

V. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan..
5.2 saran

LAPORAN 3. PENGAMATAN TUMBUHAN
I.PENDAHULUA N
1.1 Latar Belakang
1.2 Tujuan dan Kegunaan

II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Tumbuhan Monokotil
2.2 Tumbuhan Dikotil
2.3 Organ-Organ Tumbuhan
2.3 Reproduksi Pada Tumbuhan

III. TATA LAKSANA PRAKTIKUM
3.1 Waktu dan Tempat
3.2 Bahan dan Alat
.3 Cara Kerja

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
4.2 Pembahasan

V. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
5.2 Saran

LAPORAN 4. PENGAMATAN HEWAN

I.PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.2 Tujuan dan Kegunaan

II.TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Klasifikasi Katak (Taksonomi Tumbuhan )
2.2 Hewan Berdarah Dingin
2.3 Hewan Berdarah Panas
2.3 Sistem Pencernaan Hewan
2.4 Sistem Reproduksi Hewan

III.TATA LAKSANA PRAKTIKUM
3.1 Waktu dan Tempat
3.2 Bahan dan Alat
3.3 Cara Kerja

IV.HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
4.2 Permbahasan

V.KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
5.2 Saran

LAPORAN 5. MEMAHAMI KONSEP HUKUM MENDEL

I.PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.2 Tujuan dan Kegunaan

II.TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Hukum Mendel
2.2 Sifat dominan dan Resesif
2.3 Sifat Intermediat

III.TATA LAKSANA PRAKTIKUM
3.1 Waktu dan Tempat
3.2 Bahan dan Alat
3.3 Cara Kerja

IV.HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
4.2 Pembahasan

V.KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
5.2 Saran

LAPORAN 6. PENGAMATAN TRANSPIRASI TUMBUHAN

I.PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
2.1 Tujuan dan Kegunaan

II.TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Transpirasi
2.2 Faktr yang Mempengaruhi Laju Transpirasi

III.TATA LAKSANA PRAKTIKUM
3.1 Waktu dan Tempat
3.2 Bahan dan Alat
3.3 Cara Kerja

IV.HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
4.2 Pembahasan

V.KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
5.2 Saran

LAPORAN 7. PENGAMATAN FOTOSINTESIS

I.PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.2 Tujuan dan Kegunaan

II.TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Fotosintesis
2.2 Percobaan Sachs
2.3 Larutan Indikator

III.METODE PRAKTEK
31 Waktu dan Tempat
3.2 Bahan dan Alat
3.3 Cara Kerja

IV.HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
4.2 Pembahasan

V.KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
5.2 Saran

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Mikroskop dan komponen-komponennya.
Gambar 2. Preparat huruf “D” sebelum pengamatan di
bawah mikroskop
Gambar 3. Preparat huruf “D” setelah pengamatan di
bawah mikroskop dengan perbesaran 10x.
Gambar 4. Preparat butir pati kentang setelah pengamatan di
bawah mikroskop dengan perbesaraan 10x.
Gambar 5. Preparat irisan melintang empulur umbi kayu
dengan pembesaran 10 X
Gambar 6. Preparat epidermis bawang merah (Allium ceppa)
dengan pembesaran 10X
Gambar 8. Preparat epitelum rongga mulut (ephitelium mukosa) dengan pembesaran 10 X
Gambar 10. Morfologi daun jagung (Zea mays) Family dari Poaceae
Gambar 14. Anatomi batang jagung (Zea mays) Family
Gambar 16. Morfologi daun mangga (Mangifera indica) Family dari Mangiferaceae
Gambar 17. Morfologi batang mangga (Mangifera indica) Family dari Mangiferaceae
Gambar 18. Morfologi akar mangga (Mangifera indica) Family dari Mangiferaceae
Gambar 21. Morfologi kecambah kacang hijau (Phaseolus radiatus) Family dari Piperaceae
Gambar 23. Morfologi bunga Mawar (Rossa hybrida sinesis) Family dari Rosaceae
Gambar 24. Morfologi bunga Kamboja (Plumeria acuminata)
Family dari Apocynaceae
Gambar 28. Morfologi Katak Hijau (Rana cancrivora)
dalam keadaan tertelungkup.
Gambar 29. Sistem Pencernaan Katak Hijau (Rana cancrivora)
setelah dilakukan pembedahan.
Gambar 30. Sistem Reproduksi Katak Hijau (Rana cancrivora) Jantan setelah dilakukan pembedahan.
Gambar 32. Daun ubi kayu (Manihot Esculenta) yang tidak dibungkus.
Gambar 33. Daun ubi kayu (Manihot Esculenta) yang di bungkus kertas timah.
Gambar 35. Daun ubi kayu (Manihot Esculenta) yang tidak dibungkus setelah direndam alkohol.
Gambar 36. Daun ubi kayu (Manihot Esculenta) yang dibungkus setelah ditetesi iodium.
Gambar 37. Daun ubi kayu (Manihot Esculenta) yang tidak dibungkus setelah ditetesi iodium

LAPORAN 1. PENGENALAN MIKROSKOP

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang
Ilmu Biologi adalah ilmu yang mempelajari tentang mahluk hidup yang dapat dilihat dengan mata telanjang ataupun tidak dapat dilihat dengan mata telanjang .
Mahluk hidup dapat dilihat dengan mata telanjang yaitu seperti ubi kayu , jagung , bunga kamboja, katak sawah, dan lain sebagainya. Sedangkan mahluk yang tidak dapat dilihat dengan mata telanjang yaitu seperti sel ,bakteri dan paramesium atau amoeba

1.2 Tujuan dan kegunaan
Tujuan dari praktikum Biologi Umum tentang pengenalan dan penggunaan mikroskop adalah untuk memperkenalkan komponen mikroskop dan cara menggunakannya serta mempelajari cara menyiapkan batran-bahan yang akan diamati dibawah mikroskop.
Kegunaan praktikum Biologi Umum tentang pengenalan dan penggunaan mikroskop adalah agar praktikan dapat mengetatrui dan membedakan bermacam-macam jenis sel dan dapat menggunakan mikroskop sesuai aturan yang benar

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pengenalan dan pengunaan mikroskop
2.2. Sejarah Mikroskop.
Menurut sejarah, orang yang pertama kali berpikir untuk membuat alat yang bernama mikroskop ini adalah Zacharias Janssen. Janssen sendiri sehari-harinya adalah seorang yang kerjanya membuat kacamata. Dibantu oleh Hans Janssen mereka membuat Mikroskop pertama kali pada tahun 1590. Mikroskop pertama yang dibuat pada saat itu mampu melihat perbesaran objek hingga dari 150 kali dari ukuran asli. (Prawirahartono, 1984).
Beberapa tahun kemudian Galileo menyelesaikan pembuatan Mikroskop pada tahun 1609 dan Mikroskop yang dibuatnya diberi nama yang sama dengan penemunya, yaitu Mikroskop Galileo. Mikroskop jenis ini menggunakan lensa optik, sehingga disebut Mikroskop optik. Mikroskop yang dirakit dari lensa optik memiliki kemampuan terbatas dalam memperbesar ukuran objek. Hal ini di sebabkan oleh limit difraksi cahaya yang ditentukan oleh panjang gelombang cahaya. Secara teoritis, panjang gelombang cahaya ini hanya sampai sekitar 200 nanometer. Namun Mikroskop ini memiliki kelemahan, yaitu tidak bisa mengamati ukuran dibawah 200 nanometer. (Prawirahartono, 1984).
Setelah itu seorang berkebangsaan belanda bernama Antony Van Leeuwenhoek (1632-1723) terus mengembangkan pembesaran Mikroskopis. Antony Van Leeuwenhoek sebenarnya bukan peneliti atau ilmuwan yang profesional. Profesi sebenarnya adalah sebagai ‘wine terster’ di kota Delf, Belanda. Ia biasa menggunakan kaca pembesar untuk mengamati serat-serat pada kain. Tetapi rasa ingin tahunya yang besar terhadap alam semesta menjadikan ia salah seorang penemu Mikrobiologi. Leewenhoek menggunakan Mikroskopnya yang sangat sederhana untuk mengamati air sungai, air hujan, ludah, feses dan lain sebagainya. Ia tertarik dengan banyaknya benda-benda kecil yang dapat bergerak yang tidak terlihat dengan mata biasa. Ia menyebut benda-benda bergerak tadi dengan ‘animalcule’ yang menurutnya merupakan hewan-hewan yang sangat kecil. Penemuan ini membuatnya lebih antusias dalam mengamati benda-benda tadi dengan lebih meningkatkan Mikroskopnya. Hal ini dilakukan dengan menumpuk lebih banyak lensa dan memasangnya di lempengan perak. Akhirnya Leewenhoek membuat 250 Mikroskop yang mampu memperbesar 200-300 kali.
Hingga saat ini, sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan telah banyak jenis Mikroskop yang berhasil ditemukan dan tentunya lebih modern. Perbesaran yang dihasilkan pun jauh lebih besar dan ada pula yang dapat dianalisis melalui komputer. Adapun jenis-jenis Mikroskop yang berkembang saat ini adalah Mikroskop Elektron. Mikroskop elektron pertama di desain oleh Knoll dan Ruska di Jerman pada tahun 1932. Pada Mikroskop ini, pancaran elektron digunakan untuk mengungkap objek yang lebih kecil dari 2000 amstrong, di mana objek sekecil ini tidak mungkin dilihat oleh Mikroskop cahaya. Elektron yang dilepas dari filamen metal yang dipanaskan di tempatkan pada ruang hampa di kumpulkan dan di fokuskan pada objek melalui lensa kondenser elektromagnetik. Setelah elektron di lewatkan pada objek, mereka di kumpulkan lagi oleh kumparan elektromagnet yang berfungsi sebagai lensa objektif. Lensa ini menghasilkan citra yang diperbesar dari objek yang diterima oleh lensa elektromagnetik ketiga yang kemudian, berlaku sebagai lensa okuler atau lensa proyeksi. Citra akhir kemudian dapat divisualisasi pada layar fluoresdent atau dapat direkam pada pelat fotografis. (Subowo, 1989).
2.3 Jenis – Jenis Mikroskop.

A. Mikroskop Cahaya
Mikroskop cahaya memiliki tiga dimensi lensa yaitu lensa objektif, lensa okuler dan lensa kondensor. Lensa objektif dan lensa okuler terletak pada ke dua ujung tabung Mikroskop. Lensa okuler pada Mikroskop bias membentuk bayangan tunggal (monokuler) atau ganda (binikuler). Pada ujung bawah Mikroskop terdapat dudukan lensa objektif yang biasa di pasangi tiga lensa atau lebih. Di bawah tabung Mikroskop terdapat meja Mikroskop yang merupakan tempat preparat. (Cromer, 1994).

B. Mikroskop Elektron
Mikroskop Elektron adalah sebuah Mikroskop yang mampu melakuakan pembesaran objek sampai dua juta kali, yang menggunakan elektro statik dan elektro
magnetik untuk mengontrol pencahayaan dan tampilan gambar serta memiliki kemampuan pembesaran objek serta resolusi yang jauh lebih bagus dari pada Mikroskop cahaya. Mikroskop elektron ini menggunakan jauh lebih banyak energi dan radiasi elektro magnetik yang lebih pendek dibandingkan Mikroskop cahaya. (Cromer, 1994).

C. Mikroskop Stereo
Benda yang diamati dengan Mikroskop ini dapat di lihat secara 3 dimensi. Komponen utama Mikroskop stereo hampir sama dengan Mikroskop cahaya. Lensa terdiri atas lensa okuler dan lensa objektif. Beberapa perbedaan dengan Mikroskop cahaya adalah: (1) ruang ketajaman lensa Mikroskop stereo jauh lebih tinggi di bandingkan dengan Mikroskop cahaya sehingga kita dapat melihat bentuk tiga dimensi benda yang diamati, (2) sumber cahaya berasal dari atas sehingga objek yang tebal dapat diamati. Perbesaran lensa okuler biasannya 3 kali, sehingga perbesaran objek total minimal 30 kali. (Cromer, 1994).
Pada bagian bawah Mikroskop terdapat meja preparat. Pada daerah dekat lensa objektif terdapat lampu yang dihubungkan dengan transformator. Pengaturan fokus objek terletak disamping tangkai Mikroskop, sedangkan pengaturan perbesaran terletak diatas pengatur fokos. Mikroskop stereo merupakan jenis Mikroskop yang hanya bisa digunakan untuk benda yang berukuran relatif besar. Mikroskop stereo memiliki perbesaran 7 hingga 30 kali. Benda yang diamati dengan Mikroskop ini dapat dilihat secara 3 dimensi. (Cromer, 1994)

C.Mikroskop Ultraviolet
Suatu variasi dari Mikroskop cahaya biasa adalah Mikroskop ultraviolet. Karena cahaya ultraviolet memiliki panjang gelombang yang lebih pendek dari pada cahaya yang dapat dilihat, penggunaan cahaya ultraviolet untuk pecahayaan dapat meningkatkan daya pisah menjadi 2 kali lipat daripada Mikroskop biasa. Karena cahaya ultraviolet tak dapat di lihat oleh mata manusia, bayangan benda harus direkam pada piringan peka cahaya photografi (Plate). Mikroskop ini menggunakan lensa kuasa, dan Mikroskop ini terlalu rumit serta mahal untuk dalam pekerjaan sehari-hari. (Cromer, 1994).

C. Mikroskop Pender (Flourenscence Microscope)
Mikroskop pender ini dapat digunakan untuk mendeteksi benda asing atau Antigen (seperti bakteri, riketsia, atau virus) dalam jaringan. Dalam teknik ini protein Antibodi yang khas mula-mula di pisahkan dari serum tempat terjadinya rangkaian atau dikonjungsi dengan pewarna pendar. Karena reaksi Antibodi-Antigen itu besifat khas, maka peristiwa pendar akan terjadi apabila antigen yang di maksud ada dan di lihat oleh antibodi yang ditandai dengan pewarna pendar.

D. Mikroskop Medan-Gelap
Mikroskop Medan Gelap digunakan untuk mengamati bakteri hidup khususnya bakteri yang begitu tipis yang hampir mendekati batas daya Mikroskop majemuk. Mikroskop medan-Gelap berbeda dengan Mikroskop cahaya majemuk biasa hanya dalam hal adanya kondensor khusus yang dapat membentuk kerucut hampa bekas cahaya yang dapat di lihat. Bekas cahaya dari kerucut hampa ini di pantulkan dengan sudut yang lebih kecil dari bagian atas gelas preparat. (Cromer, 1994).

E. Mikroskop Fase kontras
Cara ideal untuk mengamati benda hidup adalah dalam keadaan alamiahnya : tidak di beri warna dalam keadan hidup, namun pada galibnya fragma benda hidup yang mikroskopik (jaringan hewan atau bakteri) tembus cahaya sehingga pada masing-masing tincram tak akan teramati, kesulitan ini dapat di atasi dengan menggunakan Mikroskop fasekontras. Prinsip alat ini sangat rumit. (Cromer, 1994).
Apabila Mikroskop biasa digunakan untuk nukleus sel hidup yang tidak diwarnai dan tidak dapat di lihat, walaupun begitu karena nukleus dalam sel, mengubah sedikit hubungan cahaya yang melalui materi sekitar inti. Hubungan ini tidak dapat ditangkap oleh mata manusia yang di sebut fase. Namun suatu susunan filter dan diafragma pada Mikroskop fase kontras akan mengubah perbedaan fase ini menjadi perbedaan dalam terang yaitu daerah-daerah terang dan bayangan yang dapat di tangkap oleh mata, dengan demikian nukleus dan unsur lain yang sejauh ini tak dapat di lihat menjadi dapat dilihat. (Cromer, 1994).

2.4 Bagian – bagian dan fungsi komponen Mikroskop

• Lensa Okuler
Lensa Mikroskop yang terdapat di bagian ujung atas tabung berdekatan dengan mata pengamat, dan berfungsi untuk memperbesar bayangan yang di hasilkan oleh lensa objektif berkisar antara 4 hingga 25 kali. (Cromer, 1994).

• Tabung Mikroskop
Untuk mengatur keadaan fokus terhadap suatu objek, tabung ini dapat di naikkan dan di turunkan sesuai keadaan fokus yang di inginkan.

• Tombol Pengatur Fokus Kasar
Tombol ini digunakan untuk mencari fokus bayangan objek secara cepat sehingga tabung Mikroskop turun atau naik dengan cepat.

• Tombol Pengatur Fokus Halus
Tombol ini digunakan untuk memfokuskan bayangan objek secara lambat, atau untuk mendapatkan fokus yang baik sehingga tabung Mikroskop turun atau naik dengan lambat. (Cromer, 1994).

• Revolver
Revolvel digunakan untuk memilih lensa obyektif yang akan di gunakan sesuai kebutuhan objek yang akan di amati.

• Lensa Objektif
Lensa objektif di gunakan untuk menentukan bayangan objektif serta memperbesar benda yang diamati. Umumnya ada 3 lensa objektif dengan pembesaran 4x, 10x, dan 40x. (Cromer, 1994).

• Lengan Mikroskop
Lengan Mikroskop di gunakan untuk pegangan saat membawa Mikroskop atau memindahkanya dari tempat yang satu ke tempat yang lain. (Cromer, 1994).

• Meja Preparat
Meja preparat di gunakan untuk meletakkan objek atau benda yang akan kita amati saat kita melakukan praktikum.

• Penjepit Objek Glass
Penjepit objek glass di gunakan untuk menjepit preparat di atas meja preparat agar preparat tidak bergeser sehinga objek dapat teramati dengan baik.

• Kondensor
Merupakan lensa tambahan yang berfungsi untuk mengumpulkan cahaya yang masuk dalam Mikroskop. (Cromer, 1994).

• Diafragma
Berupa lubang – lubang yang ukurannya dari kecil sampai selebar lubang pada meja objek. Berfungsi untuk mengatur banyak sedikitnya cahaya yang akan masuk Mikroskop

• Reflektor/Cermin
Untuk memantulkan dan mengarahkan cahaya ke dalam Mikroskop. Ada 2 jenis cermin, yaitu datar dan cekung. Bila sumber cahaya lemah, misalkan sinar lampu, di gunakan cermin cekung tetapi bila sumber cahaya kuat, misalnya sinar matahari yang menembus ruangan, gunakan cermin datar. (Cromer, 1994).

• Kaki Mikroskop
Kaki Mikroskop digunakan Untuk menjaga Mikroskop agar dapat berdiri dengan mantap di atas meja. (Cromer, 1994).

2.4 Sifat lensa pada mikroskop.
Sifat lensa yang dimiliki mikroskop ádalah mampu memperbesar statu objek. Membentuk bayangan yang bersifat maya dan diperbesar. Mikroskop cahaya menggunakan tiga jenis lensa, yaitu lensa objektif, kondensor dan okuler. Lensa objektif dan okuler terletak pada ke dua ujung tabung Mikroskop sedangkan penggunaan lensa okuler terletak pada Mikroskop biasa berbentuk lensa tunggal atau ganda. Pada ujung bawah Mikroskop terdapat tempat dudukan lensa objektif yang biasa di pasangi tiga lensa atau lebih. Di bawah tabung Mikroskop terdapat meja Mikroskop yang merupakan tempat preparat. (Cromer, 1994)

III. METODE PRAKTEK

3.1 Waktu dan Tempat
Praktek Biologi Umum tentang Pengenalan dan Penggunaan Mikroskop dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 14 November 2009 mulai pukul 14.00 – 17.00 WITA di Laboratorium Universitas Alkhairat Palu.

3.2 Bahan dan Alat
Bahan-bahan yang digunakana dalah potongan kertas yang bertulis huruf “D” berukuran kecil dan butir-butir pati kentang. Alat-alat yang digunakan adalah mikroskop, gelas objek dan gelas penutup serta pipet dan silet.

3.3.3 Cara Kerja
Mikroskop disediakan untuk digunakan sesuai dengan langkah-langkah yang telah dijelaskan, lalu preparat basah disiapkan dengan ditetesi medium air dan usahakan tidak ada gelembung udara diatas objek. Kemudian preparat yang sudah disediakan diamati dibawah mikroskop. Terakhir besarnya objek diatur sehingga mendapatkan bayangan sejelas mungkin.Potongan huruf “D” yang telah dibuat sekecil mungkin dan ditetakkan pada gelas objek, lalu ditutup dengan gelas penutup.langkah kedua bentuk bayangan yang diambil dibandingkan dengan bentuk objek yang diamati dengan cara digambar.
Preparat di geser ke kiri dan ke kanan sambil lensa okuler di pasang, lalu lensa objektif diputar sehingga objektif kuat berada di bawah okuler. Hal ini di kerjakan dengan hati-hati agar gelas penutup tidak disentuh tangan.
Dengan penggantian objektif lemah ke objek kuat, diamati terjadi tidaknya bidang pandang lalu diamati pula perubahan kedudukan bayangan. jika terjadi penggantian objektif. Pengamatan pada kentang dilakukan dengan cara kentang dikerik hingga cairannya keluar.
Cairan tersebut diteteskan pada gelas objek namun diusahakan tidak ada gelembung udara diatas objek. Caranya yaitu gelas penutup dipegang pada posisi 450 terhadap gelas objek, sentuhlah tepi bawahnya pada perrrukaan tetesan air dan perlahan-perlahan gelas penutup terletak diatas gelas objek.
Jika masih ada gelembung udara di ulangi lagi sampai berhasil dan diafragma mikroskop diatur agar butir pati kelihatan kontras terhadap air disekelilingnya dan digambar di buku garnbar yang telah disediakan.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 HASIL
Hasil percobaan praktikum biologi sebagai berikut :

Gambar 1. Mikroskop dan komponen-komponennya.

Gambar 2, preparat huruf “D” sebelum pengamatan dibawah mikroskop

Gambar 3, preparat huruf “D” setelah pengamatan dengan menggunakan 10x pembesaran dibawah mikroskop.

Gambar 4, preparat pati kentang setelah pengamatan dibawah mikroskop dengan menggunakan pembesaran 10x.

4.2 PEMBAHASAN
Mikroskop adalah suatu alat yang sangat berguna dalam setiap pelaksanaan praktikum biologi, karena berfungsi intuk dapat melihat organism yang sangat kecil yang kasat mata. Mikroskop sendiri memiliki dua macam lensa yaitu lensa objektif yang berfungsi dalam pembuatan bayangan, yang pertama untuk struktur dan bagian renik yang akan terlihat bayangan yang dihasilkan oleh lensa objektif, serta lensa kondensor berfungsi untuk mendukung terciptanya pencahayaan tedapat objek yang akan difokus. (Sahabuddin dan Jonnahdi Eli, 2008).
Mikroskop adalah suatu alat yang penting yang memiliki bagian-bagian beserta fungsinya. Bagian-bagiannya yaitu lensa okuler untuk mengamati dan memperbesar bayangan benda, lensa objektif mengamati dan memperbesar objek secara langsung, kondensor untuk mengumpulkan cahaya yang dipantulkan oleh cermin dan fokuskan oleh objek, tabung mikroskop penghubung antara lensa okuler dan lensa objektif, revolver untuk memilih lensa objektif yang akan digunakan, gagang mikroskop untuk memegang mikroskop, pengarah kasar dan pengarah halus untuk mempermudah mengamati objek, kaki mikroskop berguna agar mikroskop dapat berdiri dengan stabil. (Djuanda, 1980).
Pada pengamatan dengan menggunakan preparat huruf “D” diperoleh huruf “D” terbalik. Hal ini berdasarkan prinsip kerja mikroskop seperti pendapat yang dikemukakan oleh VIEE dkk (1999), bahwa penggunaan cermin cekung pada lensa okuler yang memiliki sifat bayangan terbalik dan diperbesar sehingga mengakibatkan terbaliknya sebuah objek.
Pada pengamatan pati kentang diperoleh gambar bulat-bulatan seperti Kristal dalam jumlah yang cukup besar. Butir pati itu disebut Leuklopas yang merupakan plastid yang tidak dapat berwarna. Leuklopas biasanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan makanan. Leuklopas khususnya banyak terdapat di organ-organ penyimpanan seperti akar, biji-bijian, dan daun muda. (MEDER, 2004).

 

V. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 KESIMPULAN
Berdasarkan hasil dan pembahasan sebelumnya maka dapat dibuat kesimpulan yaitu, Mikroskop merupakan alat yang digunakan untuk melihat organism atau benda yang kasat mata. Mikroskop terbagi beberapa komponen yang befungsi antara lain Lensa okuler, tabung lensa, pengarah kasar, pengarah halus, gagang mikroskop, diakfrakma, cermin dan kaki mikroskop. Mikroskop sendiri ada beberapa jenis seperti mikroskop cahaya, mikroskop electron dan lain-lain.

5.2 SARAN
Jika memungkinkan sebaiknya jumlah mikroskop disesuaikan dengan jumlah praktikan, ruang laboratorium juga dilengkapi dengan kipas angin daan lampu yang cukup terang. Mengingat praktik dilakukan di ruangan tertutup dan menggunakan mikroskop cahaya.

LAPORAN 2. PENGAMATAN SEL

1.PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Sel merupakan kesatuan struktural dan fungsional organisme hidup. pertama kali ditemukan oleh Robert Hook(1635-1703) seorang ahli Fisika dan Matematika yang berasal dari inggris. Robert mengamati sel mati yang terbuat dari preparat sayatan gabus, hasil pengamatan tersebut tamapak adanya petak-petak kecil seperti sarang lebah.
Dari perkembamgan penyelidikan-penyelidikan terhadap sel maka muncullah teori-teori sebagai berikut:
1.Sel merupakan satuan sturuktural makhluk hidup
2.Sel merupakan satuan fungsional makhluk hidup
3.Sel merupakan satuan reproduksi makhluk hidup
4.Sel merupakan satuan hereditas makhluk hidup
Menurut Rudolf Virchou(1858) Sel berasal dari Sel sehinggah teori sel, merupakan kesatuan pertumbuhan

1.3 TUJUAN DAN KEGUNAAN
Dapat mengenal bentuk dan struktur sel secara umum dan mampu membandingkan jenis sel hewan dan tumbuhan, dapat menggambarkan bentuk sel tumbuhan dan hewan, dapat menjelaskan struktur sel dan mendemonstrasikan sifat semipermeabilitas dari membran sel.

II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Sel
Dalam arti biologis menurut Robert hooke (1665) istilah sel berasal dari bahasa latin yaitu cella atau celulla yang berarti ruang kecil. Sel merupakan satuan struktural dan fungsional terkecil dari makhluk hidup.

2.2 Sel Hewan
Menurut Nasir (1993) bahwa pada sel hewan dapat ditemukan hal-hal sebagai berikut :
1. Tidak memiliki diding sel yang mengandung sellulosa, akibatnya tidak
akan mempunyai vakuola, kecuali Protozoa.
2. Tidak mempunyai plastisida.
3. Tidak bervakuola, kecuali pada protozoa.
4. Turgor (tekanan antara isi sel dengan dinding), turun dan mengecil.
5. Nilai osmotik (kepekatan isi sel) naik.
6. Isi sel berkurang, tetapi tidak berbentuk vakuola. Kecuali protozoa
mempunyai sifat Osmoregulator yang berfungsi sebagai pengatur
osmosa bila berada dalam larutan hypotonis.

2.3 Sel Tumbuhan
Menurut Andrianto (1983) mengemukakan bahwa pada sel tumbuhan dapat dijumpai dinding sel, sitoplasma dan vakuola.
1. Dinding sel terdiri dari selulosa, tebal dan kuat.
2. Mempunyai plestisida
3. Bervakuola.
4. Turgor —– naik
5. Nilai osmotik —– naik
6. Isi sel berkurang, karena terbentuk vakuola. Bila proses ini berlangsung terus akan menimbulkan plasmolisa. (lepasnya protoplasma dari dinding sel).
2.4 Organel-Organel Sel
Menurur Max Schulize (1825-1874) organel-organel sel terdiri dari inti sel, mitokondria, lisosom, retikulum endoplasma, ribosom, badan golgi, sentriol dan plastida.

1. Inti sel (nukleus)
Merupakan organel terbesar dan berfungsi sebagai pengendali seluruh proses yang terjadi di dalam sel.

2. Mitokondria berfungsi sebagai tempat respirasi sel. Terdapat pada semua sel yang hidup dan jumlahnya tergantung pada aktifitas sel yang bersangkutan.
3. Lisosom berfungsi sebagai tempat pembentukan enzim-enzim pencernaan dan tempat pencernaan makanan.

4. Retikulum Endoplasma berfungsi sebagai alat pengangkut dari nukleus keluar ruang sel.

5. Ribosom merupakan organel yang melekat pada retikulum endoplasma berfungsi sebagai tempat sintesis protein.

6. Badan golgi banyak dijumpai pada sel-sel kelenjar sehingga badan golgi ini berfungsi sebagai organel yang berperan dalam proses pengeluaran.

7. Sentriol berperan penting dalam proses pembelahan sel.

8. Plastida merupakan organel yang khas terdapat pada sel tumbuh-tumbuhan merupakan butir-butir yang berisi zat warna.

III METODE PRAKTEK

3.1 Waktu dan Tempat
Praktikum Biologi Umum Tentang Pengamatan Sel dilaksanakan Pada hari Sabtu, 21 November 2009 pada pukul 13.30 WITA sampai 17.00 dan Pengamatan Semipermeabilitas pada tanggal 21 November – 28 November diLaboratorium Benih, Fakultas pertanian, Universitas Tadulako, palu

3.2 Bahan dan Alat
Bahan- bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah bawang merah (Allium ascolonium), ephitelium rongga mulut (Ephitelium mucosa), telur mentah, air rendaman jerami, empelur batang ubi kayu (Manihot esculenta ), daun yang muda (Hydrilia verticilata),sirup cocopandan, asam cuka, telur dan air.
Alat- alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah mikroskop, objek glass, cover glass, cater, tusuk gigi, pinset, pipet, toples, pita ukur/meteran jahit, alat tulis, dan buku gambar.

3.3 Cara Kerja
Pengamatan penampang melintang empelur batang ubi kayu (Manihot esculenta) , pertama-tama membuat potongan melintang empelur batang ubi kayu setipis mungkin, kemudian meletakan potongan kecil tersebut pada objek glass dan menjaganya agar tidak sampai terjadi lipatan atau kerutan. Setelah itu menambahkan satu atau dua tetes air, kemudian menutupnya dengan gelas penutup. Selanjutnya mengamati dibawah mikroskop dengan pembesaran paling lemah 10x, kemudian menggambarkan hasilnya dibuku gambar.
Pengamatan sruktur sel umbi lapis bawang merah (Allium cepa), pertama-tama memotong satu suing bawang merah yang segar, kemudian mengambil salah satu lapisan suing yang berdaging lalu mematahkan lapisan tersebut, sehingga bagian yang cekung tampak adaya epidermis tipis. Dengan menggunakan pinset, jepit epidermis tersebut dan lepaskan dari umbinya dengan perlahan-lahan. Selanjutnya meletakan potongan kecil epidermis pada glass objek dan menjaganya agar tidak sampai terjadi lipatan atau kerutan. Kemudian menambahkan satu atau dua tetes air, lalu menutupnya dengan gelas penutup. Kemudian mengamati dibawah mikroskop dengan pembesaran paling lemah (10x), lalu menggambar beberapa sel dan bagian-bagianya.
Pengamatan struktur sel daun ( Hydrilla verticilata), Mengambil selembar daun yang muda (atau daun pada pucuknya) Hydrilla verticilata yang telah disiapkan, kemudian meletakan nya diatas kaca objek dalam posisi bentangan membujur yang rata lalu menetesinya dengan air. Selanjutnya menutup daun tersebut dengan kaca penutup dengan perlahan-lahan agar tidak membentuk gelembung udara, lalu mengamati sel tumbuhan tersebut dibawah mikroskop dengan pembesaran 10x, lalu menggambar hasilnya dilembar kerja praktikum biologi.
Pengamatan struksul sel selaput rongga mulut (Epithelium rongga mulut), pertama-tama dengan menggunakan ujung tumpul skalpet atau ujung jari atau sebuah tusuk gigi, kemudian kerulah epitel pada bagian dalam dinding pipi anda. Selanjutnya menebarkan epitel yang diperoleh kedalam setetes air pada kaca objek. Lalu menutup sediaan tersebut dengan kaca penutup. Kemudian mengamati preparat tersebut dibawah mikroskop dengan pembesaran 10x lalu menggambar hasilnya dibuku gambar.
Pengamatan sel protozoa, pertama-tama menyediakan kaca objek dengan kaca penutup yang telah dibersihkan kemudian meneteskan air rendaman jerami ke atas objek kaca objek lalu menutupnya dengan kaca penutup, Selanjutnya mengamatinya dibawah mikroskop dengan pembesaran 10x lalu menggambar hasilnya didalam lembar kerja Praktikum Biologi.
Pengamatan sifat permeabilitas membran sel , pertama-tama mengukur dan mencatat diameter telur, lalu mencatat bagaimana benyuk telur. Kemudian memasukan telur kedalam stoples . Selanjutnya, menuangkan cuka kedalam stoples sampai seluruh telur terendam kemudian stoples ditutup. Setelah itu, mengamati perubahan yang terjadi pada telur setiap 24 jam selama 3 hari.. Selanjutnya mengeluarkan telur dan mengukur garis tengahnya secara berulang selama tiga hari, setelah itu membandingkan bentuk dan ukuran telur sebelum dan setelah direndam dalam larutan cuka. Setelah mencatat perubahanya, kemudian memasukan telur tersebut kedalam toples yang telah diisi dengan sirup cocopandan. Dan mengamatinya setiap 24 jam selama 3 hari. Kemudian mengamati perubahan yang terjadi baik dalam bentuk dan ukuran sebelum dan sesudah direndam sirup cocopandan.

 

IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
Berdasarkan praktikum pengamatans tentang sel, maka diperoleh hasil sebagai berikut :

Objek : Sel tumbuhan

1. Ruang antar sel
2. Nukleus
3. Sitoplasma
4. Dinding sel

Gambar 6. Sel epidermis umbi lapis bawang merah (Allium ascolonium) yang diamati dibawah mikroskop dengan pembesaran 10x.

Objek: Sel tumbuhan
1. Inti sel
2. dinding sel

Objek : Sel hewan
1. Membran sel
2. Inti sel
3. Sitoplasma

Gambar 8. Pengamatan selaput rongga mulut (Epithelium mukosa) yang diamatidibawah mikroskop dengan pembesaran 10x

Objek : Sel Hewan
1. Bulu getar
2. Makronukleus
3. Membran sel
4. Sitoplasma

Gambar 9. Pengamatan biakan protozoa dalam air rendaman jerami dengan pembesaran 10x

4.2 Pembahasan
Sel merupakan unit terkecil dari suatu makhluk hidup. Dimana sel merupakan ruang-ruang kecil berdinding membran yang berisi cairan kimia pekat dalam pelarut air. Suatu sel harus memperoleh energi dari luar untuk diguanakan dalam proses-proses vitalnya. Misalnya pertumbuhan, perbaikan dan reproduksi.
Pada hasil pengamatan sel hewan maupun sel tumbuhan ternyata diperoleh suatu keanekaragaman bentuk sel mahluk hidup, yaiut sel mahluk hidup dengan mahluk hidup lain berbeda. Tetapi ada persamaan sedikit tentang sel yaitu bagian-bagiannya. Pada hewan misalnya sel hewan satu dengan sel hewan lainnya, tidak mempunyai dinding sel, hal ini sesuai apa yang dikemukakan oleh Comte De Buffon (1707-1778), yang menyatakan bahwa adanya persamaan struktur sel hewan. Ternyata pendapat ini benar, karena pada umumnya sel hewan mempunyai apa yang dimiliki oleh sel tumbuhan seperti sentriol, dan sebaliknya sesuatu yang dimiliki oleh sel hewan dan dimiliki oleh sel tumbuhan seperti klorofil (D.S., William. 2006)
Pada empelur batang ubi kayu (Manihot esculenta) terdapat struktur sel yang terdiri dari bagian-bagian sel seperti protoplasma dan dinding sel yang cukup sulit ditentukan bagian-bagian nya. Protoplasma terdiri dari dua bagian yaitu sitoplasma dan nukleuplasma. Dimana sitoplasma merupakan bagian protoplasma yang berada diluar inti sedangkan nukleuplasma merupakan bagian protoplasma yang terdapat dibagian nucleus.
Pada umbi lapis bawang merah (Allium ascalonium) struktur sel yang didapatkan adalah inti sel yang merupakan bagian yang sangat penting karena berperan sebagai pusat pengendali kegiatan sel. Didalam sel terdapat sitoplasma yang merupakan cairan yang mengisi ruangan antara membrane sel dengan inti sel. Dimana sel tersebut bersifat koloid yang artinya tidak cair dan tidak padat tetapi transparan. Sitoplasma menjadi tempat mengapungnya organel-organel sel, selain itu, ada dinding sel yang hanya terdapat pada sel tumbuhan yang berkenan untuk melindungi dan untuk menguatkan sel. Dinding sel tumbuhan yang masih muda berukuran tipis, tersusun dari selaput pectin. Dan setelah berkembang menjadi tua bertambah tebal dan berlapis-lapis yang terbentuk oleh selulosa yang menyebabkan sel tumbuhan tetap.( Tim dosen jurusan biologi., 1996)
Pada pengamatan struktur sel daun Hydrilla verticilata Struktur sel yang didapatkan adalah Dinding sel yang hanya ditemukan pada sel tumbuhan, sehingga sel tumbuhan bersifat kokoh dan kaku atau tidak lentur seperti sel hewan
Pada pengamatan sel pada epithelium rongga mulut (Epithelium muqosa) didapatkan pada sel tersebut terdapat membrane sel yang membatasi pada bagian didalam sel dan merupakan bagian luar sel . Membran sel merupakan selaput yang selektif permeable, artinya hanya dapat dilalui oleh molekul tertentu, selain menjaga kestabilan isi sel membrane sel juga berfungsi sebagai tempat terjadinya kegiatan biokimia dan sebagai pengontrol zat-zat yang boleh masuk dan keluar dari sel.(Bevender gerrit,1988))
Pada pengamatan protozoa yang ada dalam rendaman air jerami merupakan hewan bersel satu. Dimana protozoa biasanya ditemukan dalam air, tanah atau tempat pembuangan tinja. Pada pengamatan struktur sel protozoa pada air rendaman jerami, yang didapatkan flagel sehingga protozoa termasuk dalam kelas flagenta, yang mempunyai cirri dapat dapat begerak bebas sehingga sangat sulit untuk diperhatikan dan juga terdapat bagian – bagian seperti bulu getar yang menerapkan cirri darinprotozoa, makronukleus yaitu ruang didalam sel , membrane sel sebagai selaput yang melindungi sel dari luar, serta sitoplasma, cairan yang menjaga isi sel. Adapun cara protozoa mengatasi bila kekurangan air yaitu dengan cara membungkus diri berupa kista yaitu dinding sel yang tebal. Namun ini jaran terjadi kita ketahui protozoa merupakan hewan yang habitatnya berada di air. Protozoa juga berada didalam air laut yang kita kenal sebagai plankton, yang sangat digemari oleh ikan-ikan besar untuk dikonsumsi
(Michael., 2006).
Pada semipermeabilitas membrane sel telur yang direndam dengan menggunakan cuka dimana diameter telur berukuran 17,0 cm, dengan bentuk oval, dan perubahan terjadi setelah perendaman dilakukan selama 24 jam. Setelah itu, dilakukan pengukuran kembali diameter menjadi 21,0 cm degan bentuk yang sama. Hal ini di lakukan secara berulang selama tiga hari dengan diameter telur secara berturut-turut 19,5 cm dan 18.0 cm. Kemungkinan hal ini terjadi karena adanya proses miosis, bahwa miosis terjadi dari suatu tempat yang konsentrasinya tinggi ketempat yang konsentrasinya rendah yang melalui selaput pemisah.
Selaput pemisah dapat dibedakan menjadi dua yaitu, selaput pemisah permeable dan selaput pemisah semipermeabel. Selaput pemisah permeable adalah selaput yang dapat dilalui molekul air dan molekul-molekul sel terlarut didalamnya. Sedangkan semipermeabilitas adalah selaput yang dapat dilalui oleh molekul air dan molekul-molekul zat tertentu saja.
Setelah kulit telur terkelupas oleh larutan cuka yang kemudian diganti dengan larutan sirup, dimana pada awalnya berukuran diameter 18,0 cm dengan bentuk oval kemudian menurun menjadi 17,5 cm, dengan bentuk lonjong dengan pengamatan selama 24 jam, kemudian kembali menurun menjadi 17,0 cm dengan bentuk yang sama dengan pengamatan selama 48 jam, kemudian menurun menjadi 16,5 cm dalam pengamatan selama 72 jam menghasilkan bentuk lonjong.. Hal ini dikarenakan adanya air dalam yang keluar dimana konsentrasi yang diluar atau dalam hal ini terjadi osmosis (Sunarto, 1996

V KESIMPULAN DAN SARAN

 

5.1 KESIMPULAN
Berdasarkan hasil yang diperoleh, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :

1. Sel merupakan unit terkecil yang menyusun makhluk hidup yang terdiri dari dua bagian utama yaitu: inti (nucleus) dan sitoplasma.

2. Pada empelur batang ubi kayu (Manihot esculenta) terdapat struktur sel yang terdiri dari bagian-bagian sel seperti protoplasma dan dinding sel.

3. Pada umbi lapis bawang merah (Allium ascalonium) struktur sel yang didapatkan adalah inti sel yang merupakan bagian yang sangat penting karena berperan sebagai pusat pengendali kegiatan sel. Didalam sel terdapat sitoplasma yang merupakan cairan yang mengisi ruangan antara membrane sel dengan inti sel.

4. Pengamatan struktur sel daun Hydrilla verticilata Struktur sel yang didapatkan adalah Dinding sel yang hanya ditemukan pada sel tumbuhan

5. Pengamatan sel pada epithelium rongga mulut (Epithelium muqosa) didapatkan pada sel tersebut terdapat membrane sel yang membatasi pada bagian didalam sel dan merupakan bagian luar sel

6. Pada pengamatan protozoa yang ada dalam rendaman air jerami merupakan hewan bersel satu. Dimana protozoa biasanya ditemukan dalam air, tanah atau tempat pembuangan tinja

7. Semipermeabilitas merupakan sifat selaput yang hanya dapat dilalui oleh sebagian zat cair saja, tidak semua jenis zat cair dapat menerobos selaput tersebut. Sedangkan permeabilitas merupakan sifat selaput yang dapat dilalui oleh semua zat cair dan dapat menembus selaput tersebut.

5.2 Saran
Dengan adanya praktikum ini semoga dapat bermanfaat bagi para praktikan, dan dengan adanya praktikum ini juga kita bisa mendapatkan bayak ilmu yang secara langsung yang bisa memberikan pelajaran tentang struktur morfologi dan anatomi mahluk hidup, memahami konsep-konsep hukum yang ada dalam biologi seperti konsep hukum mendel,dengan adanya praktik kita dapat mengingatnya terus-menerus, dibandingkan denga membaca buku. serta bisa menyusun laporan sampai selesai dengan sedikit mengalami kemudahan karna adanya buku panduan dan lembar kerja praktikum biologi.

LAPORAN 3. PENGAMATAN TUMBUHAN

I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Organisme yang paling banyak terdpat dibumi adalah tumbuhan. tumbuhan bisa berwarna hijau, coklat atau abu-abu, tergantung musim dan tempat.
Tumbuhan bunga, Monokotil dan dikotil mempunyai organ-organ yang penting yang berfungsi bagi kelangsungan hidup tumbuhan.Tumbuhan dapat membuat makanannya sendiri, dengan menyerap bahan-bahan Anorganik dari Atmosfer dan tanah untuk digunakan dalam Fotosintesis

1.2 Tujuan Dan Kegunaan
Dapat memahami struktur Morfologi Anatomi dan Histology syistem organ pada tumbuhan

II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tumbuhan Monokotil
Menurut Brotowijoyo (1987) mengatakan bahwa tumbuhan monokotil adalah tumbuhan biji yang berkeping satu. Jika dilihat dari sistem morfologi maupun anatominya tumbuhan monokotil memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
1. Bentuk akar monokotil berserabut dan tidak berkambium.
2. Batangnya tidak/hanya sedikit bercabang, beruas tidak berkambium.
3. Pada susunan daun tulangnya sejajar atau melengkung.
4. Jumlah bagian bunga biasanya 3 atau kelipatannya.
5. Perkecambahan biji tetap utuh, tidak membelah.
6. Ujung akar lembaganya diselubungi selaput pelindung (koleoriza)
7. Berkas pengangkutan makanan tersebar

2.2 Tumbuhan Dikotil
Menurut Brotowijoyo (1987) mengatakan bahwa tumbuhan dikotil adalah tumbuhan biji yang berkeping dua. Ciri-ciri tumbuhan dikotil adalah sebagai berikut :
1. Susunan akarnya tunggang dan terdapat berkambium.
2. Batangnya bercabang-bercabang, tak beruas, berkambium hingga dapat tumbuh besar.
3. Pada susunan daun tulangnya menyirip atau menjari.
4. Jumlah bagian bunga biasanya 4, 5 atau kelipatannya.
5. Perkecambahan biji berbelah dua, memperlihatkan dua daun lembaga.
6. Ujung akar lembaganya tidak diselubungi selaput pelindung.
7. Berksas pengangkutan makanan teratur.
2.3 Organ-Organ Tumbuhan
Menurut Tjitrosoepomo (1973) menelaskan bawa pada tumbuhan terdapat beberapa organ dan funsinya. Di antaranya adalah ebagai beriku :

a. Akar ( Radix )
Fungsi akar :
- Penyerapan unsur hara dan air ( karena unsur hara sulit larut dalam air )
- Memperkokoh tanaman.
- Proses pengangkutan unsur hara dan air.
- Kadang sebagai tempat penyimpan cadangan makanan (pada bawang, dan umbi-umbian)

b. Batang ( Caulis )
Fungsi batang :
- Sebagai organ pokok selain akar dan daun
- Sebagai sistem percabangan untuk perluasan bidang fotosintesis.
- Media transporasi air, unsur hara dan bahan organik.
- Sebagai tempat penimbunan zat makanan.

c. Daun ( Lamina )
Daun merupakan tonjolan (Capenndage) yang tumbuh pada buku batang dan memiliki meristiem ujung (Apical meristem). Jaringan daun berpengaruh terhadap pembentukan ujung daun dan meristemintercallar dan berkembang menjadi bagian meristem lainnya.
Sifat dan fungsi daun :
- Berbentuk pipih bilateral
- Berwarna hijau
- Tempat proses fotosintesis, dimana terjadinya pertukaran gas CO2 danO2.
d. Bunga ( flos )
Bagian-bagian bunga adalah:

1. Calix (kelopak), berfungsi untuk melindungi bunga ketika masih
kuncup
2. Corolla (mahkota), berfungsi sebagai hiasan bunga untuk menarik
serangga
3. Stamen (benangsari), terdiri dari filamen (tangkai sari), antera (kepala
sari), pollen (serbuk sari)
4. Pistillum (putik), terdiri dari stigma (kepala putik), stillus (tangkai
putik), ovarium (bakal buah), ovullum (bakal biji)

2.4 Reproduksi Pada Tumbuhan
Reproduksi pada tumbuhan di bagi menjadi dua yaitu reproduksi vegetatif dan reproduksi generatif.
Reproduksi Aseksual / Vegetatif dibagi menjadi 2 :
Reproduksi aseksual alami seperti : Pembentukan spora, dimulai dari pembelahan sel pada bagian tertentu dari tumbuhan. Contoh : lumut dan tumbuhan paku.
Reproduksi aseksual buatan seperti : Menyetek, mencangkok dan merunduk yang merupakan cara pembiakan yang melibatkan satu individu tumbuhan. Sedangkan menyambung dan menempel melibatkan 2 individu tumbuhan.
Reproduksi Seksual / Generatif
Proses reproduksi seksual memerlukan gamet jantan dan betina. Proses perkawinan tumbuhan berbiji diawali oleh proses penyerbukan dan dilanjutkan dengan proses pembuahan. Penyerbukan pada tumbuhan biji terbuka (gymnospermae) adalah menempelnya serbuk sari ke mikrofil (liang bakal biji). Dan terjadi pembuahan tunggal.

III METODE PRAKTEK

3.1 Waktu dan Tempat
Praktikum Biologi Umum Tentang Pengamatan Tumbuhan dilaksanakan Pada hari Sabtu, 5 Desember 2009 pada pukul 13.30 WITA sampai 17.00 dan di Laboratorium Agroteknologi, Fakultas pertanian, Universitas Tadulako, palu.

3.2 Bahan dan Alat
Bahan- bahan yang digunakan dalam praktikum pengamatan tentang tumbuhan ini adalah tanaman jagung (Zea Mays), tanaman mangga (Mangifera indica), stek ubi kayu (Manihot esculenta), bunga kamboja (Plumeria ascuminata), bunga kembang sepatu (Hibiscus rosa sinensin ), dan bunga Mawar ( Rosa hibrida hort)
Alat- alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah mikroskop, objek glass, cover glass, cater, kaca pembesar dan buku gambar.

3.3 Cara Kerja
Langkah pertama yang dilakukan pada pengamatan morfologi tanaman mangga (Mangifera Indica) adalah dengan memotong atau memisahkan bagian-bagian akar, batang, dan daunnya kemudian menentukan apakah tanaman mangga termasuk tumbuhan monokotil atau dikotil. Selanjutnya menggambarkan bagian-bagiannya di lembar kerja praktikum biologi.
Pengamatan pada tumbuhan monokotil, yang pertama dilakukan adalah mengambil tanaman jagung (Zea mays) Lalu memotong bibit tersebut menjadi tiga bagian yaitu, akar (Radix), batang (Caulis), dan daun ( Folim). Setelah itu mengamati ketiga bagian morfologi tersebut dan menggambarkan bagian-bagiannya dilembar kerja praktikum biologi.
Pada pengamatan stek ubi kayu (Manihot esculenta) yang diamati adalah batangnya. Selanjutnya mengamati bagian-bagian yang terdapat pada batangnya. Kemudian menggambarkanya dilembar kerja praktikum biologi.
Selanjutnya melakukan pengamatan anatomi tumbuhan kepada tiga tanaman di atas yaitu, tanaman mangga (Mangifera Indica), tanaman jagung (Zea mays),
kecambah kacang hijau (Phaseolus radiatus) dibawah mikroskop dengan pembesaran 10x. Seperti struktur daun mangga, jagung, struktur stek ubi kayu, dan struktur batang jagung serta batang mangga. Selanjutnya akar tumbuhan mangga, jagung dan kemudian menggambarnya dilembar kerja praktikum biologi.
Pada pengamatan produksi tumbuhan, langkah pertama yang dilakukan adalah mengambil tiga bunga yaitu bunga mawar (Rosa hibrida hort), bunga kamboja (Plumeria acuminate), dan bunga kembang sepatu (Hibiscus rosa sinensis). Kemudian membela masing- masing specimen menjadi dua bagian. Lalu mengambil tiap specimen bunga apakah bunga tersebut termasuk bunga lengkap atau tidak lengkap. Selanjutnya mengamati setiap bagiannya dan menngambarkannya dibuku gambar.
Pengamatan selanjutnya adalah dengan mengamati bunga mawar (Rosa hibrida hort), bunga kamboja (Plumeria acuminate) , dan kembang sepatu (Hibiscus rosa sinensis). Selanjutnya, menggambarkan bagian-bagiannya dibuku gambar.

IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan maka hasil yang akan diperoleh adalah sebagai berikut :

1. Ujung daun
(Meruncing).
2. Tepi daun
(bergelombang)
3. Tulang daun
(Menyilang)
4. Pangkal daun
(meruncing)
5. Bangun daun
(bergelombang)

Gambar 10. Morfologi bentuk daun (Circum scription) dikotil pada tanaman mangga (Mangifera indica L) family Anacardiaceae.
1. Ujung daun
(Meruncing).
2. Tepi daun
(bergelombang)
3. Tulang daun
(Menyilang)
4. Pangkal daun
(meruncing)
5. Bangun daun
(bergelombang)

Gambar 11. Morfologi bentuk daun ((Circum scription) monokotil pada tanaman jagung ( Zea mays) family Graminae.

1. Ranting
2. Cabang
3. Batang (Caulis)

Gambar 12. Morfologi bentuk batang ((Caulis)) dikotil pada tanaman Mangga ( Mangifera undica) family Anacardiace

1. Batang (caulis)

Gambar 13. Morfologi bentuk batang ((Caulis)) monokotil pada tanaman jagung ( Zea mays) family Graminae.

1. Cabang akar
(Radix lateral)
2. Akar primer
3. Bulu akar
(Pilusradiacalis)

Gambar 14. Morfologi bentuk akar (Radix)) monokotil pada tanaman jagung ( Zea mays) family Graminae.

1. Leher akar (Collum)
2. Batang akar
(Corups radicis)
3. Cabang akar
(Radix radicis)
4. Bulu akar (Pilus radicalis)
5. Ujung akar (Apeks radicis)
6. Tudung akar (Calyptra)
Gambar 15. Morfologi bentuk akar (Radix) dikotil pada tanaman mangga ( Mangifera indica) family Anacardicaceae.

1. Nodus
2. Empelur
3. Tunas ketiak
4.Batang (Caulis)
Gambar 17. Morfologi tumbuhan monokotil pada stek ubi kayu (Manihot esculenta) family Euphorbiaceae.

1. Mahkota (Patel)

2. Putik (Pestil)
3. Kelopak (Calix)

4. Benang sari
( stamen)

Gambar 18. Pengamatan Morfologi alat reproduksi pada bunga mawar (Rosa hibrida hort) family Rosaceae.

1. Putik (Pistillium)
2. Mahkota
( Corolla)
3. Kelopak (Celyx)
Gambar 19. Pengamatan Morfologi alat reproduksi pada bunga kamboja (Plumeria acuminate) family Apocynaceace.

1. Putik (Pestil)
2. Benang sari (Stamen)

3. Mahkota (Patel)

4. Kelopak (Calix)

5. Bakal buah (ovari)

Gambar 20. Pengamatan Morfologi alat reproduksi pada bunga kembang sepatu (Hibiscus rosa sinensis) family Malvaceae.

Gambar 21. Pengamatan Anatomi tumbuhan dikotil pada akar mangga
(Mangifera indica) family Anacadicaceae dengan pembesaran 10x.

Gambar 22. Pengamatan Anatomi tumbuhan dikotil batang (Caulis) pada mangga
(Mangifera indica) family Anacadicaceae dengan pembesaran 10x.

Gambar 23. Pengamatan Anatomi tumbuhan dikotil daun (Folium) pada mangga
(Mangifera indica) family Anacadicaceae dengan pembesaran 10x.

Gambar 24. Pengamatan anatomi tumbuhan monokotil akar (Radix) pada jagung (Zea mays) family Graminae dengan pembesaran 10x.

s

Gambar 25. Pengamatan anatomi tumbuhan monokotil Batang (Caulis) pada jagung (Zea mays) family Graminae dengan pembesaran 10x.

Gambar 26. Pengamatan anatomi tumbuhan monokotil daun (Folium) pada jagung (Zea mays) family Graminae dengan pembesaran 10x.

4.3 Pembahasan
Pada tumbuhan tingkat tinggi, tumbuhan dapat dibedakan atau dibagi menjadi dua macam, yaitu tumbuhan berbiji keping satu atau yang disebut dengan monokotil
(Monocotyledonae ) dan tumbuhan berbiji keping dua atau yang disebut juga dengan dikotil (Dicotyledonae).
Pada percobaan pertama yaitu percobaan secara morfologi, tumbuhan dikotil pada mangga (Mangifera indica) mempunyai ciri-ciri umum, yaitu berakar tunggang yang bercabang-cabang, dari cabang akar ini tumbuh cabang kecil-kecil, cabang kecil ini ditumbuhi bulu-bulu akar yang sangat halus. Akar tunggang pohon mangga sangat panjang hingga bisa mencapai 6 m., pemanjangan akar tunggang akan berhenti bila mencapai permukaan air tanah. akar cabang makin kebawah makin sedikit, paling banyak akar cabang pada kedalaman lebih kurang 30-60 cm. Akar tersusun dari jaringan-jaringan epidermis, parenkim, endodermis, kayu, pembuluh (pembuluh kayu dan pembuluh tapis) dan kambium pada tumbuhan dikotil.
Batang merupakan bagian tengah dari suatu tumbuh-tumbuhan yang tumbuh lurus keatas. Bagian ini mengandung zat-zat kayu, sehingga tanaman mangga tumbuh tegak, keras, dan kuat. Bentuk batang mangga tegak, bercabang agak kuat, daun lebat membentuk tajuk yang indah berbentuk kubah, oval atau memanjang. Kulitnya tebal dan kasar dengan banyak celah-celah kecil dan sisik-sisik bekas tangkai daun. Warna kulit yang sudah tua biasanya coklat keabuan, kelabu tua sampai hampir hitam. Susunan batang tidak banyak berbeda dengan akar. Batang tersusun dari jaringan berikut: epidermis, parenkim, endodermis, kayu, jaringan pembuluh, dan kambium pada tumbuhan dikotil.
Dan pada daunnya terdiri dari dua bagian, yaitu tangkai daun dan badan daun. Badan daun bertulang dan berurat-urat, antara tulang dan urat tertutup daging daun. Daging daun terdiri dari kumpulan sel-sel yang tak terhingga banyaknya. Daun letaknya bergantian, tidak berdaun penumpu. Panjang tangkai daun bervariasi dari 1,25-12,5 cm, bagian pangkalnya membesar dan pada sisi sebelah atas ada alurnya. Aturan letak daun pada batang biasanya 3/8, tetapi makin mendekati ujung, letaknya makin berdekatan sehingga nampaknya seperti dalam lingkaran. Tepi daun biasanya halus, tetapi kadang-kadang, sedikit bergelombang/ melipat atau menggulung. Panjang helaian daun 8-40 cm dan lebarnya 2-12,5 cm, tergantung varietas dan kesuburannya. jumlah tulang daun yang kedua (cabang) 18-30 pasang. Daun yang masih muda biasanya bewarna kemerahan yang dikemudian hari akan berubah pada bagian permukaan sebelah atas berubah menjadi hijau mengkilat, sedangkan bagian permukaan bawah bewarna hijau muda. Umur daun bisa mencapai 1 th atau lebih. Helai daun sendiri tersusun dari jaringan-jaringan dasar berikut:epidermis, jaringan tiang, jaringan bunga karang dan jaringan pembuluh. Hal ini dijelaskan dalam website (Morfologi.http://id.wikipedia.org/wiki/morfologimangga)
Pada specimen jagung ditemukan Akar berabut. Akar sokong pada pangkal batang menolong menyokong pokok. , Batang runggal, berbentuk silinder, panjang dan ditutupi dengan upih daun dan mempunyai buku yang lebih rapat dekat pada pangkal.Daun tirus dan panjang dengan urat yang selari.
jagung (jambak bunga jantan) yang terdapat di hujung batang pokok menghasilkan biji-biji debunga sebelum bunga betina matang.
Tongkol yang terdapat di ketiak daun pokok matang mengandungi biji benih jagung.
Jambak bunga betina (stil) yang panjang dan berupa sutera terdapat di tongkol muda dan menerima cepude bungajantan. Pendebungaan adalah dibantu oleh angin.Biji atau kernal mengandungi tiga bahagian iaitu perikarpa, endosperma dan embrio.
Tumbuhan yang masih kecil belum lama muncul dari biji dinamakan kecambah (Palntula) kecambah memperlihatkan bagian-bagian seperti, akar lembaga / calon akar (Radikal) daun lembaga (Catiledon) dan batang lembaga (Cauliculus). Menurut Trisoepomo (2003), secara morfologi pada kecambah bagian-bagian pada lembaga (akar, batang, daun) sudah lebih jelas terlihat , yaitu jika pada perkecambahan karena perbentangan ruas akar dibawah daun lembaga, daun lembaga lalu tersangkut keatas , hal-hal yang harus diperhatikan dalam perkecambahan adalah tanaman air, zat-zat makanan, dan sinar matahari untuk tubuh normal.
Pada ubi kayu (Manihot esculenta) dalam hal ini termasuk tumbuhan berkembangbiak dengan cara vegetatif (aseksual). Hal ini sesuai dengan Sutedjo (1989) bahwa tumbuhan ketela (Manihot utilisima) merupakan tuber yang berbentuk dari akar atau disebut ubi akar, dimana akar cabang atau akar serabut yang menjadi ubi dan dalam perkembangbiakan stek batang yaitu sepotong batang tua.
Pada pengamatan tumbuhan dapat memperbanyak diri atau berkembag biak. Yang menjadi tumbuhan baru adalah suatu bagian tubuh tumbuhan yang kemudian memisahkan diri atau oleh manusia sengaja dipisahkan dari tumbuhan yang lama. Bagian tubuh-tumbuhan dapat dibedakan menjadi dua golongan yaitu, perkembangbiakan generatif dan perkembangbiakan secara vegetatif.
Perkembangbiakan Generatif (Seksual) merupakan , terjadinya individu baru yang didahului dengan peleburan dua sel gamet. Peristiwa ini disebut dengan pembuahan. Pembuahan (fertilisasi) pada tumbuhan berbiji akan terjadi kalau didahului adanya proses penyerbukan ( persarian).Vegetatif (Aseksual) merupakan terjadinya individu baru tanpa didahului peleburan dua sel. Perkembangbiakan vegetatif terbagi menjadi vegetatif alami yaitu, terjadinya individu baru tanpa adanya campur tangan manusia. Perkembangan seperti ini terjadi dengan beberapa cara, yaitu: dengan pembelahan sel, dengan menghasilkan spora vegetatif, dengan rhizoma atau akar tunggal, dengan stolon atau geragih, dengan umbi batang, dengan umbi lapis, dan dengan tunas
Bunga lengkap merupakan bunga yang memiliki alat-alat kelengkapan bunga Bunga sempurna, Kepala putik (stigma), Tangkai putik (stilus), Tangkai sari (filament, bagian dari benang sari), Sumbu bunga (axis), artikulasi, Tangkai bunga (pedicel), Kelenjar nektar, Benang sari (stamen), 1Bakal buah (ovum), Bakal biji (ovulum), Serbuk sari (pollen), Kepala sari (anther), Perhiasan bunga (periantheum), Mahkota bunga (corolla), Kelopak bunga (calyx) misalnya pada bunga kembang sepatu. Sedangkan bunga yang tak lengkap merupakan bunga yang tidak memiliki salah satu dari kelengkapan bunga tersebut misalnya bunga yang hanya memiliki salah satu kelengkapan alat kelamin misalnya benang sari dikatakan sebagai bunga jantan hal ini senada dengan yang diungkapkan oleh Soenarjo (1994)yang mengatakan bahwa apabila suatu bunga hanya memiliki putik saja dikatakan sebagai bunga betina..
Menurut Kimbal (2000) didalam bunga terdapat bakal biji yang fungsinya sebagai tempat hasil penyerbukan putik dan benag sari. Didalam bakal biji akan terbentuk individu baru ketika putik dan benag sari telah terjadi penyerbukan dan persarian.

V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan
Berdasarkan pada hasil dan pembahasan , maka didapatkan kesimpulan sebagai berikut :
1. Morfologi adalah cabang botani yang mempelajari struktur luar dari tumbuhan . Morfologi tumbuhan hanya diketahui pada tumbuhan-tumbuhan kormus yaitu tumbuhan yang dapat dibedakan atas tiga bagian pokok yaitu, akar (Radix), batang(Caulis), dan daun (Folium)

2. Anatomi tumbuhan merupakan bagian-bagian tumbuhan yang tidak tampak dari luar seperti, berkas pengangkut, xylem, floem, stomata, kambium dan korteks.
3. Tumbuhan monokotil merupakan tumbuhan yang memiliki biji berkeping satu seperti pada jagung (Zea mays) dan kecambahkacang hijau (Phaseolus radiates). Sedangkan tumbuhan dikotil adalah tumbuhan yang memiliki biji berkeping dua seperti pada mangga (Mangifera indica)

4. Bunga lengkap apabila memilki kepala putik (stigma), Tangkai putik (stilus), Tangkai sari (filament, bagian dari benang sari), Sumbu bunga (axis), artikulasi, Tangkai bunga (pedicel), Kelenjar nektar, Benang sari (stamen), 1Bakal buah (ovum), Bakal biji (ovulum), Serbuk sari (pollen), Kepala sari (anther), Perhiasan bunga (periantheum), Mahkota bunga (corolla), Kelopak bunga (calyx). Dan bunga tak lengkap apabila tidak memiliki salah satu atau lebih dari bagian- bagian tersebut.

5. Perkembangbiakan Generatif (Seksual) yaitu, terjadinya individu baru yang didahului dengan peleburan dua sel gamet. Peristiwa ini disebut dengan pembuahan. Pembuahan (fertilisasi) pada tumbuhan berbiji akan terjadi kalau didahului adanya proses penyerbukan ( persarian).
Perkembangbiakan Vegetatif (Aseksual) yaitu, terjadinya individu baru tanpa didahului peleburan dua sel. Perkembangbiakan vegetatif terbagi menjadi vegetatif alami yaitu, terjadinya individu baru tanpa adanya campur tangan manusia.

5.2 Saran
Dengan adanya praktikum ini semoga dapat bermanfaat bagi para praktikan, dan dengan adanya praktikum ini juga kita bisa mendapatkan bayak ilmu yang secara langsung yang bisa memberikan pelajaran tentang struktur morfologi dan anatomi mahluk hidup, memahami konsep-konsep hukum yang ada dalam biologi seperti konsep hukum mendel,dengan adanya praktik kita dapat mengingatnya terus-menerus, dibandingkan denga membaca buku. serta bisa menyusun laporan sampai selesai dengan sedikit mengalami kemudahan karna adanya buku panduan dan lembar kerja praktikum biologi.

LAPORAN 4. PENGAMATAN HEWAN

I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
pada hewan terbagi menjadi dua bagian yang vertebrata dan invertebrate yaitu hewan yang tidak bertulang belakang. Vertebrata digolongkan berdasarkan cara perkembang biakan dan tempat tinggalnya ( Amin, 1997)
Amphibi adalah hewan yang dapat hidup di dua lingkungan, yaitu lingkungan air dan lingkungan darat. Amphibi merupakan kelompok vertebrata pionir yang hidup di darat dengan beberapa bentuk penyesuaian . Amphibi termasuk hewan yang berdarah dingin, yaitu suhu tubuhnya mengikuti suhu lingkungan. Dalam hal ini contoh hewan amphibi adalah katak, katak mengalami metamorphosis sempurna. pada saat berudu katak bernapas dengan insang dan berekor pendek kemudian insang luar hilang dan tumbuh insang dalam. Ketika insang dalam hilang, paru-paru tumbuh sehingga berudu bernapas dengan kulit (Amin, 1997)
Katak sawah adalah sejenis katak yang banyak hidup di sawah-sawah rawa,parit dan selokan sampai kerawa-rawa bakau (Anonym, 2000).
Katak sawah( Rana cancrivora) memiliki klasifikasi sebagai berikut :

Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Subfilum : Veterbrata
Class : Amphibi
Ordo : Anura
Familia : Ranidae
Genus : Rana
Species : Rana cancrivora ( Anonym, 2000)

1.2 Tujuan dan Kegunaan
Tujuan dari Praktikum Biologi Umum Pengamatan Hewan adalah agar dapat mengetahui struktur morfologi, anatomi dan histology system organ hewan serta mampu menggambarkan morfologi katak, menjelaskan system pencernaan dan system reproduksi pada katak.
Kegunaan dari Praktikum Biologi Umum Pengamatan Hewan adalah agar dapat memberikan gambaran dan pengetahuan tentang bagaimana cara pembedahan

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengamatan hewan
2.2 Klasifikasi katak (Taksonomi anpibi)
Sistem klasifikasi pada katak Hijau (Rana cancrivora) sebagai berikut :
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Amphibia
Ordo : Anura
Familia : Ranidae
Genus : Rana
Spesies : Rana cancrivora

2.3 Hewan berdarah dingin.
Hewan berdarah dingin (Poikiloterm) adalah hewan yang sangat bergantung pada suhu di lingkungan luarnya untuk meningkatkan suhu tubuhnya karena panas yang dihasilkan dari keseluruhan sistem metabolismenya hanya sedikit. Suhu tubuh hewan ini berubah sesuai dengan suhu lingkungannya. Hewan ini akan aktif bila suhu lingkungan panas dan akan pasif (berdiam di suatu tempat) bila suhu lingkungan rendah. (Soepomo, 1976).
Hal yang menyebabkan hewan tersebut tidak dapat menghasilkan panas yang cukup untuk tubuhnya adalah karena darah dari hewan poikiloterm ini biasanya bercampur antara darah bersih dan darah kotor. Ini disebabkan karena belum sempurnanya katup pada jantung hewan tersebut. (Soepomo, 1976).

2.4 Hewan berdarah panas.
Hewan homoiterm, adalah hewan yang suhu tubuhnya berasal dari produksi panas di dalam tubuh, yang merupakan hasil samping dari metabolisme jaringan. Suhu tubuh hewan ini relatif konstan, tidak terpengaruh oleh suhu lingkungan disekitarnya. Hal ini karena darah bersih dan darah kotor pada hewan ini sudah tidak bercampur lagi karena katup pada jantungnya sudah sempurna
Hewan homoiterm mempunyai variasi temperatur normal yang di pengaruhi oleh faktor umur, faktor kelamin, faktor lingkungan, faktor panjang waktu siang dan malam, faktor makanan yang dikonsumsi dan faktor jenuh pencernaan air. Hewan berdarah panas adalah hewan yang dapat menjaga suhu tubuhnya, pada suhu-suhu tertentu yang konstan biasanya lebih tinggi di bandingkan lingkungan sekitarnya. Sebagian panas hilang melalui proses radiasi, berkeringat yang menyejukkan badan. Melalui evaporasi berfungsi menjaga suhu tubuh agar tetap konstan. (Soepomo, 1976)

2.5 Sistem pencernaan hewan.
Menurut Tjitrosoeputro (1987), dalam melakukan pencernaan amphibi mempunyai alat-alat seperti, mulut, kerongkongan, lambung, usus halus, usus besar dan yang berakhir pada kloaka. Pencernaan pada katak yang meliputi, esofagus, kemudian lambung, pancreas, dan kemudian menuju usus halus, duodenum (usus 12 jari), dan selanjutnya usus besar, limpa kloaka dan yang terakhir pada kantong kemih (Taryono, 1995).
Pada hewan amphibi, kloaka mempunyai tiga fungsi yaitu sebagai alat pengeluaran (sekresi), sebagai alat reproduksi (seksual), dan juga sebagai pengeluaran urine. Sehingga tidak dapat dikatakan sebagai anus seperti halnya pada manusia. Olehnya itu alat pengeluarannya disebut kloaka sebab mempunyai banyak fungsi (Soepomo, 1976).

2.6 Sistem reproduksi hewan.
• Sistem Reproduksi Katak Jantan

Pada mammalia jantan, alat kelaminnya disebut penis pada reptil seperti cecak dan kadal menggunakan hemipenis (penis palsu), sedang pada bangsa unggas misalnya : bebek, untuk menyalurkan sperma menggunakan ujung kloaka (Tenzer,2003).
• Sistem Reproduksi pada Katak Betina
Pada katak betina terdapat sepasang ovarium yang berfungsi sebagai tempat pembuahan dan penghasil ovari. Dalam melakukan reproduksi katak melakukan pembuahan diluar tubuh, sehingga bila ingin bertelur, katak tersebut menuju dalam air dan bertelur (Soepomo, 1976)

III. METODE PRAKTEK

3.1 Waktu dan Tempat
Praktikum Biologi Umum Pengamatan Hewan dilaksanakan pada hari sabtu tanggal 2 Januari mulai pukul 14.00-17.00 sampai selesai di Laboratorium Fakultas pertanian Universitas Alhkairat Palu.

3.2 Bahan dan AIat
Bahan yang digunakan dalam Praktikum Biologi Umum Pengamatan Hewan adalah katak sawah (Rana cancrivora) dan alcohol 70 %.
Alat digunakan dalam Praktikum Biologi Umum Pengamatan Hewan adalah pinset, toples, papan bedah, jarum pentul, pisau bedah( silet) dan masker.

3.3 Prosedur Kerja
Prosedur kerja dalam Praktikum Biologi Umum Pengamatan Hewan adalah mengambil seekor katak sawah, kemudian memasukkannya kedalam toples yang berisi alcohol 70% lalu membiarkannya beberapa saat sampai katak tersebut pingsan. Setelah katak tersebut pingsan, kemudian meletakkannya di atas papan bedah dalam keadaan tertelungkup lalu mengarnati morfologinya dan menggambar serta member keterangan ekstremitas anterior dan ekstremitas posterior.
Selanjutnya melakukan pembedahan secara hati-hati pada bagian perut yang dimulai dari bagian yang sejajar dengan kloaka lurus sampai pada bagian kaki, selanjutnya membelah tegak lurus yang sejajar dengan kloaka sampai dengan bagian lengan (tulang yang keras) dan membelah lurus agar terlihat jelas. Kemudian menarik lambung katak sampai pada kerongkongan dan mengiris bagian tersebut, selanjutnya mengamati bagian system pencernaan dan menggambarnya pada kertas gambar dengan keteranganya. Setelah mengamati system pencernaan pada katak kemudian mengamati dan menggambar system reproduksi katak pada kertas gambar dengan keterangannya

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
Berdasarkan praktikum tentang pengamatan tentang hewan diperoleh hasil sebagai berikut :
Objek : morfologi pada hewan vetebrata

Gambar 1: pengamatan morfologi katak (Rana cancrivora) dalam keadaan lengkap.

Objek : morfologi pada hewan vetebrata

Gambar 2. Pengantan morfologi katak sawah (Rana cancrivora) dalam kedaan terlentang

Objek : system pencernaan katak sawah (Rana cancrivora)

Gambar 29 . pengamatan system pencernaan pada katak sawah (Rana cancrivora)

Objek: system reproduksi pada katak sawah (Rana cancrivora)

Gambar 30 bentuk anatomi system reproduksi katak sawah (Rana cancrivora) betina.

4.2 Pembahasan
System morfologi katak sawah (Rana cancrivora) yaitu terdapat struktur fungsi tubuh katak yaitu fruncus dua pasang ekstremitas seluruh tubuh terbungkus halus dan licin, bagian kepala terdapat rima oris yang lebar untuk pernapasan, sepasang organ visus yang bulat. Dibelakang mata terdapat membrane timpani untuk menerima getaran suara pada akhir tubuh terdapat kloaka yang berfungsi sebagai tempat pelepasan faeces, urine dan sel kelamin( Abadin,1991).
Salah satu bagian morfologi pada katak adalah pada system pencernaannya Morfologi pada katak terdiri dari kulit, mata tangan, kaki dan berbagai macam morfologi lainnya. Di sini diperjelas system respirasi atau system pernapasan. Alat respirasi pada katak seperti pada hewan amphibi lainnya (Tiitrosoeputro, 1987).
Menurut Tjitrosoeputro (1987), dalam melakukan pencernaan amphibi mempunyai alat-alat seperti mulut, kerongkongan, lambung, usus halus, usus besar dan berakhir pada kloaka. Pada kerongkongan dapat meluas dan menerima mangsa yang besar. Lambung di sebelah kiri, terletak pada ujung belakang lambung.
Pangkreas adalah kelenjar yang menunjang pencernaan terletak dimesentrium antara lambung dan duodenum, sedangkan rectum bagian ujung belakang usus yang membesar terletak median yang bermuara kedalam kloaka.
Sisem reproduksi katak sawah (Rana cancrivora) yaitu system reproduksi pada katak jantan adanya sepasang testis yang berfungsi memproduksi sperma, vasdeverens berfungsi sebagai saluran sperma keluar menujuh kekloaka merupakan muara tiga saluran yaitu saluran pencernaan, saluran kelamin dan saluran pengeluaran (Subowo,1989).
Pada katak betina terdapat sepasang ovarium yang terletak di bagian dorsam yang menggantung. Ovarium digantungkan oleh mesovarium. Oviduk merupakan saluran yang berkelok-kelok dengan ujung terbuka. Oviduk dimulai dengan bangunan yang mirip corong (Infumdibulum) dengan lubangnya yang disebut obsum abdominal. Oviduk di sebelah kaudal merupakan pelebaran yang disebut dutus mesonefru(subowo,1989).
Extremitas Anterior yang berupa lengan yang berukuran pendek terdiri dari atas Brachium dan Antebrachium, Manus (telapak tangan), sedangkan Extremitas Posterior berupa kaki belakang terdiri dari atas Femur (paha), Crus (betis) dan Pes (tapak kaki) (Tjitrosoeputro, 1987).

V. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan maka diperoleh kesimpulan
sebagai berikut :

1. Pada morfologi katak sawah (Rana cancrivora) terdapat beberapa komponen penyusun diantaranya mulut, mata, kepala, jari-jari, lengan atas, lengan bawah,
siku, paha atas, perut dan punggung.

2. Alat pencernarm pada katak terdiri dari kerongkongan (Esofagus), lambung (Yentrilailus), usus 12 jari (Duodenum), jejunum, lieum, usus halus,( Intestinum tenuel), usus besar (Intestinum crossum), rectum dan kloaka.

3. Pada katak jantan organ reproduksi terdiri dari sepasang testis yang menggantung, Berfungsi untuk mengeluarkan sperma. Sedangkan katak betina terdapat sepasang yang menggantung didalam ovarium.

5.2 Saran
Agar praktikum dapat berjalan dengan baik, Disarankan agar Labortorium
Seharusnya dapat menyiapkan alat-alat yang lengkap bagi praktikan agar praktikan lebih mahir dalam pelaksanaan praktikum.

LAPORAN 5. MEMAHAMI KONSEP HUKUM MENDEL

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Genetika adalah Dengan teknologi terbukti bahwa pendapat Mendel adalah benar, yaitu sifat menurun dibawah oleh faktor penentu, yang sekarang disebut dengan istiah gen. dan ditentukan oleh separoh dari induk jantan dan separoh dari
Induk betina (Sumarwan, 2004).
Gen dominan adalah gen yang menang dan muncul pengaruhnya dalam fenotip (sifat yang tampak) sedangkan gen resesif adalah gen yang kalah dan tidak muncul bila bertemu dengan gen dominan. Gen resesif akan muncul pengaruhnya bila dalam keadaan homozigot resesif (Suryo,2004).
Untuk membuktikan kebenaran teorinya Gregor Johari Mendel melakukan eksperiman dengan membastarkan tanaman-tanaman yang memiliki sifat beda.
Tanaman yang dipilih adalah tanaman kacang ercis karena memiliki yang mudah
dalam melakukan penyerbukan silang dan dapat melakukan penyerbukan sendiri (Sumartini,1994).

1.2 Tujuan dan Kegunaan
Tujuan dari Praktikum Biologi Umum Memahani Konsep Hukum Mendel adalah agar dapat memahami angka-angka perbandingan Hukum Mendel melalui hukum kebetulan.
Kegunaan dari Praktikiim Biologi umum Memahami Konsep Hukum mendel adalah untuk memberikan pemahaman tentang suatu peristiwa sifat yang diturunkan kepada anaknya melalui ilmu genetika.

II. TINJAUAN PUSTAKA.

2.1 Memahami konsep hukum Mendel.

2.2 Hukum Mendel.
Eksperimen Mendel dimulai saat dia berada di biara Brunn didorong oleh keingintahuannya tentang suatu ciri tumbuhan diturunkan dari induk keturunannya. Jika misteri ini dapat dipecahkan, petani dapat menanam hibrida dengan hasil yang lebih besar. Prosedur Mendel merupakan langkah yang cemerlang dibanding prosedur yang dilakukan waktu itu. Mendel sangat memperhitungkan aspek keturunan dan keturunan tersebut diteliti sebagai satu kelompok, bukan sejumlah keturunan yang istimewa. Dia juga memisahkan berbagai macam ciri dan meneliti satu jenis ciri saja pada waktu tertentu; tidak memusatkan perhatian pada tumbuhan sebagai keseluruhan. (Wildan, 1991)
Dari hasil percobaanya, Mendel menyusun hipotesis. Hipotesis tersebut untuk menjelasakan peristiwa persilangan. Hipotesis yang dikemukakan oleh Mendel adalah sebagai berikut. (Wildan, 1991)

a. Setiap sifat organisme dikendalikan oleh sepasang factor keturunan yang sekarang disebut gen. Satu dari induk jantan dan satu dari induk betina.

b. Setiap pasang factor keturunan menunjukan bentuk alternative sesamanya, misalnya tinggi atau pendek, bulat atau keriput, asam atau manis. Kedua bentuk alternative itu disebut alel.

c. Bila pasangan factor itu terdapat bersama-sama, factor dominant akan menutup factor resesif.

d. Pada saat pembentukan sel kelamin, pasangan factor ketureunan memisah. Setiap gamet akan menerima salah satu fajtor dari pasangan itu. Pada proses pembuahan factor-faktor itu akan berpasangt-pasangan secara acak.

e. Individu galur murni memiliki dua alel yang sama, alal dominant disimbolakan dengan huruf besar, sedangakan alel resesif disimbolkan dengan huruf kecil. Misalnya, TT untuk pasangan alel tinggi domonan dan tt untuk pendek resesif.
Mendel menarik beberapa kesimpulan dari hasil penelitiannya. Yang kemudian menjadi Hukum mendel I dan hukum mendel II.

• Hukum mendel I
Hukum mendel I menyatakan bahwa setiap ciri dikendalikan oleh dua macam informasi, satu dari sel jantan (tepung sari) dan satu dari sel betina (indung telur di dalam bunga). Kedua informasi ini (kelak disebut plasma pembawa sifat keturunan atau gen) menentukan ciri-ciri yang akan muncul pada keturunan. Atau yang disebut dengan Hukum segregasi atau hokum pemisahan alel-alel dari sati gen yang berpasangan. Dalam peristiwa pembentukan sel kelamin (gamet), pasangan – pasangan alel memisah secara bebas. Hukum ini berlaku untuk persilangan denagn satu sifat benda (monohybrid). (Wildan, 1991)
Untuk setiap ciri yang diteliti oleh Mendel dalam kacang polong, ada satu ciri yang dominan sedangkan lainnya terpendam. Induk “jenis murni” dengan ciri dominan memunyai sepasang gen dominan (AA) dan dapat memberi hanya satu gen dominan (A) kepada keturunannya. Induk “jenis murni” dengan ciri yang terpendam memunyai sepasang gen terpendam (aa) dan dapat memberi hanya satu gen terpendam (a) kepada keturunannya. Maka keturunan generasi pertama menerima satu gen dominan dan satu gen terpendam (Aa) dan menunjukkan ciri-ciri gen dominan. Bila keturunan ini berkembang biak sendiri menghasilkan keturunan generasi kedua, sel-sel jantan dan betina masing-masing dapat mengandung satu gen dominan (A) atau gen terpendam (a). Oleh karenanya, ada empat kombinasi yang mungkin: AA, Aa, aA dan aa. Tiga kombinasi yang pertama menghasilkan tumbuhan dengan ciri dominan, sedangkan kombinasi terakhir menghasilkan satu tumbuhan dengan ciri terpendam. (Wildan, 1991)

• Hukum mendel II
Hukum II Mendel (hukum pengelompokan gen secara bebas atau asortasi). Dalam peristiwa pembentukan gamet , alel membutuhkan kombinasi secara bebas sehingga sifat yang muncul dalam keturunanya beranmeka ragam. Hukum ini berlaku dengan persilangan dua sifat beda (dihibrid) atau lebih. (Wildan, 1991)
Penelitian Mendel dengan dua ciri sekaligus, yakni bentuk benih (bundar atau keriput) dan warna benih (kuning atau hijau). Dia menyilang tumbuhan yang selalu menunjukkan ciri-ciri dominan (bentuk bundar dan warna kuning) dengan tumbuhan berciri terpendam (bentuk keriput dan warna hijau). Sekali lagi, ciri terpendam tidak muncul dalam keturunan generasi pertama. Jadi, semua tumbuhan generasi pertama memunyai benih kuning bundar. Namun, tumbuhan generasi kedua mempunyai empat macam benih yang berbeda, yakni bundar dan kuning, bundar dan hijau, keriput dan kuning, dan keriput dan hijau. Keempat macam ini dibagi dalam perbandingan 9:3:3:1. Mendel mengecek hasil ini dengan kombinasi dua ciri lain. Perbandingan yang sama muncul lagi. (Wildan, 1991)
Perbandingan 9:3:3:1 menunjukkan bahwa kedua ciri tidak saling tergantung, sebab perbandingan 3:1 untuk satu ciri bertahan dalam setiap subkelompok ciri yang lain, dan sebaliknya. Hasil ini disebut Hukum Mendel Kedua — Hukum Ragam Bebas.
2.3 Sifat Dominan dan Resesif.

• Sifat Dominan
Dalam pewarisan keturunan gen, atau Informasi genetik selalu ada dan mewariskan ciri tertentu tertentu yang tampak di dalam beberapa generasi karena didominasi oleh gen yang lebih kuat. Gen yang lebih kuat ini disebut gen dominan.
Gen dominan adalah gen yang lebih menentukan sifat suatu organisme atau biasa disebut sifat yang lebih kuat sehingga muncul pada tampilan luarnya atau Sifat yang muncul pada keturunan dari salah satu induk dengan mengalahkan sifat pasanganya serta gen yang memperlihatkan bentuknya secara utuh tanpa dipengaruhi oleh modifikasi alelnya. (Triastono, 2002).

• Sifat resesif
Informasi genetik selalu ada meskipun ciri tertentu tidak tampak di dalam beberapa generasi karena didominasi oleh gen yang lebih kuat. Dalam generasi kemudian, bila ciri dominan tidak ada, ciri terpendam itu akan muncul lagi ( gen resesif).
Gen resesif adalah gen yang dikalahkan,kurang berpengaruh atau tertutupi dalam penentuan tampilan luar, serta sifat yang tidak muncul (teresembunyi) pada keturunanya Karena dikalahkan oleh sifat pasanganya. (Triastono, 2002).

2.4 Sifat intermedit
Pada suatu persilangan, maka keturunan (Filial) yang dihasilkan akan memiliki sifat yang muncul atau sifat yang tidak muncul (tersembunyi) dari salah satu sifat induknya. Sifat yang muncul pada keturunan dari salah satu induk dengan mengalahkan sifat pasangannya disebut sifat dominan. Sebaliknya sifat yang tidak muncul atau tersembunyi pada keturunanya karena dikalahkan oleh sifat pasangannya disebut sifat resesif. (Soekardi,1993).
Misalnya bunga mawar merah disilangkan dengan bunga mawar putih, dan menghasilkan keturunan bunga mawar merah. Induk/ Parental: Bunga mawar merah > < Bunga mawar putih Keturunan/ Filial: Bunga mawar merah Warna merah bersifat dominan, sedangkan warna putih bersifat resesif (alel warna merah dominan terhadap alel warna putih). Warna merah yang bersifat dominan dibandingkan dengan warna putih, maka menyebabkan semua bunga mawar pada keturunan pertama atau filial ke-1 (F1) akan berwarna merah. Apabila dalam suatu persilangan, sifat yang muncul merupakan campuran dari kedua induknya,maka sifat tersebut disebut sifat intermediet (dominan parsial). (Soekardi,1993). Misalnya persilangan antara ikan Koi warna merah dan ikan Koi warna putih menghasilkan Filial 1 yang semuanya ikan Koi berwarna merah muda. Warna merah muda tersebut merupakan sifat intermediet. Induk/ Parental: Ikan Koi merah > < Ikan Koi putih Keturunan/ Filial 1: Ikan Koi merah muda.

III. METODE PRAKTEK

3.1 Tempat dan waktu
Praktikum Biologi Umum Memahami Konsep Hukum Mendel dilaksanakan diLaboratorium Fakultas Pertanian Universitas Alkhairat, Palu pada hari sabtu tanggal 9 Januari 2010 Mulai pukul 14.00 – 17.00 WITA.

3.2 Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan dalam Praktikum Biologi Umun Memahami Konsep Hukum Mendel adalah kertas karton warna marah dan putih masing-masing 50 buah yang suda digunting bulat.
Alat yang digunakan adalah dalam Praktikum Biologi Umum Memahami
Konsep Hukum Mendel adalah dos kue 2 buah.

3.3 Prosedur Kerja
Prosedur kerja dalam Praktikum Biologi umum Memahami Konsep Hukum
Mendel adalah mengambil dos dan memasukan semua kertas karton yang telah digunting bulat yang diumpamakan sebagai model-model gen lalu mengocok dos yang berisi kertas karton tadi. Selanjutnya mengambil kertas karton tersebut secara acak dengan menutup mata. Pada setiap pengarnbilan kertas pada dos tersebut kita menuliskan hasilnya pada buku.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
Berdasarkan pada Praktikum Mematrami Konsep Hukrrm Mendel maka
diperoleh hasil persilangan yang digambarkan pada tabel berikut ini :
Macam pasangan Frekuensi muncul
Merah – merah 10
Merah – putih 15
Putih – putih 10
Putih-merah 15
Rasio genotip putih dominan terhadap merah = mm : MM =10: 10
Rasio perbandingan gen dominan merah : putih dalam frekuensi = MM : Mm : mm = 10 : 15 : 10

4.2 Pembahasan
Pada hasil persilangan kertas karton yang diibaratkan model-model gen di atas, nampak bahwa individu Merah-putih lebih dominan dibandingkan individu Merah dan Putih. Hal ini terlihat pada individu MM (merah) pada F1, baik MM (merah) maupun mm (putih) pada generasi mm membentuk gamet (Sel kelamin). Sebagaimana yang terdapat dalam diagram berikut ini :

Rasio fenotif putih dominan terhadap merah = 3 : 1

V. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil Mernahami Konsep Hukum Mendel diperoleh kesimpulan sebagai berikut:

1. Individu merah- putih adalah hasil persilangan antara individu merah (MM) dengan individu putih (mm).

2. Monohibrid adalah perkawinan dua individu yang mempunyai satu sifat beda

3. Keturunan dan persilangan monohidrid menghasilkan perbandingan fenotip antara merah terhadap putih sebesar 3:1.

5.2 Saran
Diharapkan agar dalam pelaksanaan praktikum baik asisten maupun praktikan harus disiplin waktu sehingga praktek dapat berjalan dengan baik

LAPORAN 6. PROSES TERJADINYA TRANSPIRASI

 

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar belakng
Pada tumbuhan monokotil maupun dikotil terjadi proses transpirasi. Transpirasi adalah proses penguapan yang terjadi pada daun atau pengeluaran air tumbuhan yang berbentuk uap air ke udara bebas (Amelia zuliyanti 2008).
Faktor yang mempengaruhi laju transpirasi yaitu suhu udara, luas daun, jumlah daun, jumlah stomata, dan kelembaban.

1. Suhu udara
Dalam proses transpirasi suhu udara merupakan faktor penentu dari laju transpirasi, karena proses penguapan air dalam daun ditentukan oleh suhu udara yang ada lingkungan

2. Luas daun
Dalam proses transpirasi salah satu faktor penentu laju transpirasi yakni luas daun yang dimiliki oleh tumbuhan itu sendiri karena semakin luas daun tumbuhan tersebut semakin cepat atau laju proses ternaspirasinya

3. Jumlah daun
Salah satu factor yang menentukan laju transpirasi adalah jumlah daun yang dimiliki oleh tumbuhan tersebut karena jika jumlah daun yang dimiliki oleh tanaman dapat menentukan laju transpirasi tanaman itu sendiri.

4. Jumlah stomata
Stomata merupakan mulut daun tempat dimana keluarnya oksigen bersamaan dengan uap air. Oleh karna itulah , semakin banyak stomata yang ada pada daun maka semakin banyak pula uap air yang keluar, bersamaan dengan hal tersebut laju transpirasipun semakin baik.

5. Kelembaban udara.
Kelembaban udara merupakan salah satu factor penentu laju transpirasi karena jika tingkat kelembaban udara tinggi maka laju transpirasi menjadi lambat lambat begitu juga sebaliknya.

1.2 Tujuan dan kegunaan
Tujuan dari praktikum biologi tentang pengamatan transpirasi pada tumbuhan adalah untuk mengetahui proses transpirasi pada tumbuahan yang diamati
Kegunaan dari praktikum biologi umum tentang proses transpirasi adalah untuk mengetahui proses transpirasi pada tumbuhan.

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengamatan traspirasi.

2.2 Pengertian traspirasi.
Transpirasi itu suatu suatu akibat yang tidak dapat dielakan. Luasnya permukaan daun mengakibatkan suatu kondisi yang menyebapkan penguapan mesti terjadi. Pada tanaman transpirasi itu pada hakekatnya suatu penguapan air yang membawa garam garam mineral dari dalam tanah. Transpirasi juga bermanfaat dalam hubungan pengunaan sinar matahari. Kenaikan temperatur yang membahayakan dapat dicegah karena sebagian dari sinar matahari yang memancar digunakan utuk penguapan. Hal ini juga mempengaruhi bertambah cepatnya laju transpirasi. (Dwijoseputro,1980)
Laju transpirasi ialah laju kehilangan air dari tumbuhan yang dihitung dalam satuan waktu. Laju hilangnya air dalam tumbuhan sangat beragam dipengaruhi siang hari, musim, struktur daun dan beberapa faktor lingkungan yang lain.laju kehilangn air pad abeberapa tumbuhan bunga pada tengah hari rata rata sekitar 1,25 gram air per 100 cm persegi luasa daun setiap jam. Batang tanaman jagung bisa mentraspirasi lebih dari setengah liter air sehari dan satu acre tanaman jagung akan mentranspirasi lebih dari 300.000 selama masa tubuhnya. (Siti,1983)
Hal tersebut menunjukan bahwa adanya perbedaan kecepatan taranspirasi pada tumbuhan. Yang mempengaruhi Laju transpirasi dapat dibagi menjadi dua faktor, yaitu faktor luar dan faktor dalam. (Siti,1983)

2.3 Faktor – faktor yang mempengaruhi laju transpirasi.
• Faktor luar (lingkungan)
Faktor lingkungan terpenting yang mempengaruhi laju transpirasi ialah suhu, kelembaban udara, cahaya, angin dan kelembaban udara. (Siti,1983)

a. kelembaban udara
Bila daun mempunyai kandungan air yang cukupdan stomata terbuka maka laju traspirasi bergantung pada selisih antara konsentrasi molekul uap air didalam rongga ronga antar sel daun dengan konsentrasi molekul uap air udara disekitar daun. semakin tinggi kelembaban udara maka transpirasi semakin lambat. Pada saat udara lembab transpirasi akan terganggu, sehingga tumbuhan akan melakukan gutasi. (Siti,1983)

b. Suhu
Suhu daun yang terlindung dari sinar matahari langsung kurang lebih sama dengan suhu udara, tetapi daun yang terkena sinar matahari mempunyai suhu 10 – 20 derajat farenheit daripada suhu udara. Kenaikan suhu cenderung untuk meningkatkan penguapan air pada tumbuhan dimana semakin tinggi suhu maka transpirasi semakin cepat. (Siti,1983)

c. Intensitas cahaya
Sehelai daun yang terkena cahaya matahari langsung akan mengabsorsi energi radiasi. Hanya sebagian kecil saja dari energi itu yang digunakan untuk fotosntesis , selebihnya diubah menjadi energi panas. Sebagian dari energi panas itu dilepas pada lingkungan dan sebagian lagi meninkatkan suhu daun nlebih tingi dari suhu udara di sekitar daunhal ini mengakibatkan laju traspirasi bertambah cepat. Cahaya juga mempengaruhi membuka dan menutupnya stomata yang berakibat turut andil mempercepat traspirasi. (Siti,1983)

d. Angin
Angin memiliki pengaruh ganda yang cenderung saling bertentangan terhadap transpirasi.angin yang bergerak melalui permukaan daun akan menyapu setiap lapisan uap air yang terkumpul dekat permukaan daun sebagai akibat transpirasi. Dengan demikian angin mempengaruhi kelembaban udara yang ada disekitar daun sehinga menurunkan uap yang kembali kedalam daun akan tetapi jika daun terkena cahya matahari langsung daun tersebut akan meningkat suhunya. Dalam keadaan tersebut, angin akan mendinginkan daun yang dipanasi dengan pengaliran molekul udara yang mengenainya. (Siti,1983)
Secara singkat dapat disimpulkan bahwa angin cenderung meningkatkan laju transpirasi baik terkena sinar matahari maupun didalam naungan melalui penyapuan uap air. Akan tetapi, dibawah sinar matahari, pengaruh angin terhadap penurunan suhu daun, mempengaruhi penurunan laju transpirasi, yang cenderung lebih penting terhadap pengaruhnya dalam pengeringan uap. (Siti,1983)

e. Kandungan air tanah
Transpirasi dapat dipengaruhi oleh Kandungan air tanah dan laju absorsi air dari akar. Pada siang hari, air ditranspirasi dengan laju lebih cepat dari pada penyerapan air tanah. Kejadian tersebut menimbulkan defisit air dalam daun. Pengaruh defisit air dalam daun akan menurunkan laju transpirasi. (Siti,1983)

• Faktor dalam.
Faktor dalam terpenting yang mempengaruhi laju transpirasi ialah luas daun, tebal tipisnya daun, adanya lapisan lilin,dan jumlah stomta (Anonim, 2007)

a. Luas daun
Luas permukaan daun mempengaruhi transpirasi karena sebagian besar penguapan air terjadi di daun semakin lebat atau semakin banyak daun yang dimiliki tumbuhan akan memperluas permuaan daun yang dimiliki tanaman, hal ini mengakibatkan penguapan lebih cepat terjadi. (Anonimous, 2007)

b. Tebal tipisnya daun
Transpirasi dapat dipengaruhi oleh ketebalan daun, semakin tebal daun semakin sulit penguapan terjadi didaun. Ini karena daun yang tebal akan menyulitkan kenaikan suhu daun yang mengakibatkan berkurangnya kecepatan transpirasi. (Anonimous, 2007)

c. Adanya lapisan lilin
Pada tumbuhan yang tinggal di daerah panas umunya memiliki lapisan lilin yang melindungi tumbuhan. Lapisan ini seperti yang dimiliki kaktus berfungsi mencegah kehilangan air dari proses penguapan. (Anonimous, 2007)

d. Jumlah stomata
Stomata mempengaruhi kehilangan air karna transpirasi. Semakin banyak stomata pada daun laju transpirasi cenderung tinggi. Tetapi pada batasan tertentu atau saat daun kehilangan air yang cukup besar stomata akan menutup dan mengurangi laju transpirasi. (Anonimous, 2007)

III. METODE PRAKTEK

3.1 Tempat dan waktu
Praktikum Biologi Umum tentang Pengamatan transpirasi dilaksanakan di Laboratorium Fakultas Pertanian Universitas Alkhairat, Palu pada hari selasa tanggal 16 Januari pukul 14.00 -17.00 WITA.

3.2 Bahan dan alat
Bahan yang digunakan dalam praktikum biologi umum tentang pengamatan transpirasi pada tumbuhan adalah 3 tumbuhan yang berbeda morfologinya, air, dan, minyak kelapa.
Alat yang digunakan dalam praktikum biologi umum tentang pengamatan transpirasi pada tumbuhan adalah alat tulis, kertas grafik, gelas ukur, rak dan tabung reaksi.

3.3 Prosedur kerja
Potonglah batang atau ranting tumbuhan dibawah permukaan air . Usahakan potongan selalu berada didalam air demikian juga sewaktu memasukan potongan atau ranting tumbuhan kedalam gelas ukur usahakan selalu terendam. Gunakan 3 macam tumbuhan untuk dimasukan kedalam 3 gelas ukur 10 ml dengan 5 ml air. Satu gelas tanpa tumbuhan hanya berisi air saja (kontrol). Setelah itu susunlah dalam rak tabung reaksi . Ingat ketinggian air harus sama dengan kontrol, kemudian tetesi dengan minyak kelapa sampai seluruh permukaan tertutup dengan minyak kelapa maksudnya agar air tidak menguap dari dalam tabung reaksi.
Setelah itu, satu rangkaian gelas ukur diletakan di lapangan terbuka. Catat air yang hilang / menguap setiap 10 menit selama 1 jam. Jumlah air yang hilang pada setiap 10 menit dapat dihitung dengan menambahkan sejumlah air hingga mencapai tinggi permukaan semula.

 

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
Berdasarkan pada praktikum tentang Pengamatan transpirasi pada maka diperoleh data sebagai berikut :
waktu (menit) jumlah air yang menguap (ml)
tumbuhan a tumbuhan b tumbuhan c
10 1,5 0 0,5
20 0,5 1,5 0,5
30 1,5 0 1,5
40 1 0,5 0,5
50 1,5 1,5 1,5
60 0,5 0,5 0,5

Grafik tingkat penguapan pada daun

Gambar grafik 1 grafik tingkat transpirasi pada tumbuhan A, B, dan ,C

4.2 Pembahasan
Dari hasil yang telah dilakukan , pada pangamatan dipeoleh hasil bahwa setiap sepuluh menit air yang ada ditabung reaksi tumbuhan A, B, ataupun C berkurang dengan ukuran atau volume air yang berbeda – beda . hal ini dikarenakan oleh proses terjadinya laju transpirasi pada tumbuhan . factor yang menentukan laju transpirasi yaitu sebagai berikut:

1. Suhu udara
Suhu udara dilingkungan tempat tumbuhan tersebut tumbuh sangat berpengaruh karena jika suhu udara yang ada lingkungan tumbuhan tersebut tumbuh rendah maka proses penguapan pada daun lambat , begitu juga sebaliknya jika suhu udara dilingkungan tempat tumbuhan tersebut tumbuh tinggi maka proses penguapan pada daun pun cepat.

2. Kelembaban udara
Kelembaban udara adalah kadar air dalam udara . hal tersebut dapat menentukan laju transpirasi karena jika kadar air dalam udara tinggi maka hal tersebut dapat mengurangi laju transpirasi , begitu juga jika kelembaban udara lingkungan sekitar tanaman tersebut rendah maka laju transpirasi yang terjadi pada tumbuhan tersebut tinggi.

3. Intensitas cahaya
Dalam proses transpirasi cahaya meruapakan salah satu factor penentu karena tumbuhan sangat peka terhadap cahaya.

V. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan tentang transpirasi tumbuhan diperoleh kesimpulan
sebagai berikut :

1. Transpirasi adalah proses penguapan yang terjadi pada daun atau pengeluaran air tumbuhan yang berbentuk uap air ke udara bebas (Amelia zuliyanti 2008).

2. Tumbuhan A, B, maupun C yang ada dalam tabung reaksi yang berisi air terjadi pengurangan dengan sendirinya setiap sepuluh menit, hal tersebut dikareanakan terjadinya proses transpirasi atau penguapan pada daun.

3. Factor yang mempengaruhi laju transpirasi yaitu suhu udara, luas daun, jumlah daun, jumlah stomata, dan kelembaban

5.2 Saran
Disarankan kepada praktikan maupun asisten harus dislplin dan mematuhi
Peraturan yang telah ditetapkan khususnya ketepatan waktu.

LAPORAN 7. FOTOSINTESIS

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Suatu ciri makhluk hidup yang hanya dimiliki khusus oleh tumbuhan hijau adalah kemampuan dalam menggunakan zat karbon dari udara untuk dibuat menjadi bahan organic serta diasimilasi dalam tubuh tumbuhan Oleh karena proses pengubahan itu memerlukan energi cahaya, maka asimilasi zat karbon disebut fotosintesis hidup yang hanya dimiliki oleh tumbuhan (Sudjino, 1989).
Fotosintesis adalah suatu proses biokimia yang dilakukan tumbuhan, alga dan beberapa jenis bakteri untuk memproduksi energi terpakai (Nutreisi) dengan
memanfaat energi cahaya (Iskandar, 1998).
Cahaya bermanfaat bagi tumbuhan terutama sebagai energi yang nantinya digunakan untuk proses fotosintesis. Cahaya juga berperan dalarn proses pembentukan klorofil. Akan tetapi cahaya dapat bersifat sebagai penghambat (inhibitor) pada proses pertumbuhan hal ini terjadi karena cahaya dapat memacu difusi auksin ke bagian yang tidak terkena cahaya Sehingga proses perkecambahan yang diletakan di tempat yang gelap akan menyebabkan terjadinya etiolasi (Tjitrosom 1989).

1.2 Tujuan dan Kegunaan
Tujuan dari Praktikum Biologi Umum tentang Pengarnatan Fotosintesis adalah untuk membuktikan terbentuknya arnilum pada proses fotosintesis oleh tumbuhan hijau.
Kegunaan dari Praktikum Biologi Umum tentang Pengamatan Fotosintesis
adalah untuk mengetahui bahwa proses fotosintesis dapat berlangsung dengan tidak ada bantuan sinar matahari.

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengamatan fotosintesisi.

2.2 Pengertian Fotosintesis
Salah satu sifat fisiologis yang hanya dimiliki khusus oleh tumbuhan, ialah kemampuan menggunakan zat karbon dari udara untuk diubah menjadi bahan organic serta diasimilasikan didalam tubuh tanaman. Peristiwa ini hanya berlangsung jika ada cahaya, dan proses asimilasi zat karbón dimana zat – zat anorganik H2O da CO2 oleh klorofil diubah menjadi zat organik dengan pertolongan sinar matahari. (Dwijoseputro,1980)
Jadi fotosintesis adalah proses pembentukan bahan makanan (glukosa) dengan bantuan sinar matahari yang berbahan baku karbon dioksida dan air. Fotosintesis hanya dapat dilakukan oleh tumbuhan dan ganggang hijau yang bersifat autotrof. Artinya, keduanya mampu menangkap energi matahari untuk menyintesis molekul-molekul organik kaya energi dari prekursor anorganik H2O dan CO2. (Siti,1983)
Proses fotosintesis terjadi di dalam kloroplas. Kloroplas merupakan organel plastida yang mengandung pigmen hijau daun (klorofil). Sel yang mengandung kloroplas terdapat pada mesofil daun tanaman, yaitu sel-sel jaringan tiang (palisade) dan sel-sel jaringan bunga karang (spons). Klorofil dapat di bedakan menjadi. (Dwijoseputro,1980)
Klorofil a merupakan pigmen hijau rumput (grass green pigment) yang mampu menyerap cahaya merah dan biru-keunguan. Klorofil a ini sangat berperan dalam reaksi gelap fotosintesis yang akan dijelaskan pada bagian berikutnya
Klorofil b merupakan pigmen hijau kebiruan yang mampu menyerap cahaya biru dan merah kejinggaan. Klorofil b banyak terdapat pada tumbuhan, ganggang hijau, dan beberapa bakteri autotrof.
Pada dasarnya, rangkaian reaksi fotosintesis dapat dibagi menjadi dua bagian utama: reaksi terang (karena memerlukan cahaya) dan reaksi gelap (tidak memerlukan cahaya tetapi memerlukan karbon dioksida).

• Reaksi terang
Reaksi terang adalah proses untuk menghasilkan ATP dan reduksi NADPH2. Reaksi ini memerlukan molekul air. Proses diawali dengan penangkapan foto oleh pigmen sebagai antena.Pigmen klorofil menyerap lebih banyak cahaya terlihat pada warna biru (400-450 nanometer) dan merah (650-700 nanometer) dibandingkan hijau (500-600 nanometer). Cahaya hijau ini akan di pantulkan dan ditangkap oleh mata kita sehingga menimbulkan sensasi bahwa daun berwarna hijau. Fotosintesis akan menghasilkan lebih banyak energi pada gelombang cahaya dengan panjang tertentu. Hal ini karena panjang gelombang yang pendek menyimpan lebih banyak energi. (Triasmono,1996)
Di dalam daun, cahaya akan diserap oleh molekul klorofil untuk dikumpulkan pada pusat-pusat reaksi. Tumbuhan memiliki dua jenis pigmen yang berfungsi aktif sebagai pusat reaksi atau fotosistem yaitu fotosistem II dan fotosistem I. Fotosistem II terdiri dari molekul klorofil yang menyerap cahaya dengan panjang gelombang 680 nanometer, sedangkan fotosistem I 700 nanometer. Kedua fotosistem ini akan bekerja secara simultan dalam fotosintesis, seperti dua baterai dalam senter yang bekerja saling memperkuat. (Triasmono,1996)
Fotosintesis dimulai ketika cahaya mengionisasi molekul klorofil pada fotosistem II, membuatnya melepaskan elektron yang akan ditransfer sepanjang rantai transpor elektron. Energi dari elektron ini digunakan untuk fotofosforilasi yang menghasilkan ATP, satuan pertukaran energi dalam sel. Reaksi ini menyebabkan fotosistem II mengalami defisit atau kekurangan elektron yang harus segera diganti. Pada tumbuhan dan alga, kekurangan elektron ini dipenuhi oleh elektron dari hasil ionisasi air yang terjadi bersamaan dengan ionisasi klorofil. Hasil ionisasi air ini adalah elektron dan oksigen. (Dwijoseputro,1980)
Pada saat yang sama dengan ionisasi fotosistem II, cahaya juga mengionisasi fotosistem I, melepaskan elektron yang ditransfer sepanjang rantai transpor elektron yang akhirnya mereduksi NADP menjadi NADPH Reaksi gelap.(Dwijoseputro,1980).
ATP dan NADPH yang dihasilkan dalam proses fotosintesis memicu berbagai proses biokimia. Pada tumbuhan proses biokimia yang terpicu adalah siklus Calvin yang mengikat karbon dioksida untuk membentuk ribulosa (dan kemudian menjadi gula seperti glukosa). Reaksi ini disebut reaksi gelap karena tidak bergantung pada ada tidaknya cahaya sehingga dapat terjadi meskipun dalam keadaan gelap (tanpa cahaya). (Dwijoseputro,1980)

2.3 Percobaan Sachs.
Gustav Julius von Sachs adalah seorang ahli botani Jerman bernama Julius von Sachs Pada tahun 1860, berhasil membuktikan bahwa proses fotosintesis menghasilkan amilum (zat tepung). Adanya zat tepung ini dapat dibuktikan dengan uji yodium, amilum dan yodium memberikan warna hitam. Amilum hanya terdapat pada bagian – bagian daun yang hijau dan terkena sinar matahari sebaliknya bagian – bagian daun yang tertutup sepanjang hari tidak mengandung amilum. sehingga percobaan Sachs ini juga disebut uji yodium. (Dwijoseputro,1980)

III. METODE PRAKTEK

3.1 Tempat dan waktu
Praktikum Biologi Umum tentang Pengamatan Fotosintesis dilaksanakan di
Laboratorium Fakultas Pertanian Universitas Tadulako, Palu pda hari sabtu, tanggal 30 Januari 2010, mulai pukul 14.00 -17.00 WITA.

3.2 Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan dalam Praktikum Biologi Umum tentang Pengamatan Fotosintesis adalah daun ubi (Manihot esculenta), iodium dan alkohol, 96%.
Alat yang digunakan adalah dalam Praktikum Biologi Umum tentang Pengamatan Fotosintesis adalah kompor, pinset, cawan petri, dan kertas timah.

3.3Prosedur Kerja
Prosedur kerja dalam Praktikum Biologi Umum tentang Pengamatan Fotosintesis adalah mengarnbil dan daun ubi yang telah dibungkus dengan aluminium foil sehari sebelumnya, kemudian membuka aluminium foil tersebut dan merendamnya pada air Panas sampai layu. Setelah itu diangkat dengan pinset dan direndam dengan alcohol panas. Selanjutnya meletakan daun ubi tersebut dicawan petri kemudian meneteskannya dengan larutan iodium sebanyak tiga tetes lalu amati apa yang terjadi dan tulis hasilnya.

 

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
Berdasarkan pada praktikum biologi umum tentang Pengamatan Fotosintesis maka diperoleh hasil sebagai berikut :
Objek : Fotosintesis pada percobaan Sachs

Gambar 1. Pengamatan daun ubi (Manihot esculena) yang ditutupi aluminium foil

Objek : Fotosintesis pada percobaan Sachs

Gambar 2. Pengamatan daun ubi (manihot esculenta) yang ditutupi alumunium foil

Setelah dimasukan ke dalam alcohol

Objek : Fotosintesis pada percobaan Sachs

Gambar 3. Pengmatan daun ubi (Manihot esculenta) yang ditutupi aluminium foil

Setelah dimasukan ke dalam alcohol
Objek : Fotosintesis pada percobaan Sachs

Gambar 35. Pengamatan daun ubi (Manihot esculenta) yang ditutupi alumunium foil

Setelah ditetesi larutan iodium.
Objek : Fotosintesis pada percobaan Sachs

Gambar3 6. Pengamatan daun ubi (Manihot esculenta) yang tidak ditutupi
alumunium foil setelah ditetesi larutan iodium.
4.2 Pembahasan
Dari hasil yang telah dilakukan, Pada pengamatan diperoleh hasil bahwa daun singkong (Manilnt esculenta) yang tidak tertutupi aluminium foil terjadi perubahan warna menjadi hijau muda dan daun singkong (Manihot esculenta) yang tertutupi aluminium foil yang dimasukan kedalam alkohol berubah warna dari hijau tua menjadi hijau muda pucat. Hal ini disebabkan karena alkohol fungsi untuk menghilangkan zat klorofil yang ada pada daun. Sedangkan setelah ditetesi larutan iodium daun singkong (Manihot esculenta) yang tertutupi aluminium foil mengalami perubahanwarna menjadi hijau muda dan terdapat warna coklat muda pada bagian tengahnya serta daunnya terlihat seperti kering. Dan pada daun singkong (Manihot esculenta) yang tidak tertutupi aluminium foil setelah tertetesi iodium akan berubah warna menjadi hijau muda dan terdapat warna coklat tua pada bagian tengah sehingga daun nampak seperti terbakar dan menjadi kering (Sambodo, 1996).
Perubahan warna yang dialami oleh daun ubi yang dibungkus kertas tima menandakan memang terjadi adanya fotosintesis. Klorofil adalah pigmen karena menyerap cahaya yakni reaksi elektromagnetik pada spectrum kasat mata. Fotosintesis hanya dapat berlangsung jika ada pigmen hijau yaitu klorofil. Klorofil berperan sebagai pembawah warna yang terdapat pada suatu daun. Klorofil mengandung organel yang disebut kloroplas (Kimbal, 1998)

V. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penagamatan tentang fotosintesis diperoleh kesimpulan sebagai berikut :

1. Fotosintesis adalah suatu proses biokimia yang dilakukan tumbuhan, alga dan
beberapa jenis bakteri untuk memproduksi energi terpakai (Nutreisi) dengan
memanfaatkan energy cahaya.

2. Daun singkong yang tidak ditutupi oleh aluminium foil mengalami perubahan
warna setelah ditetesi dengan iodium yaitu menjadi kecoklatan dan kering
sedangkan daun yang tidak tertutup berwarna hitam.

3. Alcohol memiliki fungsi yaitu untuk zat klorofil yang ada pada daun singkong tersebut sehingga berubah menjadi warna putih pucat.

5.2 Saran
Disarankan kepada praktikan maupun asisten harus dislplin dan mematuhi
Peraturan yang telah ditetapkan khususnya ketepatan waktu

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Darjanto, Siti, 1982. Biologi Bunga Dan Teknik Penyerbukan Silang. Gramedia, Jakarta.
Darsyah, M. , 1990. Genetika. Gramedia Pustaka, Jakarta.
Dwijoseputro, 1980. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. Gramedia, Jakarta.
Estiti, B.H., 1995. Anatomi Tumbuhan Berbiji. ITB, Bandung.
Gembong S, 1989. Morfologi tumbuhan. Gajahmada Unifersity Pres, Yogyakarta.
Kartasapoetra, 1988. Pengantar anatomi tumbuhan. Binana Aksara, Jakarta.
Kimball, J. W. , 1999. Biologi Jilid II. Erlangga, Jakarta.
Subowo, 1989. Biologi Sel. Angkasa, Bandung.
Soeharto, 1989. Asas-asas Ilmu Fisika Jilid 3 Optikal. Gadjah Mada University Press, Jogjakarta.
Soenarjo, 1990. Biologi Umum. PT Gramedia, Jakarta.
________, 1993. Optik Cahaya. Erlangga, Jakarta
Susanto, H. , 1993. Budidaya Kodok Unggul. Penebar Swadaya, Jakarta.
Prawiranata,1988. Dasar – Dasar Fisiologi Tumbuhan.
Siti S, 1983. Botani Umum I. Angkasa, Bandung.
, 1983. Botani Umum II. Angkasa, Bandung.
, 1983. Botani Umum III. Angkasa, Bandung.
, 1983. Botani Umum IV. Angkasa, Bandung.
Soepomo, 1976. General Biologi. Intan Pariwara, Jakarta.
Triastono, 2002. Dasar-dasar Genetika. Erlangga, Jakarta
Tjitrosoepoma, 1993. Morfologi Tumbuhan. Gajah mada University Press, Jakarta.
Wildan Y, 1991. Genética. Tarsito, Bandung.
Yatim, W. I. , 1982. Biologi Sel. Elstar, Bandung.
, 1987. Biologi Modern. Tarsito, Bandung.
Yayan, 1990. Pengantar Anatomi Tumbuh-tumbuhan. Bima Aksara, Jakarta.
Zainal A, 1987. Ilmu Tanaman. Angkasa, Bandung.
SITUS WEB :
http://id.wikipedia.org/wiki/Badan_Golgi, 15 November 2009
http://id.wikipedia.org/wiki/. Membran sel,15 November 2009
http://id.wikipedia.org/wiki/ Mitokondria,15 November 2009
Soekardi,1993).http://biologi.blogsome.com/2009/11/16/plastida/ 2 Desember 2009
Anonimous a. 2007. http://id.wikipedia.org/wiki/Transpirasi. 07 Desember 2009. 2 page.

Anonimous b. 2007. http://id.wikipedia.org/wiki/Laju-Transpirasi. 07 Desember 2009. 1 page.
(Triasmono,1996)fotosintesis/http://kireidwi.blog.friendster.com/2009/04/transpirasi/ 2 Desember 2009

Makalah Air Gambut

Posted: March 10, 2011 in Uncategorized

ABSTRAK

Air gambut adalah satu sumber air permukaan banyak dijumpai di Kalimanta,

berwarna coklat tua sampai kehitaman (124 – 850 PtCo), berkadar organik tinggi (138 –
1560 mg/lt KmnO4), dan bersifat asam (pH 3,7 – 5,3). Kondisi air tersebut
menunjukkan bahwa air gambut masih memerlukan pengolahan khusus terlebih dahulu
sebelum dapat digunakan sebagai sumber air untuk keperluan domestik. Salah satu
alternatif pengolahan untuk menurunkan warna dalam air adalah anaerobik biofilter dan
Slow Sand Filter (SSF).
Tujuan penelitian ini adalah melakukan kajian penggunaan Upflow Anerobic
Filter (UAF) dan Slow Sand Filter (SSF) dalam menurunkan warna air gambut.
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan air gambut yang diambil dari Propinsi
Kalbar. Reaktor yang dipakai adalah rangkaian reaktor kombinasi UAF dan SSF.
Variabel penelitian adalah variasi pada media filter reaktor anaerobik (yaitu
menggunakan kerikil, PVC dan botol bekas yakult), dan variasi kecepatan filtrasi pada
SSF (0.15, 0.3, dan 0.45 m3/m2.jam).
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kombinasi UAF bermedia kerikil
dengan SSF kecepatan filtrasi 0,15 m3/m2.jam memiliki efisiensi tertinggi dalam
menurunkan warna air gambut yang semula memiliki konsentrasi 804 Pt.Co menjadi
konsentrasi 11 Pt.Co. Kondisi air olahan UAF dan SSF masih belum memenuhi
persyaratan sebagai air bersih sesuai PERMENKES No.416/ MENKES /PER/IX/1990.
Kata kunci : Upflow Anaerobic Filter, Slow Sand Filter, air gambut

ABSTRACT

The object of this research is to study the potensial use the combination of Upflow
Anaerobic Filter and Slow Sand Filter to treat colour of the humic water. This research
was conducted by using humic water taken from the West Kalimantan Province.
Reactor used was a reactor series of UAF and SSF. Research variable in UAF is
variation of the filter media anaerobic (ie using gravel, PVC and Yakult bottles), and
variabel in SSF is variation of filtration rate (0.15 m3/m2.hour; 0.3 m3/m2.hour; and
0.45 m3/m2.hour).
These results indicate that UAF gravel media combination with SSF filtration rate 0.15
m3/m2.hour has the highest efficiency in reducing the color of the original humic water
which has a concentration 804 Pt.Co to 11 Pt.Co. Combination UAF and SSF processed
water conditions still not meet the requirements as clean water suitable PERMENKES
No.416 / MENKES /PER/IX/1990.

1) Makalah merupakan bagian dari Tesis,  Jurusan  Teknik Lingkungan FTSP- ITS
2) Mahasiswa Program Pasca Sarjana pada Jurusan Teknik Lingkungan FTSP-ITS
3) Pembimbing
 

PENDAHULUAN

Penduduk pedesaan yang tinggal di daerah rawa dan daerah pasang surut seperti
di Kalimantan umumnya menghadapi kesulitan dalam memperoleh air bersih terutama
pada musim kemarau. Salah satu sumber air permukaan yang ada di Kalimantan
khususnya di Propinsi Kalimantan Barat adalah air gambut yaitu air permukaan yang
sangat dipengaruhi oleh kondisi tanah gambut dibawahnya. Data hasil uji kualitas air
gambut yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan Propinsi Kalimantan Barat selama tahun
2008, menunjukkan bahwa air gambut di Kalimantan Barat memiliki kekeruhan rendah,
berwarna coklat tua sampai kehitaman (124 – 850 unit PtCo), kadar organik tinggi (138
– 1560 mg/lt KMnO4), dan bersifat asam (pH 3,7 – 5,3). Data tersebut menunjukkan
bahwa sebelum dapat dimanfaatkan sebagai salah satu sumber air untuk keperlua
domestik, air gambut masih memerlukan pengolahan khusus terlebih dahulu.
Zat organik pada air gambut didominasi oleh senyawa humat yang bersifat sulit
dirombak oleh mikroorganisme atau bersifat   
       nonbiodegradable (Zouboulis, 2004).

Namun demikian upaya untuk merombak senyawa humat dan fulvat ini terus
dikembangkan. Salah satu metode potensial adalah pengolahan secara biologi, dengan
menggunakan bakteri yang dikultivasi baik dari tanah gambut maupun air gambut itu
sendiri. Pengolahan air secara biologi pada dasarnya dapat dilakukan menggunakan
proses pertumbuhan tersuspensi dan proses pertumbuhan terlekat. Pada proses
pertumbuhan terlekat, mikroba dilekatkan pada media pendukung membentuk lapisan
tipis yang disebut biofilm. Penggunaan biofilm mikroba telah banyak digunakan untuk
pengolahan limbah cair. Namun, belum banyak dikembangkan pada pengolahan air
bersih. Upflow Anaerobic Filter adalah salah satu teknologi pengolahan air secara

biologi dengan memanfaatkan biofilm bakteri dalam mekanisme peruraian zat organik,

sedangkan  Slow Sand Filter (SSF) merupakan teknologi pengolahan air yang sangat

sederhana, yang memanfaatkan biofilm yang terbentuk pada media pasir. Hariyani

(2005) menerangkan bahwa biofilm yang terbentuk pada SSF mampu menurunkan

bakteri, zat organik, padatan tersuspensi dan warna yang ada pada air baku lebih dari

60%.

Berdasarkan beberapa hal diatas, maka penelitian ini bertujuan mengkaji

pemanfaatan Upflow Anaerobic Filter (UAF) dan Slow Sand Filter (SSF) dalam

menurunkan warna air gambut sehingga memenuhi persyaratan PERMENKES No.416/

MENKES /PER/IX/1990 dengan memanfaatkan bakteri lokal air gambut.

DASAR TEORI

Air gambut adalah air permukaan atau air tanah yang banyak terdapat di daerah

pasang surut, berawa dan dataran rendah, berwarna merah kecoklatan, berasa asam

(tingkat keasaman tinggi), dan memiliki kandungan organik tinggi. Gambut sendiri

didefinisikan sebagai material organik yang terbentuk dari dekomposisi tidak sempurna

dari tumbuhan daerah basah dan dalam kondisi sangat lembab serta kekurangan

oksigen. Air gambut secara umum tidak memenuhi persyaratan kualitas air bersih yang

distandardkan oleh Departemen Kesehatan RI melalui PERMENKES No.416/

MENKES /PER/IX/1990.

Kandungan organik pada air gambut didominasi oleh senyawa humat yang

memiliki ikatan aromatik kompleks yang memiliki gugus fungsional seperti –COOH, -

OH fenolat maupun –OH alkohol dan bersifat             nonbiodegradable. Sifat ini juga

menyebabkan sebagian besar organik pada air gambut sulit terurai secara alamiah.

Kandungan organik pada air berpotensi membentuk senyawa karsinogenik antara lain

THM (Trihalomethane) pada proses desinfeksi dengan khlor. Asam humat yang

memiliki berat molekul 2000 – 100.000 dalton memiliki potensi untuk membentuk

organoklorin seperti THM dan HAA (haloacetic acid) relatif lebih besar daripada

senyawa non humus (Zouboulis, 2004).

Usaha untuk mereduksi senyawa humat dalam air gambut dilakukan dengan

berbagai metoda baik secara fisik, kimia maupun biologi. Penelitian yang dilakukan

oleh Lema (2008) terhadap viabilitas isolat bakteri selulolitik pada humus menunjukkan

bahwa aktifitas selulase isolat bakteri selulotik dapat menggunakan selulosa yang ada

pada senyawa humat sebagai sumber karbon.

Perombakan asam humat pada kondisi anaerob akan menghasilkan produk-

produk intermediate seperti amina aromatik yang mengganggu pertumbuhan bakteri.

Pengaruh toksisitas amina aromatik lebih tinggi pada sistem pertumbuhan tersuspensi

dibandingkan sistem pertumbuhan terlekat (Prakash       et al, 2003). Sehingga  teknologi

Upflow Anaerobic Filter dan Slow Sand Filter yang menggunakan bakteri dengan

pertumbuhan terlekat diharapkan mampu merombak asam humat yang bersifat non

degradatif.

METODOLOGI

Tempat dan Waktu Penelitian

Kegiatan isolasi dan identifiksi bakteri dilakukan Lab. Mikrobiologi Universitas

Airlangga Surabaya. Kegiatan analisa media dan analisa ayakan dilakukan di

Laboratorium mekanika Tanah Jurusan Teknik Sipil FTSP ITS. Sedangkan kegiatan

pengolahan air gambut dilakukan di Jurusan Kesehatan Lingkungan Politeknik

Kesehatan Dep.Kes Surabaya. Seluruh kegiatan penelitian dilaksanakan selama 8 bulan,

mulai Mei sampai Desember 2009.

Bahan Penelitian

Bahan yang penting dalam penelitian ini adalah, 1) air gambut yang berasal dari

Pontianak Kalimantan Barat, dengan waktu pengambilan mulai bulan Mei – Oktober

2009, 2) media cair untuk biakan bakteri, dengan komposisi mengikuti metode yang

dilakukan Khehra et al (2006) yaitu dalam satu liter media cair terdiri dari (NH4)2SO4

(1,0 g), KH2PO4 (1,0 g), Na2HPO4(3,6 g), MgSO4.7H2O (1,0 g), Fe(NH4)sitrat (0,01 g),

CaCl2.2H2O (0,1 g), 0,05% yeast extract dan 10 ml larutan trace element. Satu liter

trace element terdiri dari ZnSO4.7H2O 910,0 mg), MnCl2.4H2O (3,0 mg), CoCl2.6H2O

(1,0 mg), NiCl2.6H2O (2,0 mg), Na2MoO4.2H2O (3,0 mg), H3BO3(3,0 mg),

CuCl2.2H2O (1,0 mg).

Pemeriksaan Kualitas Air Gambut

Pemeriksaan kualitas air gambut meliputi parameter pH, zat organik yang diukur

dengan nilai bilangan permanganat (PV), warna, analisa karbon total. Seluruh metode

pemeriksaan parameter sesuai dengan Standard Method for Examination of Water and

Wastewater (1998).

Seleksi dan Identifikasi Bakteri Lokal Air Gambut

Seleksi dan identifikasi bakteri anaerob yang terdapat pada air gambut dilakukan

di Laboratorium Mikrobiologi Fakultas MIPA Universitas Airlangga. Hasil seleksi dan

identifikasi diperoleh bakteri anaerob yang dominan adalah Clostridium sp, sedangkan

bakteri fakultatif anaerob yang dominan yaitu Bacillus sp. Identifikasi bakteri anaerob

air gambut dilakukan dengan cara mencocokkan hasil uji morfologi dan uji aktivitas

biokimia yang terdapat pada Bergey’s Manual of Determinative Bacteriology.

Pengujian Kondisi Lingkungan yang Optimum Bagi Perkembangan Bakteri

Pengujian kondisi lingkungan yang paling sesuai untuk perkembangan bakteri

dilakukan dengan mencari pH optimum (Sastrawidana, 2008). Indikator pH yang sesuai

untuk perkembangan bakteri anaerob dan fakultatif akan terukur dengan semakin

rendahnya konsentrasi warna sampel. Pengujian pengaruh pH dilakukan terhadap

bakteri Clostridium sp, Bacillus sp, dan konsorsium kedua bakteri tersebut.

Untuk setiap bakteri dibutuhkan 3 buah tabung ulir ukuran 10 ml, dan ke dalam

tabung- tabung ulir tersebut berturut-turut diisi 5 ml sampel air gambut (steril) yang

telah terukur konsentrasi warnanya. Berturut-turut ditambahkan pula 5 ml media biakan

bakteri yang telah berisi 2 g/L glukosa steril, kemudian diatur pada pH 6. Selanjutnya ke

dalam tabung ulir ditambahkan 1 ml suspensi bakteri dan media cair hingga mencapai

volume 10 mL dan ditutup rapat. Campuran diinkubasi pada suhu 30oC selama 5 hari,

selanjutnya dipipet 10 ml untuk disentrifugasi pada 2.790 x g selama 30 menit untuk

menghilangkan padatan tersuspensi yang ada. Penurunan konsentrasi warna air gambut

diukur menggunakan spektrofotometer UV-Vis 1601. Pengujian mengacu pada metode

2120 untuk perbandingan visual warna pada        Standard Methods for Examination of

Water and Wastewater (1998). Dengan cara yang sama dilakukan pada pH 5,7, 8, 9.

Amobilisasi Konsorsium Bakteri pada Media Filter Upflow Anaerobic Filter

(UAF)

Media Filter yang digunakan sebagai media pengamobil adalah kerikil ukuran 1

inch (2,54 cm), PVC ukuran 2,5 x 2 cm dan botol plastik bekas yakult. Media filter

dicuci dengan akuades sebanyak 3 kali, dikeringkan dalam oven pada suhu 105oC

selama 1 jam dan selanjutnya disterilisasi menggunakan autoklaf pada suhu 121oC

selama 15 menit. Ke dalam 3 buah reaktor anaerob masing-masing diisi dengan media

filter yang akan digunakan sebagai media tempat pelekatan bakteri. Bakteri yang

diamobilkan pada masing-masing reaktor adalah konsorsium bakteri anaerobik dan

fakultatif hasil isolasi dari air gambut. Amobilisasi bakteri pada media filter mengikuti

metode yang dilakukan Sastrawidana (2009), yaitu 100 ml kultur bakteri ditumbuhkan

dalam reaktor anaerob selanjutnya ditambahkan media tumbuh dan disirkulasi selama

14 hari. Setelah 14 hari cairan dalam reaktor UAF dialirkan ke luar melalui kran untuk

mengeluarkan bakteri yang tidak terikat pada media.

Setelah proses amobilisasi selesai (setelah 14 hari), dilakukan pengukuran

jumlah koloni bakteri yang melekat pada masing – masing media filter UAF.

Pengukuran ini bertujuan untuk melihat apakah jumlah koloni bakteri yang melekat

pada media tersebut sudah memadai untuk digunakan dalam pengolahan air gambut.

Metode yang dipakai adalah     Total Plate Count (TPC). Pelepasan sel terlekat dan

perhitungan TPC dilakukan di laboratorium mikrobiologi Jurusan Biologi Universitas

Airlangga Surabaya.

Reaktor Upflow Anaerobic Filter (UAF) dan Slow Sand Filter (SSF)

Penelitian ini menguji 3 (tiga) variasi media filter UAF dan 3 (tiga) variasi

kecepatan filtrasi SSF. Reaktor UAF dan SSF dirangkai secara seri dan dioperasikan

secara kontinyu. Gambar aliran (flowsheet) proses pengolahan air gambut seperti

terlihat pada Gambar 1

 

Gambar 1. Flowsheet Pengolahan Air Gambut

Rangkaian reaktor UAF dan SSF seperti terlihat pada Gambar 2.

Gambar 2. Rangkaian Reaktor UAF dan SSF

Reaktor UAF dibuat dari pipa PVC dengan tinggi 110 cm, berdiameter 12 inch.

Variasi media filter yang dipakai adalah 1) kerikil dengan ukuran 1 inch (2,54 cm), 2).

PVC dengan ukuran 2,5 x 2 cm dan 3). botol plastik bekas yakult. Tinggi lapisan media

 

 

6
filter adalah 80 cm. Beban hidrolik UAF sebesar 3,0 m3/m2hari, dengan debit air

gambut 10 lt/jam.

Reaktor SSF menggunakan single media yaitu pasir. SSF terbuat dari pipa PVC

dengan tinggi 1,2 m. Variasi kecepatan filtrasi adalah 0,15 m3/m2.jam, 0,3 m3/m2.jam,

dan 0,45 m3/m2.jam dengan arah aliran        down flow. Pasir yang dipakai mempunyai

ukuran efektif (ES) sebesar 0,25 – 0,6 mm (30 – 60 mesh), sedangkan media penyangga

kerikil berukuran 1 – 2 mm. Dimensi SSF untuk masing-masing variasi kecepatan

filtrasi dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Dimensi SSF untuk masing-masing variasi kecepatan filtrasi

Filtration Rate    Diameter Filter    Ketebalan media   Freeboard

Pasir      Kerikil

 

0,15 m3/m2.jam

0,30 m3/m2.jam

0,45 m3/m2.jam
12 inch

8 inch

6 inch
70 cm      10 cm

70 cm      10 cm

70 cm      10 cm
20 cm

20 cm

20 cm

 

Sebelum reaktor SSF dioperasikan, pasir yang dipakai terlebih dahulu dilakukan

pengkondisian awal (ripening) atau proses pembentukan biofilm (schmutzdecke) di

permukaan pasir. Proses yang dilakukan sama seperti proses amobilisasi media filter di

reaktor UAF.

Titik Lokasi Sampling dan Jumlah Sampel

Titik pengambilan sampel UAF berada di reservoir dan efluen filter, secara grab

1 kali sehari selama 14 hari. Jumlah sampel: 3 media x 1 x 14 hari = 42 sampel.

Sedangkan pada SSF, sampel diambil dari efluen filter secara grab sehari sekali selama

10 hari. Jumlah sampel 3 media x 3 filtration rate x 10 hari = 90 sampel. Setiap sampel

dianalisa parameter warna.

Analisis Data

Data yang diperoleh dianalisa untuk mengetahui apakah ada penurunan yang

signifikan pada parameter warna, sebelum dan setelah pengolahan dengan UAF variasi

media dan SSF variasi kecepatan filtrasi. Data kualitas air baku dan produk olahan

dibandingkan dengan standar air bersih sesuai dengan PERMENKESNo.416/MENKES

/PER/IX/1990.

HASIL DAN DISKUSI

Analisa Air Baku

Hasil analisa kualitas air gambut sebagai air baku untuk parameter kekeruhan

sebesar 60 NTU, konsentrasi warna 804 Pt.Co, pH 4,8, zat organik yang diukur dengan

nilai permanganat (PV) 246,8 mg/lt, BOD 125 mg/lt, COD 192 mg/lt.

Kondisi pH Optimum Bagi Perkembangan Bakteri

Konsentrasi warna air gambut identik dengan kandungan zat organik yang ada

terkandung di dalam air gambut tersebut. Proses perombakan zat organik air gambut

akan berpengaruh pada intensitas warna sehingga efisiensi penurunan warna air gambut

sebanding dengan efisiensi perombakan zat organik. Efisiensi kemampuan bakteri

Clostridium sp,     Bacillus sp dan konsorsium     Clostridium sp,     Bacillus sp dalam

merombak zat organik selama 5 hari inkubasi pada pH yang berbeda-beda (pH 5 – 9)

disajikan pada Gambar 3. Kondisi pH yang sesuai bagi perkembangan bakteri anaerobik

akan terukur dengan semakin rendahnya konsentrasi warna sampel.

94

92

90

88

86
Clostridium sp

Bacillus sp.

Konsorsium
7

 

5
6
7

pH
8
9

 

Gambar 3. Efisiensi Penurunan Warna pada Kondisi Anaerob

pada Variasi pH selama 5 hari inkubasi

Gambar 3. menunjukkan bahwa efisiensi penurunan warna dipengaruhi pH lingkungan.

Efisiensi perombakan warna meningkat pada pH 5 – 7, kemudian cenderung stabil pada

pH 7 – 8, dan menurun pada pH 9. Kondisi pH optimum proses perombakan warna (650

Pt.Co) selama inkubasi 5 hari pada kisaran pH 7 – 8 dengan efisiensi berkisar 90 – 93

%. Perbedaan efisiensi perombakan warna pada variasi pH disebabkan oleh perubahan

aktivitas pertumbuhan bakteri. Beberapa bakteri dapat tumbuh dan beraktivitas baik

pada lingkungan asam dan beberapa bakteri juga tumbuh baik pada lingkungan basa.

Namun kebanyakan bakteri hidup dan beraktivitas baik pada kondisi pH netral

(Cutright, 2001). Aktivitas pertumbuhan bakteri dipengaruhi oleh aktivitas enzim

bakteri itu sendiri, karena pada sistem biologi sebagian besar enzim merupakan protein

yang mempunyai gugus aktif yang bermuatan positif dan negatif. Aktivitas enzim akan

optimum jika terjadi kesetimbangan antar kedua muatan tersebut. Bila proses

perombakan berlangsung pada pH yang tidak optimum, maka aktivitas enzim akan

menurun akibat dari ionisasi gugus-gugus pada sisi aktif enzim. Pada kondisi asam (pH

rendah), enzim lebih bermuatan positif sedangkan pada kondisi basa (pH tinggi) maka

enzim lebih bermuatan negatif.

Amobilisasi Media Filter UAF

Bakteri yang digunakan dalam Upflow Anaerobic Filter adalah konsorsium

bakteri    Clostridium sp,       dan Bacillus sp, karena gabungan kedua bakteri ini

menghasilkan efisiensi perombakan warna yang cukup tinggi dibandingkan jika kedua

bakteri tersebut digunakan dalam bentuk kultur tunggal, seperti terlihat pada Gambar 3.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa dalam keadaan substrat yang mencukupi,

hubungan antar bakteri pada sistem konsorsium tidak saling mengganggu, tetapi saling

bersinergi sehingga menghasilkan efisiensi perombakan yang lebih tinggi (Prakash et al,

2003).

Hasil proses amobilisasi pada 3 (tiga) jenis media filter UAF, yaitu kerikil, PVC

dan botol plastik bekas yakult sebagai tempat tumbuh bakteri konsorsium        Clostridium

sp dan Bacillus sp, menunjukkan penampakan pada struktur permukaan media semakin

tertutup dan terasa licin. Hasil pengukuran       Total Plate Count (TPC) pada masing-

masing media diperoleh jumlah koloni bakteri pada media kerikil sebesar 128 x 1012

cfu/mg, pada PVC 88 x 1011cfu/mg, sedangkan pada botol plastik bekas yakult sebesar

103 x 109cfu/mg. Jumlah koloni pada media kerikil paling besar dibanding kedua jenis

media yang lain karena kerikil mempunyai banyak rongga yang mempermudah

pelekatan bakteri, memperkokoh biofilm dan melindungi mikroba dari abrasi akibat

aliran air. Jumlah koloni bakteri di media PVC lebih banyak dibandingkan botol bekas

yakult, karena media PVC yang dipakai terlebih dahulu diberi guratan-guratan sebagai

 

 

8
tempat pelekatan bakteri. Dari hasil pemeriksaan jumlah koloni bakteri diatas terlihat

bahwa jumlah koloni bakteri yang terdapat pada media sudah memadai untuk digunakan

dalam pengolahan air gambut secara anaerob, karena menurut Cutright (2001), jumlah

populasi bakteri minimum yang dianggap memadai untuk digunakan dalam pengolahan

secara anaerob adalah 108cfu/mg.

Analisa Hasil Pengolahan Upflow Anaerobic Filter

Efisiensi pengolahan reaktor UAF yang dioperasikan secara kontinyu dengan

beban hidrolik filter 3,0 m3/m2hari (debit air gambut 10 lt/jam) dalam menurunkan

konsentrasi warna air gambut disajikan pada gambar berikut.

80

60

 

40

20

0
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14

Hari Ke
Media Kerikil

Media PVC

Media Botol Yakult

 

Gambar 4. Efisiensi Penurunan Warna

Gambar 4 memperlihatkan bahwa parameter warna pada semua efluen UAF baik

yang bermedia kerikil, PVC maupun botol plastik masih sangat tinggi jika dibandingkan

dengan nilai baku mutu warna yang dipersyaratkan oleh PERMENKES No. 416 /

MENKES /PER/IX/1990 yaitu tidak berwarna. Sisa warna pada efluen UAF bermedia

kerikil sebesar 60 – 95 Pt.Co (removal 86,8 – 92,7%), untuk media PVC sisa warna

sebesar 108 – 144 Pt.Co (removal 81 – 85,1%), sedangkan sisa konsentrasi warna pada

efluen UAF bermedia botol yakult bekas sebesar 167 – 247 mg/lt (removal 68,9 – 73,7

%).

Masih tingginya konsentrasi warna pada efluen UAF menunjukkan bahwa

perombakan zat organik penyebab warna tidak berlangsung sempurna. Hal ini karena

pada kondisi anaerob bakteri hanya mampu merombak molekul zat organik air gambut,

yaitu molekul asam humat yang berukuran besar menjadi molekul yang lebih sederhana.

Struktur benzena yang ada pada asam humat belum dapat dipecah secara sempurna, hal

ini terlihat pada konsentrasi sisa warna terukur pada efluen UAF masih cukup tinggi.

Gambar 4 juga menunjukkan bahwa media kerikil memiliki efisiensi penurunan warna

lebih besar dibanding media PVC dan media botol bekas yakult. Hal ini sesuai dengan

jumlah koloni bakteri yang melekat pada media kerikil lebih banyak dibandingkan pada

dua media yang lain, sehingga pada media kerikil proses perombakan zat organik terjadi

lebih efektif. Media kerikil juga memiliki banyak rongga sehingga mempunyai luas

permukaan lebih besar dalam  mengadsorpsi zat organik. Rongga ini tidak dimiliki oleh

kedua media yang lain, sehingga kemampuan adsorpsinya sangat rendah.

Analisa Hasil Pengolahan Slow Sand Filter

Hasil pengukuran efisiensi Slow Sand Filter (SSF) dalam menurunkan

konsentrasi warna air gambut disajikan pada gambar berikut

 

 

100

80

60

40

20

0
1      2      3      4       5      6      7      8      9 10
9

 

Kerikil
PVC
Botol
Hari Ke

 

Gambar 5. Efisiensi Penurunan Warna pada Kec. Filtasi 0,15 m3/m2jam

100

80

60

40

20

0

1      2      3      4      5      6       7      8      9 10

 

Kerikil        PVC         Botol
Hari ke

 

Gambar 6. Efisiensi Penurunan Warna pada Kec. Filtasi 0,3 m3/m2jam

100

80

60

40

20

0

1      2       3      4       5      6       7      8      9 10

 

Kerikil
PVC
Botol
Hari ke

 

Gambar 7. Efisiensi Penurunan Warna pada Kec. Filtasi 0,45 m3/m2jam

Gambar 5 – 7 diatas menunjukkan bahwa prosentase efisiensi penurunan warna sudah

cukup tinggi sejak hari pertama pengambilan sampel. Kondisi ini terjadi karena media

pasir yang dipakai dalam SSF telah mengalami masa repening selama 14 hari sehingga

mekanisme biologi telah terbentuk dengan stabil. Kecepatan filtrasi juga berpengaruh

pada efisiensi penurunan warna. SSF dengan kecepatan filtrasi 0,15                     m3/m2.jam

menghasilkan prosentase penurunan warna lebih besar dibanding variasi kecepatan yang lain.

Faktor yang mempengaruhi hal ini adalah kecepatan aliran yang lebih kecil akan

memungkinkan kontak yang lebih lama sehingga reduksi oleh mikroorganisme akan

lebih besar. Selain waktu kontak, aliran kecil akan menyebabkan zat organik yang

terdeposit pada media filter akan lebih banyak dan menjadi makanan bagi

mikroorganisme yang tumbuh pada filter.

 

 

Kemampuan Pengolahan Gabungan UAF dan SSF dalam Penurunan Warna

100                                                                                                                  %
10

 

80

60

40

20

0
86
11
83
14
80
16
84
21
71
37
67
41
78
42
mg/lt

68  64
61
77

 

Gambar 8. Efisiensi Penurunan Warna pada Setiap Variasi UAF dan SSF

Gambar 8 memperlihatkan bahwa kombinasi UAF bermedia kerikil dengan SSF 0,15

m3/m2.jam mempunyai efisiensi terbesar dalam menurunkan konsentrasi warna air

gambut yaitu 11 mg/lt (86%). Meskipun kondisi ini belum memenuhi persyaratan sesuai

PERMENKES No.416/ MENKES /PER/IX/1990 yaitu tidak berwarna. Hasil penelitian

ini juga menunjukkan walaupun efisiensi penurunan warna pada semua kombinasi

memiliki kecenderungan menurun, namun kondisi reaktor UAF dan SSF masih belum

mencapai titik breakthrough. Karena belum terlihat indikasi terjadinya        breakthrough

yaitu kualitas efluen sama atau lebih buruk dari influen (Hariyani, 2005). Penurunan

efisiensi dikarenakan tidak ditambahkannya nutrien trace element pada air gambut yang

akan diolah, serta sulit menjaga ratio C/N/P tetap pada kondisi 100:5:1, mengingat

penelitian ini menggunakan proses kontinyu. Nutrien       trace element hanya diberikan

pada saat pengkondisian reaktor UAF dan SSF dengan tujuan untuk mempercepat

pertumbuhan bakteri sehingga pembentukan biofilm dapat sempurna.

KESIMPULAN

1.       Faktor lingkungan (pH) yang mempengaruhi efisiensi pembentukan biofilm pada

media Upflow Anaerobic Filter adalah 7 – 8.

2.       Konsorsium bakteri Bacillus sp dan Clostridium sp lebih efektif untuk dipakai dalam

proses perombakan warna dibandingkan dengan kultur tunggal. Efisiensi perombakan

sebesar 95,8 – 96,0% dengan inkubasi 5 hari pada pH 7 – 8.

3.       Reaktor UAF bermedia kerikil, PVC dan botol plastik bekas yakult mampu dalam

menurunkan warna air gambut, dengan rata –rata prosentase penurunan berturut-

turut sebesar 89,3%, 82,3% dan 71,6%.

4.       SSF dengan variasi kecepatan fitrasi 0,15 m3/m2.jam; 0,3 m3/m2.jam dan 0,45

m3/m2.jam mampu menurunkan konsentrasi warna pada air gambut, dengan rata –

rata prosentase penurunan bertutut-turut sebesar 83%, 74% dan 69%

5.       Kombinasi UAF dan SSF yang paling efisien dalam menurunkan warna, adalah

UAF bermedia kerikil dan SSF dengan kecepatan filtrasi 0,15 m3/m2.jam, dengan

efisiensi penurunan parameter warna 98.

6.       SSF cukup efektif dalam menyempurnakan kualitas efluen UAF karena SSF

sudah mengalami pengkondisian awal.

7.       Kualitas warna pada air hasil olahan kombinasi UAF dan SSF belum memenuhi

syarat warna pada air bersih sesuai PERMENKES No.416/MENKES/

PER/IX/1990.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

11

 

Hariyani,V.D., 2005,    Pengolahan Lanjutan Terhadap Efluen Instalasi Pengolahan

Lindi LPA Benowo Menggunakan Slow Sand Filter dan Filter Adsorpsi, Tugas

Akhir S1 Jurusan Teknik Lingkungan FTSP ITS

Lema,A.T., 2008,    Viabilitas Isolat-Isolat Bakteri Selulolitik Pada Bahan Pembawa

Gambut, Tugas Akhir S1 Departemen Biologi FMIPA IPB.

Prakash,B., B.M. Veeregowda, G. Krishnappa, 2003, Biofilms: A Survival Strategy of

Bacteria [Review], Current Sci. 85(9), 1299-1307.

Sastrawidana,I.D.K., 2008,      Pengolahan Limbah Tekstil Menggunakan Biofilm

Konsorsium Bakteri Pada Reaktor Dengan Sistem Anaerobik-Aerobik, Disertasi

Program Studi Pengelolaan Sumbedaya Alam dan Lingkungan IPB

Zouboulis, A.I., Chai, X.L., dan Katsoyiannis,I.A., 2004,                   The Application of

Bioflocculant for The Removal of Humic Acids rom Stabilized Landfill Leachates,

Environmental Management Journal 70, 35-41

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1 LATAR BELAKANG

Permasalahan lingkungan hidup akan terus muncul secara serius diberbagai

pelosok bumi sepanjang  penduduk bumi tidak segera memikirkan dan mengusahakan

keselamatan dan keseimbangan lingkungan. Demikian juga di Indonesia, permasalahan

lingkungan hidup seolah-olah seperti dibiarkan menggelembung sejalan dengan intensitas

pertumbuhan industri, walaupun industrialisasi itu sendiri sedang menjadi prioritas dalam

pembangunan. Tidak kecil jumlah korban ataupun kerugian yang justru terpaksa

ditanggung  oleh masyarakat luas tanpa ada konpensasi yang sebanding dari pihak

industri.

Walaupun proses perusakan lingkungan tetap terus berjalan dan kerugian yang

ditimbulkan harus ditanggung oleh banyak pihak, tetapi solusinya yang tepat  tetap saja

belum bisa ditemukan. Bahkan di sisi lain sebenarnya sudah ada perangkat hokum yaitu

Undang-Undang Lingkungan Hidup, tetapi tetap saja pemecahan masalah lingkungan

hidup menemui jalan buntu. Hal demikian pada dasarnya disebabkan oleh adanya

kesenjangan  yang tetap terpelihara menganga antara masyarakat, industri dan pemerintah

termasuk aparat penegak hukum.

Kesan pelik semakin jelas bisa dilihat apabila kita mencoba memperhatikan

respon maupun persepsi para pihakn yang berwenang mengenai permasalahan lingkungn

hidup, baik hakim, jaksa, kepolisian, pengacara, pengusaha maupun masyarakat umum.

Respon dan persepsi mereka mengenai konsep, konteks, substansi dan pensangannan

terhadap lingkungan hidup sangant berbeda dan beragam. Padahal untuk menangani

suatu kasus lingkungn hidup, misalnya pencemaran suatu sungai, segnap pihak  yang

berwenang menanganinya harus mempunyai visi dan persepsi yang sama mengenai

lingkungan hidup, sehingga bisa diperoleh solusi  yang optimal dan dirasakan adil bagi

berbagai pihak.

 

1.2 RUANG LINGKUP PEMBAHASAN

Untuk mengelola air limbah secara baik diperlukan keterpaduan dari berbagai macam

disiplin ilmu pengetahuan baik yang bersifat teknis administrative maupun bersifat teknis

operasional, dalam pembuatan makalah ini  penulis hanya membahas pengelolaan limbah

cair yang bersifat operasional  pada industri:

-     Industri Penyamakan Kulit

-     Industri Pulp dan Kertas

-     Industri Kelapa Sawit

 

1.3 TUJUAN

Tujuan pengolahan air limbah adalah untuk mengurangi BOD, partikel tercampur,

serta membunuh organisme pathogen. Selain tujuan di atas, pengolahan air limbah juga

bertujuan untuk menghilanhkan bahan nutrisi, komponen beracun serta bahan yang tidak

dapat didegrasikan agar konsentrasi yang ada menjadi rendah.

 

2.1 PENGERTIAN

Air limbah adalah kotoran dari masyarakat dan rumah tangga dan juga yang berasal

dari industri, air tanah, air permukaan serta buangan lainnya, dengan demikian air

buangan  ini merupakan hal yang bersifat kotoran umum.

 

2.2 JENIS-JENIS AIR LIMBAH

Air limbah berasal dari dua jenis sumber yaitu air limbah rumah tangga dan air

limbah  industri. Secara umum didalam limbah rumah tangga tidak terkandung zat-zat

berbahaya, sedangkan didalam limbah industri harus dibedakan antara limbah yang

mengandung zat-zat yang berbahaya dan yang tidak.

Untuk yang mengandung zat-zat  yang berbahaya harus dilakukan penanganan

khusus tahap awal sehingga kandungannya bisa di minimalisasi terlebih dahulu sebelum

dialirkan ke sewage plant, karena zat-zat berbahaya itu bisa memetikan fungsi mikro

organisme yang berfungsi menguraikan senyawa-senyawa di dalam air limbah. Sebagian

zat-zat berbahaya bahkan kalau dialirkan ke sawage plant hanya melewatinya tanpa

terjadi perubahan yang berarti, misalnya logam berat.

Penanganan limbah industri tahap awal ini biasanya dilakukan secara kimiawin

dengan menambahkan zat-zat kimia yang bisa mengeliminasi zat-zat  yang berbahaya.

 

2.4 EFEK BURUK AIR LIMBAH

Sesuai  dengan batasan air limbah  yang merupakan benda sisa, maka sudah barang

tentu bahwa air limbah merupakan benda yang sudah tidak dipergunakan lagi. Akan

tetapi tidak berarti bahwa air limbah tersebut tidak perlu dilakukan pengelolaan, karena

apabila limbah tersebut tidak dikelola secara baik akan dapat menimbulkan gangguan,

baik terhadap lingkungan maupun terhadap kehidupan yang ada.

 

2.4.1 Gangguan Terhadap Kesehatan

Air limbah sangat berbahaya terhadap kesehatan manusia mengingat bahwa banyak

penyakit yang dapat ditularkan melalui air limbah. Air limbah ini ada yang hanya

berfungsi sebagai media pembawa  saja seperti penyakit kolera, radang usus, hepatitis

infektiosa, serta schitosomiasis. Selain sebagai pembawa penyakit di dalam air limbah itu

sendiri  banyak terdapat bakteri patogen penyebab penyakit seperti:

1.   Virus

Menyebabkan penyakit polio myelitis dan hepatitis. Secara pasti modus

penularannya masih belum diketahui dan banyak terdapat pada air hasil

pengolahan (effluent) pengolahan air.

2.   Vibrio Cholera

Menyebabkan penyakit kolera asiatika dengan penyebaran  melalui air limbah

yang telah tercemar oleh kotoran manusia yang mengandung vibrio cholera.

3.   Salmonella Typhosa a dan Salmonella Typhosa b

Merupakan penyebab typhus abdomonalis dan para typhus yang banyak terdapat

di dalam air limbah bila terjadi wabah. Prinsip penularannya adalah melalui air

dan makanan yang telah tercemar oleh kotoran manusia yang banyak berpenyakit

typhus.

4.   Salmonella  Spp

Dapat menyebabkan keracunan makanan dan jenis bakteri  banyak terdapat pada

air hasil pengolahan.

5.   Shigella Spp

Adalah penyebab disentri bacsillair dan banyak terdapat pada air yang tercemar.

Adapun cara penularannya adalah melalui kontak langsung dengan kotoran

manusia maupun perantaraan makanan, lalat dan tanah.

6.   Basillus Antraksis

Adalah penyebab penyakit  antrhak, terdapat pada air limbah dan sporanya tahan

terhadap pengolahan.

7    Brusella Spp

Adalah penyebab penyakit brusellosis, demam malta serta menyebabkan

keguguran (aborsi) pada domba.

8    Mycobacterium Tuberculosa

Adalah penyebab penyakit tuberculosis dan terutama terdapat pada air limbah

yang berasal dari sanatorium.

9.    Leptospira

Adalah penyebab penyakit weii dengan penularan utama berasal dari tikus

selokan .

10.  Entamuba  Histolitika

Dapat menyebabkan penyakit amuba disentri dengan penyebaran melalui

Lumpur yang mengandung kista.

11.  Schistosoma Spp

Penyebab penyakit schistosomiasis, akan tetapi dapat dimatikan pada saat

melewati pengolahan air limbah.

12.  Taenia Spp

Adalah  penyebab penyakit cacing pita, dengan kondisi yang sangat tahan

terhadap cuaca.

13.  Ascaris Spp. Enterobius Spp

Menyebabkan penyakit cacingan dan banyak terdapat pada air hasil pengolahan

dan Lumpur serta sangat berbahaya terhadap kesehatan manusia.

 

Selain sebagai pembawa dan kandungan kuman penyakit maka air limbah

juga dapat mengandung bahan-bahan beracun, penyebab iritasi, bau dan bahkan

suhu yang tinggi serta bahan-bahan lainnya yang mudah terbakar. Keadaan

demikian ini sangat dipengaruhi oleh sumber asal air limbah. Kasus yang terjadi

di Teluk Minamata pada tahun 1953 adalah contoh yang nyata di mana para

nelayan dan keluarganya mengalami gejala penyempitan ruang pandang,

kelumpuhan, kulit terasa menebal dan bahkan dapat menyebabkan kematian.

Kejadian yang demikian adalah sebagai akibat termakannya ikan oleh nelayan,

sedangkan ikan tersebut telah mengandung air raksa sebagai akibat termakannya

kandungan air raksa yang ada di dalam teluk. Air raksa ini berasal dari air limbah

yang tercemar oleh adanya pabrik yang menghasilkan air raksa pada buangan

limbanya. Selain air raksa masih banyak lagi racun lainnya yang dapat

membahayakan kesehatan manusia antara lain:

 

1.   Timah Hitam

Apabila manusia terpapar oleh timah hitam, maka orang tersebut dapat

terserang penyakit anemia, kerusakan fungsi otak, serta kerusakan pada

ginjal.

 

2.   Krom

Krom dengan senyawa bervalensi tujuh lebih berbayaha bila dibandingkan

dengan krom yang bervalensi tiga. Apabila terpapar oleh krom ini dapat

menyebabkan kanker pada kulit dan saluran pencernaan.

 

3.   Sianida

Senyawa ini sangat beracun terhadap manusia karena dalam jumlah yang

sangat kecil sudah dapat menimbulkan keracunan dan merusak organ hati.

 

2.4.2 Gangguan terhadap  Kehidupan Biotik

Dengan banyaknya zat pencemar yang ada di dalam air limbah, maka akan

menyebabkan menurunnya kadar oksigen yang terlarut di dalam air limbah. Dengan

demikian  akan menyebabkan kehidupan di dalam air yang membutuhkan oksigen akan

terganggu, dalam hal ini akan mengurangi perkembangannya. Selain kematian

kehidupan di dalam air disebabkan karena kurangnya oksigen di dalam air  dapat juga

karena adanya zat beracun yang berada di dalam air limbah tersebut. Selain matinya ikan

dan bakteri-bakteri di dalam air juga dapat menimbulkan kerusakan pada tanaman atau

tumbuhan air. Sebagai akibat matinya bakteri-bakteri, maka proses penjernihan sendiri

yang seharusnya bisa terjadi pada air limbah menjadi terhambat. Sebagai akibat

selanjutnya adalah air limbah akan sulit untuk diuraikan. Selain bahan-bahan kimiayang

dapatmengganggu kehidupan di dalam air, maka kehidupan di dalam air juga dapat

terganggu dengan adanya pengaruh fisik seperti adanya tempertur tinggi yang

dikeluarkanoleh industri yang memerlukan proses pendinginan. Panasnya air limbah

dapat mematikan semua organisme apabila tidak dilakukan pendinginan terlebih dahulu

sebelum dibuang ke dalam saluran air limbah.

 

2.4.3 Gangguan Terhadap Keindahan

Dengan semakin banyaknya zat organic yang dibuang oleh perusahaan yang

memproduksi bahan organic seperti tapioca, maka setiap hari akan dihasilkan air limbah

yang berupa bahan-bahan  organic  dalam   jumlah yang sangat besar. Ampas yang

berasal dari pabrik ini perlu dilakukan pengendapan terlebih dahulu sebelum dibuang ke

saluran air limbah, akan tetapi memerlukan waktu yang sangat lama. Selama  waktu

tersebut  maka air limbah mengalami proses pembusukan dari zat organic yang ada

didalamnya. Sebagai akibat selanjutnya adalah timbulnya bau  hasil pengurangan dari zat

organic yang sangat menusuk hidung.

Disamping bau yang ditimbulkan, maka dengan menumpuknya ampas

akanmemerlukan tempat yang banyak dan mengganggu keindahan  tempat sekitarnya.

Pembuangan yang sama akan dihasilkan oleh perusahaan yang menghasilkan minyak dan

lemak, selain menimbulkan bau juga menyebbkan tempat di sekitarnya menjadi licin.

Selain bau dan tumpukan ampas yang menggangu, maka warna air limbah yang kotor

akan menimbulkan gangguan pemandangan yang tidag kalah besarnya.Keadaan yang

demikian akan lebih parah lagi, apabila pengotoran ini dapat mencapai daerah pantai

dimana daerah tersebut merupkan derah tempat rekreasi bagi masyarakat sekitarnya.

Pada bangunan pengolah air limbh sumber utama dari bau berasal dari :

1.   Tangki pembusuk air limbah yang berisikan hydrogen sulfida air dan bau-bau lain

yang melewati bangunan pengolahan.

2    Tempat pengumpulan buangna limbah industri.

3    Bangunan penangkap pasir yang tidak dibersihkan.

4    Buih atau benda  mengapung yang terdapat pada tangki pengendap pertama.

5    Proses pengolahan bahan organic.

6    Tangki  pengentalan (thickener) untuk mengambil Lumpur.

7    Pembakaran limbah gas yang menggunakan suhu kurang dari semestinya.

8    Proses pencampuran bahan kimia.

9    Pembakaran Lumpur.

10.  Penimbunan Lumpur  dan pengolahan Lumpur  melalui proses pengeringan.

 

Adapun cara untuk mengatasi bau dapat ditempuh dengan beberapa macam cara

antara lain :

 

1. Secara Fisik

Dengan melakukan pembakaran, dimana gas dapar dikurangi melalui pembakaran

pada suhu yang bervariasi antara 650-7500c. Untuk mengurangi kebutuhan suhu yang

tinggi dapat dikurangi melalui katalisator. Penyerapan dan karbon aktif adalah juga bisa

diterapkan dengan melewatkan udara ke dalam hamparan atau lapisan. Gas yang

berkontak dengannya akan diserap sehingga bau akan dapat dikurangi, begitu juga halnya

dengan penyerapan melalui pasir dan tanah. Pemasukan oksigen ke dalam limbah cair

adalah salah satu cara yang bisa diterapkan untuk menjaga proses terjadinya pengolahan

anaerobdapat dihindari sehingga gas yang ditimbulkan karena proses tersebut dapat

dihindari.Penggunaan menara (tower) juga dapat dipergunakan untuk mengurangi

pencemaran yang disebabkan oleh adanya bau melalui proses pengenceran di udra

terbuka karena udara dari cerobong tidak mencapai langsung kedaerah pemukiman,

dengan demikian bau yang ada dapat dicegah.

 

2. Secara Kimiawi

Untuk menghilangkan gas yang berbau dapat juga dilakukan dengan cara

melewatkan gas pada cairan  basa seperti kalsium dan sodium hidroksida untuk

menghilangkan bau. Apabila kadar karbondioksidanya tinggi maka biaya pengolahannya

juga menjadi sangat tinggi, sehingga biaya ini merupakan salah satu penghambat yang

besar. Dengan melakukan oksidasi pada pengolahan air limbah merupakan cara yang baik

agar bau klorin dan ozon dapat dihindari. Adapun bahan yang dipergunakan sebagai

bahanm oksidator adalah hydrogen peroksida. Pengendapan dengan bahan kimia

membuat terjadinya endapan dari sulfida dengan gram metal khususnya besi.

 

3. Secara Biologis

Air limbah dilewatkan melalui penyaringan yang menetes (trickling filter) atau

dimasukkan ke dalam tangki Lumpur aktif untuk menghilangkan komponen yang berbau.

Penggunaan  menara khusus dapat dipergunakan untuk menangkap bau, adapun jenis

menara itu diisi dengan media plastik yang bervariasi sebagai tempat tumbuhnya bakteri.

 

2.4.4. Gangguan terhadap Kerusakan Benda

Apabila   air limbah mengandung gas karbondioksida yang agresif, maka   mau

tidak mau akan mempercepat proses terjadinya karat pada benda yang terbuat dari besi

serta bangunan aiar yang kotor liannya. Dengan cepat rusaknya benda tersebut maka

biaya pemeliharaannya akan semakin besar juga, yang berarti akan menimbulkan

kerugian material. Selain karbon dioksida gresif, maka tidak kalah pentingnya apabila air

limbah itu adalah air limbah yang berkadar pH rendah atau bersifat asam maupun pH

tinggi yangbersifat basa. Melalui pH yang rendah maupun pH yang tinggi mengkibatkan

timbulnya kerusakan pada benda-benda yang dilaluinya.

Lemak   yang merupakan sebagian dari komponen air limbah mempunyai sifat

yang menggumpal pada suhu udara normal, dan akan berubah menjadi cair apabila

berada pada suhu yang lebih panas. Lemak yang merupakan  benda cair pada saat

dibuang ke saluran air limbah akan menumpuk secara kumulatif pada saluran air limbah

karena mengalami pendinginan dan lemak ini akan menempel pada dinding saluran air

limbah yang pada akhirnya akan dapat menyumbat aliran air limbah. Selain

penyumbatan akan dapat jugaterjadi kerusakan pada tempat dimana lemak tersebut

menempel yang bisa berakibat timbulnya bocor.

 

3.1 INDUSTRI PENYAMAKAN KULIT

A.   Proses

Kulit terbentuk  dari reaksi  serat kalogen di dalam kulit hewan dan tannin, krom,

tawas atau zat penyamak lain. Pada dasarnya untuk mengubah kulit hewan digunakan dua

proses : proses rumah-balok, kulit hewan dibersihkan dan disiapkan untuk operasi

penyamakan. Pertama-tama, kulit direndam dalam air untuk menghilangkan kotoran,

darah, garam dan pupuk. Kemudian kulit dibersihkan dengn mesin atau tangan untuk

menghilangkan sisa-sisa daging yang ada. Penghilangan bulu dilakukan secara kimia

 

dengan tangan dan atau mesin. Bubur kapur tohor digunakan untuk melepaskan bulu,

kemudian apabila bulu itu akan digunakan dapat dilarutkan dengan natrium sulfida.

Langkah pertama dalam proses penyamakan adalah perpendaman kulit hewan

dalam larutan garam ammonia dan enzim.Semua kulit hewan untuk penyamaan krom

harus mengalami pengasaman. Pengasaman membuat kulit hewan bersifat asam dengan

menggunakan asam sulfat dan natrium chlorida.

Penyamakan itu sendiri dilakukan di dalam tong yang berisi tannin nabati (kulit

pohon, kayu, buah atau akar), atau campuran kimi yang mengandung krom sulfat.

Pemucatan, pemberian warna coklat, cairan lemak dan pewarnaan digunakan untuk kulit

khusus. Langkah-langkah akhir seperti pengeringan, perentangan dan penekanan kulit

adalah proses kering dan tidak menghasilkan limbah cair

 

B.     Sumber Limbah Cair

Limbah  cair pabrik penyamaan berasal dari larutan yang digunakan unit

pemprosesan itu sendiri yaitu perendaman air, penghilangan bulu, pemberian bubur

kapur, perendaman ammonia, pengasaman, penyamaan, pemucatan, pembarian warna

coklat, dan pewarnaan dan dari bekas cuci , tetesan serta tumpahan.

Penghilangan bulu dengan kapur dan sulfida biasanya merupakan penyumbang

utama beban pencemaran dalam pabrik penyamaan. Limbah  dengan BOD dan PTT

tinggi berasal dari cairan bekas perendaman, cairan kapur bekas dan cairan penyamaan

nabati.  Ciran samak krom mengandung krom-trivalen  kadar tinggi. Perendaman

ammonia meninggalkan banyak campuran nitrogen-amonia dan sedikit bahan organic.

Limbah cair dari operasi penghilangan bulu mengandung bulu dan sulfida.

 

C. Pengendalian di dalam  Pabrik

Dalam operasi penyamakan, cara-cara berikut dapat menghemat penggunaan air :

1.   Penggunaan proses tong dengan aliran berlawanan

2.   Pengumpulan air cucian untuk digunakan kembali dalam penambahan cairan induk.

3.   Pemisahan air limbah dalam pabrik untuk daur ulang langsung dan daur ulang

sesudah pengolahan tertentu.

4.   Sistem kendali penggunaan air, meteran atau alat pengukur waktu.

5.   Aturan rumah tangga yang baik.

6.   Penggunaan      pencucian      dengan      aliran berlawanan           daripada      dengan

prosespembilasan kontiniu.Penggunaan mesin pengolah kulit untuk menggantikan

tong atau drum untuk satuan proses rumah balok dan proses penyamaan.

 

Cara lain untuk mengurangi limbah meliputi :

1.   Regenerasi (penjernihan cairan induk) dan penggunaan ulang larutan penyamak

krom

2.   Daur ulang 100 % larutan penyamak nabati sekarang banyak diterapkan

3.   Pengumpulan limbah dari penghilangan sisa daging untuk pakan hewan atau bahan

pembuatan lem

4.   Menyimpan bulu untuk dijual kepada pabrik karpet

5.   Regenerasi lerutan penghilang bulu

6.   Penggunaan proses-proses baru seperti enzim,oksidasi, dimetilamin atu soda kostik

untuk penghilangan bulu

 

7.   Penggunaan proses penyamaan krom baru, yang melibatkan asam dikarboksilat dan

garam-garam sebagi pengganti krom

 

D. Pengolahan Limbah Cair

Kadang-kadang aliran limbah perlu diolah sendiri-sendiri untuk mengurangi

konsentrasi beberapa zat pencemar dalam limbah cair. Aliran yang mengandung sulfida

dapat dioksidasi untuk mengurangi kadar sulfida. Krom hampir selalu trivalent karena

tidak perlu dilakukan reduksi bentuk heksavalennya. Aliran mengandung krom dapat

diendapkan dengan menggunakan tawas, garam besi atau polimer pada pH tinggi. Krom

mungkin dapat diperoleh kembali dengan menyaring endapan, melarutkannya kembali

dalam asam dan menggunakannya untuk penyamakan. Proses pengolahan primer lain

mliputi penyaringan, ekualisi dan pengendapan untuk mengurangi BOD dan memperoreh

padatan kembali. Pengolahan secara kimia dengan menggunakan tawas, kapur tohor,

fero-chlorida atu polielektrolit lebih lanjut dapat mengurangi PTT dan BOD. Sistem

pengolahan secara biologi bekerja efektif. Keragaman laju alir dan kadar limbah mungkin

besar. Karena itu, harus digunakan sistem penyamakan atau sistem laju alir tinggi. Sistem

anaerob efektif, tetapi akan mengeluarkan bau tajam dang mengganggu daerah

pemukiman. Sistem-sistem parit oksidasi, kolam aerob, sringan tetes dan Lumpur

teraktifkan sudah banyak digunakan. Danau (anaerob dan aerob) meruopakan sistem

yang murah dan efektif, apabila dirancang dan dioperasikan secara baik dan apabila tanah

tersedia. Apabila diperlukan, dapat digunakan suatu sistem untuk menghilangkan tingkat

nitrogen yang tinggi.

Dalam operasi baru telah digunakan adsorbsi (penyerapan) karbon dan

pengayakan mikro untuk mengurangi zat pencemar sampai tingkat rendah.

 

E. Penanganan Limbah Padat

Banyak limbah padat penyamakan kulit dapat dijual  msebagai hasil sampingan,

yaitu pangkasa, bulu, daging, dan lain-lainnya. Sebagian besar limbah padat lainnya,

meliputi sisa organic dari tong, total nabati dan kulit kayu untuk penyamakan, Lumpur

kapur dan Lumpur dari pengolah air limbah bersifat merusak tetapi tidak beracun dan

biasanya dapat disebar di atas tanah atau ditimbun dalam tanah. Lumpur dan limbah lain

yang mengandung krom lebih berbahaya dab ini harus disimpan ditempat penimbunan

yang aman.

 

F. Parameter Utama

Parameter-parameter berikut ini penting dalam mendefenisikan daya cemar limbah

dari kegiatan penyamakan kulit: BOD, COD, PTT, Krom(keseluruhan), minyak dan

lemak, sulfida, nitrogen total dan pH.

 

G. Baku Mutu Limbah Cair

Laju air limbah dalam proses operasi yang ada sekarang mungkin dapat mencapai

100m kubik per ton  bahan baku, akan tetapi penghematan air dan daur ulang dapat

mengurangi penggunaan air 70% – 80%. Operasi penyamakan penuh dapat menggunakan

hanya 35m kubik per ton kulit mentah (kering). Jika beberapa proses dilakukan di tempat

lain, seprti perendaman air, pengapuran, penghilangan bulu maka penggunaan air dapat

mencapai 25m kubik per ton bahan baku.

 

Baku mutu pada   tabel 3.1.1. memperlihatkan teknologi pengolahan terbaik yang

tersedia sekarang dan secara ekononi dapat diterapkan. Baku mutu pada tabel ini dapat

diterapkan pada seluruh pabrik penyakan  pada tahun 1995 dan harus digunakan untuk

semua industri baru atau perluasannya saat ini. Baku mutu  limbah cair pada tabel 3.1.2.

memperlihatkan teknologi praktisi terbaik bagi industri penyamakan kulit yang sekarang

beroperasi di Indonesia. Baku mutu ini harus dicapai oleh seluruh industri saat sekarang.

 

Tabel 3.1.1.  Baku Mutu Limbah Cair Industri Penyamakan Kulit, Berlaku Bagi

Industri Baru Atau Yang Diperluas Dan Semua Industri Baru.

 

 

 

Parameter
Proses Penyamakan

Menggunakan Krom

Kadar Beban
Proses Penyamakan

Menggunakan Daun-daunan

Kadar Beban

 

 

 

BOD5

COD

TSS

Krom Total (Cr)
Maksimum

( mg/1)

50

110

60

0,60
Pencemaran

Maksimum (g/m )

2,0

4,4

2,4

0.024
Maksimum

(mg/1)

70

180

50

0,10
Pencemaran

Maksimum (g/m)

2,8

7,2

2,0

0,004

 

Minyak & Lemak               5,0
0,20
5,0
0,20

 

N Total (N)
10
0,40
15
0,60

 

Amonia Total (N)               0,50
0,02
0,50
0,20

 

Sulfida (S)

PH   6,0 – 9,0
0,80
0.032
0,50
0,02

 

Debit limbah cair maksimum 40 m kubik per ton penggaraman kulit mentah

 

Sumber :   Limbah Cair Berbagai Industri di Indonesia ;  Pengendalian dan Baku Mutu

EMDIBAPEDAL 1994

 

Tabel 3.1.2 Baku Mutu Limbah Cair  Industri Penyamakan Kulit yang sudah

Beroperasi

 

BOD

COD

TSS
Parameter
Kadar Maksimum Beban Pencemaran  Maksimum (g/m )

 

150                                             10,50

300                                              21,0

150                                              10,5

 

Sulfida (sebagai H2S)

Krom Total

Minyak dan Lemak

Ammonia Total
1,0

2,0

5,0

10,0
0,07

0,14

0,35

0,70

 

PH 6,0-9,0 Debit Limbah Cair maksimum 70m kubik per ton

 

Sumber: Limbah Cair Berbagai Industri di Indonesia ; Pengendalian dan Baku Mutu

EMDIBAPEDAL 1994

 

3.2 INDUSTRI PULP DAN KERTAS

A. Proses

Bahan baku untuk produksi pulp dan kertas adalah serat selulosa dari kayu, kertsa

bekas, bagase, jerami padi, jerami goni, jerami rami atau jerami gandum. Bahan baku non

selulose adalah soda kostik, natrium sulfat, kapur, klorin, tanah liat, resin, alum, zat

pewarna dan getah. Proses pembuatan pulp mencakup penggunaan bahan kima, panas,

penggilingan mekanis dan atau hydroppulping untuk memisahkan serat selulosa.

Pembuatan pulp secara kimia juga mengurangi jumlah serat.untuk menghilangkan warna

coklat dari pulp dan kertas, bahan itu dikelantang dengan menggunakan klor, hidrosulfit

dan oksigen dan peroksida. Kostik digunakan untuk ekstraksi produk kelantang yang

mengandun klorin.

Pertama-tama, kertas dibuat dengan memurnikan serat (menyikat dan memotong

masing-masing serat) lalu memasukkan bahan kimia seperti resin, tanah liat da natrium

oksida sebagai bahan pengisi. Kertas lalu dibentuk di atas ayakan kawat lebar yang

bergerak cepatsecara kontinu sambil membiarkan air tepisah keluar, menakan dan

mengeringkan produknya.

 

B. Sumber Limbah Cair

Proses dalam  industri pulp dan kertas mengandung air. Hasilnya adalah debit

buangan yang tinggi dengan kadar BOD dan padat tersuspensi yang relatif rendah antara

400 dan 700 mg/1. pada proses pembuatan pulp, pencucian pulp  setelah pemasakan dan

pemisahan serat secara mekanis merupakan salah satu bagian yang paling banyak

menggunakan air.pengelantang konvensional dengan klor dan penghilangan lignin pada

pembuatan pulp secara kimia mengahasilkan paling banyak bahan yang memerlukan

oksigen. Apabila ada proses perolehan kembali bahan kima, kadar jumlh zat padat yang

terlarut, COD dan BOD akan menjadi tinggi.

Proses pembuatan kertas secara konvensional menghasilkan banyak air dengan

kandungan zat padat tersuspensi yang tinggi dan kadar COD yang cukup penting. Mesin

pembuat kertas, seperti Fourdrinier konvensional, dirangcang untuk menggunakan air

untuk mencuci produk yang terdapat pada ayakan kawat secara kontinu.  Tanpa sistem

konservasi akan terjadi kehilangan bahan serat dan pengisi.

 

C. Pengendalian di dalam pabrik

Karena banyak bahan perusak lingkungan dihasilkan oleh pabrik konvensional

penghasil pulp yang dikelantang dengan proses kraft atau sulfit, maka banyaak industri

baru dirancang untuk pembuatan pulp secara termo-mekanik atau kimia-mekanik. Proses

sulfit dan kratf tanpa pengambilan kembali bahan kima khususnya yang menimbulkan

pencemaran, sebaiknya dipertimbangkan untuk tidak digunakan dalam pabrik baru.

Pengelantangan dengan menggunakan senyawa klorin menimbulkan hirokarbin klor

dengan kadar yang tidak dapat diterima oleh lingkungan , termasuk dioksin. Akhir-akhir

ini pengelantang dengan menggunakan oksigen dan peroksida mulai digunakan untuk

menggantikan klor. Pengelantangan dengan menggunakan oksigen menghasilkan produk

dengan kualitas lebih tinggi daripada yang menggunakan klor. Demikian juga,

pengelantangan dengan penukaran ( di mana zat-zat warna asli pada serat ditukar dengan

zat pemutih) mulai dipasang pada pabrik-pabrik baru, memnghasilkan lebih sedikit

buangan dari kilang pengelantangan.

 

Langkah-langkah lain yang harus dimasukkan ke dalam pabrik baru termasuk  :

1.   Sistem pengambilan kembali bahan kimia secara efisien.

2.   Pelepasan kulit kayu secara kering.

3.   Pembakaran limbah da pengambilan panas kembali.

4.   Pendaurulangan buangan kilang pengelantangan ke ketel pengambilan kembali

bahan kimia.

5.   Sistem pencucian brownstock  bertahap banyak dengan aliran berlawanan yang

efisien .

6.   Penggunaan     klor     dioksida     untuk     menggantikan      klorin     dalam proses

pngelantangan konvensional .

7.   Pemasakan berlanjut dalam proses pembuatan pulp secara kimia.

8.   Pengurangan lignin oksigen setelah pemasakan secara kimia.

9.   Pengendalian penggunaan klor yang ketat dalam pengelantangan dengan cara

pemantauan : apabila klor sisa dikurangi maka zat organic klor juga berkurang.

10. Konservasi dan daur ulang air dalam pabrik kertas dapat mengurangi volume air

limbahsebesar 77 %.

11. Sistem deteksi dan pengambilan kembali tumpahan.

 

D. Pengolahan Limbah Cair

Pengolahan eksternal pada operasi pulp dan kertas mencakup ekualisi netralisasi,

pengolahan primer, pengolahan sekunder dan tahap pemolesan. Kerana gangguan dari

prosesdan fluktuasi pada pemuatan limbah awal, biasanya pabrik kertas modern memiliki

tempat penampungan dan netralisasi limbah yang memadai sebelum masuk ke tempat

pengendapan primer yang pertama. Ayakan  digunakan untuk menghilangkan benda-

benda besar yang masuk kedalam limbah pabrik pulp atau kertas. Pengendapan primer

biasanya terjadi di bak pengendapan atau bak penjernih. Bak pengendap yang hanya

berfungsi atas dasar gaya berat, tidak memberi keluwesan operasional. Karena itu

memerlukan waktu tinggal sampai 24 jam. Bak penjernih bulat yang dirancang dengan

baik dapat menghilangkan sampai 80% zat padat tersuspensi dan 50-995 BOD.

Untuk teknologi terbaik yang tersedia yang baru, pengendapan dapat ditingkatkan

dengan menggunakan bahan flokulasi atau koagulasi disamping pengurangan bahan yang

membutuhkan oksigen, pengolahan secara biologis mengurangi kadar racun dan

meningkatkan mutu estetika buangan (bau, warna, potensi yang menggangu  dan rasa

air). Apabila terdapat lahan yang memadai, laguna fakultatif dan laguna aerasi bisa

digunakan. Laguna aerasi akan mengurangi 80% BOD buangan pabrik dengan waktu

tinggal 10 hari.

Pabrik-pabrik di Amerika Utara sekarang dilengkapi dengan laguna aerasi bahkan

dengan waktu tinggal yang lebih panjang, atau kadang-kadang dilengkapi dengan kolam

aerasi pemolesan dan penjernihn akhir untuk lebih mengurangi BOD dan TSS sampai di

bawah 30mg/1.

Apabila tidak terdapat lahan yang memadai, maka proses lumpuraktif, parit

oksidasi dan trickling filter banyak digunakan dengan hasil kualitas buangan yang sama,

tetapi sering membutuhkan biaya operasinya lebih tinggi. Sekarang, pemolesankapasitas

yang diperbesar atau melalui pengolahan fisik atau kimia diterapkan dibeberapa tempat

untuk melindungi badab air penerima.

 

E. Penanganan  Limbah Padat

Lumpur yang dihasilkan dari pengolahan buangan dapat bersifat penting.

Diperkirakan bahwa biaya penanganan Lumpur untuk sistem Lumpur aktif dapat

mencapai 50% biaya operasi pengolahan buangan. Pada masa lalu biasanyan Lumpur

ditimbun, tetapi dalam beberapa hal sistem ini menimbilkan bau karena pembusukan dan

menyebabkan pencemaran air tanah dan air permukaan. Sekarang, Lumpur dihilangkan

airnya (vakum atau belt filter ) dan dibakar atau digunakan sebagai bahan bakar. Bahan-

bahannya kebanyakan bersifat organic dan merupakan sumber energi dan pupuk.

 

F. Parameter Utama

Parameter  utama yang diperhatikan adalah BOD, TSS dan COD. Cod adalah

suatu parameter pengontrol yang penting karena hasil analisis ini mahal tapi akurat.

Sekarang, ada peningkatan perhatian terhadap potensi dioksin dalam buangan  pabrik

pulp dan kertas yang dikelantang. Analisis dioksin mahal dan sukar, dan dewasa ini

belum terdapat di Indonesia. Parameter yang digunakan sebagai indicator untuk

mengendalikan dioksin pada buangan pabrik pulp dan kertas di Eropa dan Amerika Utara

adalah AOX (Halida Organik yang diserap). Tata cara analisisnya tidak mahal dan mudah

tetapi memerlukan peralatan khusus.

 

G. Pencemaran lain yang perlu diperhatikan

Effluent dari pengoperasian pulp dan kertas melalui pemasakan atau

pengelantangan dengan bahan kimia banyak mengandung zat padat terlarut ( terutama

natrium dan sulfat ). Senyawa sulfur yang lebih rendah, merkaptan dan senyawa asam

resin juga terdapat dalam buangan pabrik yang menggunakan pemisah serat

kimiawi.Nutrien (nitrogen dan karbon organic ) dan logam (seng dan aluminium) telah

menimbulkan masalah lingkungan dalam beberapa pabrik sperti tersebut di atas :

hidrokarbon klor juga harus diperhatikan dalam pabrik yang menggunakan kelang

pengelantangan berbasis klor.

 

H. Baku Mutu Limbah Cair

Baku mutu limbah cair pada tabel 3.1.1. dan 3.1.2. menunjukkan teknologi intern

dan ekstern terbaik yang tersedia di Indonesia . baku mutu limbah yang baru pada kedua

telah diterapkan pada semua pengoperasian yang baru dan diperluas serta harus

diterapkan pada semua pengoperasian mulai tahun 1995. baku mutu ini terbagi dalam

berbagai proses pembuatan pulp dan kertas untuk mencerminkan mutu buangan dari

proses-proses ini.

Baku mutu pabrikm pulp dengan proses sulfit  akan sukar dipenuhi dengan

teknologi yang terbaik yang ada pada saat ini. Dengan pengambilan kembali bahan kimia

secara efisien, pengambilan kembali bahan organic sebagai bahan bakar, proses

pengelantangan terkendali dengan efisien, konservasi air yang baik pada mesin-mesin

kertas dan teknologi pengolahan buangan yang diterapkan secara luas, baku mutu semua

proses yang lain dapat dengan mudah dipenuhi.

Baku mutu limbah cair pada tabel 3.2. dan 3.2.2. ditetapkan sesudah dilakukan

peninjauan secara ekstensif mengenai teknologi baru proses pulp dan kertas, kemampuan

peninjauan secara  ekstern dan baku mutu limbah cair untuk pabrik yang sudah

beroperasi dan yang baru di Finlandia, Swedia, Jerman, Jepang, Thailand, Kanada,

Belgia, Norwegia, Amerika Serikat, Spanyol, Perancis, Inggris, dan yunani.

 

Tabel 3.2.1.   Baku mutu limbah cair industri pulp dan kertas, berlaku bagi industri baru

atau yang diperluas  dan bagi semua industri mulai tahun 1995.

Parameter

 

Proses
Debit

m3/t
BOD5
TSS
COD

 

 

A. Pulp
M3/t mg/1 kg/1      mg/1     g/1 mg/1        kg/1

 

1.  Kraft dikelantang

2. Pulp parut

3. Kraft  tidak

dikelantang

4. Sulfit dikelantang

5. Mekanik (CMP)

dan Groundwood

 

6. Semi-Kimia

7. Pulp Soda

8.Deink Pulp (dari

Kertas bekas)

 

B. Kertas
70

95

35

 

100

65

 

 

60

80

60
60

75

50

 

100

50

 

 

60

65

80
3,9

7,0

1,8

 

10

3,3

 

 

3,6

3,6

4,8
60

7,0

60

 

80

70

 

 

60

60

85
3,9

6,7

2,1

 

8,0

4,6

 

 

3,6

3,6

5,1
300

300

180

 

400

120

 

 

180

180

250
21,0

28,5

6,3

 

40

7,8

 

 

10,8

10,8

15,0

 

1.
Halus
(
40
90
3,6       80
3,2
190
7,6

 

dikelantang)

2.  Kasar

3.Kertas lain yang

dikelantang
 

20

35
 

70

75
 

1,4       80

2,6       80
 

1,6

2,8
 

170

160
 

3,4

5,6

 

 

 

Sumber :  Limbah cair berbagai industri di Indonesia ; Pengendalian dan Baku Mutu

EMDIBAPEDAL 1994

 

 

1. Pulp

1)   Proses  Kraft (dikelantang dan tidak dikelantang) adalah proses produksi pulp dengan

cairan pemasak natrium hidroksit yang sangat alkalis dan natrium sulfida. Proses kraft

yang tidak dikelantang digunakan pada produksi kertas karton dan kertas

kasarberwarna coklat yang lain. Pengelantangna adalah penggunaan bahan

pengoksidasi kuat yang diikuti dengan ekstraksi alkali untuk menghilangkan warna

dari pulp, pada rentang produk kertas yang lengkap.

2)   Proses pulp larut adalah produksi pulp putih dan sangat murni melalui pemasakan

kimiawi yang kuat. Pulpnya digunakan untuk pembuatan kertas dan produk lain

dengan syarat hampir tidak mengandung lignin.

 

3)   Proses sulfit adalah penggunaan larutan pekat bersulfit kalsium, magnesium,

ammonia, atau sodium yang mengandung sulfur dioksida bebas yang berlebihan dan

termasuk pengelantangannya.

4)   Proses grownwood adalah proses yang menggunakan defibrasi mekanis (pemisahan

serat) dengan menggunakan gerinda atau penghalus dari batu.

5)   Proses semi- kimia merupakan penggunaan cairan pemasak sulit netral tanpa

pengelantangan untuk menghasilkan produk kasar lapisan dalam karton gelombang

berwarna coklat.

6)   Proses soda adalah produksi yang dikelantang dengan menggunakan cairan pemasak

natrium hidroksida yang sangat alkalis.

7)   Proses penghilangan tinta (de-ink) merupakan penggunaan kertas bekas yang didaur

ulang melalui proses pengkilangan tinta dengan kondisi alkali kadang-kadang dibuat

cerah atau diputihkan untuk menghasilkan pulp sekunder, sering kali berkaitandengan

proses konvensional.

 

2. Kertas

1)   Kertas halus merupakan produksi kertas halus yang dikelantang seperti kertas cetak,

kertas tulis dan kertas rokok.

2)   Kertas kasar merupakan produksi kertas berwarna coklat seperti linerboart, kertas

kantong berwarna coklat atau karton.

3)   Kertas lain merupakan produksi kertas yang dikelantang selain sisa yang tercantum

dalam golongan “halus” seperti kertas Koran.

 

Tabel 3.2.2. Baku Mutu Limbah Cair Industri Plp dan Kertas yang Terintegrasi dan

menggunakan     Proses pengelantangan berlaku bagi Industri baru atau yang

diperluas dan bagi semua Industri mulai tahun1997.

 

Parameter

 

AOX  (1) dan (2)

Fosfor Total

Kloroform (2)

Fenol
Kadar maksimum

 

17,0

1,0

0,02

0,01
Beban pencemaran

Maksimum (g/m2)

1,5

0,09

0,0018

0,0010

 

 

Tabel 3.2.3 Baku Mutu Limbah Cair Industri Plup dan Kertas yang Sudah beroperasi

 

 

Proses
Pabriek Plup

Kadar Beban Max
Pabrik Kertas

Kadar Beban Max
Pb.Plup & Kertas

Kadar Beban Max

 

 

BOD5

COD

TSS

Ph
(mg/l)

150

350

200

6-9
(Kg/ton)

15

35

20

-
(mg/l)

150

250

125

6-9
(Kg/ton)

10

20

10

-
(mg/l)

150

350

150

6-9
(kg/ton)

25,5

59,5

25,5

-

 

Debit Limbah

Maksimum

Catatan :
100 m3/ton produk plup 80 m3/ton produk

kertas kering udara
170 m3/ton produk

kering

 

Khusus untuk kertas tipis, debit limbah maksimum 200m3/ton produk kertas.

 

3.3 INDUSTRI KELAPA SAWIT

A. Proses

Buah kelapa sawit terdiri dari dua bagian yaitu daging sebelah luar yang

menghasilkan minyak kelapa sawit dsn biji di dalam berisi daging yang di olah menjadi

minyak biji sawit dan ampas biji sawit. Minyak kasar yang dihasilkan kilang minyak

sawit diolah lebih lanjut menjadi maragarin, minyak goreng dan sabun. Hasil lain adalah

lilin, bahan dasar kosmetika, gliserin dan mayones.

Proses pembuatan minyak kelapa sawit dijelaskan berlaku urutan-urutan kerja

sebagai berikut. Tandanan buah segar dari kebun disterilkan segera seudah sampai di

kilang minyak sawit, biasanya dengan kukus. Buah dipisahkan dari tandannya. Buah

yang sudah dilepas, dimasak ( dipanaskan dan dihancurkan menjadi bubur minyak ) dan

bubur itu dikirim ke bagian pemerasan. Pemerasan biasanya dilakukan dengan alat tekan

hidrolik jenis ulir atau pemusing. Minyak yang sudah diperas kemudian disaring dan

dijernihkan untuk menghilangkan air dan padatan halus. Minyak diciduk dari dasar

tangki. Lumpur itu diputar dalam pemusing kemudian disaring dan dihilangkan pasirnya

untuk memisahkan minyak dari padatan lain. Minyak dari tangki penjernih di keringkan

kemudian disaring atau diputar untuk menghilangkan sisa air dari padatan tersuspensi.

Ampas sisa tekan dari bagian pemerasan dikirim ke alat pemisah biji untuk

memisahkan biji dari serat. Biji dikeringkan dengan udara panas sebelum dipecah untuk

mengeluarkan daging-daging dari kulitnya. Daging-dalam dipisahkan dari kulit kerasnya

itu dalam penangas lempung atau dalam hidrosiklon. Daging-dalam dikeringkan dan

disimpan, biasanya untuk dijual kepada pabrik minyak biji sawit. Pemurnian minyak

sawit biasanya dilakukan di tempat terpisah. Pertama, asam lemak bebas dalam minyak

mentah dinetralkan dengan pelucutan –kukus, kemudian dilanjutkan dengan pemucatan

dan penghilangan bau.

 

B.  Sumber Limbah cair.

Tahap sterilsasi (15% jumlah limbah cair) dan penjernian (75% jumlah limbah cair)

adalah sumber utama air limbah. Hidrolikon yang dipakai untuk memisahkan daging dari

kulit keras (batok) juga merupakan sumber utama air limbah (10% jumlah limabah cair).

Pensterilan tandan buah menghasilkan kondensat kukus dan air cuci. Air cuci juga

dihasilkan oleh pemerasan minyak, pemisahan biji atau serat dan tahap pencucian daging-

dalam. Air panas dipakai untuk mencuci ayakan getar sebelum tangki penjernih minyak.

Air yang dipisahkan dari minyak dan dari  Lumpur tangki penjernih merupakan sumber

utama minyak, padatan tersuspensi dan bahan organick lain. Kondensat kukus berasal

dari pensterilan, pengringan minyak, pemisahan biji dan pengeringan daging-dalam.

Pemisahan buah dari tandan dan prosees pemasakan seharusnya tidak menghasilkan air

limbah. Limbah cair kilang minyak sawit adalah limbah berkekuatan tinggi dengan ciri-

ciri berikut:

 

BOD
25.000 mg/l

 

COD                        50.000 mg/l

 

TSS
25.000 mg/l

 

Minyak dan lemak     7.000 mg/l

 

 

Amonia N

N total

30 mg/l

750 mg/l

 

Banyaknya air yang dipakai bervariasi. Kilang yang efisien mengggunakan air 2

m3/ton hasil minyak, sedangkan kilang yang boros menghabiskan berlipat ganda. Kilang-

kilang di Indonesia saat ini menggunakan kira-kira 5 m3/ton sampai 7 m3/ton hasil

(1,0sampai 1,4 m3/ton tandan buah segar).

B.  Pengendalian di Dalam Pabrik.

Pengurangan pengguaan air dapat dilakukan dengan cara-cara:

1)   Pemisahan dan pengumpulan air pendingin, limpahan dari pengering

hampa dan kondensat dari ketel untuk digunakan kembali dalam proses

atau untuk pencucian.

2)   Pengumpulan air bekas cuci untuk dipakai lagi.

3)   Sistem kendali penggunaan air, meteran, alat pengatur waktu dan katup

otomatis.

4)   Pengumpulan padatan (buah, tandan, dan batok) dengan tangan daripada

penyemprotannya dengan air.

5)   Pemeliharan dan perawatan yang baik.

6)   Pengendalian dan pencegahan tumpahan dan kebocoran.

7)   Pengoperasian hidrosikon yang sesuai.

 

Kebanyakan kandungan BOD atau COD dalam limbah minyak kelapa sawit

berasal dari minyak yang tercecer. Untuk mendapatkan pengolahan dan pengurangan

pencemaran yang efektif, perlu diusahakan perolehan kembali minyak yang efisien.

Temperatur minyak di dalam penjernihan di atas 900c untuk mendapatkan pemisahan

minyak yang efektif. Dengan pemisahan aliran limbah penjernih minyak dan hidrosiklon

dari aliran limbah lainnya yang lebih bersih serta mengolahnya secara terpisah untuk

memisahkan minyak dan Lumpur, masalah pengolahan limbah menjadi sangat berkurang

dan akan diperoleh hasil samping yanag dapat dijual. Uap air harus dipisahkan dari aliran

limbah cair sehingga sistempengolah limbah tidak kelebihan beban.

Perangkap minyak dalam kilang minyak kelapa sawit sering dirancang dan

dipelihara kurang baik, sehingga menyebabkan sejumlah besar minyak masuk ke dalam

lingkungan. Perancangan perangkap minyak harus memperhatikan sifat minyak dan

temperatur limbah cair itu. Tangki pemisah harus bertahap banyak dan dibuat rangkap

untuk mengimbangi surging dan untuk memungkinkan pemeliharaan. Diperlukan waktu

retensi hidrolik debit lebih dari 10 jam dengan penyediaan panas untuk memperoleh

temperatur tinggi. Alat pemisah (separator) harus dilengkapi dengan baffle untuk

mencegah putaran rendah dan fasilitas untuk memperoleh minyak secara mudah dan

efektif.

Minyak yang dikumpulkan dalam pemisah atau perangkap diperoleh kembali

untuk kepentingan proses. Aturan rumah tangga yang baik dan penghindaran kebocoran

dan tumpahan bahan kimia dan pelumas diperlukan untuk menghindari pencemaran

minyak yang telah diperoleh kembali dalam perangkap tangki pemisah. Penggunaan

sistem dekantasi dalam tahap penjernihan minyak mengurangi banyaknya bahan organik

dalam limbah cair sampai 75%.

Suatu teknologi kering baru untuk menggantikan hidrosiklon atau panangas

lempung yang memisahkan daging dalam dari batok telah dikembangkan. Satu silo

anging yang bekerja secara penumatik meniadakan penggunaan sejumlah besar air

limbah dalam hiddrosiklon.

 

D. Pengolahan Limbah Cair.

Pengolahan limbah cair kilang minyak sawit meliputi pengolahan kimia-fisik

untuk menghilangkan padatan dan minyak dan pengolahan biologi untuk mengurangi

beban organic yang sangat besar. Banyak karya dan penelitian untuk mengembangkan

sistem abu yang kaya akan kalium. Batok (kulit keras kelapa) memang dapat digunakan

sebagai bahan bakar, akan tetapi abu sisa pembakarannya banyak mengandung silica.

 

F. Parameter Utama.

Parameter utama dalam limbah cair minyak kelapa sawit dalam tabel 3.3.1

didasarkan pada teknologi terbaik yang tersedia di Indonesia. Baku mutu ini harus

digunakan untuk seluruh industri minyak kelapa sawit pada tahun 1995 dan untuk seluruh

industri baru dan yang saat ini diperluas. Sedangkan baku mutu limbah yang

digambarkan dalam tabel 3.3.2 adalah untuk industri yang berdasarkan teknologi praktis

terbaik untuk industri di Indonesia.

Baku mutu limbah untuk industri di Malaysia sejak 1984 adalah:

 

 

BOD
 

100 mg/l

 

COD                         400 mg/l

 

TSS
50 mg/l

 

Minyak dan lemak   100mg/l

 

Amonia N
200 mg/l

 

N total                      200 mg/l

 

PH

Temperatur
5,0-9,0

450C

 

 

Banyaknya air limbah yang dihasilkan kebanyakan pabrik yang ada di Malaysia

berkisar dari 0,4-1,2 m3/ton tandan buah segar setara dengan 2,0- 6,0 m3/ton minyak

kelapa sawit yang dihasilkan. Untuk operasi baru dengan teknologi penghematan air yang

modern, banyaknya air dapat dikurangi sampai 2,0 m3/ton hasil.

 

Tabel 3.3.1 Baku Mutu Limbah Cair Industri Minyak kelapa sawit, Berlaku bagi Industri

Baru AtauYang Diperluas Dan Bagi Semua Industri.

 

 

 

BOD

COD

TSS
Parameter
Kadar Maksimum (mg/l)

 

400

350

250
Beban Pencemaran

Maksimum (kg/ton)

1,25

0,88

1,63

 

Minyak dan lemak

Nitrogen total (sebagai N)
25

50
0,063

0,125

PH 6,0-9,0 debit limbah cair maksimum 2,5 m3/ton [roduk minyak kelapa sawit.

4.1 KESIMPULAN

BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

 

1.   Dampak negatif dari pembangunan akan selalu muncul, untuk itu dampak ini

harus dikelolah dengan sebaik-baiknya agar tidak menimbulkan efek yang lebih

besar lagi.

2.   Badan air/sungai akan selalu menanggung beban pencemaran, apabila setiap

industri yang membuang limbahnya tidak sesuai dengan persyaratan/baku mutu

yang telah ditetapkan.

3.   Kegiatan pengelolah limabah dapat dilakukan dengan 2 (dua) metode yaitu

dengan pengelolaan limbah itu sendiri dan minimisasi limbah.

4.   Kemajuan teknologi pengolahan limbah dapat dimanfaatkan sebagai alternatif

menekan efek negatif yang mungkin saja timbul.

5.   penegakan hukum dan etika bisnis harus betul-betul dijalankan dengan tegas

dan sebaik-baiknya.

 

4.2 SARAN

1.   Kerusakan dan tingkat pencemaran yang tinggi pada badan air/sungai dapat

diupayakan mengelolah jika peran serta masyarakat dan lembaga-lembaga

terkait ikut dalam pendayagunaan limbah.

2.   Pembangunan instalasi pengolahan air limbah sudah mutlak dan harus dimiliki

oleh setiap industri atau badan pengolah yang ditunjuk agar setiap air limbah

yang dibuang ke badan air sudah masuk dalam baku mutu yang telah ditetapkan

oleh pemrintah.

3.   pengalaman- pengalaman negara maju dalam mengelola limbah dapat dijadikan

contoh untuk diterapkan pada negara kita.

4.   Keseriusan dari semua pihak sangat diperlukan agar limbah industri yang ada

benar-benar tidak mengganggu kehidupan dan kesehatan manusia, kalau hal ini

tidak  kita mulai dari sekarang maka akan sama-sama kita lihat bahaya apa yang

akan muncul ke depan yang menghadang kita.

 

DAFTAR PUSTAKA

Azwar, Azrul, Pengantar Imu Kesehatan Lingkungan, Jakarta : Mutiara Sumber

Widya, 1995.

Dinas Kebersihan Kotamadyia Padang, Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja, Padang :

1990

Djatmiko, Margono, Wahyono, Pendayagunaan Industri Managemen, Bandung : PT.

Citra Aditya Bakti, 2000

Haudri Satriago, Istilah Lingkungan Untuk Manajemen, Jakarta : PT. Gramedia, 1996.

Notoatmodjo, Soekidjo, Ilmu Kesehatan Masyarakat, Jakarta : Rineka cipta, 1997.

Udin Jabu, Dkk, Pedoman Bidang Studi Pembuangan Tinja Dan Air Limbah Pada

Institusi Pendidikan Sanitasi/Kesehatan Lingkungan, Jakarta : Pusdiknakes.